
"Kalau maunya saya kamu, gimana? kebetulan Fikri pun sudah memberi sinyal setuju kalau saya menikahi kamu," jelasnya Alfandi sambil tersenyum.
Sukma mengedarkan pandangannya ke lian arah. Seraya menghela nafas dalam lalu mengembuskan dengan perlahan.
"Tolong, pikirkan tawaran saya! agar saya lebih jelas untuk menghidupi kalian semua, bukannya saya tidak ikhlaskan justru saya ikhlas! tapi apa salahnya jika semua diperjelas dengan ikatan pernikahan kita," lanjutnya Alfandi.
Kedua netra Sukma kini menatap datar pada pria yang berada duduk di hadapannya itu.
"Seandainya saya mau, itu banyak konsekuensi yang akan aku hadapi, istri kamu. Orang-orang di sekitar, bahkan anak-anak yang mungkin akan menantang ku sebagai ibu tiri mereka," lirih nya Sukma, kemudian menundukkan kepalanya ke lantai.
"Saya tahu itu, dan ... saya paham, saya akan berusaha untuk terus mendampingi mu apapun yang terjadi, dan akan berusaha membelamu karena kamu nggak salah. Saya yang sepatutnya disalahkan dalam hal masalah ini," tegasnya Alfandi.
Sukma mengusap hidungnya yang terasa gatal, lalu beranjak dari duduknya. "Aku ingin ke toilet dulu sebentar."
"Iya, saya tunggu," balasnya Alfandi sambil mengambil ponsel dari sakunya.
Sukma memutar badannya, membawa langkahnya berjalan menuju toilet yang berada di gedung tersebut. Dengan pikiran yang mengambang dan terus berputar! keputusan apa yang harus diambil? yang sekiranya terbaik.
Dia cukup mengerti dengan alasan-alasan yang Alfandi berikan, hati Sukma mulai terenyuh kepada pria yang lebih dewasa darinya itu. Bahkan di balik itu semua memang Sukma sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pria tersebut, yang selalu bersikap baik dan jadi pelindung bagi dia dan adik-adiknya.
Setelah buang air kecil, Sukma membasuh mukanya dan menatap mukanya itu dari pantulan cermin.
"Baiklah Sukma, daripada semuanya kepalang nanggung, ya sudah! terima saja lamarannya. Nggak apa-apa, hadapi yang akan nanti terjadi. Kasihan juga pak Alfandi agar dia lebih jelas dengan memberikan kebaikannya kepada ku dan adik-adikku." Gumamnya Sukma seraya mengeringkan wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Apapun konsekuensinya. Aku harus hadapi dan terima karena ini sudah menjadi keputusanku, oke. Sekarang tinggal bilang daja kalau aku mau menikah dengannya." Sukma melangkahkan kakinya keluar dari toilet tersebut.
"Yah ... anggap saja aku menolong dia dari perbuatan dosa, dari wanita-wanita yang bukan mahramnya. Dari kejahatan syahwatnya. iiy ..." Sukma menggoyangkan kedua bahunya, bergidik geli sambil bermonolog sendiri.
Namun baru beberapa langkah dari toilet, sudah terlihat Alfandi menjemputnya Sukma sambil tersenyum. Dia berjalan ke arah Sukma.
"Lama banget sih di toilet, ngapain saja?" Alfandi berhenti tepat di depan Sukma.
"Aku tidur di toilet, makanya lama!" jawab Sukma dengan senyuman garing nya.
"Ya sudah, mau belanja dulu nggak sebelum pulang?" tawarnya Alfandi seraya berjalan berdampingan dengan Sukma.
"Ha? nanya apa?" Sukma malah balik bertanya.
"Lho, kamu butuhnya apa? bukannya balik petanya!" Alfandi menggeleng kepalanya pelan.
"Em ... kalau yang aku butuhkan sih banyak, seperti keperluan dapur, buat masak!" jawabnya Sukma dengan nada datar.
"Untuk keperluan dapur jangan belanja dulu ya? beli aja yang jadi." lanjutnya Alfandi.
"Kenapa? buat apa nawarin," Sukma heran sembari menghentikan langkah kakinya.
"Karena ... besok saya akan ajak kalian untuk pindah rumah." Jawabnya Alfandi.
"Pindah rumah? ke mana? lagian aku nggak mau! nanti bayarnya semakin mahal, sudah tahu aku nggak kerja," protes Sukma dengan tetap berdiri dihadapan Alfandi.
Alfandi menarik sudut bibirnya melukis sebuah senyuman yang manis, lalu tangannya bergerak jari-jarinya menjepit hidung Sukma dengan gemas. "Siapa yang menyuruhmu bayar hem? gak ada!"
