Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Mengembang



Tubuh Sukma membentur dadanya Alfandi, sementara waktu keduanya saling tatap dengan lekat dan dalam.


Alfandi mengecup bibir Sukma yang sontak mematung. merasakan hangatnya bibir Alfandi yang menempel di bibirnya.


"Oke, aku mau mandi dulu ya sayang? sebentar saja. Nanti kita lanjutkan melepas kangen kita." Tangan Alfandi mengusap bibir Sukma yang lembut tersebut.


Dan Sukma mengangguk pelan dengan senyuman di bibirnya dan sorot mata yang berbinar.


Setelah itu Alfandi mengayunkan langkah nya menuju kamar mandi.


Dada Sukma tiba-tiba berdebar begitu kencang. Aliran darahnya seakan berhenti. Setelah beberapa hari sikap suaminya yang terasa biasa saja, kini kembali manis dan hangat.


Memang sikap Alfandi biasa saja, tidak ada yang berubah. Hanya Alfandi lebih sibuk dan benar-benar merasa capek dan sedikit waktu bersama istri.


Dan Sukma saja yang sekarang kadang hormon nya berubah-ubah. Menjadikan perasaannya Alfandi berubah, padahal tidak.


Detik kemudian, Sukma menyiapkan pakaian buat Alfandi. Namun baru saja mau mengambil pakaiannya. Tubuh Sukma sudah di peluk dari belakang oleh Alfandi.


"Mandinya sudah! kok sebentar?" tanya Sukma sambil memegangi tangan Alfandi yang melingkar di perutnya.


"Buat apa lama-lama sayang, yang penting menghilangkan keringat saja. Sebab sebenar lagi juga kita akan menimbulkan keringat." Suara Alfandi pelan di dekat telinganya Sukma.


"Nggak ngerti, apa yang akan menimbulkan keringat? emangnya suami ku mau olah raga ya?" Sukma membalikan tubuhnya menghadap Alfandi.


Alfandi mengangguk pelan sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Jam berapa nih? sebelas malam. kok mau olahraga sih? istirahat! capek." Kata Sukma sambil memegangi kedua tangannya sang suami serta tatapan yang seolah penuh harap.


"Iya, aku mau olahraga. Tapi sama kamu!" jari Alfandi mencolek hidung Sukma.


Sukma malah menggeleng dan berkata. "Aku ngantuk ahc gak mau olahraga. Mending bobo yu?"


Alfandi tersenyum dan menarik tangan Sukma ke tempat tidur. Duduk di tepi nya, tangan Alfandi menyingkirkan rambut Sukma ke belakang dan di kesampingkan.


"Em ... kalau olah raga yang ini mau sayang?" Alfandi mendekatkan wajahnya ke wajah Sukma dan berusaha menyentuh bibir si cantik ini yang langsung wajahnya merah serta tersipu malu.


Dia pikir olahraga biasa dan bukan di atas tempat tidur. Kalau itu jelas dia mau karena sudah beberapa hari meraka tidak melakukannya dan Sukma pun merasakan ingin sekali untuk melakukannya.


"Mau gak sayang? bukannya kangen? aku kangen berat nih! pengen menumpahkan nya saat ini juga." Bisik Alfandi sambil mendaratkan kecupan kecil di pipi, kening dan telinga.


Lantas kembali mengecup bibir ranum sang istri. Di bawah sinar temaram mereka memadu kasih yang di awali dengan cumbuan demi cumbuan serta rayuan untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginan malam ini.


Dengan nakal tangan Sukma menarik handuk yang melingkar di pinggang Alfandi, sehingga satu tarikan saja handuk tersebut terjatuh ke bawah. Mengekspos dengan sempurna yang ada di balinya itu.


Tatapan Sukma yang sayu tertuju pada belalai gajah yang bergerak-gerak geli yang melihatnya. Namun merasa gimana gitu, waw ....


Baru kali ini dia melihat dengan seksama atau benar-benar memandanginya. Biasanya Sukma tidak kuasa melihat itu apalagi berani menyentuhnya.


Bibir Alfandi terus menyungging melihat reaksi sang istri yang sepertinya sangat menginginkan dirinya, hasrat keduanya sudah memuncak. Sudah naik ke kepala.


Sehingga dengan cepat dan tidak membuang waktu. Alfandi langsung membuat ancang-ancang untuk memasukan gol ke gawang lawan yang tidak ada lagi penghalang satu pun.


Alfandi bagaikan singa yang lapar dan siap untuk mengoyak mangsanya. Tangan Sukma berada di pundak Alfandi sesekali turun ke punggung dan mengusapnya.


