Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Hilang



Tidak lama kemudian, masakan pun sudah siap. Dan Sukma segera memanggil Jihan untuk membantunya menyajikan di ruang tengah.


"Jihan? sini bantuin Kakak." Panggil Sukma pada Jihan yang sedang berkumpul dengan Marwan dan Fitri.


Kemudian Jihan pun menghampiri. "Ya. Kak, sini aku bantuin! piringnya 4 ya, Kak? begitupun dengan gelas dan sendok nya."


Setelah semuanya tersaji. "Anak-anak. Kita makan dulu? Fikri ... makan dulu ya dek?" Sukma mendekati Fikri.


Fikri menggerakkan kepalanya, celingukan melihat yang tersaji di depan matanya itu. "Cuman itu ya Tante?"


"Iya, Tante cuma masak seadanya karena punya itu. Nggak apa-apa kan? yang penting makan dan nggak kelaparan, itu adalah sayur bayam. Tahu, tempe dan telur dadar, suka nggak sama telur?" Sukma menatap ke arah Fikri dengan lekat.


Anak itu terdiam. Melihatnya saja sudah tidak berselera, karena di rumah pun yang masakannya enak-enak kadang dia males makan. Lalu kepalanya menggeleng. "Aku nggak lapar."


"Ya sudah, Kak. Biarkan saja, nanti juga kalau dia lapar pasti makan," ucap Marwan sambil mengambil nasi dari magic com, kemudian ambil sayur, tahu dan tempe juga. Nggak ketinggalan telur dadar nya.


"Iya, Kak. Biarkan saja! kita aja duluan yang makan nanti juga dia kelaparan pasti mau makan, maklum di rumahnya kan pasti enak-enak, seperti daging dan semacamnya," timpal Jihan pada Sukma.


"Ya sudah ... kalau nggak mau makan, nanti kalau lapar? bilang ya?" tutur Sukma sambil mengusap kepala anak itu.


Lalu ketiga kakak beradik itu pun menyantap makanannya dengan lahap. Sementara Fikri hanya melihat orang-orang yang sedang menikmati makannya masing-masing. Perutnya pun terasa lapar namun malas, menurutnya makanan yang ada itu tidak enak!


Sukma melihat ke arah Fikri yang sesekali perhatikan orang-orang yang sedang makan, Sukma berinisiatif untuk membujuk anak itu agar mau makan. Kalau sakit kan? berabe. Mana belum tahu rumahnya? siapa orang tuanya?


"Sini, Tante suapi ya? dicoba dulu dikit ... saja! nanti kalau memang nggak enak gak usah dilanjutkan makannya nggak apa-apa." Sukma mencoba menyuapi anak itu.


Fikri menggeleng, dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Coba dulu aja yu? sedikit aja, nanti kalau misalnya nggak enak nggak usah dilanjutin, nggak beracun kok. Nggak apa-apa." Bujuknya Sukma.


Setelah terus dibujuk, pada akhirnya Fikri mau makan juga dan Sukma menyuapi anak itu dengan sabar. "Coba dikunyah pelan-pelan, rasain enak apa enggak? jangan buru-buru!" ucapnya Sukma yang lembut kepada Fikri.


Suapan pertama sih memang rasanya biasa saja, tapi setelah kedua, ketiga. Fikri ketagihan dan akhirnya makan banyak bersama sayur bayam dan telur dadar sebab kalau tempe dan tahu dia benar-benar gak mau. Katanya di rumah juga emang nggak suka sama tahu ataupun tempe tersebut.


"Enak, kan? makannya?" tanya Sukma sambil terus menyuapi anak itu.


"Emmmm ... enak, Tante. Makannya enak," Fikri mengangguk-angguk kepalanya.


"Makanya dicoba dulu, nggak mungkin juga keracunan kok!orang kita saja tidak kenapa-apa," sambar Marwan dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Ditelan dulu, kalau mau ngomong ... itu makanannya banyak di mulut," kritik Jihan pada sang adik.


Marwan pun menelannya terlebih dahulu sebelum berbicara. "Enak kan makannya? Kakak Sukma kan pandai memasak, coba makan dulu tahu dan tempenya kamu pasti suka."


"Nggak mau, Kak. Aku nggak suka sama tahu dan pempek," lagi-lagi Fikri menggeleng.


