
Sukma melamun, setelah menerima telepon dari seseorang itu. Kemudian dia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
Setelah menyimpan dan tas dan berganti pakaian serta perhiasan. dan hanya menyisakan anting dan cincin saja. Sukma keluar untuk belajar menyetir bersama supir.
"Ma? Ma? gue mau pamit dulu!" Mimy buru-buru keluar dan menyusul Sukma yang mau memasuki mobilnya.
"Sekarang, My? lu pulang?" tanya Sukma sambil menatap kepada sahabatnya tersebut.
"Iya, seminggu lagi gue balik lagi ke sini, itupun bila lu bersedia menerima gue--"
"Ya Allah ... lu bicara apa sih, My? pintu rumah ini akan selalu terbuka buat lu, My!" Sukma memeluk Mimy yang sudah rapi untuk pulang kampung.
"Yah ... kak Mimy mau pulkam, sepi dong di sini!" kata Jihan menghampiri Mimy dan kakaknya.
"Tenang, nanti seminggu lagi Kak Mimy akan balik lagi kok." Mimy menoleh pada Jihan.
"Aku mau ke kamar dulu ya? sebentar, tunggu?" Sukma buru-buru mengayunkan langkahnya dengan niat ke kamar untuk mengambil sesuatu.
Mimy dan Jihan mendongak melihat ke arah Sukma yang yang berjalan terburu-buru ke lantai atas.
Tidak lama kemudian, Sukma kembali dan membawa dompet. "My, lu pulang di antar supir ya? dan ini uang untuk membeli oleh-oleh di jalan, keluarga mu pasti senang, maaf gue gak bawain oleh-oleh!"
"Aduh, Ma ... apa ini gak kebanyakan buat beli oleh-oleh?" Mimy menatap uang di tangan Sukma.
"Nggak pa-pa, ini simpan saja?" Sukma menyerahkan uang tersebut ke tangannya Mimy.
"Makasih ya, Ma ... lu baik sekali sama gue?" Mimy terharu mana mau di anterin sama mobil, di kasih uang buat membeli oleh-oleh pula.
Sukma mengangguk. Lalu berjalan ke luar menghampiri Luky yang berada di di dekat mobil.
"Mas, anterin teman saya ya? tolong? aku belajarnya lain kali saja!" ucap Sukma kepada Luky.
"Non, emang dimana tempatnya?" tanya Luky sembari melihat ke arah Mimy juga bergantian.
"Kalau pake angkot dan bis sekitar 2 jam perjalanan, Mas," Mimy melihat ke arah Luky.
"2 jam?" Luky menoleh pada Sukma juga. "Non, percaya pada saya agar membawa mobil yang masih baru ini ke saya?"
Mimy pun melihat ke arah Sukma, bener juga. Apa Sukma mengijinkan mobil barunya itu di bawa supir yang baru dia kenal dalam jangka waktu yang lumayan lama.
"Emangnya kenapa?" Sukma menatap Luky dan Mimy.
"Apa ... Kak Sukma gak mau ikut?" Jihan bertanya pada Sukma.
"Nggak, Kak gak minta ijin sama Abang. Lagian Abang mau ke luar kota dan mau mampir dulu ke sini." Jawabnya Sukma.
"Oh, ya sudah. Gue pergi dulu ya? sebentar! gue belum pamit pada bi Lasmi," Mimy berlari ke dapur untuk pamitan pada Bu Lasmi.
"Mas, titip teman saya ya?" Sukma menoleh pada Luky yang bersiap masuk ke dalam mobil.
"Iya, Non." Luky mengangguk beberapa kali.
Beberapa saat kemudian. Mimy kembali dan langsung mencium pipi Jihan dan Sukma bergantian.
"Assalamu'alaikum?" Mimy masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangan nya pada Sukma dan Jihan.
"Wa'alaikumus salam ... hati-hati." Sukma membalas lambaian tangan dari Mimy.
Setelah mobil yang membawa Mimy hilang dari pandangan. Sukma dan Jihan masuk ke dalam rumah.
Sukma langsung ke dapur untuk memasak buat Alfandi yang katanya mau makan di sana. Sukma membuat ikan balado kesukaan Alfandi dan ayam kecap.
"Non, Masak apa? tuan mau makan di sini bukan?" tanya bibi sambil menyiapkan sayuran dan buat sambal goreng.
"Iya, Bi ... katanya mau makan di sini sebelum keluar kota." Sukma mengangguk pelan.
"Mau ke luar kota?" selidik bi Lasmi.
"Benar, Bi." Kata Sukma kembali.
Bibi Lasmi melihat kedatangan Alfandi yang mengendap-endap sambil menempelkan telunjuknya pada bibi dan Jihan yang sedang menonton televisi.
Agar mereka berdua tidak ribut, karena sepertinya Sukma tidak menyadari kedatangan dirinya.
"Oo, begitu ya. Non?" Bi Lasmi mesem-mesem.
Setelah dekat dengan Sukma. Alfandi langsung memeluk dari belakang. "Sedang apa sayang?"
Sukma kaget, menoleh dan tidak mampu berkata-kata. Hanya bisa bisa mengelus dada yang berdebar begitu kencang.
Beberapa saat kemudian. Akhirnya Sukma bersuara juga. "Bikin kaget deh ... bukannya mengucap salam! malah ngagetin?"
Alfandi yang masih betah dengan posisinya, memeluk Sukma dari belakang dan meletakkan dagunya di pucuk kepala sang istri. "Iya, Assalamu'alaikum sayang ...."
"Emangnya gak mendengar suara mobil ku hem?" tanya Alfandi sembari mendekatkan hidungnya ke pipi Sukma yang bau wanginya kesukaan dirinya.