Terkadang menarik tubuh kekar itu agar dapat dia peluk dengan sangat erat dan tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua. Dengan agresif nya. Sukma beralih posisi menjadi berada di atas dan mengendalikan aksi keduanya.


Alfandi dengan leluasa memandangi pemandangan yang indah di depan matanya itu. Apalagi melihat dua balon yang menggantung dengan sempurna itu, membuat ingin menarik dan mengisapnya dengan kuat sampai dia mendapatkan airnya.


"Uhh ..." Alfandi duduk dan memeluk tubuh sang istri sambil me-nye-sap dengan kuat. Dengan gemas nya Alfandi perlakukan keduanya dengan sama agar tidak sirik satu sama lainnya.


Wajah Sukma mendongak dan dengan mata terpejam. Menikmati sensasi yang sangat luar biasa di saat-saat Alfandi me-ngi-*** balon yang terasa lebih mengembang itu. Entah siklus mau datang bulan! entah apa? yang jelas berasa lebih mengembang saja dan inginnya di sentuh terus sama suaminya itu.


Setelah beberapa jam melakukan aksinya dan silih berganti memegang kendali, dan akhirnya keduanya menyudahi dengan beberapa kecupan yang hangat di bibir dan kening.


Alfandi tumbang ke atas bantal dan Sukma meringsut ke dalam pelukan suaminya itu sambil menjepit selimut di ketiak nya.


Tangan Alfandi merangkul bahunya dan berapa kali memberi kecupan di kening nya Sukma yang terpejam itu.


"Sayang?" panggil Alfandi sambil menatap langit.


"Hem ... apa?" sahutnya tanpa menoleh dan dia asyik saja menempelkan pipi di dada sang suami.


Tangan Alfandi dari bahu turun dan menyelinap ke dalam selimut lantas menyusup bermain di salah satu balon yang terasa mengembang dan kencang itu.


"Kok, aku merasakan sesuatu ya? merasa aneh dengan dengan uang ini. Sepertinya lebih mengembang begini dan lebih kencang--"


"Kalau menurut ku sih. Bukan kencang tapi berasa tertarik gitu, memang berasa mengembang dan berat gimana ... gitu, kaya ciri-ciri mau datang bulan." Sukma memotong perkataan Alfandi.


"Em gitu ya? dulu sih. Mamanya Fikri kalau mengembang begini pertanda hamil muda, pas hamil Fikri waktu itu." Gumamnya Alfandi.


Sukma terdiam, apa benar seperti itu? sedangkan dia, kan masih dalam masa memakai kontrasepsi. Jadi telat datang bulan juga gak khawatir! orang masih dalam masa kontrasepsi kok.


"Mamanya Fikri juga setiap hamil selalu begini. Pa-yud@ra nya mengembang seperti ini dan mulai ada aksinya." Sambung Al sembari terus memainkan benda itu dengan lembut.


Degh ....


Sukma dengan cepat menyingkirkan tangan itu. Dia merasa kesal karena Alfandi terus menyebut mantan istrinya meskipun secara tidak langsung.


Membuat Alfandi merasa heran kapasan istrinya yang memindahkan juga kepalanya ke bantal nya dan berbaring memunggungi Alfandi sambil menarik selimut.


Alfandi yang terheran-heran, mendekati punggung sang istri. Di tariknya agar dekat-dekat dengannya.


Namun tangan Sukma menepisnya agar tangan Alfandi tidak memeluknya.


Tapi bukan Alfandi namanya kalau mudah nyerah. Dia kembali menyimpan tangannya ke atas pinggul sang istri, dan langsung dipindahkan dari tempat tersebut.


Tidak tahu kenapa, kesal saja mendengar suaminya menyebut mama Fikri.


"Aku gak suka kau menyebut-nyebut dia!" suara Sukma bergetar. Rupanya dia menangis.


Alfandi bengong. Kok istri mudanya menangis sih? hanya gara-gara dia menyebut mama Fikri, itu kan cuma sebagai contoh siapa tahu benar. Kalau dua balon tersebut mengembang, pertanda hamil. Tapi Sukma malah merajuk.


Alfandi semakin mendekat dan geph memeluk pinggang Sukma, agar lebih merapat dengan tubuhnya.


"Aku mau tidur sendirian." Pinta Sukma sambil berusaha menyingkirkan tangan Alfandi, tapi tidak Alfandi lepaskan melainkan semakin erat dan mengunci tubuh Sukma, sehingga tubuh mereka benar-benar menempel satu sama lainnya ....


.


...Bersambung!...