
Senyuman manis dari bibir Excel tidak berhenti terus mengembang sembari memakaikan cincin di jari kelingkingnya Jihan.
"Terima kasih sayang, kita akan lebih serius dan kita sama-sama menyayangi, mengasihi. Dan kita harus berjanji untuk saling setia satu sama lain," ucapnya Excel dengan terus memandangi wajah cantiknya Jihan.
Jihan tersenyum dan mengangguk, menggerakkan matanya melihat ke arah Excel dan cincin yang kini sudah tersengat di jarinya itu silih berganti. "Aku juga ucapkan terima kasih banyak atas segala kebaikan mu."
"Untuk membuat mu bahagia ... apapun akan aku lakukan! sekalipun harus menerjang lautan mendaki gunung tertinggi di dunia ini, lembah yang penuh berduri ataupun menerjang badai." Excel menurun senyumnya.
"Ah itu sih gombal banget! nggak mungkin ... hi hi hi ..."Jihan terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
"Tapi bukannya di dunia ini tak ada yang tidak mungkin, semuanya bisa menjadi mungkin!" Akunya Excel sembari melanjutkan lagi makannya.
Sejenak Jihan menatap lawan bicaranya itu sembari mengulas senyuman, kemudian dia pun melanjutkan makannya yang masih tersisa.
"Gimana kalau setelah makan ini kita nonton?" tawarnya Excel sembari mengelap mulutnya dengan tisu lantas menatap sang kekasih.
"Eh ..." Jihan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya tersebut. "Sepertinya aku harus pulang aja, kalau nonton pasti pulangnya terlalu malam dan aku nggak mau!"
"Ya nggak papa Sayang, kan aku yang ngantar pulang. Paling ntar juga jam 10.00. Malam." Kata Excel sembari melirik ke arah jam tangannya juga.
"Justru itu aku nggak mau, karena jam 09.00 aku harus ada di kosan." Jihan menggeleng.
Bukannya nggak mau nonton tapi memang dari kosan ataupun dari rumah menjadwalkan kalau jam 09.00 malam itu harus sudah berada di kosan kecuali ada sesuatu yang mendadak dan teramat penting.
"Peraturan dari mana sih sayang? kita sudah dewasa, tidak perlu diatur-atur." Excel merasa heran.
"Sebenarnya bukan ngatur sih ... cuman untuk lebih apa ya? disiplin saja. Apalagi aku kan bukan di kampung sendiri jadi setidaknya harus pandai menjaga diri dan menjaga nama baik keluarga, jalan ku masih panjang." Jelasnya Jihan.
"Terus kalau kita mau nonton kapan? masa kamu nggak nemenin aku sih," Excel menunjukkan raut wajah yang kecewa.
"Mungkin di lain waktu, yang pulangnya lebih sore'an seperti jam 09.00 sudah pulang." Jihan melap meja yang berada di depannya.
"Oke, lusa kan hari Minggu! kita jalan seharian, jangan ada penolakan dan tidak ada alasan apapun!" jelas Jihan.
Jihan bergumam. "Insyaallah."
Kemudian mereka pun beranjak dari tempat tersebut, setelah Excel membayar bill nya.
Sambil berjalan, Jihan melirik ke arah Firza berada! yang pura-pura menunduk dalam dan seakan-akan tidak tahu keberadaan dirinya.
"Aku mau pulang, apakah dia juga ikut pulang? atau masih menjogrog di sana? dasar Kulkas." gumamnya Jihan.
Firza pun terus mengikuti Jihan dari kejauhan, sampai memastikan kalau Jihan sampai dengan selamat di kosannya, dan juga Excel pulang meninggalkan Jihan.
"Awas lho ... masuk ke kosannya si Jihan, gau tonjok dan di grebekin. Eh jangan, jangan digrebek. Nanti malah di kawinkan." Monolognya Firza sambil terus mengawasi ke arah kosannya Jihan.
Setelah memastikan Excel pun sudah pulang dari area tersebut, barulah Firza juga balik arah untuk pulang ke kosannya juga.
Saat ini Firza sedang baring-baring di tempat tidurnya Setelah membersihkan diri menatap kosong ke langit-langit dengan pikiran yang melayang jauh.
Lama-lama pasang matanya pun terpejam dibarengi dengan beberapa kali menguap.
Keesokan harinya sebelum masuk kampus, kebetulan Jihan dan Firza bertemu di depan kampus! tentunya mereka berdua saling sapa biarpun dengan nada dingin.
Dan pada akhirnya Jihan pun bertanya.
"Semalam kamu memata-matai aku ya?"Jihan menatap curiga.
"Apa, aku memata-matai kamu?" Firza menunjuk hidungnya sendiri. "Huhuhu ... nggak ada kerjaan banget aku harus sampai memata-matai kamu segala!"
"Huu ... Dasar gadis aneh! bisa-bisanya menuduh orang memata-matai dirimu segala, emangnya gue nggak ada kerjaan apa?" Firza sambil membawa langkahnya mendatangi teman-teman kuliah.
"Bukannya kalian itu saudara! kok jutek amat sih lo sama dia? jangan-jangan kalian bukan saudara!" kata salah satu temannya Firza sambil berjalan.
