Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Eskrim



Sukma terkikik melihat Fikri di selendang sarung dan peci miring menutupi matanya yang sebelah, persis Kabayan. Sementara ke bawahnya cuma mengenakan ****** ***** saja.


"Hi hi hi ... Fikri apa-apaan, Nak ... kenapa sarung nya gak di pakai saja biar terlihat sopan. Bukan begitu!" Sukma menggeleng sambil tertawa melihat tingkah anak itu.


"Mommy-Mommy, aku gak ada celana ganti nih, ini juga basah ..." ucap Fikri dengan manja sambil menyentuh celananya ********** yang terasa dingin.


Sukma menghentikan tawanya, lalu melihat ke arah Marwan yang sedang belajar. "Pinjem dulu punya kak, Wawan. Sebentar saja kok, walau sedikit longgar juga gak pa-pa, ya? nanti biar papa beli sambil jalan ke sini. Hem?"


"Gak mau, mau beli saja!" rengek Fikri lagi.


"Iya, nanti Mommy minta papa beli, kan Mommy gak tau harus beli dimana? sini? Mommy pasangkan sarung nya." Sukma menarik tangan Fikri agar mendekat dan memasangkan sarungnya agak menutupi bagian bawah dan peci nya pun dirapikan.


"Tuh, kan ... cakep deh kalau rapi gini. Iya kan Kak Wawan?" Sukma melirik ke arah Marwan.


"Top," jari Marwan di acungkan ke atas.


Fikri melihat ke arah Marwan yang sedang membaca buku.


"Ayo dong Mom, telepon papa sekarang?" pinta Fikri pada Sukma.


"Iya, sayang iya. Oya sudah salat belum nih?" tanya Sukma melihat ke arah Fikri dan Marwan bergantian.


"Sudah dong!" jawab Marwan dan Fikri juga mengangguk.


Ne-no-net. Eskrim-eskrim, Eskrim-eskrim. Terdengar suara eskrim di luar, membaut Fikri antusias.


"Mommy-Mommy, mau beli eskrim dong ... minta uangnya?" anak itu menadahkan tangannya meminta uang.


Sukma bengong nih anak berani sekali dan tidak canggung sama sekali padanya.


"Cepetan Mommy ... nanti keburu pergi, uang Fikri tadi habis buat ongkos ke sini lho?" pinta Fikri lagi-lagi menadahkan tangannya.


"Eh, iya-ya bentar? emang mau beli yang harga berapa sih?" tanya Sukma sambil merogoh sakunya yang kebetulan nyakuin uang.


"Eskrim tunggu?" pekik Fikri dari kamar.


"Sepuluh Mommy. Buruan?" Fikri langsung menyambar uang dari tangan Sukma yang senilai dua puluh ribu.


"Eeh, tungguin? Wan mau gak? itu Fikri bawa uangnya dua puluh." Sukma mengalihkan pandangannya pada Marwan.


"Iya, Kak. Aku mau," sahut Marwan sambil melonjak dengan cepat.


Sukma tersenyum melihat kedua anak itu yang berlarian untuk membeli eskrim. Kemudian Sukma gegas naik ke kamarnya mau mengambil ponsel.


Setibanya di kamar, Sukma mencari ponsel yang ia simpan di atas nakas. Kemudian setelah mendapatkannya, Sukma berdiri dekat jendela. Mencari kontak my husband yaitu kontak Alfandi.


^^^Sukma: "Halo? halo?"^^^


^^^Alfandi: "Halo sayang? ada apa?"^^^


^^^Sukma: "Aku, itu Fikri nggak ada ... nggak ada baju ganti, belikan ya? sebelum ke sini ya? baju yang ada di sini kotor! tadi dia main tanah dibelakang. Dan sekarang hanya menggunakan sarung saja!"^^^


^^^Alfandi: "Itu saja sayang? yang harus ku beli. Tidak ada yang lainnya lagi yang harus ku belikan?"^^^


^^^Sukma: "Tidak! cuma itu saja, oh ya, jangan lupa sama ********** juga. Katanya yang dipakai sekarang juga basah."^^^


^^^Alfandi: "Oke, sebentar aku belikan, yakin nggak ada yang harus aku beli lagi dan hanya itu?"^^^


^^^Sukma: "Nggak, cuman ... itu saja! makasih?"^^^


^^^Alfandi: "Sama-sama sayang."^^^


Sukma menutup sambungan teleponnya, kemudian gawainya itu ia simpan di atas nakas kembali. Namun sebelum langkahkan kedua kakinya, ponsel Sukma berdering dan gegas mengambilnya lagi.


Dan yang telepon itu adalah Alfandi, Sukma segera menggulir ikon ijo.


^^^Sukma: "Halo ada apa lagi?"^^^


^^^Alfandi: "Garang amat? aku mau beli sarung sama pecinya, ukuran aku dan anak-anak boleh gak?"^^^


^^^Sukma: "Ha ha ha ... ya bolehlah! kok nanya sih? aneh deh."^^^


^^^"Sayang ... maksud aku, aku mau beli, mau warna apa? kali saja nanti aku pakai kamu nggak suka. Kamu malah geli nanti lihatnya."^^^


Sukma menunjukkan senyumnya sembari menggelengkan kepalanya.


^^^Sukma: "Ya ... terserah! sukanya warna apa? bebas kok sarung kan gitu-gitu juga bolong, he he he ...."^^^


^^^Alfandi: "Kok malah ketawa sih? Aku nanya serius lho, kamu sukanya warna apa? kalau aku beli sarung jawab dong?"^^^


Sejenak Sukma terdiam, tidak lantas menjawab pertanyaan dari Alfandi, kok beli sarung saja sampai nanya? ya terserah orang yang mau pakai lah.


