
Pandangan Firza terkunci pada Fikri yang begitu manja pada Sukma, wanita yang baru saja dalam hitungan jam menjadi istri sang ayah.
"Si Fikri manja banget? tuh anak!" kepala Firza menggeleng pelan.
Kemudian Firza naik kembali masuk ke dalam kamarnya dan melamun di sana. Teringat pada sang bunda yang sampai detik ini di malam yang kedua mereka menginap di rumahnya Sukma, tidak sekalipun dia menanyakan kabar ataupun keberadaan mereka.
"Sebentar lagi magrib, ambil air wudu sana? jangan lupa sholat ya," ucap Sukma pada semua yang ada di sana.
"Fikri nggak mau ah males! capek." Celetuknya Fikri yang masih tiduran di pangkuan Sukma.
Jihan dan Marwan menoleh pada Fikri. "Kau itu harus belajar salat biar terbiasa," kata Marwan yang ditunjukkan kepada Fikri.
"Aku bisa kok! bacaan salat pun, aku bisa kok cuma ... aku males aja," jawabnya anak itu dengan ringannya.
"Kenapa malas! salat itu salah satu yang wajib dilakukan bagi umat muslim, sebagai cara kita bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua," ujarnya Sukma sambil membelai rambutnya Fikri dengan lembut.
Fikri mendongak dan menatap ke wajah Sukma dengan lekat.
"Salat itu diibaratkan angka 1, bagaikan uang tanpa nilai di depan yang ada cuman angka nol, dan sebagai cara kita bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua. Contohnya? dalam kesulitan Fikri ditolong atau dikasih sesuatu yang sangat berarti sama seseorang, tentunya Fikri wajib berterima kasih dan begitu juga dengan kita. Sebagai umat Muslim berterima kasih kepada Tuhannya," ucapnya Sukma.
"Sebagai umat muslim, kita diwajibkan berterima kasih kepada sang maha pencipta. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan ibadah kita melainkan kita yang membutuhkan Allah. Sebagai penolong dan menjaga kita dan memberikan semua keperluan kita," ujar kembali Sukma dengan panjang lebar.
"Jadi intinya, kita harus salat ya? Tante?" tanya Fikri.
"Tentu dong ... kita harus salat. Kerena itu wajib hukumnya." Timpal Marwan.
"Kalau kita nggak mau salat gimana?" tanya Fikri sambil mendudukkan dirinya dengan tegak.
"Salat adalah merupakan sesuatu yang wajib, dan bila kita tidak melakukannya dalam satu waktu saja, itu wajib hukumnya dibayar," jelas Sukma.
"Kalau kita nggak mau salat, baiknya kita jangan tinggal di planet ini. Di kuburan sana!" katanya Jihan.
"Huuus. Jangan begitu?" Sukma melirik pada sang adik Jihan.
Kalau gitu berarti Fikri harus rajin salat ya?" Fikri menatap kembali ke arah Sukma dan Sukma pun langsung mengangguk, merespon pertanyaan dari Fikri.
"Tapi ... Kak Firza gak mau salat, Papa juga jarang salat, Mama juga!" ucap anak itu begitu polos sehingga mengatakan kalau keluarganya jarang mengerjakan salat.
Sukma menatap ke arah Mimy yang terus menatap ke arah dirinya. Kemudian Sukma kembali mengedarkan pandangannya kepada Fikri seraya diusap pipinya dengan lembut. ''Tapi Fikri bisa bacaannya, kan?''
"Bisa sih ... Tante, tapi dikit-dikit--"
"Lah, adi katanya bisa? sekarang bisa dikit-dikit, gimana sih?" Marwan memotong perkataan dari Fikri.
"Benar, Kak ... bisa cuma nggak-nggak semuanya gitu," jawaban anak itu dengan jujur.
"Marwan ... Fikri ini masih kecil, wajar kalau dia masih banyak yang belum bisa juga," ucap Sukma pada sang adik, Marwan.
"He he he ... iya sih!" Marwan mengangguk pelan sambil nyengir.
"Nggak apa-apa segitu juga sudah alhamdulillah, berarti Fikri mau belajar dan tinggal menambah hafalan nya lagi saja. Nanti ... Fikri bisa belajar sama kak Jihan, sama kak Marwan untuk tambahan hapalannya, Fikri mau belajar?" tanya Sukma kembali dengan ekspresi wajah yang lembut dan sabar.
"Anak itu mengangguk hingga beberapa kali. "Mau-mau, Fikri mau belajar sholat."
