Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Kini Firza tengah melajukan motornya, setelah mengantar Puspa pulang dan kini dia berniat untuk ke kosan nya Jihan untuk memastikan dia gak dan ada yang ingin dia bicarakan dengan gadis itu.


Setibanya di kosan Jihan, Firza langsung mendatanginya. Kebetulan Jihan sedang berada di teras bersama dua teman wanitanya dan Jihan sendiri sedang sibuk dengan laptop yang ada di atas meja.


"Ada apa ke sini tumben?" Jihan menatap intens ke arah Firza.


Firza pun duduk di pagar teras sambil membuka topi nya. "Emang ada larangan aku datang ke sini ya? si Excel aja bebas datang ke sini kapan saja. Oya, gak malam mingguan sama dia ya? atau mungkin dia sedang sibuk dengan cewek lain?"


"Iih, kamu bicara apa sih?" Jihan mengernyitkan keningnya sembari menatap tajam ke arah Firza.


"Aku cuma ingin bilang ya sama kamu, jangan terlalu percaya sama si Exo dia itu fackboy. dan kamu hanya dijadikan--"


"Eeh cowok kulkas, jangan ngomongin orang lain ya, nggak usah deh jelek-jelekin orang!" Jihan memotong perkataannya Firza yang dianggap hanya untuk menjelek-jelekkan Excel saja.


"Cewek aneh. Aku tahu siapa dia yang fackboy, cewek nya sana sini. Dia itu--"


"Cukup ya, sebaiknya kau pulang dan nanti keburu di usir sama ibu kos!" Jihan mengibaskan tangannya. Ia merasa heran pada pemuda itu.


"Ji, kok kamu tega sih mengusir dia. Kalau kamu gak mau ngobrol sama dia. Sama aku aja deh." Kata kedua temannya Jihan yang mengagumi ketampanan Firza.


"Dasar keras kepala," Firza menggeleng dan tatapannya sangat tajam pada Jihan yang dia rasa keras kepala yang tidak mau mendengar perkataannya.


Kemudian Firza pun pulang. dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Eeh, Za ... mau ke mana? di sini saja mengobrol dengan ku!" kata dua teman nya Jihan.


Namun Firza tidak merespon, dia naik ke motornya dan tidak lupa mengenakan helmnya. Melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.


...----------------...


Sukma baru saja datang dari sekolahnya Syakila dan langsung berganti pakaian, dan dia juga membawa Syakila ke kamar nya.


"Mommy mau ganti pakaian dulu ya, Sya bermain di sini." Sukma meninggalkan Syakila di kamarnya.


Anak itu hanya mengangguk pelan dan langsung bermain di dengan bonekanya.


Sukma kemudian berganti pakaian dengan pakaian santai. Namun setelah ia terim vc dari Al yang menanyakan kabar yang di rumah.


"Gimana kabar semuanya sayang?" tanya Al yang sepertinya sedang berada di ruang kerja.


"Baik, Alhamdulillah ... dan gimana di sana, jangan lupa makan ya?" balasnya Sukma sambil mendudukan dirinya di atas sofa.


"Iya sayang. Aku tidak lupa sama makan apa lagi kamu." Al tersenyum.


"Kapan pulang?" Sukama kembali bertanya dan menatap ke arah sang suami.


"Kayanya gak bisa pulang cepat deh sayang. Masih sibuk. Aku sih maunya kamu nyusul saja kalau seandainya gak repot dengan Syakila. Oya, Syakila nya mana?" Al menanyakan keberadaan putri kecilnya.


"Em ... dia di kamarnya, setelah pulang sekolah tadi." Sukma beranjak dan membawa ponselnya berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Syakila.


"Aku sih bukannya gak mau nyusul ke Balikpapan, tapi kan tahu sendiri. Harus bawa anak dan Fikri mau ikut juga, sementara dia harus sekolah mendekati ujian lho." Sukma masuk kamar Syakila yang sedang bermain.


"Fikri jangan ikut, kalau mendekati ujian. Lain kali saja kita liburan bareng, sekarang bukan liburan." Tambahnya Al.


"Sya, ini papa telepon!" Sukma mengarahkan ponselnya pada Syakila.


"Papa ... pan Puyang Papa ... Bawa oleh-oleh ya?" anak itu sambil mengangguk pelan.


"Iya nanti Papa pulang, Sya tidak rewel kan ... Tidak bikin Mommy repot kan selama Papa tidak ada?" tanya Al pada Syakila yang kini merebut ponselnya.


"Nggak, Syakila tidak rewel kok, Pah ..." Suara Sukma dari belakangnya Syakila.


"Ya sudah ya ... Papa mau sibuk dulu, papa sayang Sya." Al menyudahi sambungan vc nya.


"Ya, Apa. Bentar bicaranya, cibuk ya Mom?" Syakila memberikan ponsel mommy nya.


Kemudian mengajak putri kecilnya turun sekalian mau menyiapkan makan siang.


Saat pulang sekolah, Fikri langsung mencari Mommy dan adik kecilnya yang langsung dia peluk dengan erat juga gemas. Sampai-sampai anak itu meronta, dan berontak ingin lepas dan nangis-nangis.


"Sudah dong Abang ... kasihan adiknya." Pinta nya Sukma sembari mengambil Syakila yang menangis.


