
Di atas. Sukma baru mau turun dari tempat tidur, baru saja mengenakan pakaiannya itu dan mau membersihkan diri ke kamar mandi. Rasanya gak enak kalau gak langsung bersih-bersih bau keringat dan lengket.
Alfandi yang sudah duduk menarik pinggang Sukma sehingga tubuhnya terjerembab ke atas pangkuan pria itu.
"Eeh, apa-apaan sih? aku mau mandi! anak-anak pasti menunggu kita buat makan malam." lirihnya Sukma sambil mengusap rahang Alfandi yang berbulu halus itu.
"Biar saja, mereka sudah besar-besar. Bisa makan sendiri juga!" balas Alfandi sambil mendekatkan bibirnya ke pipi sang istri.
"Fikri, Al ... dia pasti menunggu papanya." Sambungnya Sukma.
"Iya, tau sayang ... tapi saya fokus dulu sama Mommy nya dulu yang satu itu." Suaranya pelan seraya berbisik.
Bibir Sukma tertarik. Menunjukan senyumnya, tersipu malu di depan Alfandi yang menatap lekat pada sang istri.
"Sudah ya? aku mau mandi dulu! emangnya kau tidak mau bersih-bersih dulu apa?" tanya Sukma seraya melepaskan diri dari rangkulan sang suami.
"Iya, mau. Kita mandi sama-sama ya?" dan akhirnya Alfandi memudarkan rangkulannya, melepaskan istrinya untuk bersih-bersih.
Namun tidak membiarkan sang istri berjalan, melainkan dia gendong dan di bawanya ke kamar mandi. Dan memasuki ruangan kaca yang ada shower nya. Di bawah kucuran air shower yang hangat mereka berdua saling membersihkan diri.
Alfandi memandikan Sukma seperti memandikan anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Kalau habis urusan ranjang, Alfandi suka sekali bersikap memanjakan Sukma.
"Cepetan mandinya? Fikri pasti menunggu mu!" suara Sukma pada Alfandi yang masih membaluri tubuhnya dengan sabun.
Sementara Sukma sudah memakai kimono. Dan memegang handuk buat Alfandi, Sukma berdiri di luar kaca menunggui Alfandi yang masih membersihkan diri di bawah kucuran air yang tampak berasap.
Sesaat kemudian Alfandi keluar dari ruangan shower. Dan meminta handuk dari Sukma.
"Kenapa menunduk? gak mau lihat belalai Abang ya? ha ha ha ..." tanya Alfandi sambil menutupnya dengan handuk.
"Malu!" balasnya Sukma sambil berjalan mendekati pintu.
Alfandi menyunggingkan menyunggingkan bibirnya sambil mengikuti langkah sang istri yang mendekati lemari untuk mengambil baju ganti Alfandi.
Sukma membuka handuk di kepala dan mengeringkan nya lanjut menyisir. Alfandi yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya, memegang alat hairdryer dan mengeringkan rambut Sukma bergantian dengan rambutnya sendiri.
Setelah membubuhi wajahnya dengan sedikit bedak dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.
Begitupun Alfandi yang berdiri di belakang Sukma, di depan cermin. Kini sudah rapi dan tidak lupa menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.
"Setelah makan malam. Aku pulang ya?" ucap Alfandi sambil menyisir rambutnya itu.
Sukma yang merapikan rambutnya, sejenak terhenti dan menatapi ke arah Alfandi dari pantulan cermin. Pria itu kini sedang mengenakan jam tangan di tangan kiri nya, lagi-lagi ada rasa yang aneh setiap mendengar Alfandi mau pulang.
"Iya," pada akhirnya Sukma menjawab juga. "Oya, terima kasih atas semua nya! kiriman paket keperluan kuliah, aku benar-benar merasa bersyukur atas segala kebaikan mu!"
Alfandi yang berdiri di belakang Sukma itu mengusap kedua bahu sang istri. "Sama-sama sayang?" saling pandang dari pantulan gambar cermin.
"Aku gak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi, sebagai ungkapan terima kasih?" ungkap Sukma kembali.
"Aku ini, sekarang sudah menjadi suami istri, sudah kewajiban ku bukan? untuk membahagiakan dirimu dan keluarga kita." Bisik Alfandi.
"Kalau aku kuliah, gak pa-pa, kan bila aku pulang telat?" Sukma memandangi wajah Alfandi masih dari cermin.
"Aku tahu, kau pasti bisa menempatkan dirimu sebagai istri ku. Sekalipun aku jarang pulang ke sini! kau pasti bisa menjaga kehormatan mu untuk ku!" ucap Alfandi lalu membungkuk dan mencium pucuk kepala Sukma.
Sukma hanya diam dan menyimpan sisir di tangannya. Kemudian ia berdiri di hadapan Alfandi dan berhadapan satu sama lain. "Insya Allah aku aku tahu itu!"
Alfandi kembali mendaratkan kecupan hangatnya di kening istri muda nya itu. "Aku akan merindukan mu sayang!" menarik bahunya Sukma dibawanya ke dalam pelukan.
Sukma pun menyusupkan kepalanya di dada bidang Alfandi yang terasa hangat dan memberi kenyamanan tersendiri. Dan rasanya Sukma mulai betah dan terbiasa berada dalam dekapan pria itu.
Setalah beberapa saat saling berpelukan, Sukma bergerak dan mendongak. "Fikri pasti sudah menunggu?"
