
“Jangan marah dong sayang ... aku Cuma bilang. Apakah mungkin istri ku ini tengah hamil?” bisik Alfandi dengan lembut serta mencium bahu sang istri yang terbuka.
Sukma terdiam dan tidak menjawab perkataan sang suami dengan pikiran yang melayang dan mengingat kalau dirinya masih belum lepas kontrasepsi. Jadi rasanya gak mungkin juga kalau dirinya hamil.
Lama-lama, Sukma pun memegang tangan sang suami dan mengeratkan pelukannya di perut. Dia ingin sekali di manja oleh suaminya itu.
Sukma tidak mau mau jauh-jauh dari suaminya itu. “Em ... besok masih sibuk kah?” tanya Sukma sambil merubah posisi tubuhnya menjadi kembali menghadap ke arah sang suami dan meletakkan kepalanya di dada bidangnya itu.
"He’em, sayang. Besok aku masih sibuk, kenapa?” Alfandi mengusap lembut bahunya sang istri penuh cinta.
“Nggak, Cuma ... pulang nya jangan terlalu malam ya? kan bisa lanjut kerja nya di rumah?” ucap Sukma penuh harap.
“Kerja ... sama kamu seperti barusan bukan?” goda Alfandi sambil mengulas senyumnya.
“Ih ,,, bukan, kan kamu bisa kerja di ruangan kerja dan aku bisa nemenin di sana,” ralat Sukma sembari menempelkan pipinya di dada sang suami.
“Kanapa? Kangen ya sama suami mu yang tampan ini? he he he ...” sambung Alfandi sambil memejamkan mata.
Sukma menyembunyikan senyumnya, dalam hati mengakui kalau yang dikatakan suaminya itu adalah benar. Dia kangen dan ingin selalu berdekatan dengan pria ini.
“Kalau sayang mau ... jambangi saja ke tempat kerja ku, tidak apa-apa kok. Biar tahu kalau aku bekerja bukan main-main sama perempuan!” tambahnya Alfandi lagi.
“Ih ... bukan begitu, siapa yang curigai kamu? Nggak kok.” Sukma menggelengkan kepalanya karena bukan itu maksudnya.
“Iya kan biar deket terus bukan? kalau pulang kuliah itu datangi saja tempat kerja ku, bila din kantor gak ada berarti aku sedang di lapangan.” Suara Alfandi sedikit menghilang.
Sukma mendongak menatap ke arah wajah sang suami yang mulai memejamkan matanya. “Em ... kalau harus menyambangi tempat kerja sih, gak mau ah. Takut ganggu, dan nanti kamu nya bukan bekerja tapi main-main sama aku deh, jadi namanya aku ganggu suami bekerja,” ungkap Sukma sambil kembali menempelkan kepala di dada suaminya itu.
“He’em, karena aku paling tahan bil berdekatan dengan mu sebenarnya,” gumamnya Alfandi seraya mengecup kening sang istri.
“Tuh, kan. Begitu? nanti gak kerja. Tapi kenapa kemarin-kemarin kau bisa nahan juga?” selidik Sukma merasa heran.
“Bukan bisa, tapi berusaha. Karena terlalu capek sayang ... bukan bisa,” kata Alfandi kembali.
Sukma hanya menggerakkan tubuhnya, merapikan selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Dan beberapa saat kemudian mereka pun terlelap dalam buayan mimpi.
...---...
Suatu hari persidangan pun di gelar lagi dan keputusan hakim kalau sidang akan di tunda kembali sampai minggu depan dan menyarankan mediasi untuk terakhir kalinya, namun tentunya pihak Alfandi menolak mentah-mentah sidang mediasi tersebut.
Karena jelas-jelas menurut agama Alfandi sudah menjatuhkan talak tiga dan itu sudah sah mereka bercerai secara agama.
Semenjak hari itu, Fikri dan Firza tidak pernah datang ke rumah semula mereka tinggal ya itu rumah yang kini di tempati oleh Vaula seorang. Keduanya tampak happy tinggal di rumah nya Sukma dan papanya.
