
Sudah puas dengan tangisnya. Sukma beranjak dari pelukan, mengusap pipi nya yang basah kuyup dengan air mata.
Jemar:i Alfandi pun mengusap air mata sang istri. "Sudah, nanti baby nya sedih kalo mommy nya nangis begini."
"Al. A-aku mau ke makam ibu dan bapak, antar aku ya ke sa-sana?" pinta Sukma dengan suara yang terbata-bata.
Alfandi mengecup pipi bawah mata Sukma yang basah. "Kenapa baru bilang sekarang? aku pasti mengantar mu sayang."
Tangan Alfandi merangkul kembali bahu Sukma. Di peluknya erat.
"Aku ingin bareng kamu ke sana nya!" kata Sukma dengan suara pelan.
"Iya, sayang iya. Aku akan mengantar mu ke sana, kapan mau ke sana nya hem?" tanya Alfandi sambil mengecup kening Sukma dengan durasi yang lama.
"Besok sore ya?" jawab Sukma sambil menenggak duduk nya.
"Oke, besok sore aku akan cepat pulang segera." Alfandi segera menghidupkan mobilnya.
Detik kemudian. Mobil melaju dengan cepat, kebetulan suana semakin malam. Dan pesanan anak-anak sudah pesan online dan mungkin sudah di kirim.
"Orang rumah pasti bahagia mendengar berita tentang ini, ibu dan bapak, pikir. Mereka akan senang, lihat saja, Fikri pasti akan kegirangan karena akan mempunya adik." Suara Alfandi mewarnai suara mesin mobilnya yang halus.
Tangan Sukma meraba perutnya seraya menunjukan kepala melihat perutnya yang masih rata tersebut.
"Tidak ku sangka. Secepat ini kau berada di perut, Nak ... padahal aku belum siap-siap banget. Tetapi kehadiran mu sungguh harus ku syukuri." Batinnya Sukma.
Selang beberapa puluh menit. Akhirnya mobil memasuki halaman rumah nya Sukma dan terlihat pintu utama di buka oleh Fikri di susul oleh yang lainnya termasuk Mimy.
Alfandi yang turun duluan. Dan membukakan pintu buat sang istri. "Yo, sayang?"
Sukma turun dan lalu berjalan bersama suaminya dengan tangan di gandeng Alfandi.
"Assalamu'alaikum ... kok kalian belum tidur, jam berapa nih?" Alfandi mengucap salam dan menatap heran kepada anak-anak yang masih belum tidur.
"Bagaimana, Ma? kau sakit apa?" tanya Mimy tampak cemas menatap sahabatnya tersebut.
Sukma mengulas senyumnya pada semua. Dan hendak berkata, namun Alfandi langsung mendahului.
"Em ... kita bicaranya di dalam yo?" ajak Alfandi sambil menuntun tang sang istri ke dalam rumah.
"Gimana, Neng! sakit apa?" kini giliran bu Puji yang bertanya tentang ke adaan sang mantu.
Alfandi dan Sukma saling bertukar pandangan dan di wajahnya terlukis rona kebahagiaan.
Tatapan Alfandi tertuju pada kedua orang tua nya. "Bu, Bapak. mantu kalian ini sedang ha ... mil"
"Apa?" semu merasa shock mendengar perkataan dari Alfandi barusan.
"Alhamdulillah ... beneran mantu Ibu lagi hamil muda?" Bu Puji langsung menghampiri sang mantu dan memegangi kedua tangannya.
Kepala Sukma mengangguk pelan. "Beneran, Bu. Aku hamil."
"Masya Allah ... Allahuakbar, Neng ... padahal bukannya Neng itu KB ya? sungguh Allah maha besar," Bu Puji memeluk mantunya penuh sukacita
"Allahuakbar, sungguh Allah memberi kalian anugrah yang tiada terkira. Salah masih mempercayai kamu Fandi, untuk memiliki anak, dan semoga anak kalian itu perempuan agar lebih lengkap lagi keluarga kalian, ujar pak Sardi dengan mata yang berkaca-kaca dan merasa haru.
"Pah, Papa? Pah. Beneran Fikri mau punya adik? yang perempuan ya Pah, Mom! Fikri mau punya adik baby perempuan biar lucu kaya boneka." Fikri menggoyangkan tangan sang ayah.
"Iya, sayang. Mommy hamil, tapi kalau soal perempuan atau laki-laki sih kami kurang tahu." Alfandi berjongkok dan menatap ke wajahnya Fikri.
