
Sepanjang perjalanan. Alfandi terdiam, begitupun dengan Sukma hanya terdiam dan sesekali melirik ke arah Alfandi yang anteng melamun.
Namun anak-anak tampak happy dan saling beradu mulut, dengan cerita atau pandangan masing-masing.
"Aku akan membuat bangunan uang indah-indah itu!" kata Marwan sambil memandangi bangunan-bangunan yang dia lewati.
"Seperti papa dong, Kak ... papa banyak gambar bagus dan pandai bikinnya." Timpalnya Fikri sambil menatap ke arah luar.
"Iya, Kak Wawan Mau jadi arsitek ahc." Marwan menoleh pada Firza yang tampak melamun.
"Kau sendiri bercita-cita jadi apa?" selidik Jihan melirik ke arah Firza.
"Ha? gak tahu!" jawabnya singkat.
"Lah, kok gak tahu sih, Anak es? gak punya cita-cita, rungkad bhasti ..." timpalnya Marwan.
''Dari pada nanti gue gila karena gak kesampaian! lah biar mengalir saja," jawab Firza kembali dengan santainya.
"He he he ... betul jug sih!" Marwan mengangguk sambil nyengir.
Firza kini yang menatap ke arah Jihan. "Kau sendiri?"
"Aku ... aku sih pengen jadi guru, tapi gak tau kecapaian atau nggak. Atau mungkin cuma mimpi. Ha ha ha ..." gadis itu tertawa.
"Heh!" gumamnya Firza sambil menggeleng.
Sukma menoleh pada Alfandi yang juga menoleh ke arah dirinya dan lantas Sukma meletakkan kepala di bahu Alfandi yang langsung di kecup keningnya dengan mesra.
Sukma bersandar dengan tangan di pangkuan Alfandi. Dan Alfandi pun menggenggam mesra dan di ciumnya.
"Apa yang di katakan oleh Vaula terhadap orang tua ku!" gumamnya Alfandi dalam hati.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah Sukma, di sana sudah berdiri bi Lasmi dan Mimy menyambut kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum ..." Sukma turun menghampiri bi Lasmi dan Mimy.
"Wa'alaikum salam ..." balas bi Lasmi dan Mimy berbarengan.
"Wieh ... yang pulang honeymoon ... happy banget." Sambut Mimy sambil memeluk Sukma.
"Em ... kangen. Kapan pulang dari kampung?" tanya Sukma sambil memeluk Mimy.
"Gue juga kangen, gue dah beberapa hari lalu pulang ke sini. Gimana honeymoon nya, menyenangkan bukan!" selidik Mimy sambil menatap intens ke arah Sukma dari mulai ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kau ini, yang begitu ditanyain. Liburan ku menyenangkan kok." Balasnya Sukma sambil mesem-mesem.
"Eeh ... apa ini?" Mimy menyingkirkan sedikit syel yang membalut di leher sahabatnya itu.
Sukma celingukan pura-pura gak ngerti.
Syel yang menutupi banyak memar di leher mulus tersebut. "Aish ... banyak nya ... tanda cinta! berapa kali dalam sehari semalam hem?" bisik Mimy sambil melihat ke arah Alfandi juga yang sedang berbincang dengan bi Lasmi yang tampak serius itu.
Anak-anak sudah pada masuk setelah menyapa Mimy sekilas dan mereka ingin istirahat.
"Apaan sih? pengen tahu aja!" Sukma menunjukan wajah sumringah dan bahagia. Matanya pun berbinar.
"Cielah ... yang benar-benar menikmati honeymoon ... benar-benar quality time ya? hebat!" Mimy terus menggoda Sukma sambi mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Sukma menyusul suaminya ke kamar yang sudah duluan ke sana. Setibanya di di dalam kamar, manik mata menemukan beberapa tas koper besar miliknya Alfandi yang dipindahkan dari rumah utama.
Dengan mata yang menatap ke arah koper dan Alfandi yang tidak jauh dari barang-barang nya, Sukma berdiri di dekat pintu.
"Ini barang mu semua?" tanya Sukma sambil melihat ke arah Alfandi.
"Iya sayang. Aku cuma bawa yang penting-penting saja. Tapi kalau pakaian aku bawa semua." Alfandi mengangguk sambil berjongkok mengecek isinya koper-koper tersebut.
"Papa! itu koper siapa banyak dan besar? apa Papa pindah ke sini dan tidak pulang ke rumah lagi?" Fikri yang berdiri di dekat pintu menatap heran pada sang ayah dan koper-koper nya.
"Sayang, Papa pasti pulang ke sana untuk berkumpul sama kalian." Lirihnya Alfandi sambil berdiri mendekati si bungsu yang mendekati Sukma.
