Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Terbaring lemah



Neno-neno ....


Neno-neno ....


Suara ambulance begitu mengerikan, memenuhi gendang telinga. Pasien dikeluarkan dari mobil ambulance dengan kepala berdarah-darah.


Tangan pasien pun berlumur darah, mata terpejam dan tidak terdengar suara sedikit pun. Suasana yang terasa tegang, mengantarkan pasien ke ruang acu.


Dokter segera menangani Vaula yang tidak sadarkan diri itu. Dengan luka-luka di bagian kepala.


Yudi yang tampak tegang dan meras bersalah, mondar-mandir tak beraturan dan tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian yang menimpa kepada Vaula. dalam keadaan kalut dan ketakutan dengan akibat yang sudah dia perbuat. Yudi bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dia takut kalau dia akan di tangkap oleh pihak yang berwajib dan itu pasti.


Dengan kecepatan berita di media membuat berita tragedi yang di alami oleh Vaula sampai ke telinga Alfandi dan keluarga, sehingga dia, Sukma dan anak-anak juga bu Puji dan pak Sardi pun segera pergi ke rumah sakit untuk melihat ke adaan Vaula yang katanya parah.


Anak-anak pun tampak panik dan Sukma menenangkan kedua putra sambung nya tersebut.


"Tenang dan doa kan saja ya? semoga mamanya baik-baik saja, kalian doa kan saja yang terbaik." Lirih nya Sukma sambil memeluk mereka berdua.


Fikri mengangguk. Begitupun dengan Firza yang tampak lebih tegar dan dia yakin kalau kondisi mamanya berkaitan dengan kekasih nya itu. Ada rasa marah dan kecewa yang kini memenuhi ruang hati Firza. Sesekali dia menoleh ke arah ruang icu.


Setelah beberapa waktu dalam penanganan dokter. Akhirnya dokter yang terdiri dari beberapa dokter dan perawat keluar dari ruang tersebut dan langsung Alfandi hampiri untuk menanyakan kondisi Vaula saat ini.


"Giman dok? kondisi pasien saat ini, apakah baik-baik saja?" selidik Alfandi, yang lain pun mengarahkan pandangannya ke arah dokter tersebut.


"Alhamdulillah ... atas doa kalian dan ijin Allah pasien bisa diselamatkan, namun ... masih membutuhkan beberapa jam lagi untuk siuman, berdoa saja agar segera siuman dan kondisinya segera pulih." Ungkap dokter, kemudian dokter pun berlalu dari dekat pintu ruang icu tersebut.


"Ya, Dok. Makasih?" Alfandi mengangguk dan menoleh ke arah keluarganya.


Mereka semua duduk di tempat tunggu dan sesekali melihat ke arah pintu ruang icu dimana Vaula di rawat.


Sukma mengusap kepala Fikri dan Firza bergantian dan lalu melihat ke arah sang suami yang sedang menatap layar ponselnya. "Sayang, aku mau membeli makanan dulu ya? buat cemilan."


"Aku ikut Mom." Timpal Firza sambil berdiri.


"Aku juga mau ikut? Mom ikut Mom ya? please?" Fikri pun berdiri,


Alfandi menoleh dan menatap ketiganya. "Tapi ... biar aku saja yang membelinya, kalian diam saja di sini ya," Alfandi berdiri dan memasukan handphone nya ke dalam saku.


"Baiklah. Aku di sini saja sama Ibu dan Bapak, apa kalian mau ikut papa?" tanya Sukma kepada kedua putranya tersebut.


Kemudian Alfandi beranjak dan membawa langkahnya berjalan melewati koridor dan anak-anak tidak mau ikut kalau papanya yang pergi.


Sukma berdiri dan mendekati pintu, melihat ke arah dalam dari kaca, tampak Vaula berbaring lemah dengan kepala di perban. "Huuh ..." helaan nafas yang begitu panjang lalu ia hembuskan kan perlahan.


"Ya Allah ... sembuhkan lah mamanya anak-anak, berikan dia kesempatan untuk menjalani hidupnya yang lebih baik dari sebelumnya," doa Sukma untuk Vaula.


Bu Puji dan pak Sardi pun mendekati pintu serta meliah kondisi Vaula. "Kasiah  dia ya Pak? kok tega orang otu berbuat demikian pada Vaula, semoga saja dia kuat dan bisa melewati masa kritis ini."


"Aamiin ya Allah ... semoga allah memberikan kesempatan untuk dia bertobat yang intinya menjalani hidup lebih baik." Tambah pak Sardi dengan pelan.