"Gimana caranya? aneh banget sih jadi orang!" Sukma semakin dibuat bingung.
Alfandi bukannya menjawab malah dia berjalan ke depan mendekati mobilnya. Lantas membukakan pintu untuk Sukma yang masih berjalan mendekati mobil miliknya.
Hati Sukma yang masih diselimuti rasa penasaran, posisi duduknya menghadap ke arah pria itu yang siap-siap untuk memutar mengemudinya.
"Kenapa liatin terus? baru nyadar ya kalau aku ganteng?" Alfandi terus mengulas senyumnya yang terus mengembang.
"Siapa juga yang liatin? ge'er banget, aku melihat keluar kok." Elaknya Sukma sambil senyum-senyum sendiri.
"Nah lho, senyum-senyum sendiri. mikirin apa tuh?" godanya Alfandi.
"Iih ... apaan sih? senyum-senyum sendiri, kalau nggak mau! nggak mungkin senyum-senyum."Sukma memalingkan wajahnya ke Sembarang tempat.
Hatinya dibikin berbunga-bunga dengan sikap dan kebaikan Alfandi.
"Gila, hatiku dibikin berbunga-bunga kayak gini, bagai bunga-bunga yang bermekaran di taman." Batinnya Sukma sembari menautkan jemarinya yang berasa berkeringat dingin.
Mobil Avanza Alfandi terus melaju dengan cepat, menuju ke arah kontrakannya Sukma
"Sekalian nanti beres-beres ya di rumahnya?" pinta Alfandi sambil tetap fokus ke depan melihat jalanan yang termasuk ramai.
"Beres-beres apa?" tanya Sukma sambil melirik ke arah Alfandi.
"Semua barang-barang, di beresin biar besok pagi tinggal mengangkutnya," sahutnya kembali.
"Nggak mau ah!" Sukma menggeleng pelan, sorot matanya lepas ke depan melihat roda dua dan empat.
"Mau nggak mau, pokoknya harus mau, saya Paksa!" Alfandi melirik sekilas.
"Bulan ini, kontrakan sudah ku bayar setengahnya. Sayang, kan
.. bila ditinggalkan?" jelasnya Sukma.
"Nggak apa-apa, tinggalin saja! waktu kemarin juga saya bayar lebih. Tidak masalah," sambungnya Alfandi.
"Itu kan, bapak punya banyak duit. Sedangkan aku kan nggak." Sukma dengan nada dingin.
"Pokoknya jangan menolak lagi, besok pindah, titik," lanjut Alfandi yang tidak ingin dibantah lagi.
Sukma memutar bola matanya, jengah. Dan kesal. "Iih, dasar mentang-mentang banyak duit. Main perintah saja, apa-apa juga bukan."
"Jangan menggerutu! saya yang bayarkan, saya yang akan memenuhi semuanya. Kamu tinggal diam di sana. Mengurusnya dengan baik, rumahnya maupun suaminya." Alfandi menoleh dan menaik turunkan alisnya.
"Suami istri, suami istri. Itu saja yang kau katakan." Sukma pura-pura bernada ketus.
"Ha ha ha ... sudah kebelet nih." Alfandi menyunggingkan senyumnya.
Sukma berekspresi sangat geli mendengar omongan Alfandi yang lebih berani tersebut.
Selang berapa waktu, akhirnya mobil Alfandi tiba di depan rumah kontrakannya Sukma.
"Buat makan nanti malam, nanti saya kirimkan ya?" ucap Alfandi sambil keluar dari mobilnya.
Sukma mengangguk sembari menurunkan kedua kakinya keluar dari mobil yang sudah membawanya pulang itu.
"Kak, dari mana sih? ya Allah ... kami nungguin, gimana? sudah dapat kerjaannya?" sambut Jihan yang sedikit berlari dari ambang pintu.
Namun Sukma menggeleng sembari berkata. "Belum dapat."
"Kak Sukma belum dapat pekerjaan, tapi insya Allah dia dapat calon suami!" timpal Alfandi sambil senyum-senyum sendiri.
"Iih apaan sih?" netra nya Sukma mendelik kecil kepada Alfandi.
"Ya sudah, saya pulang dulu ya? Jihan Om pulang dulu ya Marwan mana?" Alfandi mengalihkan penglihatannya pada Jihan dan menanyakan Marwan yang tidak muncul.
"Tidur dia, kecapean kali!" jawabnya Jihan.
"Oke. Ini buat jajan!" kata Alfandi memberikan berapa lembar uang berwarna merah kepada Jihan.
