
"Aku pikir nggak jadi, kirain Om bohong?" kata Marwan menghampiri Alfandi yang masih duduk di dalam mobil, namun langsung membukakan pintu untuk mereka berdua masuk.
"Buat apa saya bohong? berdosa kalau sampai saya bohongi kalian berdua, ayo masuk?" perintah Alfandi.
"Kamu ini ngomongnya asalnya nyablak aja, pikir dulu kalau mau ngomong." Ucap Jihan sambil mendudukkan bokongnya di jok mobil tersebut.
"Tidak apa-apa, Jihan ... biasa aja kok, santai aja lagi. Barusan saya mengantar anak-anak saya dulu sekolah, ada yang ke SD dan SMP. Dan kalian mau saya masukkan ke sekolah SMP yang putra saya di sana, cuma ... beda jurusan saja," ungkap Alfandi dengan lirih.
"Maaf, Om? bila Marwan ngomongnya suka ceplas-ceplos maklum masih anak-anak," Jihan mengangguk merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, mungkin kalian merasa lama menunggu! saya minta maaf? karena saya harus mengantar anak-anak saya dulu," sambungnya Alfandi. "Ooh iya, jangan lupa sabuk pengaman dipakai, kita berangkat sekarang?"
"Ayo? kita berangkat sekolah ..." ucapnya Marwan begitu bersemangat.
Alfandi tersenyum, langsung menyalakan mobil kembali dan meninggalkan segera tempat tersebut.
"Ooh, iya. Rumahnya sudah dikunci?" tanya Alfandi sembari menyetir.
"Sudah, Om." Jawabnya Jihan dari belakang.
"Ngomong-ngomong, kalian sudah sarapan belum nih?" Alfandi begitu perhatian kepada anak-anak tersebut.
"Sudah tadi, Kakak yang masakin buat kita berdua!" sahutnya Marwan.
"Jadi, Kakak Sukma sudah masak? karena sekarang sudah ada perabotan ya?" Alfandi mengangguk sambil menunjukan senyumnya ke depan.
"Iya, Om. Memang kak Sukma suka memasak." balas Jihan tentang sang kakak.
Sepanjang perjalanan, mereka bertiga mengobrol dan Marwan menceritakan pengalamannya ketika tinggal bersama bibi Lilian. Dari awal sampai akhirnya mereka pindah ke kontrakan.
"Begitu, Om. Di sana biarpun tinggal sama bibi! dan tahu kalau kita anak yatim. Mau maka saja susahnya minta ampun," ungkap Marwan.
Alfandi menggeleng dan hatinya merasa terenyuh sedih. Mendengar cerita Marwan dan Jihan. Dalam hati berjanji kalau dirinya gak akan membiarkan anak-anak itu menderita lagi.
"Nah ... itu sekolahan nya. Semoga kalian betah bersekolah di sana. Putra Om pun sekolahnya di sana yang namanya Firza, semoga kalian bisa berteman baik," ucap Alfandi sambil menunjuk ke gedung sekolah yang mewah dan bertingkat yang akan mereka datangi.
Mereka segera turun dan mendatangi sekolah tersebut. Alfandi langsung mendatangi kepala sekolah untuk mendaftarkan Jihan dan Marwan yang mau bersekolah di sana.
Jihan dan Marwan yang Alfandi daftarkan di SMP Tsanawiyah, tampak sangat bahagia, bisa bersekolah kembali.
"Saya sebagai orang tua murid, menitipkan pada ibu dan bapak guru di sini agar dapat mendidik mereka menjadi orang yang berguna, dan bila ada apa-apa maka hubungi saja saya langsung," ucap Alfandi pada kepada bapak dan ibu guru yang kebetulan ada di sana.
"Semoga anak-anak ini menjadi anak-anak yang berguna, mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk dirinya dan juga orang lain," harap kepala sekolah.
"Jadi ... ini data-data kedua anak ini pak?" tanya Bu guru pada Alfandi.
"Iya, Bu. Dan itu data-datanya yang saya dapatkan dari kakaknya dan mereka sudah tidak punya ayah dan ibu, karena orang tua nya sudah meninggal berapa bulan yang lalu iya kan? Jihan, Marwan?" Alfandi menoleh pada kedua anak itu yang menunduk.
"Iya, Om. Benar!" jawabnya Jihan dan Marwan berbarengan.
"Jadi intinya ... yang bertanggung jawab akan kedua anak ini adalah Pak Affandi, bukan begitu?" tanya ibu guru menatap pada Alfandi.