"Habis Abang gemes banget, pengen gigit pipinya, gigit ya!" Fikri mencubit kedua pipi shakila yang baru saja berhenti menangis eh ... nangis lagi.


"Kak Wawan mana, belum pulang?" tanya Sukma pada Fikri.


"Sudah barusan di depan dia!" jawabnya Fikri sambil menirukan dirinya di kursi taman.


"Abang, Mommy mau menyusul papa ya sama Syakila. Abang nggak boleh ikut kan sebentar lagi ujian!" Sukma menatap ke arah Fikri dengan sangat lekat.


Fikri mengerutkan keningnya seraya menggelengkan kepala. "Kalau Mommy mau menyusul Papa ke Balikpapan, Abang juga mau ikut nggak mau di tinggal di sini, nanti dijemput Mama lagi nggak mau! pokoknya kalau Mommy pergi Abang harus ikut."


"Lho ... tapi kan Abang sekolahnya sebentar lagi ujian, nggak boleh ditinggalin! nanti ketinggalan mata pelajaran, kalau abang nggak lulus gimana? nggak masuk SMP dong ..." Sukma membelai rambut Fitri yang dekat telinganya.


"Pokoknya kalau Mommy pergi aku juga pergi, nggak mau dia ikut mama!" perginya Fikri Sumarni menyatukan tangan ibadah wajahnya mendadak di tekuk.


Sukma hanya menghilang nafas dalam-dalam. Sembari membiarkan kembali Putri kecilnya turun dan bermain.


"Boleh nggak Mommy bertanya?" Sukma merubah posisi duduknya sedikit menghadap pada Fikri.


"Mau tanya apa?" ketusnya.


"Nggak usah ngelak-galak gitu maunya Jadi takut ach." Goda Sukma seraya mencubit hidungnya Fikri.


"Iih Mommy. Emangnya mau tanya apa?" ulang kembali Fikri dengan bibir sedikit di tarik ke samping.


"Mau tanya apa ya ... jadi lupa! Oh iya, kenapa sih Abang nggak mau dijemput mama? Dia kan mama kandung Abang sama Kak Firza, apa salahnya sih ... Abang dan Kak Firza main ke sana, menginap di sana kan Mama juga pasti pengen berkumpul sama kalian berdua. Ini Abang mau ke sana kalau di antar sama Mommy, nggak diantar nggak mau! dijemput juga nggak mau!" ujar Sukma.


"Pokoknya abang nggak mau Mommy ... kalu mama mau ketemu aku datang saja ke sini." Balasnya Fikri dengan nada dingin.


"Huuh ..." Sukma mengembuskan nafasnya dari mulut, tangannya merangkul bahu Fikri yang masih mengenakan tas punggung.


"Dengarkan Mommy ya Abang ... Abang kan anak yang baik, semua manusia itu tidak ada yang sempurna pasti memiliki kekurangan dan kelebihan! punya masa lalu yang hitam atau sebaliknya!" Sukma menjeda kalimatnya sambil memperhatikan syakila.


"Sya, sini? ini bunga buat Sya!" Fikri melambaikan tangan pada sang adik agar menghampiri mereka.


"Mommy harap ... Abang bisa melupakan masa lalunya mama, ketika masih bersama dengan papa dan semuanya sekarang ini sudah berlalu dan sudah punya kehidupannya masing-masing, papa sama Mommy dan mama juga punya kehidupan pribadi, jadi kalian berdua seharusnya tidak seperti ini. Justru harus membuka hati buat mama, merangkul Mama menyayanginya, saling perhatian berkumpul sama mama." hujannya Sukma sembari mengusap-ngusap bahunya Fikri.


"Sudahlah Mom. Nggak usah banyak bicara, Abang sudah makan Mama kok. Cuma entah kenapa Abang nggak mau saja untuk sering-sering ke rumah itu mungkin Abang trauma ya Mom?" ucapnya Fikri dengan nada rendah dan kini dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Sukma.


Sukma hanya menatap wajah putus sambungan tersebut dan memulai rambutnya.


"Kak Firza apalagi, dia bahkan lebih cuek dari aku mungkin dia juga nggak mau ketemu sama mama. Masih mending aku ketimbang kak Firza." Tambahnya Fikri kembali.


"Bagaimanapun ... Mama itu sangat menyayangi kalian berdua. maafkan dia dan lihatlah cepetan Jangan melihat masa lalu--"


"Ach ... Mommy nggak adil. Aku selalu di nasehatin tapi kak Firza gak pernah di nasehatin!" Fikri bangun dan duduk dengan tegak.


"Kata siapa mami nggak pernah nasehatin kak Firza? sering kok. mami sering nasehatin Kak Firza dan menyuruh kakak untuk menemui mamanya!" Belanya Sukma.


Fikri banyak deh duduknya Mas ah mami ngomongin Mama mulu aku jadi lapar. Anak itu pergi masuk ke dalam rumah dan sepertinya menuju dapur.


Sukma menggelengkan kepalanya. Entah harus bagaimana membujuk kedua anak sambungnya itu, agak dekat sama mamanya! mungkin kejadian masa lalu masih melekat dalam ingatan mereka berdua. Sehingga sampai detik ini belum bisa menerima kenyataan, bahwa mereka pernah menelan pil pahit ....


.


Bersambung.