Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Pangeran



"Untuk sekarang ini, Firza gak akan mengerti dengan kebutuhan Papa. Kelak kamu pasti mengerti kenapa Papa ingin menikah lagi dan sebagainya." Lirih Alfandi sembari mengusap punggungnya Firza.


Sebagai anak, tentu saja Firza ingin melihat keluarganya utuh dan bahagia. Tapi jika kenyataannya tidak seperti yang diinginkan, apa boleh buat.


Di lubuk hati yang paling dalam jelas Firza kecewa. Kecewa dengan keadaan, dia yang masih usia belum dewasa tidak bisa berbuat apa-apa karena sesungguhnya dia belum mengerti akan kehidupan ini.


"Baiklah, terserah Papa saja semoga keputusan Papa ini yang terbaik," ucap Firza sembari nafas dihembuskan dengan kasar.


Alfandi menarik sudut bibirnya senyum tipis. "Kalau begitu, sekarang kau siap-siap ya? kita temui tante Sukma."


"Siapa dia?" tanya Firza sembari mendongak pada sang ayah.


"Tante Sukma itu, calon istri Papa!bersiaplah mengemas berapa baju ya? kita akan menginap di sana." Sambung Alfandi sembari berjalan mendekati pintu.


Firza terdiam, tidak menjawab lagi perkataan dari papanya.


"Lima menit lagi harus sudah siap! Papa tunggu di ruang tengah?" Alfandi menoleh pada putra nya, lalu bergegas keluar dari kamar tersebut.


Kemudian Alfandi membawa langkah kakinya yang bersemangat, menuju kamar untuk mengambil beberapa pakaian yang sekiranya di butuhkan di sana.


Setelah merasa cukup, dengan beberapa pakaian yang dia masukan ke dalam koper. Tidak lupa membawa laptop dan tabletnya.


Tidak lupa juga, Alfandi mengambil beberapa barang dari ruang kerjanya yang di masukan ke dalam tas kerja.


Lalu Alfandi keluar kembali dengan menyoren tas dan menarik kopernya.


Langkahnya yang lebar, membawa dia ke depan kamarnya Fikri seraya mengetuk daun pintu tersebut. " Fikri, yu kita pergi? katanya mau ke tempat, Tante?


Tidak lama kemudian, pintu kamar Fikri pun terbuka dan tampak Fikri sudah membawa tas punggungnya.


"Itu isinya apa? di dalam tas?" Alfandi menatap tas punggung yang Fikri bawa.


"Peralatan sekolah buat besok! kita mau menginap di sana bukan, Pah!" sahut anak itu sembari mendongak.


"Pakaiannya? bawa berapa potong termasuk seragam sekolahnya, yu kita tunggu di bawah saja! biar bibi yang menyiapkannya?" Alfandi meraih tangan anak bungsunya itu, dituntun ke lantai dasar.


Ketika masih berjalan di tangga pun, Alfandi sudah memanggil bibi. "Bibi ... tolong ya? siapkan beberapa potong pakaian punya Fikri dan seragam sekolahnya buat besok."


Bibi menatap heran kepada sang majikan juga pada putra bungsunya itu. "Emang, Tuan mau ke mana? Den Fikri juga mau ke mana?"


"Fikri mau menginap di tempat tante--" Fikri menggantungkan perkataannya seiring dengan menolah pada sang ayah yang juga menatap dirinya.


"Tante? tante-tante yang mana?" tanya bibi kembali seraya mengerutkan keningnya.


"Sudah, Bibi tolong bereskan saja pakaiannya Fikri, kita mau menginap paling satu atau dua malam saja, lagian ngapain di rumah juga? nyonya sedang berada di luar Negeri juga," ucap kembali Alfandi dengan nada perintah.


"I-iya, Tuan. Sebentar Bibi siapkan!" kemudian bibi mengangguk dan pergi meninggalkan keduanya yang sudah berada di lantai dasar.


"Pah? kak Firza ikut gak?" Fikri mendongak pada sang ayah.


"Ikut, sebentar lagi juga ke sini," sahutnya Alfandi sambil melihat jam yang sudah menunjukan pukul lima sore.


Benar saja. Tampak Firza keluar dari kamarnya membawa tas punggung yang berisi peralatan sekolah dan dua potong pakaian ganti.


"Jauh gak? aku cuma bawa di potong baju dan seragam sekolah." Firza bertanya pada papanya.


"Tidak jauh dari sekolahan--"


"Dari sekolahan aku, Pah?" tanya Firza kembali.


