Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Mobil-mobilan



"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Alfandi sembari menatap putranya dengan lekat.


"Ahk. Tidak apa tidak ada!" Firza menggelengkan kepalanya, sungguh dia tidak bisa mengatakan itu pada sang ayah.


Hati Firza menjadi sedih, ingin sekali dia bercerita. Tapi harus pada siapa? karena itu hanya itu membuat rumit keadaan. Namun akan membuat sesak di dadanya.


"Yakin? nggak ada yang ingin kau katakan pada Papa?" Alfandi memegangi kedua bahu Firza.


"Tidak, Pah. Tidak ada! oh ya, gimana kalau nanti makan malamnya di restoran saja? aku sudah lama nggak makan di luar, Pah." Firza mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Em ..." kepalanya Alfandi mengangguk sampai beberapa kali. "Boleh ... kalau kamu! mau makan di luar! nanti sepulangnya papa dari tempat teman, Papa akan jemput kalian berdua ya! oke?" Alfandi kembali mengusap kepala Firza.


"Oke, Oke aku tunggu." Firza pun mengangguk setuju.


Lantas Alfandi kembali berjalan menuruni anak tangga, dan langsung bertemu dengan Fikri yang masih berada di bawah sedang bermain dengan beberapa mainannya.


"Lah, Papa mau ke mana lagi? baru saja datang, sudah mau pergi lagi?" selidiknya si bungsu, sepertinya dia tidak rela dengan kepergian papanya itu.


"Papa ... mau ketemu teman dulu ya? sebentar! nanti Papa pulang ... kalian harus sudah siap-siap untuk makan di luar." Pesannya Alfandi kepada si bungsu.


"Makan di luar? wah ... hore ... asik tuh, sama mommy gak?" Fikri bersorak menyambut senang.


"Shuuut ..." Alfandi menempelkan telunjuknya di bibir sambil celingukan, karena Fikri menyebut sebutan mommy agak kencang.


Fikri menangkupkan tangan ke mulutnya dengan refleks.


"Tidak, cuma kita bertiga saja! ya sudah, Papa mau berangkat dulu? jangan lupa salat magrib ya?" Alfandi mengacak rambut Fikri sebelum dia pergi.


Anak itu menatap kepergian sang ayah, memandangi punggungnya sampai dia menghilang di balik pintu utama.


"Tuan? mau ke mana lagi?" tanya bibi yang sedang berdiri di teras, melihat sang majikan yang berjalan begitu cepat mendekati mobilnya.


"Saya ada urusan sebentar, dan untuk makan malam. Saya akan makan malam di luar bersama anak-anak, ya sudah. Saya mau berangkat dulu. Assalamualaikum?" Alfandi dengan cepat memasuki mobilnya.


Seakan tidak ingin membuang-buang waktunya. Dia langsung menyalakan mesin mobil tersebut dan melaju dengan sangat cepat.


...---...


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Non, Non-Non?" panggil Bibi suaranya terburu-buru sembari mengetuk pintu berkali-kali, sementara yang berada dalam kamar. Dia tengah berada di dalam kamar mandi.


"Aduh ... si Non ke mana sih? masa tidur? Non-Non? apa, Non mendengar suara Bibi?"


"Seperti suara, Bi Lasmi? ada apa manggil-manggil? sampai terburu-buru seperti itu!" gumamnya Sukma sembari buru-buru meraih handuk kimono nya.


Sukma buru-buru keluar dari kamar mandinya. Dan menghampiri pintu kamar yang lagi-lagi terdengar diketuk.


"Non ... apa mendengar suara Bibi?" pekik bi Lasmi kembali.


"Iya, Bi tunggu?" Sukma dengan cepat membuka pintu tersebut.


Blak ....


Bi Lasmi berdiri di ambang pintu kamarnya, Sukma menatap heran pada bi Lasmi yang tampak sangat serius.


"Ada apa, Bi magrib-magrib ribut kayak gitu?" tuturnya Sukma sembari melihat ke arah bi Lasmi.


Bi Lasmi menatap intens pada sang majikan yang tampak segar dan memakai handuk di kepala juga. "Non, mau salat?" Bibi malah bertanya.


Sukma menggeleng. "Tidak, belum masih belum bersih-bersih kok," jawabnya Sukma.


"Ooh iya, itu di luar. Ada kiriman mobil dan Non ditunggu sama pengirimnya." Kata bibi yang baru ingat dengan maksudnya mendatangi Sukma tersebut.


Sukma menggercapkan matanya terkesiap. "Mobil? mobil apaan?" dia ingin langsung keluar! tapi mengingat dia yang masih mengenakan handuk, sehingga Sukma mengurungkan niatnya itu untuk berpakaian terlebih dahulu.


