
Sukma tahu kalau Alfandi sedang sangat menginginkan dirinya saat ini, Sukma ingin ke toilet sebentar dan ingin mengganti baju dengan gaun malam yang akan sangat Alfandi sukai.
Kini saatnya Sukma memanjakan sang suami mumpung sedang berada bersamanya.
"Aku mau ambilkan mau minum dan ... aku ingin ke toilet sebentar? boleh kan?" Sukma menatap penuh harap pada suaminya itu.
"Kau tidak sedang halangan kan?" tanya Alfandi khawatir istrinya sedang berhalangan ataupun lagi palang merah.
Namun hati Alfandi tidak jadi merasa cemas setelah melihat sang istri menggeleng pelan. Pada akhirnya Alfandi menganggukkan kepalanya seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Bibir Sukma mengulas sebuah senyuman. "Makasih?" lalu dai gegas keluar kamar untuk mengambil air putih ke bawah.
Sukma membawa langkahnya untuk menuruni anak tangga menghampiri dapur. Terutama dispenser untuk mengambil segelas air putih yang sebelumnya menuangkan untuk nya minum sendiri.
Setelah kepergian Sukma Alfandi bangun dan membuka kaos yang ia kenakan dan juga kelana distro pendek nya. Hanya menyisakan segi tiga saja dan langsung masuk kedalam selimut.
Tampak pintu terbuka dan Sukma masuk membawa segelas air putih, dan botolnya juga buat cadangan. Tidak lupa mengunci pintu terlebih dahulu sebelum menyimpan gelas di atas meja dekat tempat tidur.
"Ini, minumnya. Kau pasti haus kan?" Sukma menyimpan gelas air dan botolnya.
Alfandi bangun dan mengambil gelas tersebut. Memang benar, tenggorokannya terasa kering apalagi bila berhadapan dengan Sukma bikin kering semu nya.
Sukma sendiri mendekati lemari, lalu membawa sesuatu ke dalam kamar mandi yang entah apa itu, Alfandi hanya menatap penasaran pada sang istri.
Lalu Alfandi meraih remote televisi dan menyalakan nya, agar suaranya mewarnai keheningan kamar tersebut.
Sukma yang berada di kamar mandi, berdiri mematung melihat dirinya yang mengenakan pakaian dinas yang dia sendiri melihatnya merasa geli. Gaun berwarna pic itu begitu menerawang membuat Sukma malu sendiri melihatnya.
Dengan hati yang berdebar dan jantung bertabur tidak karuan. Memberanikan diri keluar dari kamar mandinya dan menunjukan dirinya di hadapan Alfandi yang pasti sudah menunggunya.
Sukma berdiri di depan pintu kamar mandi, lututnya berasa bergetar ketika mau berjalan mendekati tempat tidur.
Sementara Alfandi yang baru saja melirik ke arah sang istri yang mematung. Kedua netra Alfandi terbelalak melihatnya yang mengenakan pakaian dinas yang tentunya untuk dinas bersamanya malam ini.
Alfandi melambaikan tangan dan menepuk kasur di sebelahnya. "Kemari lah sayang? sini?" suaranya pelan dan sorot mata yang terus menatap intens ke arah sang istri yang tampak malu-malu dengan cara tangannya sedikit menutupi belahan dadanya.
Kerena Sukma tidak juga bergerak. Alfandi pun menyibakkan selimutnya lalu turun menapakkan kedua kakinya menghampiri sang bidadari.
"Kenapa sayang? berdiri di situ!" suara Alfandi sambil mendekati istrinya yang tampak malu-malu itu.
"Lutut ku bergetar untuk digerakkan. Dan ... sebenarnya aku malu memakai gaun ini!" sahutnya Sukma sambil menunduk dalam.
Alfandi memajukan langkahnya agar lebih dekat dengan Sukma yang tidak kuasa mengangkat wajahnya apalagi tadi sempat melirik ke arah Alfandi yang hanya mengenakan segitiga saja.
Jari telunjuk Alfandi mengangkat dagu Sukma supaya terangkat. "Kau itu istri ku, jadi tidak perlu malu lagi bila di hadapan ku! kau boleh malu mengenakannya di hadapan orang banyak saja. Kalau cuma kita berdua jangan!"
Perlahan Sukma melihat tatap matanya Alfandi yang tampak mendambakannya. "Tapi--"
"Settt ..." jari telunjuk Alfandi kini menempel di bibirnya Sukma.
Sehingga Sukma tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menatap wajah Alfandi saja dan mulai membungkuk untuk mengecup keningnya, membuat Sukma memejamkan mata ketika benda lembab itu mendarat di keningnya itu.
Kemudian, Alfandi membungkuk serta meraih tubuh Sukma di gendongnya, sehingga tubuh Sukma melayang di udara.