"Iya, kalau mau naik angkot juga satu kali dan mau jalan juga dekat," sahutnya Alfandi lagi.


"Oh, bagus dong." Firza mengangguk pelan.


Setelah Bibi memberikan tas pakaian Fikri, Alfandi pun mengajak mereka untuk berangkat saat ini. "Ayo kita berangkat sekarang saja? lagian badan Papa sudah lengket nih belum mandi."


"Kenapa nggak mandi dulu pah?" tanya Fikri sambil berjalan.


"Nanggung, nanti di sana gerah lagi." Jawabnya Alfandi sembari memasuki mobilnya.


Sementara Bibi terbengong-bengong diambang pintu. Sama sekali dia tidak mengerti mau ke manakah majikannya itu? bahkan membawa kedua putranya juga tas pakaian.


"Ooh iya, kalian tunggu sampai di mobil ya? Papa mau bicara dulu sama, Bibi." Alfandi kembali menutup pintu mobilnya, menghampiri Bibi yang mematung di ambang pintu utama rumah tersebut.


"Bu, saya pergi dulu ya? doakan biar semuanya lancar!" pamitnya Alfandi kepada bibi setelah di hadapan orang tua itu.


"Ooh, Tuan. Emangnya, Tuan mau kemana? mambawa anak-anak juga?" tanya babi penuh dengan sara penasaran di benaknya.


"Saya mau mengajak anak-anak menginap di suatu tempat, sebenarnya sih ... tidak jauh dari sini untuk mencari ketenangan," ucap Alfandi seraya menghela nafas.


"Mencari ketenangan?" biby semakin dibuat bingung dengan perkataan Alfandi tersebut.


"Iya, Bi. Mencari ketenangan! di sini terlalu panas dan ... kalau nyonya sudah pulang, bilang saja seperti itu! Oh ya, sekali lagi mohon doanya." Alfandi menyalami bibi, kemudian dia mendatangi mobilnya kembali, di mana kedua putra nya itu sudah berada di sana.


"Ya ampun, Tuan. Bibi mah jadi bingung ini teh, tuan mau ke mana membawa anak-anak juga," gumamnya bibi memberi menatapi punggung Alfandi yang memasuki mobilnya.


Yang lain menghampiri bibi dan bertanya. "Tuan mau kemana Bi? beserta anak-anaknya juga?membawa tas segala lagi, apa mereka mau ke luar kota?" cecar para asisten lainnya pada bibi.


Sementara bibi hanya menggelengkan kepalanya dan berucap tidak tahu.


"Terus, mereka mau dibawa ke mana ya Bi? tumben-tumbenan Tuan membawa anaknya dengan tas-tas pakaian dan peralatan sekolah segala? sementara nyonya belum juga pulang?" tambah asisten lainnya.


Kini Alfandi sudah melajukan mobilnya menuju jalan xx di mana Dimana rumah yang diperuntukkan Sukma berada.


"Pah mau jajan dong? tuh banyak jajanan di pinggiran jalan," tunjuk Fikri, kebetulan dia memilih duduk di depan.


"Boleh, beli saja! emang mau beli apa saja," Alfandi mengangguk dan sekilas melirik putranya itu.


"Itu ada cilor, mie gulung, bakso kering, cilung juga," boleh ya? bolehlah Pah," rajuk nya Fikri.


"Iya boleh, boleh saja. Ini uangnya, sebentar?" tangannya Alfandi merogoh sakunya untuk mengambil uang yang warna biru dan diberikan kepada Fikri.


"Kakak mau jajan nggak?" namun Firza tidak menyahut, mungkin karena dia memakai earphone di telinganya.


"Firza? mau jajan nggak! tanya kembali Alfandi pada putra sulungnya yang duduk di belakang, ia melihat dia dari kaca spion di atas kepalanya.


Firza menoleh pada sang ayah seraya menggeser kan earphone nya. "Apa Pah?"


Alfandi menepikan mobilnya sebelum menjawab pertanyaan dari putranya tersebut. "Mau beli jajanan nggak? itu Fikri mau beli jajanan."


Firza menoleh pada sang adik yang turun dari mobil dan menghampiri yang jualan di depan sana. "Nggak ah, enggak mau." Anak itu menggeleng.


"Ya, sudah kalau nggak mau. Sudah makan siang tadi?" tanya Alfandi.


"Sudah, Pah." Lagi-lagi Firza mengangguk pelan.


"Oke." Alfandi mengangguk-anggukan kepalanya membuang kejenuhan dalam menunggu Fikri yang sedang membeli jajanan.


