
"Ya, sudah. Aku mau nunggu masakan saja." Firza duduk di kursi dekat meja makan.
"Oke, sebentar lagi juga matang kok." Sukma sembari mengorak-ngarik masakannya.
Bibir Alfandi tersenyum ke arah Sukma dan Firza. "Ya sudah, Papa mau ke kamar dulu. Mau mandi lagi, gerah nih."
Sukma tersenyum sembari menatap punggung Alfandi yang menaiki anak tangga.
"Mommy? Mommy, aku lapar nih!" Fikri menghampiri dan duduk di kursi dekat Firza.
"Iya, sebentar ya ... ini juga matang kok!" Sukma mematikan api kompor dan dan menuangkan nya ke dalam wadah besar.
Sementara bibi memasang piring di meja di bantu oleh Jihan yang menuangkan air.
"Ikan balado ya dah siap ..." Sukma menyimpan wadah tersebut di meja makan.
"Marwan mana? Han ... panggil buat sarapan." Sukma menatap ke arah Jihan yang menyimpan gelas di dekat piring masing-masing.
"Kak Wawan di kamarnya katanya mau mandi, Mommy." Fikri yang menjawab.
Dan Jihan yang ditanya pun mengangguk membenarkan perkataan dari Fikri.
"Ooh, ya panggil lah!" kata Sukma kembali sambil mengambil piring bergantian untuk menuangkan lauk ke piring masing-masing.
"Biar Fikri aja ya? Mommy?" Fikri langsung beranjak dari duduknya.
Sementara Sukma berniat naik memanggil sang suami. Namun belum juga melangkah ke anak tangga, Alfandi sudah tampak turun sambil menyingsingkan lengan bajunya.
"Mau kemana sayang?" tanya Alfandi ketika melihat Sukma berdiri di ujung tangga.
"Hem, mau manggil untuk makan!" Jawabnya sambil mengikat rambutnya ke atas.
"Oya ... yo kita makan?" ucapnya sambil mengutak-atik ponselnya.
Keduanya berjalan mendekati meja makan. Lalu Alfandi melirik ke arah sang istri yang langsung menarik kursinya untuk duduk.
"Setelah makan, siap-siap ya? kita akan berangkat dan menginap beberapa hari di sana!" Alfandi mengedarkan pandangan kepada anak-anak yang kebetulan Marwan pun sudah berada di meja makan.
Fikri, Marwan berjingkrak senang dan Jihan pun tersenyum senang. Sementara Firza tanpa ekspresi sedikitpun. Dia malah asih memulai makannya dengan ikan balado yang masih hangat dan pedas.
Di rumah, mana ada di masakin sang bunda? yang ada masakan asisten saja. Begitu setiap hari perang dia pun jarang makan di rumah.
Tapi Sukma, biarpun ada asisten. Dan tetap sering masak sendiri! ada dan gak ada papanya sama aja. Mungkin memang Sukma tidak sesibuk sang bunda, tapi pada kenyataannya. Sang bunda ada waktu untuk bermesraan dengan kekasihnya itu.
Sementara buat anak-anak tidak ada! Firza melamun begitu anteng dengan pandangan kosong ke arah piring.
"Za. Melamun? mikirin apa? makan!" suara Sukma membuyarkan lamunan Firza.
"Em, em tidak. Aku tidak apa?" Firza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
"Ayo, makan Firza ... kita mau liburan kan? maunya Firza kan liburan ke pantai?" kini Alfandi yang berkata menyuruh Firza untuk makan.
"I-iya, Pah." Firza mengangguk. Lalu melanjutkan makannya.
Sekitar pukul 08.00 Mereka semua sudah berada di dalam mobil Alphard milik Alfandi agar leluasa dan yang bawa adalah Luky. Alfandi malas menyetir dan inginnya berdekatan terus dengan sang istri.
"Bi, kami pergi dulu ya? hati-hati saja di rumah, dan bibi nggak usah pulang! tinggali saja di rumah ini biar nggak kosong," ucap Sukma dari dalam mobil.
"Bener, Bi apa kata istri saya, Bibi nggak usah pulang, kalau perlu ajak anak Bibi untuk menginap di sini." Alfandi membenarkan perkataan dari sang istri.