"Al, aku bisa jalan sendiri!" Sukma lirih dan tak ayal melingkarkan kedua tangannya di pundak Alfandi sang membawanya mendekati tempat tidur.
"Katanya lutut mu bergetar? jadi ku gendong," Alfandi membaringkan tubuh Sukma dengan perlahan dan langsung mengungkungnya.
Menatap dengan lembut ke arah Sukma yang juga menatap sendu nan sayu. Manik matanya Sukma seolah menyiratkan aku pasrah padamu, membuat bibir Alfandi mengisyaratkan sebuah senyuman yang bahagia.
Sukma memberi isyarat dengan kedipan matanya. Serta sentuhan lembut tangannya yang mengusap pundak Alfandi.
Kini pandangan Alfandi turun sesaat ke bagian bawah dengan tatakan intens, tangannya mengangkat kaki Sukma agar sedikit menekuk ke atas.
Sejenak Alfandi memejamkan kedua netranya, membaca doa dalam hati sebelum memulai aktifitasnya kali ini, lalu setelah itu mulai mengecup bibir Sukma dengan sangat lembut. Dan Alfandi akan membuat Sukma senyaman mungkin.
"Mmmm." Gumamnya Alfandi di sela-sela melancarkan aksinya yang sedang mencumbu bagian wajah sang istri.
Dengan ritme yang sangat teratur, Alfandi bikin Sukma sesantai mungkin. Agar dapat sama-sama menikmatinya dengan sangat sempurna.
Sukma menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suaranya, malu takut di dengar orang ataupun oleh Alfandi.
"Keluarkan suara mu sayang, jangan malu-malu! tidak akan ada yang mendengar suara kita karena aku pasang kedap suara khusu kamar kita, hanya aku yang akan mendengarnya sayang!" suara Alfandi begitu berat.
Sukma menarik kepala Alfandi menenggelamkan nya di atas dada nya. Dan tak ayal Sukma mengeluarkan suara yang terdengar begitu merdu ditelinga Alfandi, menambah gairahnya untuk semakin melancarkan aksinya.
"Ooh ... kita akan sama-sama menikmati permainan ini sayang ku, bidadari ku. Ahk aku merindukan mu selalu dan aku hanya inginkan dirimu!" gumaman dari Alfandi meracau begitu saja.
Tubuh Sukma bergetar hebat. Begitupun dengan Alfandi yang bagaikan orang menggigil tubuhnya itu. Alfandi semakin melancarkan permainannya tanpa henti.
"Ooh ..." Sukma memejamkan kedua matanya dengan bibir terbuka dan langsung Alfandi bungkam dengan mulutnya.
"Sayang, aku selalu merindukan mu, aku inginkan mu selalu! tidak ada yang dapat menggantikan mu lagi dari hatiku dan sisi ku!" ucap Alfandi sambil terus mengendalikan permainan, memanjakan singa laparnya dengan hidangan yang terbaik.
Sudah satu jam berlangsungnya memanjakan si singa lapar dengan hak nya. Alfandi masih juga belum puas sehingga lagi dan lagi.
Hingga pada akhirnya Sukma menjerit dengan sangat panjang dan tertahan, akibat keenakan. Seiring si singa yang menumpahkan muntahannya. Permainan berhenti sesaat tuk beristirahat.
Dan tubuh Alfandi tumbang di atas dada Sukma yang meremas rambutnya nya tersebut.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Hanya suara nafas yang masih saling bersahutan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, Alfandi menatap wajahnya Sukma sangat lekat seraya berkata. "Terima kasih sayang?" setengah berbisik.
Sukma hanya mengangguk pelan dengan dada yang masih berdebar naik turun, tangannya membelai rambut Alfandi dengan lembut.
Lalu Alfandi membaringkan tubuh nya di samping Sukma yang langsung merapikan selimutnya menutupi kedua tubuh mereka berdua. Alfandi merangkul bahu Sukma meletakkan kepalanya dia dada bidang itu.
"Apa orang rumah tahu kau pergi?" selidik Sukma sambil menempelkan pipinya di atas dada Alfandi.
"Ada, scurity tahu aku pergi." Alfandi membelai rambut Sukma yang bergelombang itu dan diciumnya.
"Jadi Fikri juga tidak tahu kalau kau ke sini?" tanya Sukma kembali.
"Tidak sayang. Apalagi kan sudah malam, mereka sudah tidur." Cuph! mengecup keningnya sang istri.
Yang bikin Sukma merasa merinding dan memejamkan kedua matanya yang indah tersebut. Namun tiba-tiba Sukma meringis. "Awww ...."
.
.
...Bersambung!...
.
Untuk para reader ku, jangan baper ya? atau terbawa perasaan atau juga terhanyut dengan kisah cintanya Sukma dan Alfandi 🙏