Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Jihan dan Syakila berlarian di atas pasir putih, Fikri sedang membuat mainan dari pasir bersama Marwan dan Firza yang mengatur harus gini dan gitu.


Sukma duduk-duduk sambil menikmati minuman dingin bersama suami yang sambil tampak sibuk dengan ponselnya.


Mereka tengah menikmati senja merah yang indah terbentang di atas cakrawala.


"Mommy-Mommy ... ayo turun? kita bermain di pantai, teriaknya Syakila sembari melambaikan tangannya yang diarahkan pada Sang mommy.


Sukma menarik kedua sudut bibirnya hingga tersenyum melebar. Lalu mengangguk pelan. "Iya sebentar Mommy ke sana ya!"


Manik mata Sukma mengarahkan pandangannya pada suami dengan ponselnya itu. "Aku turun dulu ya, lagian kamu sibuk terus."


"Hooh, boleh." Alfandi mengangguk lalu menoleh pada sang istri.


Lalu kemudian Sukma pun berbaur dengan anak-anak nya. Sementara Alfandi tetap sibuk dengan segala urusannya.


"Ach papa ... katanya liburan tapi sibuk juga dengan urusannya. Aneh lah papa ini!" ucap nya Fikri sambil main pasir-pasiran.


"Iya, kan papa sibuk Abang ... biar saja yang penting kita bersama dan papa meluangkan waktunya buat kita." Jawab Sukma sambil berjongkok di atas pasir.


Setelah matahari tenggelam. Mereka pun kembali ke kamar hotel nya masing-masing. Yang nantinya akan dilanjutkan dengan makan malam.


"Aku cukup bahagia melihat mereka semua happy dan ini momen-momen yang jarang kita temukan. Apalagi setelah Firza maupun Jihan kuliah di luar kota." ungkapnya Sukma setelah melipat alat salatnya.


"Iya ... apalagi mungkin dalam hitungan bulan kemudian ... Marwan pun akan meninggalkan kita, dia akan kuliah di Bandung dan Fikri akan sekolah dan tinggal pesantren--"


"Ya ampun ... iya bener bentar lagi Marwan akan tinggal di Bandung kuliah, Fikri juga akan mondok di pesantren! tinggallah kita cuman berdua, bertiga sama Syakila!" Sukma baru ingat kalau sebentar lagi Marwan akan kuliah di Bandung dan Fikri pun akan mondok.


Hati Sukma menjadi mencelos sedih. Marwan sama adik laki-lakinya akan pergi meninggalkan dia, dan juga Fikri si Abang yang manja buat makan pergi dan tidak tinggal bersama lagi.


"Lho kok jadi sedih sayang? terpisahkan bukan untuk selamanya! tapi hanya untuk sementara dan kita masih bisa bertemu sebulan sekali. Dua bulan sekali. Kita harus mendukung mereka agar menjadi orang yang sukses, orang yang berguna!" Alfandi merangkul bahu sang istri yang tampak sedih.


"Gimana aku tidak sedih? Fikri aja yang baru saja rasanya masih bermanja sama aku! sekarang dia mau lepas sekolah dasar mau SMP. Mana mau mondok lagi!" lirihnya Sukma dengan nada sedih.


"Sayang sesuai usia. Mereka pun akan lebih dewasa dan semuanya akan berubah kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan!" tambahnya Alfandi sambil terus melakukan sang istri.


Sukma menghela nafas dalam-dalam. Kemudian di hembuskan dengan sangat berat. "Tidak terasa ... usia pernikahan kita sudah kurang lebih dari 5 tahun. Makasih Kau sudah menjadi suamiku yang baik yang bertanggung jawab yang menyayangiku dan juga adik-adikku!" Sukma mendongak menatap wajah sang suami.


"Aku juga berterima kasih karena kamu sudah menjadi istriku yang baik, yang menurut! yang perhatian sama aku juga sama anak-anak! yang notabene nya anak sambung." Alfandi menatap lekat dan mengelus pipinya Sukma.