Begitupun dengan kedua orang tua Alfandi yang tetap tinggal bersama putra dan sang mantu. Mereka pun begitu bahagia mempunyai mantu seperti Sukma yang sangat baik dan perhatian kepada semuanya.
Saat ini, Fikri dan Firza tengah berada di sebuah Mall dan ketemuan dengan mamanya, Vaula. Mereka bermain di tame zon, dan Vaula memandangi mereka berdua dengan senyuman.
“Kalian berdua itu kenapa sih sampai tidak mau segala? ke rumah yang dulu?” Vaula menatap kedua putranya yang sedang makan bakso.
“Aku gak mau, mah. Aku gak mau ke rumah itu, apalagi harus menginap di sana.” Sahut Firza tanpa menoleh ke arah sang ibu.
“Iya, aku juga lebih nyaman di rumah mommy, di sana banyak teman, ada kak Wawan dan kak Jihan juga dan banyak juga teman.” Tambah Fikri juga sambil memakan bakso.
"Kenapa gak mau ke rumah? ada apa? bukankah itu rumah kalian?" Vaula menatap heran.
Keduanya hanya menggeleng dan tidak menjawab, melainkan menikmati makannya masing-masing.
“Mama juga ingin kalian berdua menginap di rumah kita, kita bercerita dan bermain. Mama kangen sama kalian berdua,” sambung Vaula dengan tatapan yang penuh arti.
“Tapi aku gak mau ahc, aku betah di tempat mommy. Apalagi mommy pandai memasak untuk kita semua dan aku bisa minta mommy untuk menyuapi ku.” Timpal Fikri lagi dengan ekspresi yang sangat menikmati makan nya.
“Mama juga bisa masak, apakah kamu lupa kalau dulu mama sering masak buat kalian?” Vaula menatap ke arah kedua putranya dengan tatapan tajam. Hatinya merasa marah dan cemburu pada Sukma yang suda meracuni kedua putranya itu sehingga tidak mau ikut dia sebagai mamanya.
Fikri mendongak ke arah sang mama seraya menggeleng dan berkata. “Aku gau tau, kapan Mama masak? yang ku tau bibi terus yang masak, Mama gak pernah di masakin Mama tuh.”
“Iya, aku gak ingat sama sekali, Kak, kalau mama memasak. Di rumah, kan? mommy selalu masak buat kita biar pun capek pulang kuliah juga. Atau setidak nya menyiapkan kita makan, ya Kak?”
“Iya, Mama Cuma dulu beberapa tahun lalu. Dan setelah itu Mama gak pernah lagi, kan?” Firza menatap datar ke arah sang bunda.
Vaula menghentakkan sendok ke piringnya serta menatap tajam ke arah Fikri dan Firza. “Bisa gak? jangan menyebut mommy-mommy dan mommy di hadapan ku? Ma-maksud Mama jangan menyebut dia terus dihadapan Mama, sakit rasanya ketika anak-anak Mama lebih memilih wanita itu ketimbang, Mama yang mengandung kalian.”
Fikri dan Firza terkesiap dan terkaget-kaget ketika sang mama menghentakkan sendok ke piringnya.
“Itu karena kesalahan Mama sendiri yang telah menyia-nyiakan kami semua,” ucap Firza sambil berdiri. “Aku mau pulang.”
"Kak, Za. Aku juga mau pulang ahc. Kangen sama mommy, sudah seharian ini tidak bertemu mommy." Fikri pun beranjak dan mengikuti sang kakak.
"Fikri? Firza? tunggu?" Vaula buru menyimpan uang di bawah piring untuk membayar bil nya.
Kemudian menyusul kedua putranya yang katanya mau pulang.
"Kalian tunggu? Mama antar kalian berdua. " Vaula setengah berlari mengejar mereka berdua.
"Sayang? kau terburu-buru mau kemana?" sapa Yudi yang baru saja datang dan memang janjian ketemu di sana juga.
"Itu, kedua putraku!" Vaula menunjuk Fikri dan Firza yang beberapa meter dari dirinya.
Yudi mendekat dan merangkul pinggangnya Vaula lalu mengecup bibir Vaula penuh gairah, Yudi memang baru saja pulang dari luar Negeri ....
.
...Bersambung!...