"Nggak pa-pa, uang yang itu pakai saja bila perlu, ini buat Jihan dan Marwan berdua." setelah itu Alfandi langsung memasuki mobilnya kembali dan melarikannya menjauhi tempat tersebut.
Membawa hati yang berbunga-bunga, rasanya bahagia, kendati belum juga mendapat jawaban dari Sukma. Namun dia yakin kalau usahanya tidak akan sia-sia.
"Kak, kenapa Kakak bersama Om Alfandi?" tanya Jihan sambil mengikuti langkah Sukma dari belakang.
"Tadi ... ya Allah, dompet Kakak di pak Alfandi. Tadi Kakak kena jambret, uang Kakak raib yang buat sehari-hari belanja, yaitu uang gaji Kakak."
"Ya ampun Kak ... kok bisa sih? terus gimana dong?" Jihan menatap cemas pada sang kakak.
"Ya, raib. Apa lagi? hilang sudah gaji Kakak, yang terakhir kali nya itu." Keluh Sukma. "Untungnya uang dari pak Alfandi yang buat bekal kalian sehari-hari, tidak Kakak bawa. Kalau saja dibawa, pasti raib semuanya."
"Sabar ya, Kak? semoga apa yang sudah hilang dapat segera tergantikan? dan masih untung Kakak gak kenapa-napa." Jihan memeluk sang kakak.
"Aamiin ya Allah ... kalian sudah makan siang?" tanya Sukma seraya membelai rambut Jihan.
"Sudah, Kak. Oya Kak! tadi om bilang Kaka dapat calon suami. Apa Kakak mau menikah dengan om Alfandi?" selidik Jihan kini menatap penuh penasaran.
"Nggak tahu, om saja ngomongnya aneh-aneh," jawabnya Sukma sembari masuk ke kamar.
Kemudian Sukma gegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan setelah itu seperti yang Alfandi perintahkan, kalau dia harus mengemas barang-barang, supaya besok tinggal pergi.
"Lho, Kak kenapa diberesin pakaiannya? dikeluarin dari lemari?" tanya Jihan ketika kakaknya mengeluarkan pakaian dari lemari dimasukkannya ke dalam tas ransel.
"Nggak tahu, pak Alfandi menyuruh Kakak untuk mengemas semuanya. Kita disuruhnya pindah, ke rumah yang baru, entah rumah yang mana juga?" sahutnya Sukma sembari menaikan bahunya.
"Pindah rumah? pindah ke mana lagi, Kak?" selidik Jihan penasaran.
"Entah, Kakak juga gak tahu." Jawab Sukma sambil terus mengemas pakaian yang sekiranya tidak akan di pakai dalam waktu dekat.
Ketika Marwan sudah bangun, dia merasa heran melihat tas ransel dan dua yang sudah di paking. Berjejer di dekan dinding.
"Kak, itu barang siapa?" tanya Marwan kepada Jihan yang baru saja salat Maghrib.
"Kita mau pindah dari sini?" jawabnya Jihan.
"Pindah? kita mau pindah ke mana Kak?" Marwan terheran-heran.
Kemudian manik mata Marwan beralih kepada Sukma yang baru keluar dari kamar. "Kak kita mau pindah ke mana lagi?"
"Kakak juga nggak tahu, Wan ... Kakak juga disuruh sama om Alfandi, katanya Kakak harus beres-beres," Lirihnya Sukma pada Marwan.
"Ooh, tapi baguslah kalau kita dipindah dari sini, jadi Kakak nggak ada yang gangguin lagi oleh si berandalan itu." Akhirnya Marwan mengangguk setuju.
Semakin ke sini, mereka selalu risih sebab kalau malam datang, kontrakan itu suka didatangi sama pemuda-pemuda yang kurang kerjaan. Meraka selalu datang untuk menggoda Sukma.
"Jadi kamu setuju kita pindah?" tanya Sukma pada Marwan.
"Setuju, Kak. Aku menjadi risih di sini gara-gara mereka selalu godain Kakak, lagian di sini kan nggak ada laki-lakinya, Kak. Sementara aku masih kecil, beda kalau sudah punya suami." Ujarnya Marwan.
"Iya benar, aku juga jadi takut. Mending kalau mereka itu cuman cuap-cuap ngomong doang, kalau sama tangannya yang bicara. Gimana? jadi bikin risih, takut aku," timpalnya Jihan.
"Baiklah, kalau kalian setuju Kakak juga setuju, walaupun sebenarnya Kakak nggak mau. Sebab bila pindah! bayarnya gimana? lagian di sini kan sudah bayar setengahnya untuk bulan ini, kalau harus ditinggalkan sekarang, sayang banget rasanya," ungkap Sukma sambil menghela nafas.
