Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Resepsi



Setibanya di rumah. Marwan dan Fikri juga Firza langsung serang kolam renang dan langsung menceburkan diri ke kolam renang dan sebelumnya memberi makan ikan di sebelah kolam renang tersebut.


Mereka tampak asik berenang saling sembur dan saling dorong. Sukma yang iseng melihat mereka menarik kedua sudut di ujung ke samping.


“Awas ya … ke yang dalam nya.” Pesan Sukma.


“Iya Mom, ayo Mom turun kita berenang bersama?” ajak Fikri dari kolam.


“Nggak Mommy gak boleh berenang, nanti dilihat orang,” balas Alfandi sambil merangkul bahu sang istri.


Sukma mendongak sambil tersenyum dan membalas rangkulan sang suami. “Aku mau turun ya? kayanya seger deh berendam dan berenang.”


“Nggak boleh, kalau mau berendam di bathube saja. Jangan di sini! nanti lekuk tubuh mu kelihatan anak-anak,” cegah Alfandi sambil memberi menuntun tangan sang istri ke dalam.


...----...


Hari ini dimana hari yang di tunggu-tunggu oleh Alfandi dan Sukma. Sebab hari ini adalah pengesahan pernikahannya mereka berdua.


Kini Sukma sudah menjadi istri sah nya Alfandi. Seorang pria yang sudah memiliki dua putra dari pernikahan sebelumnya, dan sekarang pernikahan mereka berdua sudah di akui bukan hanya agama tapi juga negara.


Dan resepsi di selenggarakan di sebuah gedung, sementara mereka masih di kantor baru saja selesai menyelesaikan akte atau buku nikahnya masing-masing.


Senyuman dari semua keluarga begitu mengambang yang terlihat dari semua wajah yang berada di sana.


Terutama Alfandi dan Sukma, senyuman keduanya yang tidak pudar dari bibir keduanya.


“Terima kasih sayang? sudah hadir dan mewarnai hidup ku dan menjelma keseharian ku.” Alfandi menatap lekat dan lantas mencium punggung tangan sang istri.


“Aku beras kanvas dan warna warni sehingga bisa mewarnai kertas putih hi hi hi …” sukma tersenyum dan menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.


Keduanya berpelukan dengan sangat erat, pelukan yang penuh haru dan sesuatu yang tidak di sangka-sangka sebelumnya.


“Mommy, Papa ayo kita berangkat? masa mau di sini terus sih?” suara Fikri mengganggu pelukan Alfandi dan Sukma.


Sehingga Alfandi memudarkan pelukannya pada sang istri lalu melihat ke arah Fikri yan tidak jauh dari mereka.


Alfandi mengusap wajahnya lalu mengangguk dan menuntun sang istri keluar dari kantor tersebut yang sebelumnya berpamitan terlebih dahulu.


Yang lain sudah berada di mobil. Kemudian mobil yang di tumpangi oleh Alfandi dan Sukma, Jihan dan Fikri. Melesat menuju gedung dimana resepsi di selenggarakan.


Sementara mobil lain yang membawa rombongan lain seperti orang tua Alfan dan Firza juga Marwan, Mimy masih di belakang.


Kedatangan kedua mempelai di sambut dengan meriah oleh undangan para tamu yang sudah menunggu di tempat tersebut.


Yang sudah tampak hadir itu yang di antaranya ... ibu Kurnia Yati.Umi Alfa, Maulana_ya Manna.Ami Siti, Suyadi Yadi. Tutut, Irma Malini. Meyliza Fawwuzi, Abdul Rojak. Ika Krisnawati, Nisrian Annisa. Mae Fathur Rohman. Aida Septi dll nya.


Dan masih banyak lagi seperti kolega Alfandi, staf dan karyawan, sahabat. Tetangga juga keluarga bi Lilian pun tampak hadir di resepsi pernikahan Sukma tersebut.


Kini Alfandi dan istri sudah berada di pelaminan dan para tamu pun berdatangan dengan senang hati kepada mereka berdua.


