Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Kini Alfandi dan Sukma sudah baikan kembali, sudah menunjukkan kemesraannya yang sangat romantis, Sukma sudah berdamai dengan perasaannya yang marah sama sang suami.


Sukma kini beranggapan kalau Vaula sengaja membuat dia marah dan cemburu untuk membuat rumah tangganya hancur.


"Aku minta maaf ya aku sudah salah, mau kan makan kok Sukma menatap suaminya dengan bibir yang tersenyum merekah.


"Tentu dong Sayang, aku Pasti maafkan mu. Karena aku bukan pria yang sempurna." Sambutnya Alfandi dengan tulus hati.


Kemudian mereka berdua berpelukan kembali. Saling meluahkan perasaan rindu dalam hati yang beberapa hari ini terpendam.


Fikri yang diam-diam mengintip dari lantai atas, tersenyum lebar sembari menggerakan tangannya seraya bergumam. "Yess!"


Setelah itu barulah dia melanjutkan langkahnya menuju arah kamar dengan perasan lega karena sudah membuat mommy dan papanya naikan.


"Gimana kalau Minggu depan atau bulan depan kita liburan ke pantai? kita ajak anak-anak semua." Ajaknya Alfandi sambil menatap sang istri dengan sangat lekat.


"Mau liburan ke mana emang?" tanya Sukma sembari beranjak dari duduknya.


"Kita akan liburan ke pantai dan anak-anak pasti suka! gimana Sayang mau nggak?" jawabnya Alfandi seraya dia pun berdiri dan tidak berjalan bersama sang istri.


"Aku sih mau aja kemanapun aku ikut kok!" Sukma berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke arah kamar putri kecilnya, Syakila.


Sukma membuka pintu kamar dan masuk untuk mengecek putrinya yang sedari tadi tertidur. "Bobo yang nyenyak sayang." Sembari mengusap keningnya.


"Si bawel dah tidur, tinggal papanya nih yang belum di tidurin!" Alfandi memainkan mata nakalnya pada sang istri.


Sukma menggeleng dan tersenyum ke arah suaminya. "Emangnya mau di tidurin? hi hi hi ...."


Kemudian mereka berdua pun berjalan menuju kamar pribadi mereka untuk beristirahat.


...----------------...


"Mau kemana nih?" tanya Jihan yang merasa keheranan karena Excel membawanya melewati jalan yang baru kali ini dia kenali.


"Tenang saja. Kita mau mendatangi ke suatu tempat yang indah dan kita akan menghabiskan waktu weekend ini di sana," jawabnya Excel sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


"Iya, tapi mau ke mana? katanya kan bilangnya mau ke tempat terdekat! tapi ini sudah jauh!" Jihan celingukan mengamati jalan yang sudah dia lewati sebelumnya.


Jihan merasa kalau Excel sudah membawanya lebih jauh dari rencana semula dengan perasaan yang mulai tidak enak. Entah apa yang membuat perasaannya tidak enak.


"Kamu kenapa sih gelisah begitu? Iya sih aku tadinya mau membawa kamu jalan-jalan ke tempat yang biasa tetapi rasanya ... apa salahnya sih kalau kita jalan-jalan ke tempat yang lebih indah yang lebih dari biasanya ini kan hari Minggu," Excel melirik ke arah Jihan yang tampak gusar.


"Kalau tahu gini aku nggak mau ikut, jauh nanti pulangnya pasti nanti kemalaman!" Jihan tampak memajukan bibirnya dengan sorot mata yang tampak cemas.


"Aduh Sayang ... ini kan masih jam 09.00 masih panjang lah ... ke malam itu, pokoknya jam 09.00 malam sudah ada di kosan!" tambahnya Excel sembari menggelengkan kepalanya sedikit.


"Beneran ya jam 09.00 malam sebelumnya harus sudah sampai di kosan!" kata Jihan yang penuh harap.


Yang kemudian mendapatkan anggukan dari Excel meyakinkan kalau dia akan menepati janji. Lalu kemudian dia tersenyum penuh arti.


Tapi lama-lama Jihan pun semakin merasa gelisah, tidak enak hati mau ke mana sih? Excel membawanya? jauh banget.


"Bu-bukannya begitu ... aku merasa aneh aja! kalau tahu kayak gini aku ajak Sri nggak enak kalau nggak ada temennya cuman kita berdua doang," akunya Jihan sembari menatap ke depan, di mana jalanan begitu ramai dengan kuda-kuda besi lainnya.


"Kita tidak cuma berdua di sana, sudah banyak teman-temanku kok. Dan kita akan ke suatu tempat di mana temanku sedang berulang tahun, dan kita akan memenuhi undangannya! 5 menit lagi nyampe!" Ucapnya Excel sembari fokus melihat ke depan.