"Pinter setelah salat jangan lupa kita ber--"
"Berdoa, Tante?" Fikri begitu serius mendengar dan memandangi wajah Sukma.
"Itu benar! setelah salat kita harus berdoa, dengan diantaranya untuk mendoakan kedua orang tua kita, dan itu namanya doa anak sholeh." Sukma tidak bosan-bosannya membelai rambutnya Fikri.
Beberapa saat kemudian, mereka pun bubar ke kamarnya masing-masing, karena dari jauh sudah terdengar sayup-sayup suara adzan yang begitu merdu terdengar.
Kini Sukma sudah berada di kamarnya, berdiri di tepi tempat tidur memandangi Alfandi yang masih tertidur begitu lelap, Sukma merasa bingung. "Gimana caranya ya? bangunin dia?"
Sementara Alfandi terlihat tampak lelap sekali sembari memeluk guling.
Dengan ragu. Sukma duduk di tepi tempat tidur tersebut, sorot matanya yang sendu menatapi pria yang sedang tidur lelap tersebut, perlahan tangan Sukma menyentuh pipi Alfandi. Di usapnya dengan sangat lembut.
"Hi ... bangun? sudah maghrib nih." Suaranya Sukma pelan nyaris tidak terdengar.
Namun Alfandi dapat mendengarnya, apalagi dengan sentuhan tangan yang lembut di pipinya. Membuat matanya yang terasa sepet akibat mengantuk itu lekas terbuka dan mendapati wajah istri mudanya yang tidak jauh dari dirinya.
"Hem?" suaranya begitu parau dan hendak menyentuh tangan Sukma yang masih menempel di pipinya.
Sukma segera menarik tangannya dari pipi Alfandi ketika mau di sentuh tangan tangan sang suami. Dia tampak gugup dan serba salah.
"Em ... ma-maaf? sudah Maghrib, apa kau tidak ingin mandi terlebih dahulu?" suara Sukma terbata-bata.
Tubuh Alfandi bangun dan duduk, lalu mengusap wajahnya dan menggosok kedua matanya. "Ahk ... mau mandiin bukan?" sembari tersenyum tipis.
Sukma yang gugup pun menjadi tersenyum dan secepatnya berkata. "Mandi sendiri lah!"
Kemudian tangan Alfandi bergerak mengarah ke tangan Sukma dengan niat memegangnya, tapi lagi-lagi Sukma malah menghindar beranjak dari duduk.
"Aku mau ambil air wudhu dulu!" seraya mengayunkan langkah kakinya menuju kamar mandi.
Alfandi menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya menyunggingkan senyumnya, melihat tingkah istri barunya itu yang tampak gugup dan belum terbiasa.
Detik kemudian Alfandi turun dari tempat tidurnya menapakan kedua kaki di lantai sembari membuka kancing-kancing kemejanya. Lantas keluar dari kamar tersebut untuk mengambil barang-barang nya yang masih di ruangan kerja.
Tidak lama kemudian Sukma kembali dari kamar mandi, di wajah terlihat air wudu yang berkilauan. Matanya celingukan mencari keberadaan Alfandi.
"Kemana dia? bukannya mandi, terus ajak anak-anak sholat Maghrib," gumamnya Sukma sembari mengambil alat salatnya.
Sukma melaksanakan salat magribnya sendirian dengan khusu.
Selepas salat magrib, tidak lupa Sukma membaca doa! semoga ini awal kebahagiaan bagi kehidupannya dan biarpun ada kerikil-kerikil yang akan menghadang, dia bisa melewatinya dengan sabar dan kuat. Sukma yakin kalau kerikil tersebut akan ada dalam rumah tangganya, mengingat dia bukanlah istri satu-satunya dari suami.
Kemudian menik matanya menoleh ke arah Alfandi yang baru saja masuk dan hanya menggunakan handuk saja, dan sepertinya dia baru selesai mandi terlihat dari kulitnya yang basah yang terkena sinar lampu.
Sukma kembali menunduk seraya berkata. "Sudah mandinya?"
"Sudah song, tolong siapkan bajuku ini di koper, sudah aku bawa ke sini," sahutnya Alfandi sembari menunjuk ke arah koper pakaiannya.
"Ooh iya, nanti aku bereskan," Sukma mengangguk sembari membuka mukenanya.
Lantas Sukma membuka koper Alfandi dan memindahkan isinya ke dalam lemari yang kebetulan ukurannya besar, di dalam koper tersebut berupa pakaian santai dan juga pakaian kantor termasuk dasi. Walau nggak banyak tapi setidaknya ada buat ganti bila sedang berada di sana.