Semua yang mengagumi kecantikan Sukma dan ketampanan Alfandi yang tidak tampak sudah memiliki dua putra.


Kini kebahagiaan tengah menjalani orang-orang yang berada di sana, senyuman demi senyuman menghiasi bibir mereka yang tangah menikmati hidangan dan hiburan yang tersedia.


Di sudut gedung, Mimy sedang berdiri dan Beben berlutut di hadapan Mimy. “Kamu apa-apaan sih Ben? malu tau.”


Beben mengeluarkan sebuah kotak kecil dan isinya sebuah cincin. “Maukah kamu menikah denganku? aku berjanji! Akan membahagiakanmu dengan semampuku.”


Mimy terbengong-bengong sambil mengedarkan penglihatannya ke sekitar mereka. Dia tidak menyangka kalau Beben akan melamarnya di hadapan banyak orang yang melepas pandangannya ke arah mereka berdua.


"Mau-mau, mau-mau, mau!"suara Jihan sambil bertepuk tangan.


Dan ikuti oleh para tamu yang ikut mendukung. “Mau ... terima saja.”


Pada akhirnya Mimy mengangguk pelan dengan ekspresi malu-malu.


Main main Dan Beben. "Ya!" lalu dia menyematkan cincin tersebut ke jari manis Mimy.


Sementara Sukma dan Alfandi bersiap melempar buket bunga yang tengah Sukma pegang dan konon ... siapa yang mendapatkan bunga tersebut akan segera menyusul menikah. Entahlah itu atau fakta mitos Cuma.


Suana begitu ramai suara para jomblo yang ingin berebut bunga dari sang mempelai.


Alfandi dan istri memegangi bunga yang hendak di lempar.“ Satu, dua. Lempar gak ya?sepertinya tidak ya. Tapi kalau tidak ... kasian semua sudah menunggu untuk mendapatkan bunga ini,” ucap Sukma dan Alfandi.


Hingga akhirnya bunga tersebut dilempar juga dan mereka pun berebut untuk mendapatkannya.


“Jihan, kalau nanti kau menikah apa mau semeriah ini atau biasa saja?” suara Firza melirik ke arah Jihan yang sedang melihat kakaknya melempar bunga.


Jihan yang mengulas senyumnya, melihat ke arah Firza. “Saya tidak mau seperti ini, karena yang saya mau adalah pernikahan yang sederhana dan memakai acara yang sesuai dengan syariat agama muslim ya itu agama kita.”


Firza bengong dan mencerna maksud dan tujuan Jihan.


“Mau tau saja!” Firza berlalu begitu saja dari sana.


“Hah … dasar kulkas luh.” Marwan maju ke arah Firza yang ngeloyor pergi.


"Lemah. Kakak bahagia melihat kak Sukma bahagia, dia mendapatkan suami yang baik dan sayang sama kita juga. Kalau tidak bertemu dengan abang, entah gimana nasib kita ini?" kenang Jihan.


“Iya, Kak. Mungkin kita akan tetap hidup susah, boro-boro sekolah lagi kali ya?” timpal Marwan sambil merangkul bahu sang kakak.


Kemudian, sudah saatnya adalah acara memotong kue pengantin yang tinggi ingin mengejar monas tinggi, namun tidak sampai dan akhirnya hanya mampu dalam ketinggian satu setengah meter saja.


“Mommy, aku mau. Aku mau kuenya?” rengek Fikri pada mommy nya.


“Iya boleh, sini Mommy ambilkan?” Sukma mengambilkan buat Fikri.


“Ambil dong sayang … katanya abang gak akan manja lagi karena sebentar lagi akan jadi abang,” bisiknya Alfandi sambil mengusap pucuk kepalanya Fikri.


“Iya sih … tapi kali-kali boleh lah… kan abang juga mau di manja sama mama. Papa juga sering manja sama mommy, apalagi aku yang masih kecil.” Anak itu bisa saja menjawabnya.


Sukma tersenyum pada Fikri yang sedang menikmati kue dengan lahap.