Beberapa saat kemudian Fikri pun kembali dengan membawa kantong jajanan yang seabrek.


"Kembaliannya mana?" tanya Alfandi pada pada Fikri yang mendudukkan dirinya di tempat semula.


"He he he ... habis! nggak ada kembaliannya." Anak itu malah nyengir menunjukkan giginya yang putih.


"Ham ..." Alfandi menggelengkan kepalanya.


Detik kemudian Alfandi pun melanjutkan perjalanan. Melajukan mobilnya dengan sangat cepat! agar segera sampai di tempat tujuan yaitu rumahnya Sukma.


Sesekali Alfandi menggeleng melihat ke arah Fikri yang tidak berhenti makan.


"Pah? aku sisain cilung buat kak Marwan ya? boleh nggak?" Fikri menatap ke arah sang papa.


"Boleh, boleh saja! lagian itu makanan banyak, masa mau habis sendiri sama Fikri?" sahut papanya.


"Iya nih, Pah. Aku sudah kekenyangan, eu ..." Fikri bersendawa.


"Marwan siapa dia?" tanya Firza.


Marwan itu adiknya tante Sukma adik bungsunya," sahut Alfandi sembari membelokan si roda empatnya itu memasuki halaman yang pagarnya dengan mudah di dorong dengan mobil.


"Oo!" Firza membulatkan mulutnya sembari mengamati bangunan rumah yang berada di depan mobil itu.


"Sudah sampai ..." Fikri langsung buka pintu dan turun, tidak lupa membawa tas-tas nya.


"Benar, ini rumahnya! rumah Papa sih ... tapi akan Papa berikan sebagai mas kawin buat, Tante." Jelas Alfandi seraya menatap daun pintu yang masih tertutup itu.


Firza terdiam, rasanya tak ada kata-kata yang ingin dia keluarkan kembali dari mulutnya. Mungkin kalau saja hubungan papa dan mamanya harmonis seperti dulu, pasti tidak akan terjadi seperti ini.


Tidak akan pernah ada kata, Papa mau menikah lagi. Hati Firza menjadi mencelos sedih, dia membuang wajahnya ke samping.


Fikri sudah berada di ambang pintu, dia berdiri dengan membawa tas punggung dan yang dia jinjing.


Dan dari dalam ada yang bukakan pintu, seorang anak laki-laki yang usianya di bawah Firza. Dia tersenyum menyambut kedatangan mereka apalagi Fikri.


Dia langsung mengacak rambut Fikri seraya berkata. "Wih ... anak manja datang! pasti mau nyari emaknya nih?"


"Yey ... kak Wawan, iri saja, biarin saja aku mau nyari emak nya kek. Atau tantenya kek, apa masalahnya? yey ..." sahut Fikri sembari ngeloyor ke dalam.


"Om?" sapa Marwan sembari mencium tangan Alfandi.


"Hi. Kenalkan, dia Firza putra sulung, Om." Alfandi mengenalkan Firza pada Marwan.


"O, Firza!" keduanya saling berjabat tangan.


Fikri yang sudah berada di ruang keluarga, mendapati Jihan yang sedang menonton televisi.


"Kak Jihan ... Tante mana? Fikri kangen sama tante!" Fikri langsung menanyakan keberadaan Sukma yang belum nampak di tempat itu.


"Ooh Fikri, itu tante lagi salat magrib," sahutnya Jihan seraya menunjuk ke atas.


"Ooh, kamar tante di atas ya?nggak tahu ah!" Fikri menggoyangkan bahunya sambil duduk di sofa depannya Jihan.


"Assalamualaikum ... Jihan?" suara Alfandi menyeruak dari luar, dia berjalan memasuki ruang tamu tersebut.


"Wa'alaikumus salam ... Om." Jihan langsung meraih tangan Alfandi dan diciumnya dengan hormat.


Firza yang berjalan di belakang Alfandi langsung melihat ke arah Jihan yang mencium tangan papanya tersebut.


Kedua manik mata Jihan melihat ke arah Firza yang memang sering melihatnya seliweran di sekolah, anak laki-laki yang sering diagung-agungkan anak perempuan di sekolahnya itu, karena terkenal dengan ketampanannya namun terkadang bandel.


Sejenak keduanya saling pandang, dua pasang mata mereka pun bertemu. Firza dengan wajah juteknya berjalan melintasi pintu, Kemudian duduk di sofa tidak jauh dari sang adik, Fikri.