"Yaps, benar, saya lah yang akan bertanggung jawab akan semuanya, yang berkaitan dengan kedua anak ini," jawabnya Alfandi sembari mengangguk.
Dan ibu guru pun sudah memahami maksud dari Affandi, "Oke. Mulai hari ini juga kalian berdua menjadi murid di sekolah kami." Kata bu guru. "Akan langsung mengikuti pelajaran hari ini."
Setelah obrolan selesai. Alfandi pun pamit pada ibu guru dan juga Jihan dan Marwan, sebelum pergi Alfandi memberikan uang saku kepada Jihan buat ongkos nanti pulang.
"Yang rajin belajarnya ya? yang betah juga carilah teman yang baik, oke! nanti sore saya ke rumah kalian. Tapi apa kalian tahu alamat kontrakan maksud ku hapal?"
"Aku hafal, Om tadi aku di jalan sambil hafalin." Jawabnya Marwan.
"Aku tahu alamat kontrakan ku!" timpal nya Jihan.
Sejenak Alfandi melamun. Gimana kalau anak-anak ini nyasar nanti pulangnya? apalagi ini hari pertama. "Ya sudah, gini saja lah, nanti selesai pelajaran sekolah, kalian tunggu di depan!nanti akan saya kirim orang kantor namanya pak Didi. untuk mengantar kalian pulang, soalnya saya masih khawatir kalau kalian belum hapal jalan," ujarnya Alfandi.
"Ooh, jadi kami nanti jangan pulang dulu? sebelum ada yang jemput ya, Om?" katanya Marwan sambil menatap Alfandi.
"Iya, benar. Karena saya takut kalian belum hafal naik angkutan umumnya juga, nggak hapal jalan nanti kalian bisa kesasar, oke?sekarang saya mau bekerja dulu! belajar yang bener ya? dah ... Assalamualaikum?" Alfandi gegas pergi dengan langkah yang begitu lebar meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Jihan dan Marwan, diantarkan ke kelasnya masing-masing oleh ibu kepala sekolah.
Kini Alfandi sudah berada di dalam mobilnya dan mau langsung ke kantor tempatnya bekerja. Mobilnya melaju dengan cepat dengan harapan dapat segera sampai di tempat tujuan, waktu pun terus berputar yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.
Namun sebelum memulai aktivitasnya di kantor, Alfandi memilih sarapan lebih dahulu dan kebetulan perutnya sudah keroncongan akibat belum sarapan dari rumah.
Kini hatinya sudah merasa lega, karena Jihan dan Marwan sudah ia masukkan sekolah. Tinggal dia memikirkan gimana caranya agar Sukma bersama adik-adiknya pindah ke rumah yang lebih layak, bahkan Alfandi sedang memikirkan supaya Sukma pun meneruskan kuliahnya juga.
"Saya yakin, Sukma nggak akan segampang itu untuk menerima tawaranku agar dia melanjutkan kuliahnya, karena bagi dia adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah saja sudah sesuatu yang tidak ternilai, jadi aku harus memikirkan gimana caranya supaya dia mau melanjutkan kuliahnya?" gumamnya Alfandi sambil makan di kantin yang berada di dalam kantornya itu.
...*******...
"Aku sebenarnya sedang bahagia nih, aku bahagia karena adik-adikku bisa sekolah lagi, walaupun di balik itu aku bingung," kata Sukma sembari bekerja.
Mimy heran. "Kok bingung?katanya bahagia, tapi bingung. Gimana sih?"
"Jelas dong aku bingung, My.
bagaimana caranya aku bisa membalas kebaikan Pak Alfandi? dia yang begitu baik mau menyekolahkan adik-adikku bahkan kontrakan ku yang sekarang sudah dibayarkan, tempat tidur. Lemari, perabotan sudah dibelikan. Bahkan --" Sukma menggantungkan perkataannya.
"Bahkan apa, Ma? jangan bikin gue penasaran dong?" selidik Mimy.
"Dia ... sudah menawarkan ku untuk pindah dari kontrakan--"
"Lah, bagus itu. Ma, mungkin dia pikir kontrakan mu terlalu kecil sementara kamu punya adik laki-laki," sambut Mimy memotong kalimat dari Sukma.
"Mungkin! tapi gimana My? kontrakan sekarang aja kemarin dia bayarin sebab aku belum gajian, gimana pindah ke tempat tempat yang lebih besar? juga pasti lebih besar pula biayanya!" Sukma menggelengkan kepalanya kasar.