"Iya, Non. Tuan, Bibi akan menginap di sini." Bi Lasmi mengangguk setuju.
"Wa'alaikumus salam ..." Bu Lasmi membalas dengan lambaian tangan anak-anak juga.
Alfandi sengaja memilih duduk di jok paling belakang bersama sang istri, Marwan di depan dan Jihan, Fikri dan Firza di jajaran tengah.
Jadi Alfandi mau bermanja Ama istri pun tidak diketahui oleh anak-anak. Tangan Alfandi memegang tangan sang istri dengan mesra dan di remasnya gemas.
Sukma menoleh ke arah sang istri dan melihat ke arah tangannya itu. Alfandi malu mengecup pipi Sukma membuat Sukma berwajah merah. Malu dan takut dilihat anak-anak.
"Apaan sih? nanti dilihat anak-anak gimana?" suara Sukma sangat pelan dan mendekat ke telinga nya Alfandi.
Alfandi menggeleng seraya menempelkan telunjuknya di bibir Sukma.
Membuat Sukma tidak bersuara lagi dibuatnya. Biarpun Alfandi bersikap manja dan nakal terhadap dirinya.
Sepanjang perjalanan, anak-anak ramai saling berceloteh. Terutama Fikri dan Marwan.
Kecuali Firza yang banyak diem dan melamun. Dia kepikiran! beberapa hari ini apakah mamanya mencari dia dan adiknya? sementara dia sendiri lupa membawa ponsel dan papanya juga tidak cerita kalau mamanya menanyakan kedua putranya.
Firza ingin sekali menanyakan hal ini kepada papanya. Dia menoleh kearah belakang, Diaman sang papa sedang duduk bersandar sambil memejamkan mata.
Sementara Sukma sedang terdiam melihat ke arah luar jendela. Padahal tangan Alfandi memainkan jemari Sukma di atas pangkuan.
"Pah?" panggil Firza dengan sedikit ragu.
Alfandi membuka netra nya dan langsung melihat sumber suara. "Ada apa, Za?"
"Aku lupa membawa ponsel, dari rumah kita. Apakah mama menanyakan kita?" menatap lekat dan penuh penasaran ke arah sang ayah.
Sejenak Alfandi terdiam dan menatap Firza dengan tatapan. bingung. Di jawab ada, bohong. Dia jawab tidak ada gimana perasaannya? soal pisah saja. Alfandi masih bingung gimana cara untuk menjelaskannya.
Sukma menatap cemas ke arah sang suami, serta penasaran saja dengan yang akan di jawab oleh suaminya itu.
"Em ... mungkin mama sibuk. Jadi ... tidak ada menanyakan kalian berdua." Alfandi jujur sembari menarik turunkan alisnya.
Firza tidak bicara lagi. Dia kembali melihat ke depan, dengan perasaan sedih. Sepertinya bundanya memang tidak perduli sama mereka lagi, sehingga beberapa hari mereka tidak di rumah pun sama sekali tidak bertanya atupun mencari.
Sukma dan Alfandi saling bertukar pandangan dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tangan Sukma menggenggam tangan Alfandi dengan bahasa tubuh yang berbicara tanpa suara dari bibir yang berkata.
Setibanya di kepulauan seribu, mereka langsung memboking kamar terlebih dahulu untuk beberapa kamar buat mereka semuanya.
Satu kamar Sukma dan Alfandi. Dan satu lagi buat Jihan dan satu lagi buat Fikri dan Firza, marwan satu kamar untuk bertiga namun kamarnya cukup luas dan tempat tidurnya pun ada tiga dan cukup mewah di dalamnya.
Marwan langsung melompat ke atas tempat tidur, yang super empuk tersebut. Dan di susul oleh Fikri yang melonjak mengikuti gerakan dari Marwan.
Keduanya tampak bahagia, akhirnya bisa liburan bersama. menghabiskan waktunya dengan suka cita.
Firza berbaring di tempat tidur pribadinya seraya menyisir tempat tersebut.
Kemudian, setelah mengantar anak-anak ke kamarnya masing-masing. Kini Sukma dan Alfandi sudah berada di dalam kamar pribadinya dan Alfandi langsung merangkul pinggang sang istri dari samping ....
.
.
...Bersambung!...