
"Lepaskan dia!" pinta nya Firza sambil menatap tajam ke arah para pemuda itu.
Orang-orang yang mungkin hendak pulang pun mengarahkan pandangan ke arah mereka.
"Jangan ikut campur deh ... ini bukan, bukan urusan mu, jadi jangan pernah macam-macam." kata pemuda yang tadi ditendang oleh Jihan.
"Enak saja kau bilang bukan urusan ku, dia cewek ku." Firza maju beberapa langkah dan menarik tangan Jihan dengan cepat.
Kini Jihan berada belakang Firza yang berusaha melindungi gadis yang tampak ketakutan itu.
"Kau, jangan cari gara-gara ya sama kita!" kata kedua pemuda itu dengan bertolak pinggang serta tatapan yang tajam yang di arahkan pada Firza.
Firza mau mundur dengan teratur mendekati motornya serta memberi kode pada Jihan ajar segera naik ke motornya.
Namun si pemuda itu bergantian menyerang Firza yang sibuk menangkis serangannya mereka dan menjauh dari motornya.
"Sebenarnya saya malas melayani kalian semua." Teriak Firza sambil menyerang balik dan mengenai pelipis salah satunya.
"Kurang ajar kau, brengsek. Bang-sat." Si pemuda itu menyerang balik. Namun tidak satu pun kena sasaran.
Namun pada akhirnya Firza naas juga Firza terkena tonjokan pemuda satu lagi yang menyerang di saat Firza lengah.
Jihan menjerit saat Firza terkena tonjokan di pelipis dan dada, membuat dia terhuyung. "Za!"
Kepala Firza terasa pusing setelah pelipisnya kena tonjok. Namun bukan Firza namanya kalau harus menyerah begitu saja, dia dengan gegas bangkit dan menepis rasa pusingnya.
Ciattttthhh ....
Ciatttthhh ....
Dugh!
Dugh!
Dugh!
Kepalan hangat Firza lolos mengenai dada ketiga pemuda tersebut dengan bergantian. Sehingga mereka semua membungkuk memegangi dada mereka.
"Za, sudah Za ... kita pulang? aku takut!" teriaknya Jihan kepada Firza.
Firza menoleh pada Jihan, lalu dengan cepat menghampiri dan naik ke atas motornya dan detik kemudian melaju dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
"Hei ... jangan kabur lho. Tunggu pembalasan dari kita, dasar Cemen. Main kabur aja. Otak udang gak berani menghadapi kita!" teriak para pemuda tersebut.
Sementara Firza terus saja membawa lari motornya bersama Jihan, biarpun kepalanya masih terasa pusing. Melaju dengan sangat cepat menuju kosannya Jihan.
Dan setibanya di kosan Jihan. Jihan langsung mencari es batu untuk mengompres lukanya Firza di pelipis dan dadanya.
"Sini aku kompres dulu, biar tidak terlalu membiru. Atau tidak menonjol." Jihan langsung mengaplikasikan es batu ke luka nya Firza.
Sri mendatangi teras dan bertanya kenapa dengan Firza? Tapi mereka tidak banyak bicara selain bahasa tubuh yang bicara antara Firza dan Jihan.
Sri merasa kasihan sama Firza yang tampak meringis. Lalu mengalihkan pandangan nya pada Jihan. "Kamu tidak kenapa-napa kan Jihan?"
Jihan hanya menggeleng menandakan kalau dia tidak kenapa-napa. Lalu kemudian setelah itu Firza pun langsung pulang ke kosannya.
"Kamu nggak kenap-apa kan pulang sendiri?" Jihan menatap cemas kepada Firza.
"Aku bisa sendiri nggak usah khawatir!" timpalnya Firza sambil mengenakan helm nya.
Jihan menatap kepergian Firza yang dengan cepat menghilang dari depan kosannya tersebut.
"Sebenarnya ada apa sih, Ji?" Sri kembali bertanya dia tetap penasaran karena belum dapat jawaban dari sahabatnya tersebut.
"Tadi ada beberapa pemuda yang mengganggu ku, terus mereka berkelahi. Jadinya seperti itu," Jihan sembari ngeloyor ke dalam kamarnya dengan langkah yang lemas dia masih shock dengan kejadian barusan.
...----------------...
Alfandi menatap lekat pada putranya sambil mengerutkan keningnya! secara tiba-tiba Firza datang ke kantor dan menanyakan hal tersebut. Sesuatu yang tidak benar adanya.
"Kenapa kok tiba-tiba bertanya seperti itu? dapat kabar burung dari mana?" Alfandi menutup berkas yang barusan dia buka.
"Jawaban saja. Pah bener apa tidak? kalau bener! aku sama sekali tidak setuju kalau Papa menikah lagi sama mama, apa Papa tidak tega sama mommy, setelah kebahagiaan kalian selama ini?" Firza menatap Intens ke arah apanya.
Alfandi baru mengerti dan dia berpikir, Oh mungkin Vaula datang menemui Firza dan berkata yang tidak-tidak sehingga putranya langsung datang untuk menanyakan.
"Papa mengganti sekarang mama kamu datang ya? bilang kalau kita akan bersatu lagi! tidaklah ... itu tidak benar, tidak pernah ada niat untuk kembali sama mama sekalipun untuk menyatukan keluarga kita. Jalan kita sudah berbeda dan punya kehidupan masing-masing." Ungkapnya Afandi sembari menggerakkan kursi yang sedang dia duduki.
