Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Menyenangkan



Setibanya di rumah Sukma, Alfandi berdiri di dekat mobil sedan milik Sukma yang dia kirimkan tersebut, dengan bibir tersenyum. Tangannya mengusap dan mengelus body mobil itu. "Semoga istriku suka!"


Setelah sejenak berdiri di dekat mobil itu. Alfandi langsung masuk! karena dia memiliki akses sendiri untuk masuk ke rumah tersebut tanpa harus merepotkan orang atau mengganggu orang lain tidur untuk membukakan pintu.


Suasana di dalam rumah sudah tampak sepi dan gelap, karena memang jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 malam dan tentunya orang-orang sudah beristirahat.


Kedua netra Alfandi bergerak menyisir setiap sudut yang memang sudah tampak sepi dan gelap itu. Detik kemudian dia mengayunkan langkah kakinya menaiki anak tangga, namun sebelum kakinya penampakkan di lantai atas! sudah terlihat sosok Sukma yang menyambut kedatangannya dengan senyuman.


"Assalamualaikum ..." sambut Sukma, tidak lupa dengan senyuman yang termanis yang dia miliki.


"Wa'alaikumus salam, sayang belum tidur?" balas Alfandi sambil mendekati sang istri.


"Tadi aku sudah tidur, namun 1 jam yang lalu aku terbangun." Sukma meraih tangan Alfandi dan diciumnya penuh hormat punggung tangan sang suaminya itu.


Memang sikap Sukma kepada Alfandi berbeda dari sikap manisnya Vaula zaman dulu terhadap dirinya. Sukma lebih menyenangkan dan sering mengingatkan dirinya sebagai umat muslim yang baik.


"Kenapa terbangun? kangennya ya?" godanya Alfandi sambil mengusap pipi Sukma dengan lembut.


"Nggak juga! geer banget sih?" jawabnya Sukma, keduanya berjalan dengan begitu menempel satu sama lain. Lalu masuk ke dalam kamarnya.


Alfandi merangkul pinggangnya Sukma dan diajak nya masuk ke dalam kamar, yang menggunakan lampu temaram. Sehingga sebelum masuk lebih dalam Alfandi menyalakan lampu agar lebih terang.


"Bukan ge'er sih, tapi kan memang boleh. Kangen sama suami sendiri, kan? yang nggak boleh itu kangen sama pria lain!" ucapnya Alfandi sambil mendudukan dirinya di sofa, begitupun dengan Sukma.


"Apa kau menyindirku? apa kau juga mau aku seperti itu?" goda Sukma kepada Alfandi.


Alfandi meremas jemari tangan kanan Sukma, dengan lembut sambil menunjukan senyumnya, menatap intens pada wajah istri mudanya itu.


"Nggak lah sayang ... justru aku nggak mau seperti itu, sudah cukup satu kali istriku yang melakukan seperti begitu. Jadi jangan istriku yang satu ini ketularan! kalau sampai seperti itu ... aku mau sama siapa? masa aku harus nikah lagi he he he ...."


"Hem ... maunya! laki-laki memang maunya!" Sukma mesem-mesem sendiri. "Emang senang kan punya istri kayak gitu? jadinya punya alasan untuk nikah lagi kan?"


"Siapa bilang? nggak juga, kalau kamu nggak mau kemarin akun nikahi! nggak mungkin juga aku beristri lagi, paling jajan di luar ha ha ha ..." lagi-lagi Alfandi tertawa lepas.


"Iih nggak boleh, pamali. Agama manapun tidak mengajarkan seorang pria untuk jajan di luar selain dengan sang istri--"


"Terus ... seorang istri, boleh jajan di luar selain sama suaminya gitu? nggak adil dong!" Alfandi memotong perkataan dari Sukma.


"Bukan kayak gitu, maksudnya! tentu istri pun tidak diperbolehkan untuk seperti itu apalagi seorang istri adalah ratu dalam rumah tangga yang seharusnya condong lebih dihormati oleh suami dan dia sendiri tahu dengan kodratnya sebagai istri, dan perilaku seperti itu tentu tidak diperbolehkan! jangankan menurut agama menurut negara saja sudah mempunyai aturan." Ujar Sukma sambil melirik ke arah sang suami.


"Begitu kah!" ucapnya Alfandi sembari menjepit hidung Sukma.