"Jihan, kenalkan dia Firza putra, Om. Namanya Firza," kata Alfandi pada Jihan sembari menunjuk pada Firza.


"Ooh iya, Om." Jihan mengangguk sembari melirik ke arah Firza yang wajah cuek.


"Kak Sukma di mana?" tanya Alfandi dengan tas dan koper di tangannya.


"Kakak, lagi salat magrib di atas." Jihan menunjuk ke lantai atas.


"Ooh, gimana kalian kerasan kan tinggal di sini? sudah tahu juga warung di depan sana? tanya Alfandi yang di tujukan pada Jihan dan Marwan yang baru mendudukkan dirinya di dekat Jihan.


"Aku belum tahu, karena tadi setelah beres-beres, aku langsung tidur," sahutnya Marwan sembari menggeleng.


"Aku sudah, tadi belanja ke warung depan bersama kak Sukma. Belanja banyak." Jawab Jihan.


"Ooh, sekarang masak apa?" Alfandi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Untuk melihat-lihat, ada masakan apa saja?


Dan ternyata di meja makan sudah tersaji beberapa menu yang di antaranya ada sambal teri, telor dadar, cah kangkung dan sayur bening bayam. Membuat bibir Alfandi tersenyum lebar.


Alfandi menoleh ke arah Sukma yang baru saja turun dari tangga, dengan masih menggunakan mukenanya berwarna krem.


"Sudah salatnya?" sapa Alfandi sambil tersenyum mengembang.


"Sudah, kapan kalian datang?" tanya balik Sukma sembari melirik ke arah sofa, di sana ada Fikri yang sedang tiduran dan satunya lagi yang Sukma belum tahu siapa? bersama Jihan dan Marwan di depan televisi.


"Beberapa menit yang lalu, kenalkan? dia putra sulung saya yang bernama Firza." Alfandi seraya menoleh ke arah Firza yang sedang bengong.


Sukma menoleh ke arah yang Alfandi tunjukkan. "Oh, sepertinya nggak jauh ya? usianya dengan Jihan," balasnya Sukma memandangi ke arah Firza.


"Mungkin, kelasnya pun sama cuma beda jurusan," timbal Alfandi.


"Ooh ... gitu ya?" kemudian suka menoleh pada tas-tas yang dibawa Alfandi dan putranya.


Alfandi melirik pada Sukma yang menatapi tas-tas milik ia dan kedua putranya. "Kami mau menginap dan besok pagi kita akan menikah."


Sukma terkesiap dia benar-benar kaget mendengarnya. "Ha? besok pagi?" mulut Sukma seakan menganga, tidak percaya dengan yang dia dengar! menikah dengan secepat itu?


"Iya, besok. Nggak pagi sih ... siang! karena kita juga harus menunggu orang dari butik yang mambawa pakaian untuk kita berdua ijab kabul." Alfandi menjelaskan.


"Secepat itu?" Sukma kembali bertanya, ia benar-benar tampak kaget.


"Tadi ... saya sudah laporan ke pihak RT/RW, tentang kepindahan kita ke sini. Dan saya langsung ke KUA juga untuk daftar kalau kita berdua besok hari menikah," jelas Alfandi sembari menatap wajah Sukma yang terlihat teduh dan menenangkan.


Sukma terdiam dan kedua menik matanya menatapi Afandi, dia benar-benar nggak menyangka kalau akan menikah secepat itu.


"Sekarang katakan? siapa yang mau kamu undang? keluargamu yang mana dan di mana? lewat telepon saja undangnya ya!" tanya Alfandi. "Karena untuk wali itu bisa Marwan saja atau wali hakim, kalau memang dari pihak keluarga mu yang dapat dijadikan wali. Atau saudara laki-laki selain Marwan."


"Wali dari bapak sebenarnya ada, kakek jauh! tapi aku nggak tahu dia dimana? dan bila harus menghubungi bibi Lilian pun, rasanya aku malas. Malas dengan ocehan paman dan putrinya." pada akhirnya semua berkata demikian dan dia memutuskan untuk tidak mengundang Bibi Lilian sekalipun.


"Jadi kamu nggak mau ngundang keluargamu satupun, atau siapapun?" tanya Alfandi kembali ingin meyakinkan dirinya.


Sukma menggeleng. "Tidak."


"Baiklah kalau begitu dan ... saya juga minta maaf, jika pernikahan kita hanya dilakukan ijab kabul saja!" Alfandi menghela nafas panjang. "Tidak apa-apa kan? yang penting kita halal dan saya bertanggung jawab atas kalian. Khususnya dirimu sebagai istriku nantinya."