"Terus kenapa mama bilang seperti itu sama aku! katanya Papa ingin kembali sama dia." Firza sambil mengetuk-ngetuk punggung jarinya di bibir meja.
"Itu maunya Mama aja, mama ingin papa kembali sama dia! papa sih nggak mau, lagian Papa juga tahu kalau kamu ataupun Fikri nggak akan setuju Papa kembali sama mama. Kalian sudah happy kan dengan Mommy yang sekarang ini? buat apa Papa mencari masalah! kembali sama mama lagi!" Alfandi mencoba menjelaskan.
"Jadi itu cuman kemauan mama doang, Papa nggak mau kan?" Firza meyakinkan dirinya. Firza sengaja datang untuk memastikan hal ini.
"Ha ha ha ... enggaklah, Za ... nggak mungkin Papa ingin menduakan mommy, nggak mungkin banget! kamu kuliah saja yang serius tidak perlu memikirkan Papa sama Mama ataupun mommy. Kita akan terus menjalani hidup apa adanya!" tambahnya Alfandi.
"Oh ya Pah, mama juga katanya ingin memindahkan aku kuliah ke luar Negeri dan dia nggak setuju kalau aku sambil magang ataupun berniaga! sementara aku sudah happy dengan keadaan ini. Lagi pula di sini juga banyak kok universitas yang bagus-bagus ngapain ke luar segala!" seru nya Firza.
"Kalau Papa sih ... terserah Firza aja, Firza happy nya di mana ya jalanin lah di situ, papa akan mendukung pilihan Firza selama itu baik untuk kamu sendiri! karena Papa juga percaya kalau Papa ini akan sangat tanggung jawab dan apa yang dia lakukan!" timpal sang ayah yang mendukung penuh kemauan putranya.
Firza mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan perkataan dari sang ayah.
"Papa juga nggak ngelarang kamu magang, berniaga atau kerja apapun! silahkan yang penting halal dan tidak mengganggu kuliah, itu aja! Papa nggak akan ngatur-ngatur Firza karena Firza pasti punya aturan sendiri yang tentunya itu terbaik!"
"Iya Pah Aku cuma minta tolong kalau Mama ingin memindahkan aku ke luar Negeri Papa bilang sama dia, aku nggak mau," ucapnya Firza yang sedikit banyak meminta tolong agar kuliahnya tidak dipindahkan ke luar Negeri sama mamanya.
"Kalau soal itu ... Papa merasa kamu bisa mengatasinya sendiri, jelaskan saja sama mama dan buktikan kalau Firza bisa berhasil dengan pilihan Firza sendiri. Dan Papa akan selalu mendukung putra Papa ini." Tambahnya Alfandi.
Setelah itu Firza pun berpamitan pada papanya. Firza beranjak dari duduknya.
"Kau mau langsung balik lagi?" tanya sang ayah sambil berdiri juga.
"Mau balik lagi sih ... tapi kangen juga sama mommy dan Syakila." Jawabnya sambil meraih tas punggung.
"Ya kalau gitu temui aja dulu mommy sama Shakila, setelah itu baru balik lagi. Setahu Papa mommy sedang membuat makanan kesukaan kalian. Siapa tahu bikinnya banyak jadi kamu bisa bawa,"
Firza sejenak terdiam, lalu kemudian dia mencium tangan sang ayah dan keluar dari ruangan tersebut.
Alfandi hanya punggung memandangi putranya sampai menghilang dari pandangan.
Sepeda motor Firza melaju dengan sangat cepat dan dia memutuskan untuk ke rumah terlebih dahulu, ketemu dengan Sukma dan adik-adiknya.
Setibanya di rumah, Firza langsung menemui Sukma yang sangat keheranan tumben dia pulang di hari biasa.
"Emangnya kak Firza nggak nggak kuliah, hem?" Sukma menyuguhkan minum dan kue kesukaan Firza.
"Kuliah, cuman nggak masuk magang aja, tadi aku habis dari papa!" jawabnya sembari mencubit pipi Syakira dengan gemas.
"Oh dari papa. Emangnya Papa nggak kirim uang?" Sukma menatap penasaran pada putra sambungnya tersebut.
"Nggak Mom, uang sudah aku terima kok! cuma ada sesuatu aja yang aku ingin bicara sama papa."
Sukma terdiam dia ingin bertanya tentang apa, tapi buat apa juga, biar saja lah. Kemudian semua pun menanyakan gimana kabarnya Jihan yang langsung dijawab oleh Firza dia baik-baik saja.
Sebelum pergi lagi, Firza mengobrol dengan Marwan dan sang adik Fikri dan sempat bercanda di kolam renang! sehingga saling mendorong membuat mereka basah kuyup.
Sukma hanya tersenyum melihatnya dari dalam. Terbayang di saat-saat dulu waktu baru bertemu. Firza begitu dingin dan menutup diri. Namun lama-lama Alhamdulillah hati Firza mencair bahkan bisa menerimanya sebagai ibu sambung. Yang sangat disayangi melebihi dari mamanya sendiri ....
.
Bersambung.