Manik mata Sukma menatap pakaian Alfandi, yang kini sudah tertata rapi di dalam lemari tersebut. "Selesai juga."
Sukma menoleh, dia seakan lupa kalau di sana ada Alfandi yang belum memakai baju. Alfandi sengaja duduk di sofa, sebenarnya dia menunggui Sukma yang membereskan semua pakaiannya dari koper.
"Ya ampun ... aku lupa! maaf?" Sukma gegas berbalik mau ngambil pakaian santai buat Alfandi, kemudian dia membawanya menghampiri Alfandi.
"Ini bajunya! aku lupa, ku kira kau sudah menyediakan pakaian sendiri!" ucap Sukma sembari menunjukan senyumnya yang manis.
"Boleh dong ... kalau aku pengen dimanja juga sama istri, hem?" balasnya Alfandi sembari memainkan matanya pada Sukma.
"Iya, maaf?" Sukma menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Alfandi yang mau mengenakan pakaiannya.
"Pakaian dalamnya mana? sayang
... ini cuma kaos oblong dan celana pendek saja." Suara Alfandi kembali menghiasi.
Sukma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia nggak ngeh kalau suaminya belum memakai pakaian dalam. "Ooh iya, bentar?" Sukma kemudian berbalik lantas membuka kembali lemari dan mengambil sidi miliknya Alfandi.
"Ini?" Sukma memberikannya tanpa menatap orangnya, dia tetap menunjukkan wajahnya melihat ke lantai tak berani melihat tumbuh Alfandi yang cuma menggunakan handuk saja tersebut.
Alfandi menunjukkan senyumnya melihat tingkah sang istri yang masih terlihat canggung dan gugup di depan nya itu. "jangan canggung begitu? kita ini sudah suami istri, nggak perlu malu kayak gitu ah."
Namun Sukma tetap saja menunduk, lalu dia mau memunggungi Alfandi. Pura-pura menyimpan koper disimpannya ke atas lemari.
Dasarnya tubuh Sukma yang pendek, dan tidak mampu menyimpan koper tersebut dengan baik di atas sana. Sehingga koper tersebut jatuh dan hampir saja menimpa tubuh Sukma.
Untung saja Alfandi dengan sangat cepat meraih tumbuh Sukma dan dipeluknya, lalu mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula.
"Astaghfirullah," gumamnya Sukma yang terkaget-kaget.
Gubrak. Koper terjatuh ke lantai, Sukma merasa kaget. Dan sejenak menatap koper tersebut, kalau saja tubuhnya nggak langsung diraih Alfandi dan mundur! mungkin kepalanya sudah tertimpa koper.
"Astagfirullah ... hampir saja kepalaku!" tangannya memegangi kedua tangan Alfandi yang begitu kuat memeluk perutnya.
"Makasih ya? hampir saja jantung ku copot nih," ucap Sukma sambil mengusap dadanya yang terlihat naik turun.
"Itu sudah kewajibanku, untuk melindungi mu dari hal apapun." suara Alfandi dari atas kepalanya dan terasa mencium pucuk kepala Sukma, membuat hati Sukma bergetar. Darahnya berdesir hangat ke seluruh tubuh.
"Aku ... aku mau lihat anak-anak, mereka belum makan malam kayaknya," akunya Sukma sambil berusaha melepaskan tangan Alfandi yang betah di perutnya tersebut.
Sementara Alfandi masih bertelanjang dada dan juga masih menggunakan handuk. Membuat dada Sukma semakin deg-degan, punggungnya yang menempel di dada Alfandi dan serat dagu Alfandi pun menempel di kepala Sukma sehingga hembusan nafasnya dapat Sukma rasakan.
"Anak-anak, ada Mimy dan bi Lasmi pun masih ada! belum pulang, biar mereka yang memperhatikan anak-anak, kamu perhatikan aku saja. Dengan cepat Alfandi kembalikan tubuh Sukma agar berhadapan dengannya, namun tetap dalam pelukan Alfandi sangat erat.
Sukma membuat jarak di antara dada nya dengan dada Alfandi, dengan cara menyimpan kedua tangannya di dada bidang pria tersebut.
"Eh ... emangnya kamu ingin diperhatikan apa lagi? pakaian sudah aku siapkan, tinggal pakai saja." Gumamnya Sukma dengan suara pelan.
"Kalau aku nggak mau pakai gimana? sebab aku ingin seperti ini denganmu." kata-kata Alfandi membuat bulu kuduk Sukma meremang.
