Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



"Mau kamu apa sih? kok tega-teganya sih fitnah orang?" sambungnya Jihan dengan nada sedikit tinggi.


"Eh gadis yang keras kepala. Aku bukannya fitnah tapi kenyataan, fakta yang aku lihat dan aku tahu. Aku dengar! enak aja aku fitnah orang, nggak ada kerjaan apa!" jawabnya Firza tidak kalah dari Jihan dengan nada yang agak tinggi.


"Kalau memang faktanya, mana buktinya? bisa nggak buktikan sama aku?" tantang Jihan pada Firza dengan nada kesal.


"Aku banyak kok buktinya, dengan kedua mataku yang melihat dia pacaran dengan beberapa wanita yang masih mahasiswa di sini dan juga dari luar. Bukan cuma ngomong kosong, aku ngomong sama kamu untuk mengingatkan agar kamu tidak sakit hati nantinya! masih mending aku ingatkan melihat kamu itu saudara aku, kalau nggak ingat itu masa bodoh aku!" ujarnya Firza dengan sedikit menurunkan nada bicaranya sambil meracik mie bakso untuk yang lain.


Orang-orang yang berada di sana hanya menyimak antara Firza dan Jihan saling berdebat, tanpa berniat untuk memisahkan ataupun menghentikannya.


"Makasih banyak ya? atas perhatian mu, tapi aku nggak butuh. Karena aku tahu siapa yang baik dan mana yang nggak!" Jihan pada akhirnya mendudukan diri di bangku yang ada di sana, dan memilih di bangku yang tidak ada orang lainnya.


Biarpun kesal tapi perutnya lapar dan ingin makan, sehingga dia pun menunggu Firza mengantarkan mie bakso untuknya.


"Eeh manusia kulkas. Aku pesan mie baksos dari tadi sebelum ada lima orang yang datang baru, sedangkan aku belum juga kamu bikinkan!" pekiknya Jihan Setelah sekian lama menunggu Firza tidak juga mengantarkan pesanannya.


Firza menoleh ke arah Jihan sembari berkata. "Oh ... jadi, kupikir nggak jadi. Karena marah! kamu ingin out."


"Oh nggak jadi?" Jihan mengulangi kata-kata dari Firza sembari memainkan bibirnya. "Aku memang marah! tapi lapar, dan butuh tenaga untuk memarahi mu!"


Lalu kemudian Firza membuatkan mie bakso buat Jihan sembari mengobrol dengan rekannya yang lain.


Sekitar 3 menit kemudian Firza membawakan semangkok mie bakso beserta sebotol air mineral untuk Jihan.


"Silakan menikmati tuan putri ... dan silakan juga dilanjut marah-marahnya nanti!" ucapnya Firza sembari menyodorkan hidangannya! kemudian dia berbalik dan meninggalkan Jihan yang hanya mencibirkan bibirnya.


...--------...


Di suatu hari Jihan sedang berada di sebuah Mall sekedar berjalan-jalan dan juga berbelanja untuk jualan online-nya seperti make up atau kecantikan.


Dan tidak sengaja dia melihat Excel bersama seorang cewek. Menenteng paper bag Dior, dan jelas Jihan merasa penasaran siapakah cewek itu? sehingga dia pun mengikuti ke mana mereka berdua pergi.


"Jihan kamu itu mau ke mana sih planga-plongo, planga-plongo apa sih?" tanya gadis yang bernama Sri tatkala melihat temannya, Jihan langkanya terus diayunkan tanpa tahu ke mana arah dan tujuan.


Jihan menolehkan kepalanya pada sang teman.


"Sri tolong ya? ini belanjaan bawa pulang, aku ada urusan sebentar!" memberikan paper bag kepada Sri agar pulang lebih dulu.


"Kamu mau ke mana? Ini sudah malam kan kamu sendiri bilang jangan lewat pukul 09.00 kita pulang ke kosant!" Sri menatap heran ke arah Jihan yang tampak gelisah dan memperhatikan sesuatu.


"Aku tahu, dan aku nggak akan pulang lebih malam kok ... aku akan pulang pada waktunya, cuman kamu aja lebih dulu pulangnya dan ini tolong bawakan ya." Jihan tetap memberikan paper kepada kepada temannya dan menyuruh pulang lebih dulu.


Kemudian langkah kakinya Jihan bergegas meninggalkan tempat Mereka berdiri sebelumnya. Dan juga temannya yang bernama Sri.


Sri hanya bisa menatap punggungnya Jihan sembari menaikkan kedua bahunya dan dia nggak mau ambil pusing, sehingga dia berbalik untuk pulang lebih dulu.


