Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Setelah makan, Firza pun beranjak dan menoleh pada Jihan yang hanya makan beberapa sendok saja lantas kepala Firza menggeleng pelan seraya mengalihkan pandangan kepada penjaga warung tersebut.


Seusai membayar bekas makannya, pemuda tampan dan dingin itu langsung beranjak pergi. Dan menunggu Jihan di atas motor kesayangannya sambil memegangi helm nya.


Firza kembali menggunakan helm dan bersiap untuk membawa lari sepeda motor besar. Setelah Jihan berada duduk di belakang punggungnya.


Yang kemudian Firza melajukan motornya tersebut dengan kecepatan yang sangat kencang! mengingat waktu yang semakin malam dan jarak tempuh ke rumah pun membutuhkan waktu 1 jam lebih, itu pun mengenakan motor kalau dengan mobil akan lebih lama jarak tempuhnya.


Selang sekian waktu perjalanan akhirnya motor yang ditumpangi Firza dan Jihan tiba di kediamannya Sukma dan Alfandi. Tentunya rumah itu tampak sunyi dan sepi, sementara waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 lewat.


Keduanya sudah berdiri di atas teras, dan Firza menekan bell. Di dalam rumah pun sudah nampak gelap gulita menandakan bahwa semua penghuninya sudah terlelap dalam tidurnya.


Firza yang menjinjing tas miliknya Jihan, menoleh dan menatap ke arah wajah gadis tersebut yang tampak pucat paseh dan lesu.


"Besok aku akan urus agar kamu nggak kuliah untuk berapa hari dan istirahat saja di sini!" ucapnya Firza dengan nada yang jelas.


Namun yang diajak bicara tidak merespon sedikitpun! dia hanya menunduk dan sesekali melihat ke arah daun pintu yang masih juga tertutup.


Setelah berapa kali Firza menekan bell, yang akhirnya terdengar derap langkah kaki di dalam yang mendekati daun pintu dan sebelum pintu terbuka dari balik jendela ada yang mengintip terlebih dahulu. Mungkin untuk memastikan siapa yang datang malam-malam.


Kenop pintu bergerak dan tampak di tarik ke arah dalam, sehingga pintu pun terbuka. Dan yang membuka pintu sangat kebetulan adalah Sukma dan di belakangnya ada Alfandi.


"Pah, Mom!" gumamnya Firza kemudian menoleh ke arah Jihan.


Dengan pandangan mata yang belum jelas, maklum baru bangun tidur. Mereka merasa kaget dengan kepulangan Jihan dan Firza malam-malam begini.


Jihan langsung bersikap dramatis dia memeluk sembari menangis tersedu! membuat Sukma dan Alfandi semakin kebingungan, tidak mengerti kenapa tiba-tiba pulang tanpa ada konfirmasi terlebih dulu.


Sukma hanya bisa terdiam dan membalas pelukan dari sang adik, Jihan! meskipun dalam hati bergejolak pertanyaan, Ada apa ini? kenapa pulang-pulang menangis, ada masalah apa! apakah mereka bertengkar. Apa di kampusnya ada masalah? apa di jalan mengalami insiden, tetapi Sukma maupun Alfandi tidak melihat gelagat mereka luka-luka seandainya mengalami insiden di perjalanan.


Firza langsung masuk ke dalam rumah, sembari menjinjing helm dan tas milik Jihan! menempelkan bokongnya duduk di sofa, di ruang keluarga yang langsung dihampiri sang ayah.


"Ada apa ini Za? Papa berasa mimpi kalian malam-malam pulang tanpa ada konfirmasi dulu. Apa kalian ada masalah atau bertengkar atau juga ... ada masalah di kampus! kenapa nggak bilang dulu?" selidiknya sang ayah sembari menatap Putra sulungnya yang memandangi ke arah Jihan yang terus menangis memeluk Sukma.


"Apa Papa belum mendapat berita terpanas hari ini?" Firza malah bertanya pada sang ayah.


"Emangnya berita viral apa? di televisi atau media sosial? kalau pencetakan ya paling besok adanya!" Alfandi sedikit santai.


"Media sosial, Pah. Berita viral hari ini!" jawabnya kembali Firza.


Setelah beberapa saat kemudian Sukma memudarkan rangkulannya dari Jihan seraya bertanya dengan lirih. "Kamu ini kenapa datang-datang menangis? sementara pulang pun tak ada konfirmasi lebih dulu! apa kalian bermasalah atau ada apa di kampus! atau ada apa di jalan?"


Sementara yang diajak bicara tetap saja menangis! air matanya terus berjatuhan seolah tidak ada kering-keringnya terus saja menetes.


"Hik-hik-hiks." Jihan terus saja menangis terisak dalam pelukan sang kakak.


Sukma menoleh dan menuruti permintaan sang suami, dia mengajak sang adik untuk duduk di sofa sebelahnya Alfandi dan Firza.


Lalu kemudian menyodorkan segelas air mineral kepada Jihan. "Diminum dulu biar lebih tenang!"


