Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Mengontrak



Selepas menunaikan kewajiban pada sang khalik, Alfandi meneguk air putih yang tinggal setengahnya itu.


Sesaat kemudian, Alfandi mendekati Sukma yang sedang berdiri melipat sajadah dan masih mengenakan mukenanya.


"Sayang?" gumamnya Afandi, berdiri di dekat Sukma. Dan tangannya bergerak membuka mukena yang masih Sukma kenakan tersebut.


"Hem?" balas Sukma, dia tau benar kalau Alfandi pasti akan menagih haknya. Terlihat dari tatapannya yang penuh dengan syahwat.


Sukma melipat terlebih dahulu bekas salatnya. Dia simpan dengan rapi di tempatnya.


Hasratnya Alfandi yang sulit di bendung itu, membuat Alfandi tidak membuang-buang waktu lagi, dengan cepat dia menggendong tubuh Sukma ala bridal style. Membuat tubuh Sukma langsung melayang di udara. Dibawanya ke atas tempat tidur yang empuk dan itu.


Sebelumnya dia menggantikan lampu dengan lampu tidur terlebih dahulu, yang sinarnya temaram dan syahdu. Setelah itu barulah Alfandi dengan leluasa naik ke atas tempat tidur, mengungkung tubuh sang istri yang tidak dapat dipungkiri perasaannya tak karuan.


Dan lantas Alfandi mencumbu sang istri dengan lembut, agar sang istri lebih rileks atau nyaman dalam menunaikan kewajibannya nanti. Lama-lama Sukma pun terhanyut dalam suasana, terbawa perasaan yang dibikin happy oleh perlakuan lembut dan penuh kasih sayang dari sang suami.


"Sayang, boleh ya? gak tahan nih!" suara Alfandi pelan dan bergetar.


Sukma terdiam, yang dia lakukan hanya mengalungkan kedua tangannya di pundak Alfandi dengan tatapan yang sayu merayu, sesekali jemarinya membelai rambut pria itu dengan lembut.


Alfandi kembali melu-mat bibir sang istri, dan mengedarkan kecupan di leher lantas turun ke bawah. Bermain-main di balon kenyal serta menambah gairah bila terus memainkan benda tersebut.


"Sudah membaca doa belum?" suara lirih Sukma yang terdengar bergetar.


"Iya sayang. Bismillahil ‘aliyyil ‘azhim. Allâhummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani."


Setelah itu tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir keduanya, melainkan bahasa mata dan kontak pisik juga suara nafas yang tersengal-sengal saling bersahutan.


Sepersekian waktu kemudian. Alfandi mulai menikmati yang lebih dari sekedar cumbuan. Alfandi membawa Sukma ke langit ke tujuh menuju alam nirwana, yang ada cuma mereka berdua dan yang lain cuma mengontrak. He he he.


Sementara di lantai bawah, Jihan dan Marwan juga Fikri sedang berada di ruang televisi.


"Kamu mau menginap?" tanya Marwan pada Fikri yang sedang mainin bola kecil.


"Nggak tau, mau Fikri sih menginap, tapi sepertinya papa mau ajak pulang deh. Ahk semoga saja papa lupa pulang biar Fikri bisa menginap di sini," sahutnya Fikri yang sesekali melihat ke arah televisi.


"Emangnya Mama kamu ga ada ya?" selidik Jihan menatap ke arah Fikri.


"Kerja, mama aku kerja." Jawabnya.


"Maksud Kak Jihan ... pulang ke rumah setiap hari, begitu?" tambah Jihan.


"Pulang, kan baru semalam pulang dari luar Negerinya." Fikri menoleh pada Jihan sebentar.


"Wih, hebat. Ibu kamu Fikri hilir mudik luar Negeri terus ya?" tanya Marwan lagi.


"Iya, Kak sering. Tapi jarang banget liburan bersama, lebih sibuk sendiri saja atau sama kawannya. Oh iya, papa janji mau ajak kita liburan ke pantai, aku mau tagih ah ... biar kita pergi bersama, sama mommy juga. Setuju gak?" ucap Fikri dengan ekspresi wajah yang gembira.


"Mau dong, kita ikut kalau di ajak gitu." Marwan menyambut dengan sangat antusias.


"Nanti ya? Fikri akan bilang sama papa biar mengajak kita liburan bersama." Tambahnya Fikri lagi.


"Maksudnya liburan bersama mama Fikri gitu?" Jihan mengerutkan keningnya.


"Aish, kamu gak jelas banget sih? dunia ke tiga gimana sih? Kak Jihan gak mengerti deh." Jihan semakin mengerutkan keningnya.


