
Karena waktu sudah semakin malam, Sukma dan Alfandi mengajak mereka pulang. Dan besok pun kalian masih bisa ke sini.
"Yo, pulang yo? sudah malam nih?" ajak Sukma menatap anak-anak yang tampak asik membuat pasir.
"Ahk ... Mommy, aku masih betah nih!" protes Fikri. Anak itu sedang membuat istana dari pasir.
"Besok juga bisa ke sini lagi!" tambah Alfandi.
Sukma berjongkok di dekat Fikri. "Besok bisa ke sini lagi kan ... jadi sekarang pulang, mommy capek. Ya sudah, Mommy pulang duluan ya?" Sukma menguap ngantuk.
"Yah, Mommy! janji ya besok ke sini lagi?" anak itu menatap ke arah Sukma.
"Iya boleh, sama pak Luky boleh." Sukma mengangguk.
Setelah membujuk anak itu untuk pulang. Akhirnya mereka semua kembali ke penginapan.
Saat ini Sukma sudah bersiap untuk tidur, dan dia sudah berada di balik selimut putih dan tebal. Sementara bunga-bunga masih bertaburan di atas tempat tidur.
Alfani baru saja keluar dari pintu kamar mandi dengan bertelanjang dada. Karena dia habis membereskan dirinya dari kotoran pasir habis bermain tadi bersama anak-anak.
Bibir Alfandi tersenyum ka arah Sukma yang sedang berbaring cantik menghadap ke arah dirinya.
Sorot mata Sukma begitu sayu dan berapa kali terus menguap. Karena menahan kantuk dan merasakan kalau tubuh capek, padahal nggak banyak aktivitas yang dia lakukan.
Kecuali perjalanannya dari rumah ke tempat liburan ini dan memang belum sempat tidur walau sekejap.
Alfandi merangkak naik ke atas tempat tidur masuk ke dalam selimut sang istri.
"Kenapa gak pake baju dulu?" Sukma menatap heran ke arah sang suami yang memang masih mengenakan handuk saja.
"Emangnya kenapa? bukan kah setiap tidur aku gak pernah memakai pakaian sayang!" sahutnya Alfandi sambil memeluk sang istri.
"Hem ... capek!" gumamnya Sukma sembari memejamkan matanya yang terasa lelah sekali.
"Ups. Jangan bobo dulu sayang? kau masih ada tugas nih!" Alfandi merubah posisi nya dan kini berada di atas tubuhnya Sukma yang sudah mulai terpejam.
"Tugas apa Aku sudah ngantuk berat nih apa kamu makan?" tanya Sukma namun dengan tetap terpejam.
Telinga Sukma tidak mendengar lagi suara Alfandi, yang hanyalah keheningan saja.
Namun Sukma merasakan kalau ada sentuhan di bibirnya yang memecah keheningan itu. Dia berusaha membuka matanya sedikit karena memang benar-benar terasa ngantuk.
Alfandi menyentuh dengan lembut bibir Sukma yang ranum tersebut. Ia sapu permukaannya terlebih dahulu, lanjut di sesap nya sehingga menimbulkan sensasi yang aneh menjalar ke seluruh tubuh keduanya.
"Jangan bobo dulu sayang? bangun? aku mohon!" suara Alfandi bergetar, nafasnya pun sudah mulai memburu.
Dia menginginkan sedari siang, baru mau kesampaian kali ini.
Tangan Alfandi menarik bahunya Sukma dan dia mengangkat piyama bagian atas, di lepasnya dan di singkirkan.
"Em ... aku ngantuk berat!" gumamnya Sukma, matanya sulit untuk di buka.
"Tahan dulu sayang, bobo nya!" bisiknya Alfandi.
Lalu Alfandi menghujani kedua belah bahu dan leher dengan kecupan kecil dan kini dia membuat beberapa tanda kepemilikan di daerah leher yang pernah Sukma wanti-wanti jangan membuat tanda itu di sana.
