Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Si wajah tampan dan dingin. Berdiri dengan tatapan tajam ke arah sang ayah yang sedang membuka pintu.


"Firza, kau sudah datang rupanya. Mommy dan Papa mengira kau pulang dulu ke rumah mama mu." Sambutnya Al.


"Ya, Pah ... eh tidak. aku langsung ke sini kok." Balasnya Firza sambil memeluk sang ayah.


"Tambah ganteng aja nih putra Papa." Al menepuk pundaknya si sulung.


"Firza, kau baru sampai?" Sukma menghampiri suami dan putra sulungnya.


"Ya Mom." Firza meraih tangan Sukma dan pelukan sebentar.


"Aku kira--"


"Tidak, aku langsung pulang ke sini kok!" Firza langsung memotong kalimatnya Sukma yang pasti akan mengatakan kalau dirinya mampir ke tempatnya Vaula.


Setelah itu. Firza menemui adik bungsu nya yang bermain dengan Firza, Marwan dan Jihan.


Mereka berkumpul. Di ruang tengah. Sambil mengasuh Syakila yang sangat ceria dan dan menggemaskan yang melihat dengan macam gayanya yang imut.


Firza dan Jihan sesaat saling melempar pandangan lalu sama-sama mengalihkan pandangan ke lain arah.


"Sudah Maghrib, sebaiknya kita salat Maghrib dulu. Nanti kita makan malam," ucap Sukma sambil menyingsingkan lengan baju nya.


"Iya, kita ke masjid dulu. Ayo jagoan Papa semuanya, kita ke masjid dulu." Al pun beranjak.


Begitupun dengan putra dan ipar nya yang juga beranjak dan bersiap ke masjid.


"Mom. Tolong ambilkan sarung dan peci ya!" Alfandi menoleh pada sang istri.


Yang langsung beranjak dari duduknya dan mengambilkan apa yang Alfandi butuhkan.


Semuanya yang mau ke masjid mengambil sarungnya masing-masing dan sekarang sudah rapi untuk pergi ke masjid.


Jihan yang beranjak dari duduknya hendak ke kamar dan akan mengerjakan salat magrib, menyempatkan diri untuk melihat ke arah Firza yang mengenakan sarung dan peci. Sangat tampan dan menuduhkan pandangan mata.


"Ini Pah. Sarung sama peci nya," ucap Sukma sembari memberikan sarung dan peci pada sang suami.


"Makasih sayang," balasnya Alfandi seraya berbisik.


Sukma hanya mengurai senyumnya, kemudian mengajak Syakila untuk naik ke lantai atas! biar dia ikut ke kamarnya, karena di bawah pun tak ada yang menjaga.


"Sayang yo, ikut Mommy. Kita sholat Maghrib yo? main di sini nya nanti aja kalau sudah sholat, main lagi!"


Anak itu menggeleng seraya berkata. "Dak mayu, Mommy ... Mayu main sini. Mayu main sini."


"Tapi di sini gak ada siapa-siapa ... semuanya salat magrib dulu, nanti setelah selesai baru bermain lagi Oke? nanti kita main lagi di sini!" Bujuknya Sukma.


"Huh ... nggak diajak, huuh ... sendirian. Nggak ada temennya di situ ih ... takut!" godanya Fikri dan Marwan yang ditujukan kepada Syakila.


Dan membuat anak itu merengek minta digendong sama Mommy nya.


"Sudah ah. Kita berangkat yok?" ucap Alfandi seraya berjalan mendekati pintu utama. Serta tidak lupa mengucapkan salam yang diikuti oleh ketiga jagoannya.


"Mommy mayu icut. Mau Icut papa, icut Apang!" Rengeknya Syakila dalam gendongan Sukma.


"Papa sama Abang mau ke masjid, Syakila nggak boleh ikut. Shakila kan sama Mommy ya, kita bermainnya di atas dulu ya? nanti kalau semuanya udah balik kita main lagi di sini!" Sukma berjalan membawa putri kecilnya itu ke lantai atas.


Sementara bibi pun memang mau melaksanakan salat magrib dan juga mau menyiapkan buat makan malam nantinya.


Cklek. Pintu kamar dikunci dan Sukma membiarkan Syakila bermain sendiri di dalam kamar tersebut, sementara dirinya melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


"Bungah. Tik ...bungah nyantik ... Wangi!" celotehnya Syakila sambil mencium bunga yang berada di tangannya. Dia bermain boneka bersama setangkai bunga yang Sukma tadi berikan padanya.


"Mommy-Mommy ... bungah nyantik ... Wangi ..." Syakila menunjukkan bunga itu kepada Sukma yang baru saja selesai membaca doa.


"Iya sayang, bunga nya cantik, boneka nya kasih bunga. Pasti dia suka, biar tida rewel seperti Sya." Sukma menerbitkan senyumnya.


Selanjutnya Sukma kembali turun mau membantu bibi menyiapkan makan malam biar Syakila sama Jihan aja bermain.


Sukma langsung turun ke dapur untuk menata masakan di meja yang kebetulan sebagian baru saja matang dan masih di dalam wajannya.


Sehingga Sukma tuang ke dalam mangkuk lalu menatanya di atas meja, menyediakan piring dan gelas air minum.