"Kalau Papa gak pulang, Fikri juga mau di sini saja sama Mommy dan Papa. Nggak mau ke sana." Fikri menggeleng dengan nada sedih.
Nyess ....
Sedih rasanya mendengar kata-kata seperti itu. Sukma langsung memeluk Fikri dengan erat seraya berkata. "Kalau seandainya Fikri sedang berada di sana. Papa pasti temui Fikri kok!"
"Kenapa begitu? kenapa papa gak tinggal lagi di rumah sana? Mommy kenapa?" Fikri semakin penasaran dan mendongak kepada Sukma.
Sukma mengarahkan pandangannya kepada Alfandi yang cuma terdiam. Lalu Sukma berjongkok dan menatapi wajah anak itu dengan sangat lekat.
"Papa ... dan mama Fikri. hubungannya sedang kurang sehat. Jadi ... papa sekarang akan tinggal di sini untuk selamanya!" suara Sukma dengan lembut serta mengusap rambut anak itu.
Hati Fikri semakin sedih. Dan dia menjadi menangis. "Apa papa dan mama marahan dan pisah? hik-hik-hik."
Manik mata bergerak kepada Alfandi dengan memberi kode. Gimana ini?
Alfandi mendekati Fikri dan menyentuh bahunya. "Fikri ... dengarkan Papa sayang. Papa dan mama ... iya, berpisah. Dan juga kakak, akan ikut Papa berada, sama mommy juga."
Kedua bahu Fikri bergetar, menangis. Bukan tidak mau tinggal bersama mommy nya, tapi bagaimanapun dia merasa sedih mendengar orang tua nya berpisah. Alias tidak bersama lagi.
"Kenapa mama dan papa pisah? kenapa, Papa?" Fikri mendongak.
"Suatu saat nanti ... Fikri akan tahu alasan apa dan kenapa? untuk saat ini, Fikri tidak akan mengerti." Alfandi mengusap punggung Fikri yang menyusup ke dalam pelukannya.
Sementara waktu, Fikri menangis dalam pelukan sang ayah.
Sukma mengusap pipinya yang basah, hatinya merasa terhormat melihat Fikri menangisi perpisahan orang tua nya. Dan lalu beranjak memilih tuk mandi.
Namun ketika Sukma melepas syel dari leher, Fikri melepas pelukannya dari sang ayah dan menoleh ke arah Sukma.
Lantas menajamkan penglihatannya. "Mommy ... itu leher Mommy kenapa memar begitu? di gigit apa sehingga luka begitu?"
Sontak Sukma melirik ke arah sang suami dengan mata yang melotot dengan sempurna. "Kata ku juga apa? jangan sembarang berbuat, jadinya begini ... apa yang harus ku jawab?" batin Sukma sembari menatap ke arah Alfandi yang cengar-cengir dan menggaruk tengkuknya.
"Ehem, Mommy di gigit serangga, ketika di tempat liburan. Jadinya luka kaya gini deh!" akunya Sukma sembari menyentuh lehernya.
"Sakit gak, Mom?" Fikri menatap lekat pada Sukma.
"Iya, Sakit nih." Sukma mengangguk pelan.
"Jahat banget ya serangganya? tapi kenapa cuma sama Mommy jahat nya? Papa gak di gigit?" Fikri melihat tangan Alfandi bergantian.
"Tuh, kan bener! Papa gak kenapa-napa, gak ada bekas gigitan sama sekali si papa!" ungkap Fikri setelah tidak mendapati sedikitpun bekas gigitan di tubuh Alfandi.
"Nggak, sama Papa ... serangganya cuma menggerayangi saja. Tanpa menggigit sedikit pun." Akunya Alfandi sambil tersenyum penuh cibiran pada sang istri.
Membuat manik mata Sukma kembali mendelik dan membelalak dengan sempurna ke arah Alfandi.
"Iya, begitu ya? Pah. Serangganya baik sama Papa tapi jahat sama Mommy." anak itu menjadi bengong seolah memikirkan sesuatu sambil mengusap pipinya yang di bantu oleh Alfandi.
Waktu beranjak menjelang sore dan Alfandi mulai menyuruh orang-orang nya untuk membereskan barang-barang Fikri dan Firza sebagian untuk di angkut ke rumah ini.
Firza begitu kaget mendengar celotehan Fikri yang katanya papa mau pindah ke sini untuk selama-lamanya. Firza langsung mendatangi papanya yang berada di lantai atas, di ruang kerjanya ....
.
.
...Bersambung!...
Ayo-ayo mana like, komendan dukungan lainnya🙏 reader ku semuanya? jangan lupa biar author yang satu ini tetap semangat!
Terima kasih ya?