Langit sudah nampak gelam dan para undangan pun sudah pulang semua, begitu pun yang punya acara dan keluarga. Sudah mulai masuk kamarnya masing-masing.


“Aku capek banget. Alhamdulillah semua berjalan dengan baiklah,” ucap Sukma sambil melepas aksesoris yang melekat di bagian tubuhnya.


“Iya sayang, akhirnya pernikahan kita di sahkan juga oleh negara,” timpal Alfandi yang baru muncul dari kamar mandi.


“Hem …” Sukma menarik kedua ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman bahagia kepada sang suami.


Keduanya saling bersitatap melalui pantulan cermin. Sementara tangan Alfandi memegang bahu sang istri.


...---...


Beberapa bulan kemudian. Kehamilan Sukma sudah membesar dan kini sudah menginjak usia sembilan bulan dan tinggal menunggu waktunya saja untuk lahiran.


Setiap hari tidak banyak yang Sukma lakukan selain itu bersantai dan kuliah pun sudah beberapa bulan ini mengikuti dari rumah saja. Alfandi yang protektif dan kalau suami gak ada, ada Firza yang sama protektifnya dengan sang ayah.


Sukma tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Tidak boleh capek inilah itu lah. Terkadang bikin Sukma bosan dibuatnya.


Seperti saat ini. Sukma sedang menyiram tanaman bunga yang tampak kepanasan dan layu.


“Mommy, jangan? Nanti capek, nanti baby nya kecapean.” Firza mengambil tempat air dari tangan Sukma dan menuntunnya untuk duduk di kursi.


“Aduh, Za … Mommy ini capek dan bosan bila berdiam diri terus, dan Mommy itu butuh banyak gerak jangan diam terus,” protes Sukma.


“Kalau mau banyak gerak, jalan kaki tuh, bukan kerja. Yang kerja biar yang lain saja.” Tambahnya Firza.


Membuat Sukma memutar bola matanya jengah.


Lantas Sukma berjalan ke dalam rumah sambil memegangi perutnya yang buncit dan terasa mulas, berasa ingin buang air besar tapi lain.


“Bu, kok aku mulas tapi gak jelas mau apa ya?” Sukma menghampiri sang ibu mertua.


“Ya ampun … pasti mau lahiran ya Neng? dari kapan ke rasanya?” bu Puji tampak antusias.


“Belum lama ini sih.” Sukma memegang pinggang bagian belakang yang terasa panas.


“Aduh-duh-duh, Bu ... mulasnya makin menyiksa dan pinggang ku semakin terasa panas. Bu ... sakit, Za ... panggilkan pak Luky dan siapkan mobil,” pekik Sukma memanggil Firza yang berada di depan sedang menyiram tanaman.


“Bi … Bibi … siapkan barang-barang yang sudah saya siapkan di koper?” kini Bi Lasmi yang mendapat perintah dari Sukma.


Sementara bu Puji yang merasa panik memegang bahu Sukma dan memboyongnya ke depan.


Firza yang mendengar pekikan dari Sukma, langsung memanggil pak Luky da menyiapkan mobil.“ Bu, mau melahirkan bukan?aku ikut.”


Bi Lasmi muncul dari balik pintu membawa barang yang sekiranya di butuhkan nanti. “Neng yang lancar ya?” bi lasmi ikutan panik.


“Za, telepon papa Za?” pinta bu Puji kepada Fikri yang sudah duduk dekat Sukma yang meringis, wajahnya mulai pucat.


“Ponselnya mana?” Firza menanyakan ponselnya karena dia tidak memegang ponsel sementara mobil sudah melaju dengan cepat.


Pak Luky memberikan ponselnya pada Firza untuk menelpon sang majikan alias papanya Firza.


Dan dengan tidak membuang waktu. Firza menelpon papanya dan mengatakan kalau mereka sedang otw ke rumah sakit, karena mommy nya sudah kontraksi ....


.


Makasih masih setia dengan karya yang receh ini 🙏