
Sukma menunduk malu dan dengan cepat menarik selimut tersebut. Di gulung-gulung nya.
Alfandi mengayunkan langkahnya mendekati Sukma dan dengan cepat menggendong tubuh Sukma beserta selimutnya ala bridal style ke kamar mandi.
Sukma terkesiap ketika merasakan tubuhnya melayang di udara dan meminta di turunkan, namun Alfandi tidak mengindahkan permintaan Sukma tersebut. Dia terus berjalan membawa Sukma memasuki kamar mandi.
Lanjut memandikan Sukma bathub, seperti seorang ayah yang sedang memandikan putrinya. Tentu tidak nyaman dan risih, tetapi tidak membuat Alfandi menghentikan geraknya yang menggosok punggung Sukma dengan sabun.
"Aku bisa sendiri, kau mandilah?" lirihnya Sukma.
"Baiklah. Kita mandi bersama ya sayang?" Alfandi langsung masuk ke dalam bathub dan mandi berdua dengan sang istri dan tidak segan-membuka celana pendeknya terlebih dahulu.
Membuat Sukma sontak memalingkan wajahnya kelainan arah, tak kuasa melihat mahluk tersebut yang semalam terus-terusan menggempurnya tidak mengenal lelah. Kebangetan emang.
Dengan perhatian! Alfandi pun memberikan shampo pada rambut Sukma. Bukan hanya menyabuninya dan menggosok badannya saja.
Sukma sebenarnya merasa malu, atau risih, baru menikah namun suaminya memperlakukan dirinya seperti yang sudah terbiasa saja dan mandi pun berbarengan.
Alfandi seolah memanjakan dirinya dan dia diperlakukan seperti anak kecil yang dimandikan oleh orang tuanya. Mana merasa kurang nyaman dengan kondisi tubuhnya.
Berasa tulang-tulang Sukma sakit semua, serta daerah intinya yang berasa perih dan bengkak, makanya Sukma terlihat sering meringis.
"Kenapa sayang meringis terus, sakit banget ya? kasian istri ini?" Alfandi mengusap pipi Sukma dengan sangat lembut. "Maafkan aku ya?"
Cuph! kecupan mesra mendarat di pipi Sukma, lalu Alfandi menatap lekat pada istrinya itu yang menunduk malu.
Kemudian Sukma mengangkat wajahnya sekilas melihat ke arah Alfandi lalu menunduk kembali. "Apa sebab itu, istrimu tidak mau ku sentuh?"
"Ha ha ha ... tidak lah. Istri ku dulu sangat kuat, tidak seperti dirimu dan dia lebih agresif. Aku aja kalah dan ... sudah akh, jangan ngomongin orang." Alfandi mengibaskan tangannya.
Selesai mandi Alfandi naik duluan dan mengambil handuk untuk dirinya dan Sukma.
"Dasar, tidak punya malu! berjalan tidak memakai sehelai benang pun. Dasar Om-Om, dikira aku patung apa?" batin Sukma sambil menunduk, bagaimanapun dari ujung matanya terlihat kalau Alfandi berjalan tanpa kain sedikitpun.
Alfandi membawa kimono buat Sukma dan menarik tangannya Sukma dari bathub. Keduanya sudah mengenakan handuknya masing-masing.
"Tunggu sebentar ya? jangan kemana-mana dulu ya?" cuph! Alfandi mengecup singkat pipi Sukma.
Kemudian Alfandi pergi dari kemar mandi tersebut dan menyuruh Sukma untuk menunggu sebentar.
Sukma melihat punggung Alfandi yang keluar melintasi pintu. "Mau apa sih? aku kedinginan nih." Lalu Sukma mengedarkan pandangan ke seluruh kamar mandi tersebut.
Kamar mandi ini jadi saksi pertama kalau dia dimanja oleh seorang pria seperti Alfandi.
Sesaat kemudian Alfandi kembali dengan sebuah benda kecil di tangannya, entah dari mana mendapatkan itu, lalu dia mendekati ke arah Sukma.
Pandangan Sukma mengarah ke benda kecil tersebut. "Apa itu?"
"Salep, obat luka!" jawabnya Alfandi sembari menunjukan benda tersebut.
"Obat apa?" tanya kembali Sukma dengan masih menatap salep tersebut.
"Luka lah, masa obat hati he he he ..." sahut lagi Alfandi.
"Iih ... luka apa yang mau di obati nya?" Sukma menggelengkan kepalanya pelan.