"Hore ... ye-ye, ye-ye. Ye-ye, ye-ye yes! aku mau punya adik. Dan adiknya mau perempuan." Fikri berjingkrak dan berjoget ria.
Diikuti oleh Marwan. Dia pun kegirangan, bahagia mau mempunyai ponakan pertama dari Sukma.
"Aku mau punya keponakan. keponakan yang pertama, tapi jangan manja kaya dia. Manjanya yang gak ketulungan, makan pun harus pakai bantuan. Ogah-ogah. Ogah-ogah." Marwan berjoget dan bernyanyi seraya menunjuk ke arah Fikri.
Yang langsung cemberut, menghampiri dangan bertolak pinggang kepada Marwan.
"Kak Wawan. Aku ini ponakan kak Wawan juga, jadi ponakan Kak Wawan yang pertama itu bukan adek baby dong?" protes Fikri.
"Tapi kan memang benar, kalau ponakan ku dari kak sukma kan yang pertama! kamu itu dari abang!" timpal Marwan.
"Nggak, aku juga putra mommy." Fikri kekeh kalau dirinya juga putra dari Sukma.
Sementara Firza hanya terdiam melihat Fikri dan Marwan yang ribut-ribut gak jelas.
Sukma yang dirangkul Bu Puji, Mimy dan Jihan. Menoleh pada Fikri yang terdengar merajuk dan beradu argumen dengan Marwan.
"Iya sayang, iya ... Fikri putra mommy kok." Sukma segera menghampiri Fikri yang sudah mau menangis.
"Tapi kata, kak Wawan bukan! Mommy." Fikri menunjuk Marwan yang nyengir.
"Kak Wawan benar, dan Fikri juga benar kok." Sukma mengusap pipi Fikri. "Denger ya? kalau Fikri mau adiknya perempuan berarti ... Fikri harus banyak-banyak berdoa minta sama Allah ... agar adiknya perempuan!" ujar Sukma kepada Fikri.
Sejenak Fikri terdiam. Mencerna omongan dari Sukma. "jadi itu yang sebanyak-banyak berdoa ya Mommy? nanti Allah mengabulkan doa Fikri dan memberikan adik perempuan!" anak itu menatap lekat ke arah Sukma.
Dan Sukma pun mengangguk membenarkan perkataan di anak itu. "Fikri harus banyak-banyak berdoa, biar adiknya perempuan! yang cantik seperti boneka seperti yang Fikri mau tentunya."
Semua ikut tersenyum ke arah Fikri anak itu sepertinya benar-benar ingin punya adik perempuan yang dia bilang harus cantik seperti boneka.
"Baiklah kalau begitu, Fikri akan banyak-banyak berdoa! akan rajin salat dan rajin berdoa, kata ibu guru agama pun. Katanya kita harus banyak bersedekah, agar apa yang kita inginkan dikabulkan Allah."
"Nah ... pinter itu, lebih bagus lagi ya, biar Allah semakin sayang ... banget sama Fikri dan mengabulkan doa Fikri." Sukma mengangguk setuju dangan perkataan Fikri.
"Jadi ... mulai sekarang Fikri nggak boleh manja-manja lagi sama mommy, mommy harus banyak istirahat! nggak boleh capek-capek apa lagi stress," sambungnya Alfandi sambil mendekati keduanya.
"Berarti, Fikri sebentar lagi aku jadi Abang ya, Pah? lal Firza juga juga jadi Abang. Tapi kalau kak Wawan pasti ... dipanggil om ya? ih ... kecil-kecil jadi Om, ha ha ha ... kak Wawan kecil-kecil jadi om-om." Goda Fikri sambil tertawa lepas.
"Ye ... biarin kak Wawan jadi Om saja dari pada jadi Abang tapi manja. Jadi Abang tapi manjanya! mendingan jadi Om lebih dewasa, nggak manja seperti abangnya itu iih?" Marwan malah bergidik.
"Sudah-sudah, Jangan ribut ah sudah malam istirahat sana nanti kesiangan besok sekolah. Biar ngobrol nya lanjut besok." Perintah Alfandi kepada anak-anak.
Sementara Sukma beserta sang suami Fandi berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Dan akhirnya semua pun bubar dari ruang tersebut.
Kini Alfandi dan Sukma sudah berada di depan pintu, tangan Sukma mendorong handle pintu di dorongnya ke dalam. Namun sebelum melangkah! tubuhnya Sukma melayang di udara karena karena Alfandi gendong ala bridal style dibawanya ke tempat tidur ....
.
...Bersambung!...