"Ya sudah ... kalau nggak suka, makan yang disukai saja ya? yang penting ... adek gak kelaparan. nanti kalau ada kelaparan orang tuanya pasti marah sama Tante! nolong kok setengah-setengah? anaknya nggak dikasih makan atau apalah? nanti ujung-ujungnya Tante juga yang kena marah," kata Sukma sambil tersenyum.


"Iya Tante, makasih ya? sudah mengajak aku ke sini dan makanannya enak kok, apalagi disuapin kayak gini, aku ngga pernah di suapi sama mama--"


"Kamu sudah besar, sudah gede masa mau makan disuapi mama malu lah!" celetuk Marwan kepada Fikri.


Fikri menoleh pada Marwan. "Tapi, kan? Kak, apa salahnya kalau seorang Ibu itu memberikan kasih sayang kepada anaknya? memperhatikan nya, biarpun sudah segede Kak Marwan. Kalau lagi manja sama bundanya, bisa saja," jawabnya Fikri membela diri.


"Iya juga sih, aku sendiri juga sering disuapi sama kak Sukma, tapi bukan aku yang mau sih. Malu, kak Sukma saja yang selalu perhatian." Balasnya Marwan.


Fikri pun sudah berapa kali nambah makannya, dia merasa lahap mungkin karena lapar. Apalagi makan dari tangan Sukma yang lembut penuh keibuan bangat.


"Berarti Kak Marwan suka disuapi juga kan? sama Tante?" Fikri melihat ke arah Sukma dan Marwan bergantian.


"Iya, sekali-kali! emang dia juga suka manja kok." Celetuk Jihan.


"Sudah-sudah enggak usah debat ahk, pamali debat di depan makanan. Makanannya habiskan? jangan bicara terus," perintah Sukma menatap ketiganya.


Anak-anak itu mengangguk pelan.


"Nambah lagi gak?" tanya sukma yang diarahkan pada Fikri.


"Ah ... perut ku kekenyangan, Tante! aku sudah kenyang." Fikri mengusap perutnya yang sangat kekenyangan itu.


"Ya sudah, Alhamdulillah ..." Sukma membereskan bekas makan di bantu oleh Jihan dan Marwan.


Sukma menyuruh Fikri untuk mandi biar segar dan kebetulan anak itu membawa baju ganti. Anak itu pun menurut perkataan Sukma, Fikri yang dasarnya masih manja, kolokan dan seperti sudah lama mengenal Sukma, sehingga berani memeluk serta bersikap manja pada Sukma.


Terkadang jadi bahan cibiran Marwan sembari bercanda. "Siapa sih kau ini? anak bukan adik bukan? manja benar?"


"Ahk ... Tante! Kak Wawan. Biarin yey ... orang Tante juga gak keberatan kok," Fikri menoleh pada Sukma dan Marwan bergantian.


Sukma hanya menarik bibirnya tersenyum mendengarnya, Sukma merangkul bahu keduanya penuh kelembutan. "Kalian yang akur ya?"


"Ma, anak siapa nih? apa kau mau menampung anak-anak?" Mimy heran ada anak laki-laki seusia itu, setahu dia di kontrakan itu yang ada seusia Marwan dan usia lima tahun dan kebanyakan anak perempuan.


Sukma melihat ke sumber suara, Mimy yang melangkah menghampiri. "Hi. My."


"Anak siapa ini? anak si om bukan?" ulang Mimy menatap ke arah Sukma dan anak itu.


Fikri yang di ajak bercanda oleh Marwan pun beranjak mengejar Marwan. "Awas ya? aku kejar kau Kak!"


"Kejar saja kalau bisa? bila bisa mengejar ku baru kau jago." Marwan lari-lari ke luar rumah.


"Aku temukan dia di jalan, katanya mau kabur. Gak mau pulang ke rumahnya, dari pada kenapa-napa, kan? mendingan ku ajak pulang." Sukma menjelaskan kronologisnya.


"Gimana kalau kau di tuduh menculik?" Mimy cemas. "Kan bisa saja seperti itu."


"Mimy ... anak itu sudah tahu mana yang jahat dan mana yang tidak, apa aku ada tampang jahat gitu?" Sukma menggeleng sambil menunjuk wajahnya.


"Ya ... aku kan cuma khawatir saja, tapi anak itu ganteng ya tampan sekali." Mimy memandangi Fikri yang sedang lari-lari bersama Marwan.


"Tante? Kak Wawan jahat." Fikri berjongkok kelelahan.