"Baiklah sayang?" cuph! kecupan kecil jatuh di bibir Sukma.
Barulah mereka memudarkan pelukannya. Berjalan sama-sama keluar dari kamar yang membawa kebahagian untuk mereka berdua.
"Papa? Mommy? kemana aja sih? Fikri tungguin juga, iih ... lama!" sambut Fikri dari meja makan melihat ke arah Alfandi yang menuntun tangan Sukma.
Alfandi melirik pada bi Lasmi yang ikut tersenyum. Lalu mengarahkan pandangan pada Fikri kembali. "Ehem, Papa ...."
"Bibi bilang, Tuan, sama Enon habis mengobrol yang sangat serius dan tidak bisa di ganggu, gitu bukan Tuan? Nona?" timpal bibi dengan cepat.
Sukma mengangguk langsung serta menunjukan senyumnya. Mengusap kepala Fikri yang agak cemberut lalu mengambil nasi ke piring buat Alfandi.
Alfandi tersenyum pada Fikri sambil berkata. "Bibi benar!"
"Mau lauk nya apa?" tanya Sukma pada Alfandi yang mesem-mesem sendiri.
Alfandi melihat-lihat menu yang ada. "Ayam dan sayur sup nya saja."
"Telor nya mau gak?" tanya lagi Sukma sambil mengambil mangkuk yang berisi telor dadar kesukaan Fikri.
"Tidak sayang, aku ada telor jangan di tambah lagi. Nanti aku gak bisa bawanya!" jawab Alfandi sambil tertawa kecil.
Sukma Hanya mesem. Melirik pada bibi yang juga ikut tertawa sambil mengelap perabotan.
"Kalian nambah lagi makannya?" mengedarkan pandangan pada Jihan dan Marwan.
"Kami sudah kenyang, Bang. Dari tadi makannya." Jawabnya Marwan sambil membawa piring bekasnya ke wastafel.
"Jihan mau nambah lagi!" Sukma melihat ke arah Jihan yang sudah tinggal piringnya yang kosong.
"Aku juga sudah kenyang, Kak." Jihan pun berdiri membawa piringnya seperti Marwan.
"Ooh," Sukma lalu memulai menyantap makannya. Begitupun dengan Alfandi yang kini sedang menikmati makannya.
Menoleh pada Fikri yang saat ini bengong melihat ke arah dirinya. "Fikri kenapa gak dihabiskan makannya? sayang lho, nanti nasinya nangis!"
"Mau disuapi sama Mommy!" jawabnya dengan sangat manja.
"Fikri ... Mommy nya sedang makan lho, kasihan!" Alfandi menggeleng.
"Nggak pa-pa kok," Sukma melirik ke arah Alfandi. Kemudian mengambil piring Fikri yang tinggal setengahnya lagi itu.
"Aa sayang? buka mulutnya?" pinta Sukma sambil menunjukan wajah tulusnya.
Alfandi yang tengah asyik makan pun memperhatikan keduanya. Tangan Alfandi mengusap punggungnya Sukma, dalam hati Alfandi berkata. "Aku tidak akan salah memilihmu untuk menjadi ibu dari anak-anak ku!"
"Yammy-yammy ..." gumamnya Fikri tampak sangat menikmati.
"Apakah mau nambah lagi sayang?" tawar Sukma pada Fikri yang piringnya mulai kosong.
"Nggak mau ahk, sudah kenyang." Fikri mengucap Alhamdulillah. Dilanjut beranjak dari duduknya menghampiri Jihan dan Marwan yang berada di ruang tengah.
Lalu Sukma mengedarkan pandangan pada bibi. "Bi, makan dulu lah sebelum pulang?"
"Bibi nanti saja. Belum lapar juga." Sambutnya bibi sambil mengangguk hormat.
"Bener, Bi ... makan dulu sebelum pulang?" tambah Alfandi menoleh pada bi Lasmi.
"Tidak, Tuan. Bibi nanti saja," kekeh bi Lasmi kembali.
"Baiklah." Alfandi melanjutkan makannya sesekali Sukma suapi.
"Ye ... Pa-pa? tadi larang aku? sekarang Papa sendiri yang di suapi! iih ..." Fikri bertepuk tangan.
Membuat Alfandi tersipu, begitupun dengan Sukma yang mendengar perkataan Fikri langsung mesem-mesem sendiri.
Selesai makan, Alfandi pun berpamitan pada Sukma yang mengantarnya sampai depan pintu.
"Sayang, aku pulang dulu ya? hati-hati di rumah." Alfandi memeluk Sukma sebentar dan mencium keningnya.
"Iya hati-hati," pesan Sukma.
Kemudian Fikri yang sudah memakai tas punggungnya, mencium tangan Sukma. "Mommy, Fikri pulang dulu ya?" lantas memeluk Sukma erat.
"Iya, yang rajin sekolahnya ya? yang pinter juga." Sukma pun mengusap punggung anak itu penuh haru.
Jihan dan Marwan juga mencium tangan Alfandi penuh hormat.
"Jihan, Marwan. Titip kak Sukma ya bila Abang tidak ada?" ucap Alfandi pada kedua adik iparnya tersebut.
Keduanya mengangguk, merespon perkataan dari Alfandi yang tampak berat meninggalkan kakak mereka ....
.
.
...Bersambung!...