Sejenak Sukma diam seribu bahasa, wajahnya pun menunduk ke lantai tangannya bertumpu kemeja, lalu kemudian dia menganggukkan kepalanya sampai terjadi dua kali, dengan tetap menunduk. Dadanya sontak berdebar-debar, dag-dig-dug tak menentu.


"Terima kasih? terima kasih kau sudah mau menerimaku! mau menjadi istriku dan ibu dari kedua anakku?" suara Alfandi pelan namun jelas di telinga Sukma.


"Oho ... serius amat sih ... dan nggak ngajak-ngajak aku deh ngobrolnya," suaranya Mimy datang-datang menghampiri Sukma dan Alfandi yang tengah mengobrol serius.


Firza yang sedari tadi bengong, mendengar suara Mimy yang agak cempreng suaranya. Dia langsung menoleh ke arah meja makan yang dimana ada papa dan kedua wanita muda. Firza menerka-nerka, kira-kira yang mana calon istri dari papanya Itu?


Fikri yang sempat tiduran di sofa mendengar ribut-ribut di dekat meja, dia terbangun dan melihat bahwa di sana ada Sukma. Dia langsung menyeruak ke arah Sukma. "Tante ... Fikri kangen? kenapa, Tante nggak pernah telepon Fikri sih? atau telepon papa gitu nanyain Fikri!"


"Hei anak ganteng ... apa kabar?" sapa Sukma sambil mengusap kepala Fikri yang kini memeluknya itu.


"Baik, Fikri kangen banget deh sama tante. Kenapa sih? sekali-kali telepon ke papa nanyain Fikri gitu?" ulang anak itu kekeh.


Melihat bahasa tubuh Fikri dan Sukma, membuat Firza langsung beranggapan! kalau wanita yang di panggil Fikri itu, adalah calon papanya.


"Hi hi hi ... Fikri lupa ya? hayo ... lupa ya? Tante, kan nggak punya ponsel sayang ... mau telepon pakai apa coba?" Sukma begitu lirik seraya menatap anak itu dan tangannya terus mengelus rambut Fikri dengan lembut.


"Oh, iya. Fikri lupa kalau, Tante nggak punya ponsel. Minta dong ... sama Papa. Papa? beliin ponsel dong tantenya! masa sih nggak bisa beliin ponsel buat tante." Lalu Fikri menoleh kepada papanya.


"Iya ... besok Papa belikan, tante ponsel. Tenang saja." Alfandi menoleh pada Sukma yang langsung mengalihkan pandangan ke lain arah. "Ya sudah, Papa mau mandi dulu, badan Papa sudah gerah Niah."


Alfandi membawa langkahnya ke dekat sofa untuk mengambil tas dan kopernya, dia bawa ke lantai atas dengan tujuan ke ruang kerjanya dulu, sebelum sah menjadi suami dari Sukma. Kalau seandainya sudah sah sih, langsung ke kamar utama tentunya.


Firza melihat papanya naik ke lantai atas, dia pun mengikuti bersama tas punggungnya. "Pah? kamer aku di mana?"


Alfandi menoleh. "Oh, iya. Di atas! yu Papa tunjukkan kamar mu dan Fikri, satu kamar tapi tempat tidurnya masing-masing." Terdengar suara Alfandi kepada putranya itu.


"Iih ... Tante Fikri lapar!" Fikri mendongak kepada Sukma yang menatapi kedua pria yang menaiki anak tangga, yaitu Alfandi bersama putranya.


Apalagi Mimy, matanya tak berkedip melihat Firza. Anak laki-laki yang masih ABG itu begitu ganteng, tampan mirip dengan papanya. "Ya, Tuhan ... berdampingan begitu seperti pangeran dan putranya! ganteng-ganteng, tampan-tampan ya ampun ..." Mimy menggelengkan kepalanya, begitu mengagumi keindahan yang ada di depan matanya itu.


"Mimy ... kau sedang lihat apa segitunya? mandangin orang?" suara Sukma menyadarkan Mimy.


"He he he ... sorry sudah mengagumi calon suami orang! sorry ya?" ucap Mimy dengan ekspresi lucu.


"Iih dasar kamu ini." Gumamnya Sukma seraya menggelengkan kepalanya ....


.


.


...Bersambung!...


.


Bagi reader ku yang suka dengan kisah sukma dan Alfandi, fav dong ... kok sepi sih🙏