Tiba-tiba Sukma teringat pada Mimy yang belum kelihatan nongol hidungnya. "Oh iya, kak Mimy mana ya? kok nggak kelihatan? sudah apa belum pulang?" tanya Sukma sambil planga-plongo melihat ke arah kontrakannya mimy melalui jendela yang masih terbuka.
"Kak Mimy sudah pulang tadi, tapi pergi lagi sama Kak Beben." katanya Jihan.
Sukma menoleh pada Jihan dan menatapnya lekat. "Sama kak Beben, pergi?
"Iya, Kak. Pergi tadi, kan bilang sama aku! kak Mimy nya," sambungnya Jihan.
Ketika mereka sedang asik ngobrol, terdengar suara mobil di depan kontrakan mereka. Jihan melihat dari jendela, rupanya itu Alfandi, dia datang dengan membawa kantong yang sepertinya berisi makanan.
""Itu Om Alfandi datang, Kak." Kata Jihan sambil duduk kembali di tempat semula dengan berapa buku yang tadi dia baca.
"Biar aja, nanti juga ke sini." Belum kering air ludah Sukma.
Sudah terdengar suara Alfandi yang sepertinya sudah diambang pintu. "Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumus salam." Jawab mereka serempak dan Marwan langsung membukakan pintu tersebut.
"Ayo masuk Om?"ajaknya Marwan.
Alfandi pun mengedarkan pandangannya ke dalam dan matanya mendapati Sukma dan Jihan sedang duduk di sana. Kemudian Alfandi melangkahkan kakinya melintasi pintu.
"Ini makan malamnya buat kalian. Oh iya Mimy mana?" Alfandi memberikan kantong yang dibawanya, kepada Sukma dan menanyakan dimana Mimy yang biasanya ada di sana.
"Kak Mimy sedang keluar, Om. Tadi sama Kak Beben." jawaban Jihan dengan cepat.
"Ooh, ya sudah. Kalian makan saja. Kalian pasti belum makan malam kan?" lalu Alfandi mendudukkan dirinya di hadapan mereka semua.
Sukma pun beranjak untuk mengambil piring ke dapur dan menyajikan semua sayuran dan ikan ke dalam mangkuk, lalu dia membawa kembali ke ruang tengah.
"Wow masakan ikan mas, aku suka, aku suka banget." Marwan mengarahkan pandangannya ke arah mangkuk yang berisi masakan ikan mas.
"Baguslah kalau kalian suka, ayo dong dimakan?" suruh Alfandi.
Jihan dan Marwan langsung menyantap makannya dengan lahap, sementara Sukma mengambilkan nasi dari magic com kebetulan dia cuma menanak nasi doang.
"Ini buatmu," Sukma menyerahkan piring kepada Alfandi yang berisi nasi, biar sendiri yang mengambil lauk-pauknya.
"Sebenarnya, saya sudah makan di rumah sama anak-anak, tapi sepertinya makan di sini lebih nikmati. Apalagi sama istri," ucapnya Alfandi sambil mesem ke arah Sukma yang langsung mendelik kan matanya.
"Iyalah, Om. Kita makan sama-sama," timpal Marwan sembari menunjuk beberapa menu yang ada di sana.
Tang di antaranya, masakan ikan mas, ayam kremes. Lalapan, sambal dan sayur asam. "Kalau kita bertiga saja yang makan nggak bakalan habis, segini banyaknya. Sementara kak Mimy nggak ada!" sambungnya Marwan sambil terus menikmati makannya.
"Baiklah, saya mau makan!" Alfandi bersiap untuk makan bersama Sukma dan kedua adiknya itu, yang diambil duluan adalah ikan mas. Dia makan dengan lahap.
"Aw!." Desis Alfandi sambil mengangkat telunjuknya yang tertusuk duri ikan.
Sontak Sukma mendongak sembari bertanya. "Kau kenapa?"
Tentunya Alfandi menunjukkan jarinya yang tertusuk duri tersebut.
Dengan refleks tangan Sukma meraih jadi Alfandi dan melihatnya. "Mana?" detik kemudian Sukma Mengemut jari Alfandi yang tertusuk duri ikan itu.
Membuat jantung Alfandi dag-dig-dug seakan mau melompat dari tempatnya. Dada berdebar-debar hebat, darah menjalar deras ke seluruh tubuh. Tubuh nya mendadak panas dingin.
Netra nya Alfandi tidak berkedip melihat ke arah Sukma, dan tubuhnya mendadak kaku bagaikan patung ....
.
.
...Bersambung!...