"Tapi kalau menurut aku nih ya?nggak mungkin dia nawarin sesuatu, yang justru sebaliknya akan membebankan dirimu! itu nggak mungkin," jelas Mimy pada sahabatnya itu.
Sukma menatap ke arah Mimy. "Iya juga sih, My ... dan justru aku nggak mau terlalu jauh menyusahkan dia. Aku nggak enak, My. Nggak enak sama istrinya nanti." Sambungnya Sukma.
Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya yang sedang membersihkan taman dari daun-daun yang kering.
"Tapi ... menurut aku sih, selama kamu nggak minta-minta dan dia sendiri yang bersedia membantu! kenapa nggak?" lanjut Mimi sambil menyapukan sampah.
"Aah, kamu bikin aku bingung saja," Sukma menepuk kepalanya.
"Kok bikin bingung sih, Ma? justru kamu harus pandai-pandai mengambil kesempatan lho ... bukannya kamu ingin menggapai cita-cita? siapa tahu saja dia juga mau membantu kamu melanjutkan kuliah," ucap Mimy kembali.
Mimy hanya mengangguk, menatap langkah Sukma yang membawa sapu. Berjalan ke tempat lain.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 dan Saat ini Sukma dan Mimy sedang menunggu angkutan umum, untuk pulang ke kontrakan dan tiba-tiba datang Beben dengan sepeda motornya.
"Hai ... Ma? kemana saja? setiap aku lewat sini kamu nggak ada! dan aku kemarin main ke tempat tinggal mu itu, tapi katanya kamu sudah pindah," ucap Beben yang langsung cecar Sukma dengan pertanyaan.
"Hi ... juga! Aku itu sudah pindah dari lama tahu, oh ya kamu datang ke sana ngapain?" tanya Sukma pada Beben sambil menepuk bahunya.
"Ya ... aku mencari kamu, setiap ke sini, kamu nggak ada! kupikir kamu sudah pindah kerja, terus kata mereka tidak tahu." Beben mengangkat kedua bahunya.
"Aku sudah pindah, tidak tinggal di sana lagi. Kalau kerjaan sih masih, masih di situ!" Sukma menunjuk pada gedung rumah sakit yang berapa meternya dari tempatnya berdiri.
Mimy berdiri dan tidak mengeluarkan suaranya sepatah kata pun, hanya memandangi ke arah Beben. Pria yang lumayan ganteng.
Sukma melirik ke arah Mimy dan Beban bergantian. "Perkenalkan ini sahabat aku namanya Mimy, dan Mimy ini sahabat aku juga namanya Beben, teman sedari dulu ya Ben?" Sukma mengenalkan keduanya satu sama lain.
Beben mengulurkan tangan pada Mimy, yang langsung di sambut oleh Mimy dengan ramah.
"Kenalkan? nama ku Beben." Beben mengangguk pada Mimi diiringi dengan senyuman yang manis.
"Namaku Mimy, teman barunya Sukma tapi berasa lama hehehe." Sambut Mimy sembari tertawa kecil.
"Senang dapat kenalan dengan mu?" Beben menatap dalam ke arah Mimy.
Mimy tersenyum simpul, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Oh ya, kalian mau pulang kan? sudah naik saja, ku antar kalian." Beben kembali menaiki motornya dan memberi ruang untuk dua gadis itu duduk di atas roda dua miliknya itu.
"Ya, gak akan diculik nih?" candanya Mimy pada Beben.
"Nggak lah, orang aku mau antar ke kontrakan kalian, boleh kan? Beben menoleh ke arah Mimy dan Sukma bergantian.
"Kira-kira gak ngerepotin, kan Ben?" tanya Sukma sebelum naik.
"Aish ... Kalau ngerepotin ngapain gue ajak-ajak kalian ... Sudah gua tinggalin aja. Kok repot," balasnya Beben.
"Baiklah, ayo. My naik?" Sukma duduk paling belakang dan Mimy di tengah.
"Sebelumnya makasih ya? Abang ganteng .... baik banget," ucap Mimy dan ekspresi wajah yang gimana ... gitu.
"Aduh ... sorry nggak ada receh gue. Ha ha ha ..." sahutnya Beben sambil ketawa.
"Aduh Abang, nggak usah pake receh. Lembaran aja nggak bakalan adek tolak tuh hi hi hi ..." balasnya Mimy.
Beben langsung melajukan sepeda motornya menyusuri jalan dengan tujuan kontrakannya Mimy dan Sukma.