"Em, Kau pasti belum salat magrib kan cepatlah salat nanti kalau habis waktunya!" kini Sukma berusaha menatap kedua netra nya Alfandi dan belikan pembicaraan.
"Kalau ... aku nggak mau gimana?" tanya Alfandi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Sukma.
"Kau adalah imam. Kau adalah kepala dan kau berkewajiban membuat sesuatu yang baik dan terpuji, untuk memberi contoh kepada keluargamu, terutama anak-anakmu. Apa katanya nanti jika anak-anak disuruh salat misalnya, sementara orang tuanya nggak mau salat." Lirihnya Sukma.
Alfandi terdiam sejenak, mencerna omongan dari Sukma. Kalau dia adalah seorang ayah yang harus menjadi contoh yang baik buat anak-anaknya.
Perlahan Alfandi memudarkan pelukannya, serta melepaskan tubuh Sukma dari pelukan. "Baiklah, Baiklah istriku ... aku akan mendengar kata-katamu selagi omonganmu itu benar, dan membangun! sekarang aku mau salat dulu. Tapi aku nggak bawa sarung juga peci."
"Sarung dan peci hanyalah simbol, dan yang penting itu pakaiannya bersih dan melakukan salatnya. Sebentar aku ambilkan celana panjangmu, dan kau pergilah? mengambil air wudhu." Sukma bergegas mendekati lemari dan mengambil celana panjang buat Alfandi.
Pria itu pun berjalan mendekati pintu kamar mandi, dengan masih menggunakan handuk. Baru kali ini dia disuruh salat oleh sang istri, belasan tahun menikah dengan Vaula tidak pernah paling mengingatkan dalam hal itu. Masing-masing dengan kemauannya sendiri-sendiri.
Sukma sengaja duduk di sofa untuk menunggui Alfandi untuk mengetahui apa dia salat magrib atau tidak.
Sekembalinya dari kamar mandi, Alfandi langsung mengenakan pakaiannya juga celana panjang yang baru saja disiapkan oleh Sukma, lalu kemudian Alfandi berdiri di atasnya sajadah yang sudah Sukma bentangkan sebelumnya. Sejenak netra Alfandi menatap sajadah tersebut.
"Ya Allah ... aku memang jarang melakukan ini! aku sering lalai ya Allah, ampuni segala dosa ku?" batinnya Alfandi lalu bersiap dan mengangkat kedua tangannya seraya mengucap mengucap takbir.
Beberapa saat kemudian Alfandi mendekati Sukma yang duduk di sofa menunggui nya. "Terima kasih sayang? sudah mengingatkanku! terima kasih banyak?" Alfandi memegang jemari Sukma yang lentik dan meremasnya dengan mesra.
Sukma menatap tangan itu yang digenggam erat boleh suaminya tersebut. Kemudian berucap. "Sama-sama."
Cuph! kecupan hangat mendarat di kening Sukma, sebagai ungkapan terima kasih yang teramat pada sang istri. Yang telah mengingatkannya dalam hal salat.
Kemudian tangan Alfandi yang satunya bergerak menggapai dagu Sukma yang terus menundukkan wajahnya. Jari Alfandi mengangkat dagu Sukma agar mendongak melihat ke arahnya, kedua netra Alfandi menatap lekat ke wajah Sukma.
Dan kini tetapan Alfandi mengarah pada satu titik yang berada di bagian wajah sang istri.
Sukma sudah dapat piling kalau Alfandi akan menyentuh bibirnya. Lantas Sukma menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika wajah Alfandi sudah dekat dengan wajahnya.
"Em ... anak-anak pasti sudah menunggu kita buat makan malam!" Sukma hendak beranjak.
Namun pinggangnya di tarik Alfandi sehingga tubuh Sukma terjatuh ke pangkuan Alfandi. Alfandi yang sudah merasa tidak tahan lagi itu, membuat langsung menyerang Sukma sampai mendapatkan apa yang dia mau.
"Mmmm ...."
Cuph! "Jangan tolak aku sayang? aku mohon?" suara Alfandi yang memburu di sela-sela membungkam mulutnya Sukma dengan bibirnya.
Alfandi memeluk erat tubuh Sukma yang berada dalam pangkuannya itu. Tangan kanan ke pinggang dan tangan kiri mengunci tengkuknya Sukma.
Ini benar-benar pengalaman yang pertama bagi Sukma, melepas ciuman pertamanya dengan Alfandi. Pria yang notabene suaminya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Pintu di ketuk dari luar, membuat aktifitas Alfandi terhenti ....
.
.
...Bersambung!...