Mimy menatap ke arah Sukma. "Tante? panggil Tante?"


"Iya, tahu gak dia itu manja sama aku. Seperti sama mamanya gitu." Jawab Sukma sambil tersenyum.


"Sebentar-sebentar? kok aku melihat wajah seseorang ya di wajah anak itu!" Mimy menatap lekat ke arah anak itu yang tampan.


"Ahk kau ini, emang wajah siapa gitu?" tanya Sukma sambil berdiri mengambil sapu.


"Aku ... melihat wajah pak--"


"Main potong saja omongan orang, gue belum selesai bicara Sukma ... dia mirip pak Alfandi." Mimy terus menatap ke arah anak itu.


"Nggak tahu juga." Sukma menyapu lantai ruang tengah itu.


"Coba deh perhatikan? dari depan, dari samping persis deh. Persis pak Alfandi, asli. Ma ... jangan-jangan itu putranya, Ma ..." Mimy menoleh pada Sukma.


"Mana ku tahu?" Sukma menggoyangkan kedua bahunya.


"Coba dong ... tanyain? kali saja dia kehilangan anaknya," sambung Mimy pada Sukma.


Anak ayam gitu? kehilangan anak ayam maksudnya?" protes Sukma.


"Iih ... maksud aku! kali saja mereka kehilangan putranya, coba deh tanyain?" lanjut Mimy kembali.


"Tanyain pakai apa? Mimi ... aku nggak punya ponsel dan nomornya nggak punya juga, jadi bertanya pakai apa?" Sukma menggeleng kasar.


"Makanya jangan sok jaim, ditawarin beli ponsel nggak mau, terima aja kenapa sih? orang butuh kok," Mimin jadi ngedumel pada sahabatnya itu yang di tawarin beli ponsel, tidak mau.


"Lho-lho, kok kamu malah ngedumel sih? kamu sendiri punya ponsel kenapa nggak kamu saja yang hubungin dia?"


"Gue nggak punya nomornya Sukma ... lagian dia itu perhatiannya sama lu, sama adik-adik lu. Bukan sama gue!" jelas Mimy.


"Entahlah, biar aja. Nanti juga pasti ada yang nyariin, anak ayam saja kalau hilang dicariin! apa lagi anak manusia," ucapnya Sukma sambil berjalan ke belakang.


"Iih ... ini anak susah dibilangin nya." Seru Mimy.


...---...


Di kediaman Alfandi. Tampak sepi. Alfandi sedang berada di ruangan kerjanya.


Sementara Firza, belum pulang dari belajar kurikulumnya. Vaula, tentu saja tidak berada di rumah bahkan dia baru saja berangkat ke luar negeri untuk liburan bersama teman-teman sejawatnya.


Bibi berjalan tergesa-gesa menuju ruangan kerja Alfandi. Sambil mengetuk pintu bibi berkata dengan nada yang agak tinggi. "Tuan? Tuan ... Den Fikri hilang!"


Alfandi yang sedang sibuk dengan desainnya, langsung menghampiri pintu dan mendapati bibi berdiri tampak napasnya naik turun.


"Ada apa Bi?" yang memiliki suara bariton itu menatap ke arah bibi yang berwajah cemas dan nafasnya ngos-ngosan.


"I-i-it-itu, Tuan. Den Fikri nggak ada di kamarnya, tasnya pun nggak ada dan bibi sudah mencarinya di sekitar rumah juga nggak ada."


Alfandi mengerutkan keningnya seraya berkata. "Bukannya tadi ada? sudah pulang sekolah?"


"Iya, Tuan. Tadi kan sudah ada di rumah, tapi sekarang nggak ada! di mana-mana pun," timpal bibi yang tampak kebingungan dan begitu cemas.


Kemudian Alfandi pun keluar dari ruangannya itu, dengan cepat menuju kamarnya Fikri mencari keberadaan anak tersebut.


Namun benar kata bibi Fikri tidak ada di tempat. "Coba cari lagi! mungkin di ruangan lain sedang bermain misalnya!" ucap Alfandi kepada bibi.


"Iya Tuan?" Bibi langsung berjalan.


"Bi, suruh orang lain saja untuk mencarinya ke tempat lain, bibi istirahat, capek. Sudah mencari bukan? suruh mereka mencari di luaran! kali aja sedang bermain di taman?" pinta Alfandi kembali.


