Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



"Woi ... melamun lagi, aku bicara tidak di dengar!" Jihan dengan suara agak menghentak yang di tujukan pada Firza.


Firza menggercapkan matanya dan seketika lamunannya pun buyar. Melihat ke arah Jihan si gadis yang ada di dalam lamunannya itu. "Kamu ngomong apa sih?"


"Ck, dasar. Sudah lah dah lewat dan makan segera!" Jihan melihat ke arah makanan yang sudah siap di meja.


"Oh, iya." Firza mengangguk lalu memulai dengan minuman yang dia teguk setengahnya.


Begitupun dengan Jihan yang melahap dan menikmati makannya. Sambil sesekali melihat ke arah Firza yang tampak serius dengan makannya.


Firza mengangkat wajahnya dan menatap Jihan yang berada di hadapannya tersebut. "Ji, kalau boleh ... gue ingin bicara sama kamu, tentang perasaan gue yang gue simpan pun terasa sangat berat menyiksa gue!"


Jihan terdiam dan menatap lekat ke arah Firza yang berusaha mengutarakan isi hati nya.


"Ji, gue cinta sama lu dari jaman cinta monyet sampai sekarang kita sama-sama dewasa. Rasa cinta itu tetap ada! bunga-bunga itu tetap tumbuh bahkan semakin banyak bertebaran di mana-mana!" ungkapnya Firza sembari menatap penuh dengan kelembutan kepada lawan bicaranya.


Jihan tersenyum dan seolah-olah menganggap Firza hanya bercanda dengan omongannya itu.


"Gue serius Jihan, aku cinta sama kamu. Aku sayang banget sama kamu Jihan. Aku cemburu jika kamu berpacaran dengan laki-laki lain dan ... aku tidak rela jika ada yang menyakitimu. Aku ingin melindungi bukan sekedar kita saudara, tapi karena aku benar-benar sayang sama kamu, Ji!" sambungnya Firza lalu melanjutkan kembali makannya.


Kemudian Firza kembali menatap wajah Jihan yang kebetulan sedang menatap dirinya dan tersenyum manis.


"Jihan, gue tidak ingin mengajak lu berpacaran! tapi gue hanya ingin mengatakan maukah kamu bila suatu saat nanti kita menikah? setelah kita sama-sama selesai kuliah dan dapat mewujudkan impian menggapai cita-cita?" ucapnya Firza terlihat sangat serius.


Jihan terkejut dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya Firza.


"Kenapa kamu baru ngomong sekarang? kalau kamu memang suka sama aku, seharusnya dari dulu kamu ngomong mungkin aku nggak akan pernah terima orang lain, bahkan menempatkannya di hati ku!" lirihnya Jihan seraya menatap lekat pada pemuda yang sesungguhnya anak dari Abang iparnya itu.


"Jujur ... aku nggak berani, Ji. Aku nggak berani mengutarakan isi hati ini padamu, apalagi mengingat hubungan kita yang bagaimanapun kamu adalah adik perempuannya mommy. Istri dari Papa gue!" Tambahnya Firza.


Keduanya terdiam sejenak sembari menikmati makan malamnya.


"Lagi pula ... seandainya aku ngomong dari dulu apa mungkin kamu terima, Ji?" Firza melepas pandangannya kepada Jihan dan sangat berharap mendapat jawaban yang memuaskan.


"Em ... Mungkin aku akan menerima kamu karena sesungguhnya--" Jihan sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Sesungguhnya apa, Ji? Jihan jangan bikin gue penasaran!" Firza sangat penasaran dengan kelanjutan ucapan dari Jihan.


"Sesungguhnya aku pun sama, aku suka sama kamu dan sayang sama kamu! bukan hanya sebagai keluarga dan itu aku rasakan dari dulu ketika kita masih SMP." Jihan menghela nafas dalam-dalam dibarengi rasa malu yang terpancar dari wajahnya.


"Jadi kamu juga suka sama aku? wah ... ternyata kita sama ya?" Firza tidak menyangka kalau sesungguhnya ia mempunyai rasa yang sama dengan Jihan, namun sayangnya baru terungkap sekarang.


"Terus gimana?" tanya Firza kepada Jihan yang sedang mengusap mulutnya dengan tisu.


"Gimana apanya? nggak jelas amat jadi orang?" Jihan tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Firza.


"Ooh ... itu. Emangnya boleh kalau kita menikah? bagaimanapun ... kamu anaknya Abang dan abang suaminya Kakak aku, terus Abang dan kakak ku punya anak yaitu keponakan ku! masa kita akan menikah?" Jihan menatap lekat ke arah Firza yang langsung berubah ekspresi wajahnya.


"Terus bagaimana dengan perasaan kita? apa kita harus selamanya menyimpan perasaan ini yang mungkin takkan pernah bertepi, jika memang seandainya tidak bisa bersama! maksud aku tidak bisa bersatu." Suara Firza dengan nada lesu lalu menatap wajah Jihan yang menunduk sedih.