"Aku menyayangi kamu dan juga anak-anak. Seperti aku menyayangi adik-adik ku juga! menyayangi anak ku sendiri." Jawabnya Sukma sembari menyusupkan wajahnya di leher Alfandi.


"Aku mencintai mu, sangat mencintai mu ... tetaplah menjadi istri ku yang penyayang dan perhatian." Alfandi mengeratkan pelukannya di pinggang Sukma.


Lalu kemudian Alfandi mengajak untuk menjemput anak-anak karena mau makan malam bersama. Sedangkan Syakila berada di kamarnya Jihan.


Dan kini mereka sudah berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel mereka menginap. sembari menikmati indahnya malam di kota Bali.


Jihan sedang berjalan-jalan menikmati angin Malam, dan melihat ke arah Fikri dan Marwan yang sedang bercanda ria saling lari-larian.


"Jihan, boleh nggak kalau aku bilang sesuatu sama kamu?" tiba-tiba Firza berkata demikian.


Membuat Jihan menatap heran kepada Firza dan langsung pikiran Jihan melayang-layang, menerawang dengan apa yang akan dikatakan oleh Firza kepadanya.


"Emang kamu mengatakan apa? soal Puspa. Atau hal lain lagi? atau mungkin kamu akan menanyakan salah satu teman aku yang kamu taksir atau gimana?" selidiknya Jihan sembari berdiri sedikit menghadap ke arah Firza.


"Iih bukan itu, ada lagi yang ingin aku katakan tapi bukan soal Puspa ataupun gadis lain ada lagi yang lebih penting sesuatu yang sudah lama--"


Degh.


"Sudah lama, maksudnya?" Jihan langsung memotong perkataannya Firza.


Firza maju beberapa langkah lebih ke dekat pantai yang terkena air ombak kecil. Dengan kedua tangan melipat tidak dada. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan dari sejak lama. Namun aku sendiri bingung untuk mengatakannya, dan aku tidak tahu harus memulainya dari mana!"


Jihan langsung menduga-duga dengan apa yang akan dikatakan Firza, mungkinkah tentang perasaannya yang selama ini dia pendam! suatu perasaan yang sama dengan apa yang ia rasakan? pertanyaan itu berkecamuk dalam dada Jihan.


Namun untuk sementara waktu Jihan terdiam dan mengatupkan bibirnya, sesekali melirik ke arah Firza yang melepaskan pandangannya ke arah lautan luas! dan menghirup udara segar yang menyelusup ke dalamnya kulit.


"Em ... Jihan Sebenarnya gue sayang sama lo--"


"Tahu, kamu sayang sama aku! bagaimanapun kan ... kita saudara. Aku juga ucapkan terima kasih karena kamu selalu berusaha untuk melindungi aku!" Jihan pura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Firza.


Pemuda tersebut menatap lekat ke arah Jihan yang ia sendiri tidak berani untuk membalasnya tatapan itu, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Bukan itu kalau soal itu sih nggak usah aku ungkapkan!" ucapnya Firza.


Bugh.


Tiba-tiba Fikri yang lari-lari menyenggol bahunya Firza. "Sorry kak sorry!" suara pikir sembari terus berlari karena dikejar oleh Marwan.


"Apa-apaan sih dua anak ini lari-lari, kayak anak kecil saja gak melihat apa orang lagi serius!" gerutunya Firza dan Jihan mesem-mesem melihat dan mendengar Firza yang menggerutu karena tertabrak sama adiknya.


Firza mengusap bahunya yang tertabrak tadi dengan wajah yang ditekuk dan masam. "Orang lagi sia-sia ngobrol juga ada-ada aja tuh anak!" melihat ke arah Marwan dan Fikri.


"Dasar cowok cool, gitu saja dah ditekuk wajahnya! gimana kalau digebukin? hi hi hi ..." Jihan terkekeh dan sedikit mencibir Firza.


Membuat Firza membelalakkan bola matanya kepada Jihan. Namun itu tidak berlangsung lama karena detik kemudian dia langsung membuang tatapannya ke lain arah ....


.


Bersambung.