
Tatapan Firza begitu tajam kepada Sukma. "Ngatur-ngatur lagi, di rumah juga tidak ada yang ngatur selain papa. Itu pun gak pernah menyuruh cuci piring segala! akh nyebelin." Batinnya bermonolog.
"Jadi aku harus cuci piring gitu?" tanya Firza pada Sukma.
"Iya, belajar mandiri dong. Firza kan sudah besar!" Sukma mengangguk sembari menunjukan senyumnya.
Walau kesal, dan mulut komat Kamit. Tak ayal Firza kembali dan mengambil piring kotor untuk di cucinya.
Bi Lasmi menggeser, memberi tempat pada Firza untuk mencuci piring di wastafel bergantian dengan Jihan dan Marwan.
"Mommy gak adil, Fikri makan saja di suapi, aku di suruh nyuci! yang adil dong!" gerutu Firza yang terdengar oleh semua orang.
Sukma hanya mengulum senyumnya sambil terus menyuapi Fikri.
"Mommy, nanti kalau habis makannya. Fikri mau mencuci sendiri ya piringnya?" Fikri menatap ke arah Sukma yang langsung mengangguk.
"Ehk. Brokokok, apa kau ingin di suapi juga makannya? mau gak aku suapi pake sendok tembok! biar banyak dan cepat kenyang, ha ha ha ..." Marwan mengolok-olok Firza yang dengan refleks melotot dengan sempurna dan tangan menonjok udara.
"Wan, sendok tembok itu kecil ... yang besar itu mendingan Setok itu ... apa namanya? serok pasir, iya serok pasir gede tuh sebakul juga masih kurang tuh, ha ha ha ... "timpal Jihan sambil terpingkal-pingkal.
Kedua netra mata Firza melotot dengan sempurna pada Jihan dan Marwan. Rahangnya tampak mengerat menandakan dia sedang marah, lalu mengalihkan pandangannya pada Sukma.
"Mommy, kedua adik mu jahat banget sih sama aku? masa aku di samakan dengan apa gitu, emangnya mulut ku sebesar?ember? enak saja ya bicara!" lalu Firza menunjuk ke arah Marwan dan Jihan.
"Hi hi hi ... Jihan ... Marwan? jangan bercanda ah, ayo nyucinya." Sukma terus tertawa melihat anak-anak itu.
Begitupun dengan Bi Lasmi. "Aden-Aden ... kalau sendoknya sebesar serok pasir mulutnya pasti sebesar mobil dong ..."
"Iya, bener-bener, Bibi pinter? hebat Bibi, aku kasih nilai seratus deh ..." Marwan mengacungkan jempolnya.
"Iihk ... menyebalkan!" Firza melipatkan tangannya di dada. Hatinya terasa kesal banget di olok-olok begitu.
...----------------...
Di hari yang sama. Alfandi sedang berada di sebuah hotel karena ada pertemuan yang ditemani oleh Rijal, dan netra Alfandi mendapati sosok seseorang yang sangat dia kenal.
"Sebentar! saya mau ke toilet sebentar." Alfandi beranjak dari duduknya meninggalkan meja pertemuan.
Rijal menatap kepergian sahabat +bos nya itu. Kemudian berusaha untuk melanjutkan obrolan mereka yang tertunda.
Kepala Alfandi planga-plongo mencari keberadaan sosok yang tadi dia lihat. Dan beberapa saat kemudian dia temui yang tengah dia cari.
Dia bergandengan tangan dengan pria lain, serta memasuki sebuah kamar hotel. Dada Alfandi terasa sesak untuk bernafas.
"Astagfirullah ... apa ini? haruskah aku membongkarnya di sini?" gumamnya dalam hati. Mendadak keringat dingin keluar.
Alfandi berdiri dari kejauhan melihat keduanya yang masuk ke dalam kamar tersebut.
Lalu Alfandi merogoh sakunya mengambil benda pintar untuk menghubungi seseorang.
^^^Alfandi: "Ooh, jadi berada di sini?"^^^
Kepala Alfandi celingukan mencari seseorang yang langsung ia temukan, dan dia teruskan pembicaraannya melalui pesawat telepon tersebut.
Sementara Alfandi agak bergeser, berdiri di pinggiran koridor dan rupanya mereka sedang merancang sesuatu untuk membongkar kedok dari Vaula yang selama ini tertutup dengan sangat rapi.
Vaula yang baru saja masuk kamar hotel, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berhias seprei putih bersih dan wangi, dengan ukuran king size. Mewarnai kamar yang besar di hotel tersebut.
Yudi menyimpan kameranya di meja dengan kedua netra mata yang tidak lepas dari sosok wanita idamannya yang selalu bikin candu dan sepertinya lapar.
Kemudian Yudi menghampiri Vaula yang tiduran telentang mental langit-langit. Ditatapnya dengan intens tari ujung kepala sampai ujung kaki, bibirnya pun tak luput dari sunggingan yang penuh arti.