"Ya ... gimana lagi? kalau memang begitu kenyataannya, selamanya kita harus menyimpan rasa ini bahkan buang jauh-jauh! agar kita bisa menemukan kebahagiaan bersama yang lain. Aku juga sangat sayang sama kamu, Za ... kadang aku merasa tersiksa dengan perasaan ini yang selalu menyiksa jiwaku." Jihan menunduk dalam.


Jihan pun berusaha mengungkapkan perasaan nya selama ini terhadap Firza.


"Aku cemburu juga kamu dekat dengan gadis lain termasuk Puspa, tapi aku nggak mungkin bilang itu sama kamu karena kita bukan pasangan kekasih dan kita hanya saudara. Terkadang ... aku sering bicara sendiri, kenapa aku bisa memiliki perasaan yang lebih sama kamu. Jika itu hanya menyiksa batinku saja! sebab sampai kapanpun aku nggak akan pernah bisa memiliki mu!" Jihan memaksakan untuk mengangkat wajahnya yang terasa berat dan malu karena sudah mengungkapkan perasaannya terhadap Firza.


Firza menghela nafas dalam-dalam dan rasanya tercekat saliva nya di tenggorokan mendengar perkataan dari Jihan yang secara tidak langsung kalau memang perasaan mereka tidak akan berujung baik.


Semua hanya sia-sia, perasaan yang terpupuk sejak lama! kendati tanpa disengaja harus di buang begitu saja. Dijauhkan dari lubuk hati mereka berdua, karena mungkin perasaan itu tidak layak hadir dan bertahta di lubuk hati sanubari yang terdalam.


Nama keduanya terukir indah di hati sanubari masing-masing dan haruskah nama mereka berdua pupus? dan pada kenyataannya biarpun ada yang menghuni ... tetap saja nama itu tidak pernah hilang ataupun tergantikan.


"Terus. Sekarang kita mau gimana Ji? karena perasaan itu belum tentu mudah untuk kita membuangnya jauh-jauh!" gumamnya Firza.


"Kamu ngomong apa, Za?" Jihan menatap lekat ke arah Firza. Jihan pikir sedari tadi pas mulai makan, Firza itu melamun! namun tiba-tiba sekarang dia berbicara seperti demikian.


"Ha? apa, gue ngomong apa?" Firza menirukan yang diucapkan oleh Jihan barusan.


"Iya, lu ngomong apa barusan, sampai ngomong gimana perasaan segala? emang perasaan siapa? perasaan gue baik-baik saja kok, dan gue sudah mulai menata hati. Agar gue tidak terpuruk lagi ataupun meratapi nasib! gue harus bangkit karena Hidup itu harus terus berjalan. Bukan terus menengok ke belakang!" ucap Jihan penuh semangat.


Jelas ucapan Jihan membuat Firza bengong, dia terheran-heran. Bukankah sedari tadi mereka berdua mengobrol tentang perasaan? mengungkapkan isi hati masing-masing yang sesungguhnya sama-sama saling menyukai dan mencintai.


"Eeh cowok kulkas, sedari tadi kamu itu melamun. Diam seribu bahasa! tiba-tiba kamu berkata tentang perasaan gimana? yang belum tentu mudah untuk kita membuangnya! maksud?" Jihan menatap heran ditambah rasa penasaran apa dengan maksud Firza.


"Sebentar-sebentar, emang sedari tadi gue nggak ngomong apa-apa? maksud gue ngomong apa gitu?" selidiknya Firza dengan sorot mata yang serius.


Jihan menggeleng seraya berkata. "Sedari tadi kita makan nih ya ... kamu itu diam! aku tanya aja nggak jawab, kamu melamun. Dengan tiba-tiba ngomong gitu! gimana perasaan, yang belum tentu mudah untuk membuangnya. Ya ... gue shock lah, lu ngomong apa? gue gak mengerti."


"Dasar kampret ... ternyata gue cuman melamun, mengungkapkan perasaan gue sama dia cuman dalam lamunan! gila, gue sudah panjang lebar gue ungkapkan. Dalam lamunan doang!" gumamnya Firza dalam hati seraya terus menggelengkan kepalanya.


"Nah kan? kamu melamun lagi, katanya kamu mau menghibur aku, tapi ... lah kamu sendiri yang banyak melamun! gimana sih?" Jihan sungguh tidak mengerti dengan orang yang berada di hadapannya tersebut.


"Ya sudahlah, aku bayar dulu makanannya. Setelah itu kamu mau aku antar ke mana dulu! kan ke pukul 09.00 Masih ada waktu 40 menit lagi, lumayan untuk nongkrong." Firza pun memanggil pelayan restoran.


Lalu kemudian mereka pun keluar dari tempat tersebut, kembali menaiki sepeda motor kesayangan Firza ....


.


Bersambung.