"Ooh!" Gumamnya Jihan. "Tapi Emangnya siapa yang ulang tahun kok aku nggak mendapatkan undangannya langsung."


"Aduh sayang kan undangannya aku yang terima, aku yang diundang dan acaranya itu di villa aku," Excel memutar kemudi nya membelokan mobil memasuki jalan yang agak sepi dan tampak berapa puluh meter ke depan ada sebuah villa dengan pemandangan yang memang indah.


"Itu villa nya dah kelihatan, itu villa keluarga aku sayang, tempat keluarga kalau sedang bosan di kota, kita menghabiskan waktu di sini di villa itu." Excel menunjuk bila mewah yang sebentar lagi mobilnya akan masuk ke dalam gerbang yang pintunya sudah tampak terbuka.


"Oh terus sekarang orang tua kamu ada di sana?" selidiknya Jihan.


"Kalau sekarang nggak ada! kan ini sedang dipakai teman aku dalam rangka acara ulang tahunnya." Kata Excel sembari masukkan mobilnya ke dalam gerbang.


Jihan melepaskan pandangannya ke arah pintu villa tersebut yang terbuka dan memang terlihat di dalamnya beberapa muda mudi ada yang sedang duduk-duduk, ada juga berdiri dan sibuk berbincang.


Di halaman villa pun terdapat banyak motor dan juga beberapa mobil mewah yang terparkir di tempat tersebut.


"Ayo Sayang turun! mau melamun di sini terus?" Excel sudah berdiri dan membukakan pintu untuk Jihan turun dari mobilnya.


Lamunan Jihan pun terpecah dengan suara Excel dan menyuruhnya untuk turun! sehingga perlahan dia pun turun dari mobil Excel.


"Rasanya aku malu deh untuk masuknya juga! lagian kan penampilan ku seperti ini. Emangnya nggak malu-maluin ya?" Kata Jihan dengan suara yang ragu-ragu.


"Ya kalau kamu malu dengan penampilan kamu sendiri ya ganti aja, di dalam juga ada kok baju yang bagus bahkan pakaian yang seperti mereka pakai," Excel menunjuk ke arah dalam di mana terlihat beberapa gadis memakai pakaian pesta nan seksi.


"Hah? aku pakai pakaian seperti dia? nggak-nggak, aku nggak mau kayak gitu!" Jihan langsung menggeleng dan menolak. Dia yang notabene nya dari dulu memakai kerudung masa harus pakai baju yang terbuka seperti itu.


"Kalau nggak mau ya sudah, yuk kita masuk?" tangan Jihan langsung digandengnya dan dibawa masuk ke dalam.


Semua orang mengangguk dan menyapa kedatangan Excel dengan ramah dan Excel cukup tersenyum kepada mereka semua sambil terus berjalan ke arah dalam.


Di dalam villa bagian depan sih masih tampak biasa-biasa saja, tapi setelah semakin dalam suasananya terasa aneh. Suasananya gelap dan dihiasi hingar bingar, kelap-kelip lampu disko bagaikan di dalam sebuah bar. Dihiasi musik yang keras jedak-jeduk. Tak ubahnya sebuah bar saja.


Dan juga banyak muda-mudi yang tengah menikmati musik. Jihan melongo mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan nggak ada tuh yang namanya kue ulang tahun.


Jihan menoleh ke arah Excel seraya bertanya. "Di mana yang ulang tahunnya? kok di sini nggak ada, di depan juga nggak ada!"


Namun Excel malah mengobrol dengan temannya.


"Gimana bro acaranya? Sorry gue telat tidak apa-apa kan? yang penting gue sudah menyediakan tempatnya!" ucap Excel kepada teman prianya.


"Yoi, Makasih ya dengan tempatnya. Enak dan nyaman dan nggak dekat dengan tetangga." Jawab teman prianya sembari merangkul pinggang seorang wanita mungkin tidak jauh usianya dengan Jihan.


Dalam penglihatan Jihan memang di sana semuanya muda-mudi seusia mereka juga, namun semua wanitanya memakai pakaian gaun pesta yang panjangnya selutut! di atas lutut bahkan ada yang celana super pendek dan atasannya kaos pendek dress yang rendah dadanya, gaun yang ketat. Membuat Jihan merasa malu sendiri, kakaknya aja di rumah yang tidak memakai kerudung tidak pernah seksi seperti itu.


"Apa aku mungkin karena baru pertama kali datang ke tempat seperti ini kali ya? aku jadi parno gini, dan ... berpikir kampungan, ah yang jelas aku tidak nyaman di sini." Gumamnya Jihan dalam hati sembari menggerak-gerakan kakinya membuang kejenuhan apalagi Excel masih tampak asik mengobrol dengan teman-temannya membiarkan dia berdiri begitu saja ....