Malu di lihat orang lain dan anak-anak bila kelihatan.
Namun kali ini justru Alfandi membuat banyak, agar sang istri bangun dan melayaninya dengan baik.
Sukma sendiri. Biarpun kedua manik mata Sukma terpejam namun kedua tangannya bergerak dan merangkul pundak sang suami dan lantas turun ke punggung.
"Ahk ... mmm ..." gumamnya Sukma sambil menyembunyikan wajah di leher samping Alfandi.
"Sayang, siap belum?" bisik Alfandi sambil memeluk sang istri.
Sukma mengangguk pelan. Tanda setuju kalau dia dah siap untuk membuka gawang yang sudah dinantikan oleh Alfandi sebagai pencetak gol gawangnya lawan.
Semakin malam, semakin asyik saja permainan keduanya. Kian lama kian memanas saja, sampai-sampai peluh pun bercucuran membasahi tubuh yang tengah di landa kasih sayang yang dominan dengan hasrat tik saling memuaskan.
Sukma pun sedikit menjadi segar dan mengimbangi Alfandi yang begitu bersemangat itu.
Setelah melewati tanjakan yang kerdil dan turunan yang mulus. Menerjang pulau yang tenang serta lembah. Pada akhirnya lelah pun menyerang.
Tubuh Alfandi tumbang di atas Sukma yang juga kelelahan. "Huuh ... terima kasih sayang M
Muuahc!"
Sukma hanya menunjukan senyumnya dan mengusap rambut Alfandi yang di atas telinganya dengan penuh kasih. Semakin hari ia merasa sayang pada pria yang jadi suaminya itu.
Malam semakin larut dan menjemput sebuah pagi yang indah di sambut dengan senyuman yang merekah.
Sukma merentangkan kedua tangan, berdiri di bibir balkon serta memejamkan kedua manik matanya yang indah. Wajah mendongak ke langit, menghirup udara pagi yang masih asri tanpa ada pencemaran ataupun polisi.
Dengan merayap ada yang memeluknya dari belakang dan menghirup aroma tubuhnya yang semerbak dan dari bau tubuhnya pun sudah bisa di duga kalau dia adalah Alfandi.
"Dari hati mu! Cuph! kecupan mendarat di tengkuk samping.
"Bercanda deh." Gumamnya Sukma dengan tetap merentangkan tangan dan masih juga terpejam.
"Wah ... di leher mu terdapat banyak memar! kenapa tuh?" tanya Alfandi sembari nyengir ketika melihat banyak memar hampir di seluruh leher.
Sukma membuka matanya lantas menyentuh lehernya. "Ini gara-gara kamu tahu gak?" Sukma berbalik dan memukul tangan Alfandi yang menghindar.
"Ampun sayang, tapi kamu kan suka sehingga men-desa-h nikmat dan bikin aku ketagihan sayang!" jawabnya Alfandi sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum puas.
"Iih, siap juga yang gitu? nggak! aku gak begitu kok?" akunya Sukma sambil terus berusaha memukul dada Alfandi.
"Iddih ... gak mau ngaku segala! ngaku saja lah ... gak apa kok, aku malah suka tuh, kalau kau bilang iya. Ha ha ha ..." sambung nya Alfandi.
"Iih, nggak. Lagian jangan di situ kan ... aku bilang juga apa? jangan di area sini. Malu bila dilihat orang atau anak-anak, jawab apa bila mereka melihat dan bertanya!" lagi-lagi Sukma memukul dada Alfandi yang lagi-lagi menghindar Kanan dan kiri.
"Ya jawab saja digigit serangga, begitu saja kok repot?" Alfandi menunjukan giginya putih nya yang berbaris.
"Aish ... gak segampang itu!" timpal Sukma lagi.
Alfandi menangkap kedua tangan Sukma lalu di peluknya. "Emang gimana lagi hem?"
"Kan sudah aku bilang begitu, jangan di area sini. Malu!" Sukma menunjuk ke rah leher.