"Sini duduk?" Alfandi menyuruh Sukma duduk di tepi bathub dan sia sendiri berdiri. Mengoleskan salep tersebut pada banyak tanda merah di bagian leher dan dada Sukma.
Sukma barulah mengerti, kalau obat tersebut berpungsinya buat apa? kebetulan dia merasa malu kalau sampai dilihat orang, kalau di tempat-tempat tersebut banyak tanda merahnya.
"Cepet hilang ga ya? malu, kalau dilihat orang-orang atau orang rumah." Sukma menyentuh yang memerah itu.
"Setidaknya capat memudar. Gak terlalu kontras. Lagian hari ini kau tidak usah kemana-mana dulu," ucap Alfandi sambil terus mengolesi bagian atas dada Sukma, yang tampak merah banget. Karena ulahnya semalam yang tidak bisa nahan hasratnya itu.
"Harusnya sih seperti itu? tapi gimana, aku harus membaurkan sarapan?" Sukma menatap cemas ke arah Alfandi yang begitu serius mengobatinya.
Alfandi melirik pada wajah Sukma. "Ada bibi yang akan membuat sarapan, Mimy juga ada. Aku akan bilang bahwa kau kecapean dan mereka akan mengerti itu."
Kemudian Alfandi berjongkok. Tanahnya menaikan kimono Sukma yang langsung tangan Sukma turunkan kembali.
"Duduk yang bener, buka kali mu? aku akan mengobati luka mu itu!" Alfandi mendongak.
Sukma terkesiap dan kaget dengan yang dikatakan Alfandi yang mungkin maksudnya mau mengolesi salep tersebut ke daerah inti Sukma yang memang terasa tidak nyaman. Yang berasa perih dan bengkak itu.
Kepala Sukma menggeleng. "Tidak mau, biar aku sendiri yang mengobatinya." Sambil memegangi kimono bagian bawahnya.
"Akh, nurut kenapa sih?" Alfandi kembali menggendong Sukma seperti sebelumnya memasuki kamar mandi.
Lagi-lagi Sukma dibuat terkesiap dan dengan refleks tangan Sukma melingkar di pundak pria tersebut.
Alfandi membawa Sukma ke dalam kamar dan di tidurkan di atas atas tempat tidur dan tanpa ragu atau meminta ijin, dia menekukkan kedua kaki Sukma ke atas persisi seperti ibu hamil yang mau melahirkan.
Sukma dibuat kaget dan tidak menyangka, sontak langsung menyatukan kedua kakinya tersebut. Malu-semalunya seperti itu tepat dihadapan Alfandi. "Aku akan melakukan nya sendiri." Sambil memegangi kedua lututnya di satukan.
"Ck," Alfandi membuka kembali kedua kaki tersebut dan dia mendekatkan wajahnya ke Guha Sukma yang memang tampak merah dan bengkak tersebut. Ternyata mahluk itu jahat juga pada Sukma si gadis yang belum berpengalaman itu.
Sukma memejamkan kedua matanya kuat-kuat, malu semalu-malunya? tangan Sukma pun turun untuk menutup daerah tersebut.
Tetapi gegas Alfandi singkirkan tangan Sukma, supaya tidak menghalangi pemandangannya. Dan biar tangan itu tidak menggangu kerjaannya.
Lalu dengan jari manisnya, Alfandi mengobati bagian yang bengkak tersebut. Mengolesinya dengan salep agar cepat kempes dan sembuh. Supaya bisa segera dia pake kembali, sebab Alfandi sekarang tak akan sanggup bila harus lama-lama menunggu. Menahan hasratnya.
"Sudah," ucap Alfandi sambil menutup salepnya rapat-rapat.
Buru-buru Sukma menutup kedua kakinya serta bangun dan duduk, kini berasa berkurang panasnya. Tidak berani melihat wajah Alfandi yang tampak dari ujung mata senyum-senyum sendiri.
"Belum menunaikan subuh?" Sukma dengan cepat turun dan mendekati lemari untuk mengambil pakaian. "Em ... ngantor gak?"
Alfandi menoleh pada Sukma yang sedang memilih pakaian di lemari. "Nggak, cuma mau keluar tapi gak ngantor. Ingin nemenin istri saja di rumah."
Sukma bergegas menyimpan baju Alfandi di atas tempat tidur yang masih berantakan itu. Dia sendiri langsung ke kamar mandi untuk berganti baju dan mengambil air wudhu.