"Nggak, gak dengar sama sekali!" jawabnya Sukma.
"Maklum, Tuan. Si, Non tengah asik masak buat suami, jadinya gak mendengar suara mobil, Tuan." Timpal bi Lasmi sambil menunjukan senyumnya.
"Oya?" Alfandi menoleh ke arah Bu Lasmi.
"Lepas? malu!" pintanya Sukma sambil celingukan melihat kanan kiri ke arah bi Lasmi dan Jihan.
"Emangnya kenapa? saya kan memeluk istri saya! bukan wanita lain, hem?" ucap Alfandi sambil mendekatkan lagi wajahnya pada pipi Sukma, lalu kemudian menoleh pada bi Lasmi dan ke arah Jihan yang sedang anteng menonton televisi. "Bi, tutup mata dulu ya sebentar?"
Cuph! kecupan mesra mendarat di pipinya Sukma kanan dan kiri. Setelah itu barulah melepas rangkulannya. Lantas duduk di kursi yang tidak jauh dari Sukma.
"Sudah salat belum?" tanya Sukma sambil menoleh pada Alfandi.
"Belum sayang, baru selesai magrib juga. Oya mobil kemana?" Alfandi melihat ke arah luar karena di sana tidak ada mobil Sukma.
"Em ... mobil. Mengantarkan Mimy ke kampungnya. Tidak apa-apa kan?" Sukma menoleh pada Alfandi, dia merasa bersalah karena tidak meminta ijin terlebih dahulu.
"Oh, tidak apa-apa." Alfandi menganggukkan kepalanya seraya menerima secangkir air minum dari sang istri.
"Tadi ... aku lupa tuk minta ijin terlebih dahulu," sambungnya Sukma.
"Iya nggak apa-apa sayang, yang bawa nya Luky bikan?" lanjut Alfandi.
"Bener, Mas Luky." Jawabnya Sukma.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Nanti juga balik lagi, oh iya. Sudah? ke tempat bibinya?" tamat kembali Alfandi sembari menyesap minumnya.
"Sudah tadi, bareng-bareng sama Mimy juga Jihan dan Marwan. Nggak lama kok, aku di sana cuma sebentar aja." Balasnya Sukma.
"Terus gimana kabar mereka?" selidik Alfandi.
"Baik ... alhamdulillah, pada sehat--"
"Tubuhnya sih sehat, cuman ... otaknya nggak sehat-sehat. Semuanya seperti dulu! nyinyir omongannya dan nyelekit, nggak bisa menghargai orang!" Jihan memotong perkataan dari Sukma.
"Hus ... nggak boleh gitu, pamali. Bagaimanapun mereka itu orang tua kita juga," kata Sukma yang diarahkan kepada Jihan.
"Memang seperti itu, kan Kak? sama aja mereka itu, kita nggak ada duit! jahat. Ada duit juga nggak menghargai, bilang kakak godain suami orang lah. Padahal mereka itu tidak tahu apa-apa," suara Jihan menggebu-gebu seolah ingin meluapkan rasa kesalnya.
"Ya sudah, nggak apa-apa! toh mereka nggak tahu, kan? nggak tahu apa-apa! biarin aja," liriknya Sukma kembali.
Alfandi hanya menyunggingkan bibirnya menunjukkan sebuah senyuman, Sukma bawaannya selalu tenang bikin dia merasa nyaman.
"Eeh ... malah bengong! salat dulu sana?" titah Sukma kepada Alfandi yang masih duduk di kursi meja makan, menatap kosong ke rah Sukma yang sedang memasak.
"Iya-iya ... ini mau salat juga," Alfandi beranjak dari duduknya lantas berjalan menaiki anak tangga dan dengan sekejap Alfandi sudah tidak terlihat lagi dari area dapur.
"Kalau, Non mau menyusul, tuan. Nggak apa-apa itu masakannya biar bibi yang urus," kata bi Lasmi kepada Sukma.
"Nggak pa-pa, Bi. Biar aku selesaikan aja, lagian dia nggak akan lama kok ... setelah makan pasti mau berangkat." Baru saja selesai cuma bicara, Alfandi sudah memanggilnya dari atas.
"Sayang ... sarung aku mana ya?"
"Iya, sebentar ... aku ambilkan. Perasan ada di lemari kok!" balas Sukma sambil melihat ke arah tangga.
"Tuh, kan ... apa kata Bibi juga. Sudah sana susul dia! soal ini biar Bibi yang ngurus, lagian tinggal menunggu matang, kan?" bi Lasmi langsung mengambil alih pekerjaan Sukma.
"Ya udah, kalau begitu! aku tinggal dulu ya, Bi!" Sukma melepas celemek nya.
Sukma buru-buru meninggalkan dapur dan melangkah kakinya ke atas dengan cepat dia berjalan, sehingga dengan sebentar dia sudah berada di dalam kamar. Dan langsung menuju lemari untuk mengambil sarung dan peci juga koko buat Alfandi salat.
Sementara, orangnya sedang berada di kamar mandi.
Sukma menoleh ke arah pintu lalu mendekati, beberapa kali ia mengetuknya. "Apa kau sedang mandi?" pekiknya Sukma dari luar pintu kamar mandi.
"Iya, siapkan saja bajuku!" jawabnya Alfandi dari dalam sana.
"Baiklah." Lanjut Sukma sambil kembali ke lemarinya yang tadi untuk menyiapkan pakaiannya juga.
Terdengar suar motor yang suaranya begitu nyaring, sampai terdengar jelas dari kamar Sukma ....
.
.
...Bersambung!...