Jihan terus berjalan dan sesekali melipir antara orang-orang yang berada di sana! yang kebanyakan muda-mudi yang sedang nongkrong di mall tersebut.


"Lho, kemana cewek itu kok nggak ada sih?" Jihan celingukan sambil terus berjalan untuk menyusul langkahnya Excel yang kini hanya seorang diri saja, tanpa ada ceweknya yang tadi bergelayut mesra di tangan Excel dan menjinjing paper bag Dior.


Langkah Excel berhenti di depan konter perhiasan lalu dia memasuki nya. Ujung mata Excel terus memperhatikan geraknya Jihan yang terus mengikutinya, sehingga masuk ke counter yang sama dan Excel tetap saja pura-pura tidak melihat sebelumnya.


"Excel. Kamu tadi sama siapa?" Jihan langsung to the point setelah menepuk bahunya Excel yang tidak melihat dirinya dan memilih-milih perhiasan yang berada di hadapannya tersebut.


Excel yang pura-pura tidak melihat keberadaan Jihan sebelumnya dan menyibukkan diri memilih perhiasan, pura-pura kaget melihat ke arah Jihan. "Lho ... kok kamu ada di sini sayang? kenapa nggak bilang ... kalau kamu mau ke sini juga, kita kan bisa barengan!"


"A-aku ... sama temen aku Sri. kamu belum jawab pertanyaanku tadi kamu sama siapa cewek cantik dan seksi membawa paper bag." Jihan kembali bertanya karena dia merasa belum mendapatkan jawaban dari Excel atas pertanyaan yang dia ajukan.


"Hem ... Cewek yang mana? Oh cewek yang pakai gaun biru itu. Oh iya dia sepupuku sayang dan dia minta diantar belanja, sekarang sudah pulang duluan!" akunya Excel sembari menarik bahunya Jihan.


Keningnya Jihan mengerut seraya berpikir, apa benar yang dikatakannya Excel kalau cewek itu cuman sepupu doang, atau ... pacarnya? seperti yang dibilang Firza kalau Excel banyak pacarnya?


"Sayang sini deh? aku ke sini itu untuk membeli perhiasan untukmu, kamu bilang aja mau yang mana, mau cincin, gelang atau apa?" Excel menunjukkan jajaran perhiasan yang berada di hadapannya.


Jihan pun yang masih kebingungan menggerakan manik matanya melihat banyaknya perhiasan yang berjajar di dalam etalase.


"Coba Mbak, saya pengen lihat cincin dan gelangnya juga kalung yang sebelah sana!" pintanya Excel kepada penjaga toko perhiasan sebagai menunjuk ke etalase yang berada di sebelah kanan tempat yang berdiri.


Jihan hanya terdiam sembari menggerakkan matanya kepada mbak penjaga toko yang mengambilkan perhiasan-perhiasan yang sesuai dengan permintaannya Excel.


"Ayo sayang, come on ... pilih mana yang kamu suka! kamu jangan takut aku kehabisan uang, kan aku sudah bilang ... apapun yang akan membuat mu bahagia akan aku lakukan! buat kekasih ku yang sangat aku cintai ini!" ucap excel dengan nada yang agak sombong.


Jihan tidak menjawab, melainkan melihat perhiasan yang ada di depan mata begitu indah dan memanjakan mata.


"Ayolah sayang ... pilih lah ... apakah kamu ingin membeli semuanya?" lagi-lagi tawarnya Excel sambil menyentuh cincin dan gelang.


"Nggak lah, makasih!" Jihan menolak karena merasa tidak enak.


"Sayang tidak usah sungkan! bilang aja mana yang kamu sukai dan aku akan membayarnya, atau kamu ingin cincin berlian?" tanya Excel semuanya menatap wajah cantiknya Jihan.


Kepala Jihan langsung menggeleng. "Ti-tidak, aku jadi nggak enak!"


"Hem ... ya sudah karena aku suka yang ini dan aku yakin kau pun pasti suka! aku beli cincin yang ini saja! berapa harganya ini Mbak?" Excel menatap pada pelayan toko emas tersebut.


"Itu sekitar 15 juta, ini ada berliannya juga!" jawabnya pelayan toko emas.


Jihan hanya terdiam dan menyimak perbincangan mereka. Dalam hati deg-degan tidak menentu! bilakah benar dibelikan cincin itu oleh Excel. Padahal belum lama ini dia memberikan cincin juga yang bukan kaleng-kaleng.


Excel pun dengan tidak ragu-ragu membayar cincin itu dengan alat pembayarannya seperti kartu ATM, seakan-akan tidak berpikir dari mana dia dapatkan uang. Dia hanya tinggal menikmatinya saja uang yang terus mengalir seperti air dari orang tua nya ....


.


Bersambung