^^^Alfandi: "Kalau peci nya?"^^^


^^^Sukma: "Em, kalau peci ... paling kan satu warna hitam, kecuali peci pak haji dan peci santri."^^^


^^^Alfandi: "Ya sudah, nomornya berapa?"^^^


^^^Alfandi: "Aduh Bapak, peci itu yang pakainya kepalamu sendiri, jadi coba dulu di kepalanya. Baru deh dibeli, dan lihat itu nomor berapa? beda dengan sarung yang longgar, kalau peci kan harus pas."^^^


^^^Alfandi: "Sayang, buat anak-anak? kalau aku sih aku coba dulu."^^^


^^^Sukma: "Kalau buat anak-anak ya bilang aja sama penjaga tokonya ukuran buat anak-anak, usia berapa tahun kek. Tapi beda-beda sih."^^^


^^^Alfandi: "Baiklah kalau begitu, terima kasih atas informasinya bidadariku?"^^^


^^^Sukma: "Iih ... apaan sih? nggak lucu deh."^^^


^^^Alfandi: "Siapa juga yang lucu? aku bukan badut! kalau aku badut nanti mainnya di taman sana, bukan di ranjang sama kamu."^^^


^^^Sukma: "Sudah belanja sana? ngelantur deh."^^^


^^^Alfandi: "Sudah? nggak sabar ingin bertemu ya?"^^^


^^^Sukma: "Iih siapa juga? nggak. Jadi orang sok ganteng deh!"^^^


^^^Alfandi: "Biarin sok ganteng! daripada sok-bakso. Ha ha ha ...."^^^


Sukma hanya tertawa mendengarnya, lalu segera menutup telepon tersebut. Seiring dengan datangnya Fikri yang ribut ke kamarnya itu.


"Mommy-Mommy? kembaliannya diambil sama kak Wawan. Dan dibelikan sama es krim juga." Fikri rame.


"Iya Fikri ... nggak apa-apa! kan tadi sudah Mommy tawarin uangnya sama Kak Wawan, biar kembaliannya diambil sama Kak Wawan dibelikan es krim juga." Jawab Sukma.


"Ooh gitu ya? habis kak Wawan nggak bilang-bilang sih! main embat saja tuh uang." kata pikir sambil memakan es krimnya.


"Mommy-Mommy, kapan ya Papa datangnya? sudah ditelepon belum?" tanya Fikri sambil menjilati es krim yang berada di tangannya itu.


"Iya, sebentar lagi juga datang. Sudah telepon kok! katanya iya mau belikan pakaian buat Fikri juga sarungnya buat di sini, mau?" balasnya Sukma sambil mengelus rambut Fikri.


"Sarung, sama pecinya nggak?" tanya anak itu kembali.


"Iya sama pecinya!" Sukma mengangguk.


Begitupun dengan Fikri. "Mau-mau!"


"Ya sudah, main lagi sama kak Wawan gih? Tante Eh Mommy mau bantuin bibi masak buat makan malam nanti." Sukma bawa langkahnya dari kamar pribadinya itu, sambil menggiring Fikri yang asik menjilati es krim.


Sukma membawa langkahnya turun ke bawah menghampiri dapur, di mana bibi yang sedang masak buat makan malam.


Sementara Fikri berlari ke kamar Marwan dengan masih mengenakan sarung.


"Ikannya sudah di bumbui belum, Bi? biar aku yang gorengnya!" tanya Sukma menghampiri bibi yang sedang tampak sibuk.


"Aduh, Non ... kalau goreng ikan, biar Bibi saja! nanti kena tangan sayang! kalau mau? Nona masak yang lain saja, seperti sayur dan tumisan! kalau soal menggoreng ikan biar bibi saja ya? nanti kena tangannya gimana? bisa-bisa Bibi yang kena marah! sama tuan." Ujar bibi.


"Ah, Bibi ada-ada saja cuma gitu doang." Sukma menggeleng.


"Bukan gitu doang, Non. kalau sudah celaka mah baru kerasa, mana Nona mau masuk kuliah, iya kan? sudah jangan ambil resiko." Kita bibi lagi takut tangan Sukma kena cipratan minyak.


Namun pada akhirnya Sukma pun menuruti kata-kata bibi, dia lebih memilih memasak sayur dan tumisan, kalau menggoreng ikan nanti Alfandi marah dan Bibi yang akan kena marah.


Beberapa waktu kemudian, Sukma tidak mendengar dengan kedatangan mobil Alfandi, Sukma begitu anteng memasak sayur sop iga.


Alfandi menempelkan jarinya di bibir pada bi Lasmi agar Bi Lasmi tidak bicara apa-apa atau tidak memberitahu pada Sukma akan kedatangannya.


Bi Lasmi yang melihat kedatangan Alfandi pun hanya tersenyum dan pura-pura tidak melihat, seperti kemauan Alfandi.


Dengan perlahan Alfandi mengayunkan langkahnya mendekati Sukma yang sedang berdiri dekat masakan. Dan langsung memeluk sang istri dari belakang. "Sedang apa sayang?"


Sukma terkesiap, dan hampir saja mengayunkan tangannya untuk memukulnya tangan yang lancang memeluk perutnya itu dengan sodet. Untung saja Alfandi langsung bersuara yang begitu dekat dengan telinganya.


"Astagfirullah, gimana kalau aku kaget dan memukulmu dengan sodet, mau?" gerutunya Sukma sambil berusaha membuka rangkulan tangan dari Alfandi.


Namun rangkulan itu terlalu kuat, sehingga tidak bisa melepaskan begitu saja. Alfandi malah mengecup kecil tengkuk Sukma, membuat Sukma merasa panas dingin dan malu juga pada bi Lasmi yang terlihat mesem-mesem ....


.


.


...Bersambung!...