Lalu naik merangkak di atas tubuh Vaula yang di balut gaun dress seksi dan menonjolkan setiap lekukan tubuhnya yang sintal.
Vaula tidak mampu menjawab dikarenakan bibirnya sudah dibungkam oleh bibirnya Yudi yang menciumi nya dengan sangat rakus. Bagaikan sudah lama tidak bertemu.
Padahal mereka bertemu setiap hari dan melakukan bercinta juga sering. Dimana ada kesempatan di situ mereka melakukan, kebetulan Rosa sering minta cuti dengan alasan keluarganya yang sakit itu.
"Mmmm ..." de-sa-h Vaula ketika Yudi mengecup bagian-bagian tertentu milik nya.
"Ohk ... kau selalu menggoda ku? apakah suami mu tidak pernah tergoda dengan tubuh mu yang indah ini. Bodoh sekali! kalau dia tidak tergoda dengan dirimu cinta!" gumamnya Yudi sambil terus menyusuri untuk temukan suatu benda yang akan dapat menimbulkan hasratnya yang sudah ingin meluap-luap tersebut.
Sesuatu yang di tunggu-tunggu juga sudah on dan minta di manjakan oleh lawan mainnya saat ini. Yudi pun langsung melepas bajunya dan melempar ke sembarang tempat.
Begitupun Vaula yang agresif, menunjukan semua yang dia punya dan minta untuk di jamah sepuasnya. Dengan ekspresi tubuh yang terus menggoda.
Vaula benar-benar khalaf, lupa akan siapa dia sebenarnya. Lupa kalau yang dia lakukan itu salah,
dia tidak menyadari kalau dirinya juga seorang ibu yang seharusnya momong anak mengurus suami. Lain dengan Vaula yang terlalu asik dengan dunianya sendiri.
“Ayo sayang kita nikmati waktu bersama kita, sebab aku akan pergi dari mu untuk sementara waktu. Ayo sayang? lakukan dan ekspresikan apa pun yang kita mau,” ucapnya Yudi dengan
hasrat yang menggebu.
“Iya sayang. Lakukanlah apa yang kita ingin kan dalam kebersamaan kita, aku akan sangat rindu kalau kau tiada di sisi ku, jangan tinggalkan aku beb ... aku tidak
sanggup bila jauh dari mu.” Balas Vaula dengan suara yang berat dan napas yang terengah-ngah.
Yudi mau pergi ke luar Negri, dengan urusan kerjaan yang memang tidak melibatkan Vaula. Sehingga akan berjauhan dengan sang kekasih dalam kurun waktu yang diperkirakan sekitar satu atau dua bulan.
Keduanya melakukan pergumulan yang sudah tidak terhitung lagi berapa puluh kali, bahkan mungkin ratusan kali dalam waktu bertahun ini.
Mereka melakukan hubungan terlarang seperti itu yang mereka pikir dan mereka rasa surga dunia yang sangat menyenangkan.
Pria itu tanpa henti menggempur pasangannya tanpa jeda, mereka berdua tidak menyadari kalau
gerak-geriknya di intai oleh seseorang.
Suara-suara aneh terdengar dan memenuhi ruangan tersebut, sahutan nafas yang memburu. Dan terengah-ngah menghiasi pergulatan yang mengasyikan tersebut, keringat pun sudah bercucuran menghiasi tubuh keduanya.
“Ayo beb? Mmm ... puaskan saat ini juga! karena kita akan terpisah sementara waktu, beb ...” ucap
Vaula dengan tubuh yang meliuk-liuk, jiwanya melayang ke langit ke tujuh menikmati aktifitas demikian bersama sang kekasih.
“Iya sayang, cuph! cuph! cuph!” Yudi menghujani Vaula dengan kecupan panas, sepanas matahari yang membakar tubuh.
Vaula memejamkan kedua manik mata nya, saking tenggelamnya dalam aktifitas yang terlarang
tersebut.
Setelah merasa lelah, mereka pun menyudahi pergulatannya! Tubuh Yudi tumbang di atas tubuhnya Vaula yang masih saja agresif namun Yudi sudah benar-benar merasa lelah dan tumbang.
“Sayang, aku akan merindukan mu selalu,” ucap Vaula sambil menindih tubuh Yudi yang terlentang tersebut.
“Aku juga beb ... akan merindukan dirimu, tapi kalau kau merindukan ku datang saja ke sana dan temui aku dan kita akan bersenang-srnang seperti biasa, oke?” ungkap Yudi yang lagi-lagi melepaskan kecupan membabi buta pada bibir Vaula
Tiba-tiba televisi menyala tanpa ada yang menghidupkan, Vaula dan Yudi terheran-heran karena tidak ada satu pun yang menyentuh remote kontrolnya yang tergeletak di meja ....
.
...Bersambung!...
Ayo mana dukungannya
nih? Agar author nya tambah semangat nih🤭🤭