Dan Jihan pun langsung menerima dan meneguk minumnya. Tetapi dia masih mengatupkan bibirnya yang enggan berbicara dan hanya bahasa tubuhnya saja yang berkata seakan dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Karena Jihan diam saja tidak bercerita apapun, yang membuat Firza berinisiatif dan dia yang akan cerita semua! karena mereka berdua wajib tahu apa yang sudah terjadi kepada Jihan.


"Ehem, begini Mom. Pah ... ini asumsi ku ya! dan berawal ... aku mencurigai Jihan jalan sama kekasihnya dan temannya bilang tidak tahu mereka mau kemana. Aku telepon Jihan nggak diangkat chat pun nggak dibalas aku kan tambah curiga! sehingga membuatku pusing tujuh keliling mencari dia!" sesaat Firza menjeda ucapannya.


Membuat Sukma dan Alfandi merasa penasaran, menatap dalam-dalam ke arah Firza yang seolah sengaja membuat orang tuanya penasaran.


"Terus Firza cari dia ke mana? menemukannya di mana?" lirihnya Sukma sembari memegangi tangan Jihan yang sesekali mengusap hidungnya beringus.


Kemudian Firza mengatakan semua yang dia lihat dari mulai menggedor pintu kamar yang tidak pernah direspon, sehingga akhirnya didobrak dan di dalam kamar Jihan sedang menjerit-jerit dan ditindih tubuhnya oleh Excel.


Mendengar itu Sukma sangat shock dan dia tidak menyangka kalau sang adik akan mengalami seperti itu. "Kamu nggak kenapa-napa kan Jihan? ayo bilang sama Kakak apa saja yang sudah terjadi dengan mu? dia belum sempat ngapa-ngapain kamu kan?"


"Kata Jihan sih ... baju bagian atasnya robek! kancingnya pada lompat, karena ulah si Excel. Hingga pulang pun tadi memakai sweater ku." Tambahnya kembali Firza sembari mengambil gelas air mineral yang selanjutnya ia teguk untuk menghilangkan rasa dahaga di tenggorokannya.


"Jihan bilang sama kakak! apa benar yang di katakan sama Firza dan apa saja yang sudah terjadi sama kamu ngah? bilang? kamu nggak sempat di itu kan sama dia?" selidiknya Sukma dengan wajah yang sangat cemas, marah dan takut adik perempuan satu-satunya itu telah ternoda.


Sembari menangis Jihan menggeleng seraya berkata. "Itu benar! te-tetapi, tidak sempat itu. Karena Firza datang dengan tepat waktu! hik-hik-hiks." Jihan kembali menangkupkan kedua tangannya di wajah, hatinya berada hancur bila mengingat kejadian tersebut.


"Hah, kan ... kalau saja aku tidak datang tepat waktu itu, apa yang akan terjadi pada mu? mungkin saat ini harga diri mu sudah tamat! aku sudah bilang berkali-kali, Mom. Sama dia kalau cowoknya itu bukan cowok baik-baik, eh ... dianya nggak pernah ngerti, Mom. Dia malah marah sama aku, dibilangnya aku nggak ada kerjaan ngurusin orang dan buktinya sekarang apa?" Firza melihat ke arah Jihan dan Sukma bergantian dengan nada suara yang menggebu-gebu.


"Astagfirullah, Jihan ..." Sukma menjadi menangis dan dia memeluk sang adik dengan sangat erat! dalam hatinya pun bersyukur kalau adiknya tidak sampai kenapa-napa.


"Lancang banget dia! terus sekarang dia di mana? sudah dilaporkan belum, jangan dibiarkan itu. Kurang ajar banget dia," emosinya Alfandi menjadi meluap dan dia merasa marah pada orang yang berusaha menodai adik iparnya.


Kemudian Firza menceritakan kalau di saat-saat dia merasa curiga dengan sebuah villa yang diyakini ada Jihan nya, Firza langsung menelepon polisi setempat dan Alhamdulillah polisi pun gerak cepat, segera datang dan ternyata di villa itu sedang ada acara ulang tahun dan di sana juga ada transaksi obat ter-lar-ang antara muda-mudi, dan juga pergaulan bebas. Sehingga ada beberapa orang yang ditangkap termasuk dengan Excel yang mencoba menggagahi Jihan.


Setelah itu kepolisian pun sempat membawa Jihan ke rumah sakit untuk visum, karena itu pun salah satu untuk perlengkapan laporan.


"Ya ampun, Makasih Za ... perantara nya kamu yang menolong Jihan! kalau nggak ada kamu Mommy nggak tahu nasibnya Jihan gimana. Sekali lagi Makasih ya Za ..." ucap Sukma yang ditujukan kepada Firza.


Firza hanya manggut-manggut sebagai respon pada mommy nya.


Alfandi hanya bisa menggeleng dan merasa bangga kalau putra sulungnya itu bisa di andalkan untuk menjaga saudara perempuannya itu ....


.


Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya hari ini.