"Aish .... Bibi, tahu aja yang keren? tapi mobil siapa? lagian siapa yang pesan mobil? mobil baru bukan?" tanya Sukma kembali.


"Iya atuh, Non ... mobil baru masih pakai pita! lagian kata pengirimnya juga buat Non Sukma di sini," sahutnya bi Lasmi meyakinkan Sukma.


"Ya ... kan siapa tahu saja salah kirim bi ... salah alamat gitu, kan bisa saja!" Sukma seakan tidak percaya.


"Alamatnya beneran di sini, Non. Atas nama Non Sukma. Dari tuan Alfandi." Bibi terus meyakinkan majikannya ini.


"Ha?" Sukma dibuat terkaget-kaget mendengar bi Lasmi menyebut tuan Alfandi, sehingga mulutnya menganga. Apa iya?


"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu, Bi. Gak enak kalau aku kayak gini, Bibi duluan aja turun? nanti aku nyusul, mau ganti baju dulu." Pinta Sukma pada bi Lasmi.


"Jangan lama-lama ya, Non?kasihan deh mereka menunggu!" pesan bi Lasmi.


"Iya, Bi. Sebentar? mau ganti baju doang kok," Sukma segera menutup pintu kamarnya itu.


Dan bergegas mengambil bajunya di lemari, setelan celana dan kaos oblong. Setelah menyisir rambutnya juga. Sukma dengan cepat keluar kamar, apa benar di luar ada kiriman mobil?


"Kiriman mobil apa sih? mobil-mobilan apa? di paketkan?" gumamnya Sukma sambil mesem-mesem kan sendiri dan membawa langkah nya menuruni anak tangga.


Di luar, benar saja terparkir sebuah unit mobil sedan warna merah terpasang berpita yang sangat cantik di depannya. Dua orang yang mengantarnya sedang di suguhi kopi oleh bi Lasmi.


Jihan dan Marwan pun ada di sana, bersama bi Lasmi.


"Kalian sudah salat Maghrib belum?" Sukma mengarahkan pandangan ke arah kedua adiknya tersebut.


"Sudah kak," keduanya menjawab dengan berbarengan.


Kemudian kedua orang itu mengangguk hormat kepada Sukma. "Anda yang bernama Nyonya Sukma?"


"Em ... em, i-iya. Ada apa ya?" Sukma balik bertanya sambil mendudukan bokongnya di sofa, yang tersedia di teras tersebut.


"Kak, mobilnya bagus!" Jihan dan Marwan menunjuk ke arah mobil yang berada di depan agak samping itu.


Sukma hanya menoleh ke arah kedua adiknya dan mobil sedan berwarna merah, lalu kembali mengalihkan pandangan pada kedua orang tersebut.


"Silakan anda tanda tangani kertas ini, sebagai bukti anda sudah menerima unit tersebut." Salah satu orang itu menyodorkan kertas beserta ballpoint nya.


"Tapi saya tidak memesan itu, tidak membelinya apalagi untuk mencicilnya, pak. Mungkin bapak salah alamat dan salah orang yang nama Sukma." Akunya Sukma sembari menggeleng.


Boro-boro membeli mobil, kepikiran punya saja nggak. Di kasih rumah saja sudah teramat berharga buat Sukma, dia tidak bermimpi untuk mempunyai kendaraan! punya tempat tinggal saja sudah cukup baginya.


"Ini benar, Nyonya ... ini benar-benar buat anda dari tuan Alfandi. Dia yang membelinya dengan harga kess." Tambah sala seorang itu.


"Silakan tanda tangan! Nyonya?" suruh orang tersebut.


Namun Sukma tidak serta merta menandatangani kertas tersebut. Dia takut siapa tahu satu saat nanti dirinya akan di tagih untuk membayar unit tersebut.


Sukma menoleh pada sang adik, Jihan. "Jihan, tolong ambilkan ponsel, Kakak di kamar?"


"Baik, Kak!" Jihan langsung berlaluasuk ke dalam.


"Kalau Nyonya mau bicara sama tuan yang beli unit ini, biar saya sambungkan!" kata si bapak tersebut.


"Tidak, biar dari nomor saya saja


Makasih sebelumnya." Tolak Sukma, dia khawatir kalau ini sebagai penipuan. Siapa tahu yang di telepon nanti pura-pura Alfandi padahal bukan.


"Ini, Kak. Ponselnya?"Jihan memberikan ponsel miliknya Sukma.


Sukma bersiap menelpon Alfandi, untuk memastikan! apa benar dia membelikan mobil untuk nya? Atau giaman! Sukma tidak ingin terburu-buru percaya begitu saja pada kedua orang tersebut ....


.


.


...Bersambung!...