Sepulangnya dari masjid, Firza langsung membakar-bakar ikan yang menjadi salah satu yang dia kangen dari rumah.


"Ya lah, gimana lagi kecuali di rumah." Kata Firza dengan nada dinginnya.


"Tapi kemarin nggak bikin, kamu sih sibuk pacaran." Sambungnya Jihan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Emang Kakak punya pacar? siapa tuh ... Kepo dong?" selidik Marwan.


"Kepo amat sih lo, pengen tau banget apa pengen tahu aja?" Firza menoleh dan menatap datar pada Marwan.


"Aku laporin lho sama papa Kak Firza sudah pacaran!" sambarnya Fikri.


"Laporin aja sana. Noh dia juga pacaran!" Firza menunjuk Jihan dengan dagunya.


"Aku adukan sama kak Sukma lho Kak, bukannya belajar yang bener," ucap Marwan sambil menunjuk ke arah sang kakak.


"Enak saja. Kok bawa-bawa aku sih ... lagian aku nggak pacaran kok dan kuliah ku tidak terganggu." Elaknya Jihan sambil melihat ke arah Firza dan Marwan bergantian.


"Yang mulai siapa? kau sendiri yang mulai dan bilang aku pacaran," tambahnya Firza mengalihkan pandangannya pada gadis berkerudung tersebut.


"Ya ... kan memang begitu kan fakta nya, kau sering mojok sama Puspa dan dia juga sering datang ke kosan mu, helleh ... emangnya ku tidak tau apa?"Jihan makin nyerocos.


"Kamu kenapa nyerocos? apa masalah mu ha?" Firza menatap heran kepada Jihan yang menunjukkan ekspresi wajah yang kurang suka.


"Aku heran ya, dari dulu sampai sekarang kalian itu bagai kucing sama anj**g saja. Akurnya sebentar--"


"Apa lagi aku, pusing ach! mendingan makan." Sambar Fikri sembari membawa piring yang berisi bakar ikan tersebut.


"Iya lah, sama puciung ... Pala baby." Marwan pun berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Jihan dan Firza saling tatap lalu saling mencibir serta menggoyangkan bahunya masing-masing.


"Mommy, Mommy. Katanya Kak Jihan dan kak Firza masing-masing punya pacar!" Adunya Fikri sambil nyimpan piring ikan bakar di meja.


Sukma menoleh sembari menyuapi putih kecilnya Syakila. "Mereka berdua kan sudah besar biarin saja, kecuali kalau Fikri atau Kak Wawan! nggak boleh."


"Beneran Pah mereka berdua boleh! karena sudah besar sementara abang sama kak Wawan nggak boleh kalau masih kecil gitu?" Fikri mengalihkan pandangannya kepada sang ayah.


"Benar dan tapi ... ada syaratnya juga, bila masih dalam batas kewajaran itu boleh--" Al menggantung perkataannya tatkala melihat kedatangan Marwan di meja makan.


"Lagian aku mah nggak mau pacaran dulu sebelum sukses seperti Abang jadi arsitek, karena itu cita-citaku!" Timpalnya Marwan sembari mendudukkan dirinya di kursi meja makan dan mengambil piringnya.


"Bagus itu ... Gapai cita-citamu ya!" Alfandi menepuk bahunya Marwan.


"Iya Bang aku cuman butuh dukungan Abang sama Kak Sukma aja juga doanya!" Balasnya Marwan.


Yang langsung ditanggapi dengan gumaman Aamiin.


"Abang sih ... nggak akan ngelarang jika kamu menyukai seseorang nantinya, silakan! tapi pasti ada batasan-batasannya dan kamu harus ngerti itu." Tambahnya Alfandi. "Iya kan Mom?" melirik pada sang istri.


Dan Sukma pun menganggukkan kepalanya seraya terus menyuapi Syakila sampai dia merasa kenyang.


Kemudian Jihan dan Firza masuk dengan membawa satu piring lagi ikan bakar. Dengan raut wajah yang sama-sama ditekuk.


"Kalian kenapa sih, kok wajahnya pada ditekuk begitu? nggak senang apa kita berkumpul di sini?" Sukma menatap heran pada anak sambung dan adiknya tersebut.


"Ini nih Kak. Bikin gedek!" Jihan menggerakkan ujung matanya ke arah Firza.


"Aish ... kenapa tidak sama aku Kamu sendiri yang mulai kok," akunya Virzha sambil merindukan dirinya dan juga mengambil piring yang sudah ada nasi dan sayurnya. Tinggal menambahkan ikan bakarnya saja.


"Kalian ini dari dulu sampai sekarang. Nggak berubah ya--"


"Iya Bang, kawinkan saja sekalian, heran." Marwan menyambar perkataan dari Alfandi.


"Ooe ... sembarangan aja ngomong, mana ada yang mau sama dia! sudah galak, judes dan tidak bersahabat." Firza bergidik.


Kedua manik matanya Jihan melotot yang sangat sempurna kepada Firza yang mengatai dirinya judes, galak!


Selanjutnya mereka menyantap makan malamnya dengan sangat lahap yang dihiasi senda gurau, namun Firza tetap saja sikapnya agak dingin ....


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya biar aku tambah semangat, makasih