"Ahk, males bicara sama Kak Jihan. Nggak ngerti-ngerti! Kak Wawan ngerti yang aku maksudkan? kenapa kak Jihan nggak ngerti?" Fikri mengalihkan pandangan kepada Marwan.


Marwan pun mengangguk. "Aku mengerti maksudmu, Fikri. maksudmu itu mamamu kan nggak tahu Abang nikah sama kakak aku kalau diajak terus udah ketemu terus tahu bisa ngamuk tuh mamamu ya kan?"


"Tuh, Kak Wawan ngerti! kenapa kak Jihan nggak ngerti? aneh deh! tobat-tobat-tobat," ucap Fikri seraya menggelengkan kepalanya.


"Ais anak ini kayak tahu aja tobat itu seperti apa sok tahu," timpalnya Jihan. "Sudah ah, Kak Jihan mau bantu Bibi buat menyiapkan makan malam, sudah lapar."


"Fikri juga sama, sudah lapar mommy mana sih? sama papa juga? kok nggak keluar-keluar dari kamar, apa mungkin sedang mencari angin di lantai atas kali ya di balkon kali?" gumamnya Fikri.


"Ya, biarkan saja mereka berdua. Nggak setiap hari mereka bertemu, nggak mungkin juga kan setiap hari bertemu? sekarang aja Abang ke sini karena kamu ada di sini kali. Seandainya saja Fikri gak ke sini? mungkin Abang juga bakalan ke sini!" jelasnya Marwan.


"Iya-ya, bener juga. Kalau Fikri gak ke sini? Papa belum tentu hari ini datang ke sini jemput Fikri? jadi yang bener siapa? Kak Wawan?" tanya anak itu mantap lekat ke arah Marwan.


"Fikri yang pintar, diam-diam datang ke sini! jadinya dijemput sama Abang, tapi nggak jemput sih. Soalnya sekarang aja belum mau pulang he he he," kata Marwan yang diakhiri dengan ketawa.


"Fikri mau ke atas ahk, mau panggil mommy sama Papa? biar makan bersama, laper nih ... perutku sudah keroncongan," Fikri berdiri seraya mangusap perutnya dan dia mau ke lantai atas untuk memanggil sang ayah.


"Eeh, Den Fikri mau ke mana? ini makan malamnya sudah siap, makan dulu?" tanya bi Lasmi ketika melihat Fikri sudah berada di bawah tangga.


"Fikri mau ke atas dulu, mau panggil papa sama Mommy, anak itu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


"Hem ... den Fikri sini! Bibi bilangin, sini Den?" Bi Lasmi buru-buru nyamperin anak itu, membuat Fikri berbalik melihat ke arah bibi.


Bi Lasmi menuntun tangan Fikri dan diajaknya ke meja makan, menggeser kursi untuknya duduk.


"Dengar Bibi ya Den? sekarang ... Aden duduk dan siap buat makan! biar papa dan Mommy nanti belakangan makannya, mungkin mereka sedang ada keperluan di atas. Mungkin saja ... mereka sedang mengobrol serius, jadi Den Fikri jangan mengganggu mereka ya?" pinta bi Lasmi dengan lirih.


"Tapi ... emangnya mereka ngobrolin apa sampai serius begitu? papa sama mommy nggak akan marah kok, jika Fikri ganggu!" wajah polos itu menatap lekat pada bi Lasmi.


Membuat bi Lasmi sedikit kebingungan harus menjawab apa? kemudian Bi Lasmi menuangkan nasi dan sayur pada piring yang diperuntukkan untuk Fikri.


"Bibi sih nggak tahu pasti mereka ngobrolin apa? yang jelas sangat serius dan nggak boleh diganggu sama anak-anak, nanti obrolannya buyar. Akhirnya obrolan pentingnya lupa deh ... kasihan bukan?" bujuk bibi berusaha mencegah Fikri supaya tidak mengganggu papa dan Mommy nya.


"Ooh begitu ya, Bi? nanti obrolannya lupa gitu ya? apa nggak diingat-ingat aja lagi ngobrolnya? kalau lupa lagi," jawabnya Fikri seraya mengambil piring yang disebarkan Bibi untuknya.


Marwan menepuk bahunya Fikri. "Mau makan? baca doa! bukan banyak ngomong nanti ditemenin setan makannya."


Fikri menoleh ke arah Marwan. "iya Kak, ini juga mau baca doa Tapi doanya apa teh? lupa lagi. em ... em ... “Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannar.”


"Aamiin ya Allah, semoga apa yang mau kita makan ini menambah keberkahan!" sahutnya Jihan dan Marwan, begitupun dengan Fikri yang mengusap wajahnya.


Kemudian mereka menyantap makannya dengan lahap. Sesekali Fikri melihat ke atas dimana sang ayah masih belum turun juga ....


.


.


...Bersambung!...