"Emangnya kenapa? gue saudara atau nggak sama dia, nggak ada urusannya dengan kalian." Ketusnya Firza.
"Kalau seandainya bukan saudaraan ... hati-hati, nanti benci jadi Cinta. Secara dia cantik, tubuhnya bagus! penampilan sederhana. Sopan dan anggun! berkerudung, pokoknya termasuk sempurnalah." Tambah yang lainnya.
"Terserah kalian lah." Firza mendahului berjalan masuk ke dalam kampus.
Setelah berapa jam mengikuti mata kuliah. Firza lanjut berniaga mie ayam dang langsung sibuk melayani costumer yang sudah menunggu dilayani pemuda tampan dan cool tersebut.
"Aku pesan satu, dan mau di makan di sini. Jangan pakai sambel, cukup saos saja," suara itu yang di tujukan kepada Firza.
Mendengar suara itu merasa kenal. Membuat Firza menoleh pada sumber suara. "Kau?"
"Iya, emangnya kenapa?" Jihan menautkan alisnya hingga bertemu.
"Nggak, kaget saja. Kirain gak level makan di sini, secara sekarang kan ada Excel yang bawa mu makan di restoran mewah!" Firza menggoyangkan bahunya dengan suara yang pelan yang bisa didengar hanya oleh Jihan seorang.
"Jadi benar kan, semalam kamu itu ngikutin aku? memata-matai ku, ngaku aja deh?" Jihan menatap penasaran. Hatinya yang paling dalam ingin mendengar kejujuran dari Firza mengakui kalau semalam memang mengikutinya.
"Jangan GR aku di sana ada keperluan! bukan sengaja, apalagi memata-matai mu, Nggak ada kerjaan banget gue! lihat dengan kedua matamu kalau di sini aku sibuk! banyak kerjaan yang harus aku kerjakan." Jelas Firza sambil membuatkan mie bakso Buat gadis itu.
"Keperluan apa? aku tidak melihat ada seseorang yang kau temui, kamu kan cuma sendiri saja di sana! duduk-duduk dengan memperhatikan ku!" Jihan kekeh.
"Nih, sudah siap Selamat menikmati!" Firza menyodorkan semangkuk mie bakso kepada Jihan yang langsung di sambut dan membawanya ke kursi yang berada di sebelah kanan.
Jihan mengaduk-aduk mie bakso tersebut, dan langsung ia cicipi. Setelah semakin banyak dimakan rasanya kok semakin pedas ... padahal dia mintanya tidak memakai sambal sama sekali.
Firza yang sedang menyiapkan beberapa porsi mie bakso buat yang lain tersenyum puas, melirik ke arah Jihan yang sedang mengipas-ngipaskan mulutnya, tampaknya dia sangat kepanasan.
"Terbakar-terbakar tuh mulut, ha ha ha ..." Firza mengulum senyumnya sambil mengantar beberapa mangkok mie bakso kepada customernya yang sudah menunggunya. Yang kebanyakan muda-mudi tersebut.
"Hah ... Pedas. Pedas, pedas ... si kulkas tega banget sih sama aku! aku minta nggak boleh di kasih sambel malah dikasih sambel. Mana banyak lagi. Lidah dan mulutku bisa-bisa terbakar nih, ya Allah ... Aku kan nggak suka pedas!" Jihan terus saja mengipas mulutnya dengan tangan dan menghabiskan berapa gelas air minum.
Melihat seperti itu, Firza tentunya tidak tega. Dia langsung meninggalkan tugasnya dan menyambar sekantong roti lalu dia bawa ke tempatnya Jihan berada.
"Ini dimakan rotinya!" Firza memberikan roti pada Jihan yang tampak merah wajahnya dan berderai air mata.
"Kamu, teganya sama aku. Sudah tahu aku nggak suka pedas kenapa dikasih sambel juga?" Pekiknya Jihan tatkala Firza menghampirinya.
"Makan rotinya, jangan banyak ngomong--"
"Aku butuh minum bukan roti, mulutku terbakar nih ... ini gara-gara kamu, kenapa dikasih sambel yang banyak pula?" Jihan kembali memekik dengan mata merah berair dan melotot ke arah Firza.
"Jangan banyak bicara, makan rotinya! karena roti itu akan menyerap rasa pedas yang ada di mulutmu, jangan ngedumel dulu," tegasnya Firza sembari membukakan roti tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut Jihan yang sudah menganga.
"Apaan roti? orang pedas itu minum air putih yang banyak! atau gula!" Suara Jihan yang tertahan, karena mulutnya dipenuhi roti dan hampir saja dimuntahkan lagi. Karena Firza memasukkan hampir setengahnya roti ke dalam mulut Jihan yang kecil.
"Ha ... Ha ..." Jihan mengipas-ngipaskan tangan lagi di depan mulutnya sembari mengunyah roti yang rasa susu.
Wajah Jihan tampak memerah, panas. Pedas dicampur menjadi satu dan air mata pun bercucuran. Bukan karena apa-apa, tapi karena panas dan lidahnya terbakar ....
.
Jangan lupa meninggalkan jejaknya ya terima kasih.