"Baik, Tuan!" bibi melanjutkan langkahnya meninggalkan Alfandi yang masih berada di kamar Fikri.


"Fikri? Fikri ... dimana ka.u Nak? Alfandi keluar dari kamar putranya ke ruangan lain, setelah memastikan bahwa di kamar tersebut Fikri tidak ada.


Semua pekerja di sana pada sibuk mencari keberadaan Fikri yang mendadak hilang entah ke mana?


"Di semua ruangan tidak ada, Tuan," kata salah satu pelayan tersebut.


"Coba cari lagi? mungkin dia ngumpet, apa dia tidak bilang?kalau dia mau main ke tempat tetangga atau ke tempat temannya yang lain?" tanya Alfandi kepada mereka.


"Tidak, tidak. Tuan tidak ada!bilang semua orang sembari menggeleng karena memang dia pun tidak melihat kalau Fikri keluar dari tempat tersebut.


"Mana scurity?" tanya dia? masa dia nggak lihat kalau putraku keluar kan? kalau keluar pasti melewati gerbang." Tegas Alfandi.


Tidak lama kemudian, scurity pun datang, dan langsung laporan kalau dia nggak pernah melihat Den Fikri keluar gerbang.


"Terus pertanyaannya, putra saya sekarang di mana?" tanya Alfandi sambil berjalan mondar-mandir dengan tangan melipat di dada.


"Pekerja di rumah ini ... bukan satu atau dua orang saja, kenapa nggak ada satupun yang tahu? kemana dia pergi, kalau seandainya dia nggak pulang dari sekolahan? itu wajar bila kalian nggak tahu. Ini dia sudah ada di rumah," jelas Alfandi sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


Semua pekerja menunduk dalam, merasa bersalah. Mengakui kalau mereka telah lalai.


"Maafkan kami, Tuan? kami mengakui telah lalai, merasa bersalah," ungkap salah satu pekerja yang mewakili pekerja lainnya.


Sejenak suasana hening tidak ada satu orang pun yang berucap kata, mereka hanya menunduk di hadapan Alfandi.


"Ya ... sudah, buka CCTV sekarang?" perintah Alfandi kepada salah seorang pekerjanya.


"Baik Tuan," sahutnya pria tersebut, lalu langkahnya diikuti oleh semua orang termasuk Alfandi, mereka menonton rekaman CCTV karena itu satu-satunya cara untuk mengetahui Fikri pergi dari rumah atau berada di dalam rumah.


Rekaman CCTV pun mulai diputar setiap, ruangan memang kosong tak ada anak itu, lalu menyorot akses jalan keluar, terlihat Fikri mengendap-endap keluar gerbang di saat scurity memasuki toilet.


Makanya scurity nggak mengetahui kalau Fikri keluar, dan yang lain pun pada sibuk dengan tugasnya masing-masing.


"Ternyata anak itu keluar lewat pintu gerbang juga," gumamnya Alfandi.


"Maaf, Tuan? mungkin itu kesalahan saya?" Pak Arbani menunduk dalam merasa bersalah.


"Sudahlah bukan waktunya meminta maaf ataupun saling menyalahkan, sekarang kalian yang laki-laki, masing-masing bawa motor cari putra saya sampai ketemu, saya juga akan mencarinya," Alfandi langsung pergi dari tempat tersebut.


Pekerja tiga laki-laki itu pun, dengan cepat pergi menuju motornya masing-masing. Untuk mencari Fikri sampai ketemu.


"Tuan? apa Nyonya harus dikasih tahu kalau den Fikri hilang?" tanya bibi pada Alfandi.


Sejenak Alfandi terdiam lalu menoleh kepada bibi. "Nggak usah, nggak usah dikasih tahu! percuma, dia nggak akan peduli dan dia pasti sudah terbang! biar kita saja yang urus," tegasnya Alfandi sambil berjalan menuju mobilnya.


Alfandi menyetir mobilnya dengan kecepatan sangat pelan, menyusuri jalan dengan mata fokus mencari Fikri dan berharapan dapat menemukan secepatnya.


Tidak lupa, dia pun menanyakan kepada nomor orang tua teman-temannya, siapa tahu Fikri bermain bersama mereka.


Mobil Alfandi terus mencari keberadaan putra bungsunya tersebut. Kali saja ditemukan di tempat tetangga yang ada di kawasan tersebut ....


.


...Bersambung!...