Setibanya di kontrakan mimy pun mengajak Beben untuk mampir dulu.
"Itu kontrakan ku, yang sebelahnya adalah kontrakan Sukma." Mimy menunjuk kontrakan dia dan Sukma.
Sukma langsung masuk ke dalam kontrakannya yang tampak sepi dia pikir apakah Jihan dan Marwan belum pulang sekolah? tapi itu nggak mungkin juga kalau belum pulang.
"Assalamualaikum ... Jihan? marwan? kau ada di dalam?" Sukma membuka sendalnya di depan pintu. Kemudian dia mendorong daun pintu tersebut.
"Kakak ... kami sudah sekolah!" suara Jihan dan Marwan mengagetkan Sukma, sebab dia pikir rumah itu begitu sepi. Nggak ada orang! ternyata anak-anak itu berada di balik pintu.
Sukma berdiri sambil memegangi dadanya yang merasa deg-degan, dan shock dikagetkan oleh kedua adiknya itu.
"Kalian apa-apaan sih? bikin Kakak jantungan tahu! Kaka pikir kalian kemana? rumah tampak sepi." Lantas Sukma memberikan tangannya kepada Jihan dan Marwan yang langsung disambut keduanya.
"Maaf, Kak. Maaf?" ucap Marwan dan Jihan.
"Ooya, Kak. Kami kan jadi sekolah, Kak tahu nggak? sekolahannya besar ... banget anak-anaknya juga pada baik ya kan Wan?" kata Jihan sambil melirik pada Marwan yang langsung merespon dengan anggukan.
"Ooya? senang dong sekolah di sana, yang rajin ya sekolahnya nggak boleh malas! biar pintar dan pandai-pandai lah mencari teman, tentunya teman yang baik," pesannya Sukma kepada kedua adiknya penuh harap.
"Pasti, Kak. Kami berdua nggak akan mengecewakan Kakak ataupun om Alfandi yang sudah mau membiayai kami. Iya kan, Wan?" lagi-lagi Jihan menoleh pada sang adik.
"Iya, Kak. Aku akan semangat sekolah agar menjadi orang yang sukses seperti om Alfandi menjadi arsitek." Timpal Marwan.
Sukma memeluk kedua adiknya itu. "Semoga cita-citamu terwujud ya? dan Marwan adalah adik laki-laki satu-satunya buat kami berdua, harus menjaga kami serta menjadi kebanggaan kami semua, Ibu, bapak pasti bangga bila melihat anak-anak menjadi orang yang sukses dan berguna." Sukma mencium pucuk kepala Marwan penuh kasih sayang.
Jihan dan Marwan mengangguk dengan tatapan mata yang nanar mendengar ucapan sang kakak pertamanya itu.
"Ya sudah, Kakak mau mandi dulu ya? setelah itu Kakak mau masak! oh ya tadi kalian pulang naik apa?" tanya Sukma sambil berjalan.
"Tadinya mau naik angkutan umum, ongkosnya pun sudah di kasih sama om Alfandi, namun kata dia takutnya kami belum hapal jalan, takutnya ke sasar. Jadinya ... kami pulangnya di antar--"
"Lagi, sama om Alfandi?" Sukma memotong perkataan dari Jihan.
"Bukan, tapi si om menyuruh orang kantor untuk mengantar kami pulang," sambungnya Marwan.
"Ooh, ya sudah. Kakak mau mandi dulu." Sukma melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Jihan dan Marwan mengambil tas dan buku-buku untuk belajar. Tapi Jihan ingat kalau cucian belum di angkat makanya dia buru-buru keluar mengambil cucian.
Di teras Mimy, ada Mimy dan seorang laki-laki yang sedang mengobrol dan melihat ke arah Jihan yang membawa cucian kering.
"Kak Sukma mana, Jihan?" sapa Mimy.
Jihan menoleh, lalu menjawab. "Kakak, sedang mandi. Kak Mimy."
"Ooh," Mimy membulatkan bibirnya.
"Siapa dia?" selidik Beben pada Mimy.
"Adiknya Sukma, gak tahu ya?" jawab Mimy menatap ke arah Beben yang tampak manis itu.
"Ooh, Jihan ... sudah besar dia? dulu masih kecil." Beben tersenyum mengingat anak itu yang dulu masih kecil dan sekarang sudah perawan.
"Namanya juga hidup! ya tumbuh lah, masa Segede itu-itu saja. Aneh deh kamu." Mimy mesem-mesem ....
.
...Bersambung!...