Di sat seperti itu, datang lah orang tua Vaula dari luar kota, menghampiri pak Sardi dan bu Puji yang terduduk lesu, bagaimanapun Vaula adalah mantunya ibu dari kedua cucu nya tersebut,


"Bagai man keadaan putri saya?" tanya bunda nya Vaula dengan wajah sangat cemas yang menyelimuti pasangan suami istri tersebut.


"Apa kabar kalian? dan Vaula masih kritis di dalam, yang sabar ya? semoga cepat pulih dan sehat seperti biasanya," sambut bu Puji.


Pak Sardi yang kebingungan untuk berkata-kata. Hanya menepuk-nepuk bahu besan lelakinya.


Pasangan suami istri tersebut saling berjabat tangan serta pelukan hangat. Kemudian menoleh pada kedua cucunya yang bengong melihat ke arah mereka.


Namun keduanya langsung memasuki ruangan dimana Vaula berada.


Sukma mundur dengan hati yang ikut prihatin.


"Sekarang, orang tua nya sudah ada, sebaiknya kita pulang saja!" pak Sardi menatap istri dan mantu nya bergantian.


"Iya, begitu yang ingin ibu sampaikan!" Bu Puji merapikan kerudungnya.


"Anak-anak, gimana ya. Bu?" Sukma menatap ke arah ibu mertua.


"Kalau mereka ingin menunggui mama nya, gak pa-pa bersama Oma opa nya kok." Balas Bu Puji dengan lirih.


"Iya, kalau maunya mereka nungguin. Boleh, mau pulang? ya bawa pulang." Tambah pak Sardi sambil berdiri dan menggoyangkan kakinya yang terasa kebas.


Beberapa saat kemudian. Alfandi dan anak-anak muncul sambil membuka baju rumah sakit nya.


"Pulang yo? sudah malam nih. Gak baik juga buat calon baby kita." Ajak Alfandi sembari mengusap perut Sukma yang sudah mulai ketara.


"Sudah sadar belum?" tanya Sukma penasaran.


"Belum!" Alfandi menggeleng.


Sukma menoleh pada kedua putranya yang langsung ngemil. "Anak-anak mau nungguin mama atau--"


"Pulang," jawabnya Firza.


"Anak-anak, harus sekolah. Biar besok sore mereka datang lagi, sekarang kita pulang saja." Alfandi menuntun tangan sang istri.


"Iya, Ibu juga ingin pulang." Bu Puji meraih tas nya.


Anak-anak meraih makanan yang Alfandi beli di bawanya pulang.


"Mom, mau minum?" Fikri meminta minum yang Sukma pegang.


"Ooh, iya, minumnya tinggal ini. gak ada lagi." Sukma memberikan dan sebelumnya ia buka terlebih dahulu.


"Nanti kita beli lagi minumnya," kata Alfandi sambil berjalan.


"Hem, kita gak pamit dulu sama besan," ungkap pak Sardi sambil berjalan di koridor rumah sakit.


"Sudah Fandi, tadi pamit. Dan mereka sangat terpukul dengan ke adaan ini, biarlah mereka jangan di ganggu dulu." Alfandi menoleh pada sang ayah.


Mereka pun segera memasuki mobil Alfandi yang kebetulan membawa supir. Sehingga dia bisa duduk santai di belakang.


Tidak lama dari duduknya, Fikri langsung menyandarkan kepalanya di bahu Sukma dan akhirnya.


"Ngantuk bukan?" tanya Sukma pada Fikri yang terlihat mata ngantuk, namun mulut terus mengunyah.


"He'em, Mom. Ngantuk!" sahut anak itu nyaris tak terdengar.


Kemudian, tangan Sukma menarik kepala anak itu ke dalam pangkuannya sampai ketiduran.


Alfandi hanya menghela nafas dengan sangat panjang, sembari memikirkan siapa yang berbuat tega pada mantan istrinya tersebut.


"Kira-kira siapa pelakunya, Fandi? yang membuat Vaula seperti itu?" suara pak Sardi mendominasi suara mesin.


"Iya, Ibu juga penasaran. Tega sekali orang itu melakukan hal demikian, sehingga Vaula seperti ini." Bu Puji tidak habis pikir akan kondisi mantunya yang sampai kritis seperti itu.


"Mungkin, kekasihnya yang berbuat demikian! siapa lagi? kalau bukan dia! kalau bukan dia, kenapa tidak kelihatan batang hidungnya." Gumamnya Firza.


Membuat pasang mata tertuju pada Firza yang sedang asik makan itu, sambil mengerutkan keningnya masing-masing ....


.


Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya? terma kasih sampai detik ini kalian masih setia mengikuti setiap karya ku yang recehan ini🙏