Alfandi menatapi langkah Sukma yang agak aneh, bibirnya mesem-mesem sendiri. Lalu mengenakan pakaian nya yang sudah disediakan oleh Sukma.
"Salat dulu? jadikan suatu kebiasaan!" titah Sukma sembari berjalan mendekati tempat mukenanya.
Alfandi yang baru saja selesai mengenakan bajunya, melirik pada sang istri yang wajahnya basah dengan air wudhu. "Malas ahk, dingin!"
Manik Sukma, dengan refleks mendelik ke arah Alfandi yang bilang malas.
Alfandi menarik senyumnya ketika melihat sang istri mendelik sempurna. "Iya sayang iya!"
Sukma tersenyum dalam hati terdengar perkataan Alfandi barusan. Dan itu manusiawi sampai Sukma mengulang kembali takbirnya.
Selepas salat, Sukma langsung membereskan tempat tidur menggantikan sepertinya dengan yang baru dan kebetulan masih ada cadangan di lemari.
"Nanti pesan, atau belanja bed cover ya? yang modelnya kau suka." Kata Alfandi yang kini berdiri di belakang Sukma, memeluknya dari belakang serta mencium pipinya dengan singkat.
"Ini juga aku suka kok," gumamnya Sukma sambil meraih guling lalu di rapikan.
"Masih sakit hem? mau keluar gak?" cuph! kecupan hangat di pucuk kepalanya Sukma.
Sukma berbalik dan duduk di tepi tempat tidur. "Malu, tubuh ku rasanya pada remuk nih. Belum nyuci selimut dan seprei di kamar mandi."
"Ya, Sudah. Jangan keluar dari kamar kalau malu, nanti aku bawakan sarapan ke sini ya?" Alfandi membelai rambut Sukma, ia ke sampingkan.
"Tapi anak-anak gimana? mau sekolah?" tanya Sukma teringat pada anak-anak.
"Aku yang akan antar hari ini. Kalau besok bisa pergi sendiri toh dekat, Oya aku mau dibelikan apa? nanti aku keluar." tawar Alfandi yang berdiri di depan Sukma seraya memegangi kedua tangan Sukma.
"Nggak ahk, gak mau apa-apa." Jawabnya Sukma seraya berdiri mengayunkan langkahnya untuk membuka gorden.
"Ok kalau begitu." Alfandi membawa langkah lebarnya keluar kamar. Berjalan menuruni anak tangga dan tampak di meja makan sudah berkumpul, anak-anak dan Mimy sedang membantu bi Lasmi menyiapkan sarapan.
"Pagi semua? apa kabar pagi ini?" Alfandi turun ke lantai dasar dengan tangan dimasukkan ke kantong, tatapannya mengarah pada anak-anak yang berkumpul di meja.
"Pagi, Pah!" sahut Fikri dan Firza hanya diam dan melirik sekilas.
"Pagi juga, Om!" balas Jihan dan Marwan yang masih betah memanggil Alfandi dengan sebutan Om.
Alfandi duduk di antara mereka. "Bi, tolong bikinkan saya kopi pahit ya?"
"Bai, Tuan!" balas bibi lantas membuatkan kopi untuk sang majikan.
Mimy yang merasa heran karena sampai detik ini Sukma belum turun juga, yang biasanya pagi-pagi sudah berkutat di dapur.
"Em ... Sukma mana ya? kok belum turun juga," tanya Mimy pada Alfandi.
"Ha? dia ... kurang enak badan, jadi saya larang untuk turun." jawabnya Alfandi seraya melirik Arah lantai atas.
"Sakit--"
"Tidak, tidak sakit. Hanya kurang enak badan saja dan saya mau bawakan sarapan ke atas." Alfandi mengambil nasi goreng dan telor dadar juga sayur beningnya.
"Kurang enak badan? semalam gak kenapa-napa?" gumamnya Marwan.
"Kau ini, emangnya kalau sakit itu harus bilang-bilang dulu." Jihan menimpali omongan Marwan.
"Mommy kanapa, Pah? aku mau lihat mommy ahk." Anak itu turun dari kursi tempatnya duduk.
"Eh, Fikri-Fikri. Mommy cuma butuh istirahat saja, sekarang kalian sarapan saja oke?" Alfandi berjalan mendekati anak tangga membawa nampan berisi sarapan buat dia dan Sukma sarapan di atas.
Alfandi langsung masuk ke kamar setelah berada depan kamar tersebut. Tampak Sukma sedang tiduran di tempat tidurnya. "Sayang sarapan dulu nih?"