"Jadi bagi aku ... sempit amat sih pikiran hingga harus jajan di luar segala? yang harus memakai uang juga, kenapa kamu nggak bujuk saja istrinya, bila perlu paksa dia itu melayani mu--"


"Lah, itu namanya mungkin termasuk pemaksaan? ada undang-undangnya tuh?" potong Alfandi.


"Sekalipun itu termasuk pemaksaan, dan juga berdosa tapi setidaknya kamu tidak melakukan dengan wanita yang bukan istrimu. Dan kamu juga pasti punya alasan serta tau batasan karena nggak mungkin juga kamu memaksakan kehendak di kala dia sedang datang bulan atau sedang sakit. Gak mungkin juga bukan?melakukan sesuatu yang memang dari luar norma-norma. Itu akan jatuhnya pada hak asasi manusia," ujar Alfandi.


Alfandi mengusap wajahnya sembari berkata. "Aaduh ... datang ke sini malah diceramahi bukannya disuguhi minum, makanan!"


mendengar ngomong seperti itu, membuat Sukma tersenyum dan langsung beranjak dari duduknya, namun tangannya malah menangkap pergelangan Sukma dan ditariknya kembali untuk duduk di tempat semula.


"Aneh ya? barusan ngomongnya nggak ada disuguhi minum? makan? Aku mau ambilkan minum lho." Sukma marasa heran.


"Habis istriku ini malah menceramahi aku, aku ke sini bukan pengen diceramahi sayang ... aku hanya ingin mendapatkan ketenangan dan belaian kasih sayang dari tanganmu ini," liriknya Alfandi sembari menggenggam tangan Sukma lalu dikecupnya dengan mesra.


"He'em, diceramahi juga untuk mendapatkan ketenangan. Kalau pengen tenang ... ngadu sama Allah, karena Allah itu gak bawel kayak manusia apalagi seperti aku!" tambahnya Sukma.


"Iya-iya ... aku ngerti. Terus apa hukumnya istri yang selingkuh dari suaminya? apa ada toleransinya dari suami hem?" tutur Alfandi dengan lembut.


"Tentunya pendosa! karena dia lebih memilih sesuatu yang haram sementara dia mempunyai yang halal. Apakah suami wajib menceraikannya? tentu saja, kecuali si istri mau bertobat dan menyesali perbuatannya, berusaha meminta maaf terhadap suaminya dan juga berjanji tidak akan membuat lagi."


"Alasannya tidak mau menceraikan?" selidik Alfandi kembali.


"Kalau suami tidak mau menceraikan, tentunya ... suami harus siap memaafkan istrinya tersebut. Dan tidak mengungkit masa lalunya, setelah dia bertobat. Dan suami juga harus siap merahasiakan kasus istrinya itu serta tidak menceritakan kepada siapapun."


Kemudian Sukma menghela nafasnya yang panjang, sebelum dia meneruskan perkataannya kembali.


"Dengan sikap yang demikian, Insyaallah akan menjadi sumber pahala bagi suami, karena ini termasuk bentuk kesabaran. Suami boleh mempertahankan istrinya? boleh! asalkan ya seperti itu suami dapat merahasiakan perlakuan istrinya dari orang lain termasuk keluarga. Sebab jika diumbar, tentunya akan berdampak terutama keburukan nya karena ketahuan buruknya dalam keluarga." Sambung Sukma.


"Tapi jika seorang suami tidak bisa memaafkan atas kesilapan istrinya? sementara sang suami tidak bisa menceraikan karena alasan tertentu?" Alfandi menatap lekat ke arah Sukma.


"Ada sebagian suami yang tak kuasa menceraikan istrinya, namun sangat sulit baginya memaafkan perselingkuhan yang dilakukan sang istri. Sehingga yang terjadi, suami hanya bisa marah dan marah, bahkan menzalimi istrinya. Dalam kondisi seperti ini, pilihan cerai insya Allah lebih baik, dari pada mempertahankan istrinya, agar tidak menimbulkan perbuatan maksiat yang baru."


"Em ... sudah makan belum? mau makan di bawah atau aku bawakan ke sini?" kini Sukma kembali berdiri, yang menatap ke arah Alfandi yang terdiam 1000 bahasa, tertegun begitu saja ....


.


.


...Bersambung!...