"Iya sayang, iya. Nanti aku janji, bila ingat gak buat di sana lagi. Bila ingat ya? kalau gak ingat? ya ... bikin lagi di sana! ha ha ha ...."
Bugh!
Tangan Sukma memukul dada Alfandi sambil mesem, lantas menempelkan pipinya di dada pria itu.
Sukma menyusupkan wajahnya di dada Alfandi. Mencari kenyamanan di sana dan perlahan tangannya memeluk punggung Alfandi dengan sangat erat.
"Habis kau bikin aku bergairah sayang, Gak bisa aku mengontrol rasa ingin ku untuk menyentuh mu. Sayang ... kau selalu bikin aku candu." Ungkap Alfandi sambil mengeratkan pelukannya.
Sesaat suasana hening, dan menghirup udara yang begitu segar.
"Nggak ke bayang ya? kalau aku jadinya candu jajan! mungkin setiap hari aku harus jajan dengan kupu-kupu malam ahc ... bisa Gonta-ganti juga, jadinya tahu barang-barang wanita seperti apa saja. Ha ha ha ...."
"Nggak boleh, gak boleh seperti itu." Gumamnya Sukma dalam pelukan.
"Kenapa sayang? karena dosa bukan? gak kerasa ini dosa nya ha ha ha ..." Alfandi malah bercanda.
"Bukan karena itu saja. Tetapi ... karena kamu hanya milik ku saja." Gumamnya Sukma kembali dengan sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.
"Apa? apa sayang? coba kau ulang lagi perkataan mu itu?" tanya Alfandi sambil memudarkan rangkulannya.
"Ha? yang mana? aku gak bilang apa kok!" elaknya Sukma tidak mau mengakui.
"Nggak, barusan bilang apa?" Alfandi kembali mendesak ingin mendengar sekali lagi.
"Nggak bilang apa-apa, cuma bilang kalau itu berdosa! itu saja." Akunya Sukma kembali.
"Nggak sayang, bukan itu yang tadi ke dengar." Alfandi menggeleng dan menatap intens, dia penasaran dengan ucapan Sukma tadi.
"Apa sih? aku gak bilang apa-apa juga!" Sukma tetap mengelak dan memunggungi Alfandi, menghadap ke arah laut.
Alfandi menggerakkan tubuhnya dan memeluk kembali tubuh sang istri. "Aku tahu sayang, itu berdosa dan aku sudah mendapatkan yang halal dan aku sangat beruntung dapatkan kamu."
Sukma hanya mendongak pada Alfandi yang kini berdiri dan bersandar ke pagar balkon.
"Tadi mendengar, kalau kau bilang aku adalah milik mu. Iya sayang, aku hanya akan menjadi milik mu seorang." Alfandi menunduk dan telunjuknya mengusap lembut permukaan bibir Sukma.
Di tatapnya dengan sangat intens. "Kemarin, aku masih berstatus suami dari wanita yang lain. Tapi saat ini ... aku hanya milik mu seorang, tiada yang lain!"
Manik Sukma bergerak, menatap wajah sosok Alfandi, pria tampan yang memilik dua putra tersebut.
"Aku mencintai mu! jangan tinggalkan aku dan anak-anak ya? setialah padaku? untuk selama-lamanya," ungkap Alfandi penuh harap.
Kepala Sukma mengangguk pelan, dalam hati ingin berkata. Aku pun mencintai mu dan jangan tinggalkan aku? tetaplah mencintai ku! selama-lamanya. Yang tidak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata.
Kemudian Alfandi mengecup mesra bibir Sukma yang menantang untuk selalu disentuh dirinya itu. Cuph! sentuhan yang cukup lama dan disaksikan oleh alam semesta yang indah.
Pantai, gunung. Hamparan laut yang membentang luas dan di bawah cakrawala nan indah ....
.
...Bersambung!...
Mohon komen like dan dukungan lainnya ya? agar author nya tambah semangat🙏
Terima kasih banyak