Sukma pun bangun langsung melihat Alfandi datang membawa nampan. "Padahal, gak pa-pa aku nanti turun saja setelah anak-anak berangkat."
"Nggak pa-pa kita sarapan berdua saja di sini." Alfandi duduk di depan Sukma dengan nampan yang dia bawa.
Kemudian mereka sarapan berdua di dalam kamar saling menyuapi satu sama lain. Begitu tampak kebahagiaan di antara mereka terutama dengan Alfandi, sementara Sukma masih tahap penyesuaian karena bagi dia yang belum pengalaman. Sedangkan Alfandi sudah pengalaman dalam berumah tangga.
"Anak-anak pasti naik deh sayang. Mau melihat kamu," ucap Alfandi sambil mengunyah.
"Ha? kenapa gak bilang ... aku malu kalau mereka lihat aku seperti ini!" Sukma panik.
"Sayang ... aku sudah bilang kamu kurang enak badan. Malah Fikri mau tadi naik mau ketemu mommy nya. Cuma ... aku cegah dengan alasan biar mereka sarapan dulu." Jawabnya Alfandi dengan tenang.
"Gimana dong ... terus aku di tanya-tanya gimana, harus jawab apa?" Sukma semakin gelisah.
"Di gigit nyamuk! bilang seperti itu!" Alfandi malah senyum-senyum.
"Ih ... apaan sih? gigit nyamuk kaya gini? gak masuk akal banget deh," protes Sukma sambil menyiapkan sendok ke mulutnya.
"Bilang saja nyamuknya lagi nafsu, jadinya begitu." Alfandi dengan suara pelan.
Sukma bergidik sambil menggoyangkan kepalanya melihat ke arah Alfandi yang malah bercanda.
Tangan Alfandi mengelus pipi Sukma dengan sangat lembut. "Sayang, gak keberatan kan? kalau anak-anak panggil mommy? mommy sama kamu?" nada suara Alfandi kali ini sangat serius.
"Em ... emangnya kenapa? bukankah memang seperti itu harusnya? aku sudah jadi istri pria yang sudah mempunyai putra! otomatis aku jadi ibu bukan?" Balasnya Sukma.
"Makasih sayang? aku yakin aku gak akan salah memilihmu menjadi istri ku!" Alfandi bahagia dan bangga pada Sukma yang dia yakini kalau dirinya tak akan salah dalam memilih istri.
"Aku bukan orang sempurna. Dan aku tidak lah sebaik yang kau kira, aku pasti punya kekurangan yang mungkin tidak akan terlihat sekalipun." Ungkap Sukma sembari menunduk.
Tangan Alfandi bergerak ke dagu dan mengangkatnya. "Jangan bilang begitu sayang, justru aku yang sangat banyak kekurangannya. Aku seorang suami yang mungkin tidak bertanggung jawab, buktinya aku menduakan kalian."
"Bu-bukan niat aku menyindir mu, bu-bukan. Tidak maksud aku seperti itu," Sukma merasa tidak enak.
Bibir Alfandi tersenyum dan menatap lekat ke arah Sukma. "Siapa yang merasa seperti itu sayang ... aku tidak seperti itu. Aku cuma menyadari saja bila aku seorang suami yang tidak seperti yang kamu impikan."
"Udah ahk, makan lagi nih, Aa ..." Sukma menyuapi kembali Alfandi dengan tangannya.
"Mommy? Mommy? Papa? Mommy mana?" suara Fikri dari balik pintu seraya menggedor pintu.
"Sabar anak manja, nanti juga dibukain pintunya. Jangan gitu juga menggedornya!" terdengar suara Marwan juga.
Sukma celingukan, panik harus gimana. Buru-buru Alfandi menyimpan nampan ke meja. Dan memasang selimut di tubuh Sukma sampai menutupi lehernya.
Kemudian Alfandi berjalan mendekati pintu. Blak ... tampak Fikri, Marwan dan Jihan.
Marwan dan Jihan meminta ijin untuk masuk dan menemui Sukma. Lain dengan Fikri, dia langsung masuk saja dan menghampiri Sukma yang sedang selimutan.
"Mommy, kau sakit apa?" tanya Fikri sambil berdiri di dekat Sukma.
"Em ... aku baik-baik saja kok, cuma kurang enak badan saja kok, dengan istirahat juga pasti sembuh." Jawabnya Sukma sembari tersenyum ....
.
...Bersambung!...