Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Ingin bertemu



“Seandainya Bapak dan Ibu masih tidak percaya pada ku, aku punya bukti kok agar kalian berdua percaya!”Alfandi menatap lekat kepada kedua orang tuanya tersebut.


“Tidak. Tidak perlu, Nak ... Ibu percaya sama kamu, kamu gak mungkin berbuat sesuatu bila tidak ada yang mulai sebelumnya.” Lirih bu Puji sambil mengusap pipi nya yang tidak kencang lagi itu.


“Terima kasih bila Ibu dan Bapak sudah percaya padaku?” Alfandi mencium tangan keduanya bergantian.


“Kami yakin kau akan berbuat yang terbaik untuk kalian dan bawalah kami ke sana untuk bertemu dengan mantu kami yang baru itu—“


“Iya, Ibu ingin bertemu dengan mantu Ibu yang siapa namanya?” bu Puji memotong perkataan dari sang suami.


“Namanya Sukma, apa kalian ingin bertemu dia? Kalau ingin bertemu ... boleh, Ibu dan Bapak ikut saja dengan ku sekarang dan aku mohon sayangi dia dan jangan salahkan dia atas perpisahan aku dan Vaula, kerana dia tidak ada hubungannya.” Pinta Alfandi kepada kedua orang tua nya tersebut terhadap Sukma.


“Tidak, Fandi. Kami hanya ingin bertemu saja dengan dia dan juga cucu kami, iya kan Pak?” bu Puji menatap ke arah suaminya tersebut.


Setelah sepakat, akhirnya bu Puji dan suami akan ikut sekarang juga ke tempat barunya Alfandi dan bertemu dengan mantu baru, dan kedua cucunya mereka.


Setelah barang-barang yang mau di bawa sudah siap, mereka bertiga memasuki mobilnya Alfandi. Bersiap meluncur menuju Jakarta.


Alfandi pun tentunya merasa lega kalau orang tua nya ikut ke Jakarta, agar diperkenalkan dengan Sukma dan berkumpul di sana.


“Ngomong-ngomong, apa Vaula sudah tahu kalau kau sudah menikah lagi?” selidik bu Puji melirik ke arah sang putra.


“Em ... sepertinya belum tahu tuh, kemarin menanyakan anak-anak pun tidak ku jawab dan ku blok juga nomornya, biar saja. saya sudah siap kok lagi sekarang dia bukan istri ku lagi.” Jawabnya Alfandi sambil terus melajukan mobilnya.


“Terus anak-anak gimana terhadap istri muda mu, Fan?” tanya pak Sardi.


“Em ... mereka biasa saja malah ... Fikri manja sama mommy nya dan seolah gak ingat sama mama nya. Barang-barang mereka pun sudah mulai ku angkut dan ku pindahkan ke tempat istri muda. Aku yakin kalau hak asuh akan jatuh ke tangan ku, meskipun tidak akan aku permasalahkan keberadaan nya,” ungkap Alfandi yakin dan percaya diri.


‘Bapak doa kan semoga semuanya lancar dan tidak ada halangan apapun. Aamiin ya Allah,” ucap sang ayah penuh harap.


“Iya, begitu juga harapan, Ibu. Fan ... kalian menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.” Tambahnya bu Puji menimpali sang suami.


“Iya, Bu ... mohon doa nya saja dari kalian berdua!” Alfandi mengangguk.


... ----...


Setelah kejadian itu, Vaula tidak tinggal diam dan dia berusaha membalikan pakta kalau dia bukanlah yang mutlak bersalah dan Alfandi pun bersalah.


Dia tidak masalah dengan perceraiannya namun tidak tidak mau kalau aibnya tersebar dan dan diketahui media yang akan dengan automatis akan menghancurkan karier nya.


Paula pun mulai mencari informasi kemana Alfandi membawa anak-anak sehingga tidak berada di mension.


“Sejak kapan anak-anak tidak di rumah? tanya Vaula kepada kepala asisten yang bernama bu Nunung tersebut.


“Em ... mereka tidak di rumah itu ... dari pengambilan raport,mereka langsung tidak pulang ke rumah, dan kata tuan. Kalau anak-anak menginap di rumah tantenya, sebab di si juga tidak ada siapa-siapa dan Nyonya pun tidak ada sedang liburan.” Jelas bi Nunung.


“Benarkah? Mereka di tempat tantenya?” lantas Vaula menelpon semua tantenya anak-anak dan tidak satu pun yang mengakui kalau anak-anaknya pernah ke sana apalagi sampai sekarang menginap, itu tidak ada sama sekali.


“Bulsyit, itu bohong! Anak-anak tidak ada di mereka semua, kurang ajar si Fandi.” Vaula menonjok tangan nya sendiri, dia tampak marah dan dan kesal merasa di bohongi.


“Setahu saya memang mereka sering menginap dan pulang dengan cepat. Dan sepertinya menyimpan rahasia di antara mereka bertiga.” Tambah bi Nunung kembali mengungkapkan kecurigaan nya selama ini.


Vaula menatap tajam ke arah asisten nya tersebut. Kini dia semakin curiga kalau Alfandi pun menyimpan rahasia dari dirinya. “Kapan barang anak-anak di angkut sebagian?”


“Terus yang bereskan nya siapa?” tanaya Vaula dengan nada membentak.


“Sa-saya, Nyonya. Saya di suruh sama tuan.” Bibi mengangguk pelan.


“Kenapa tidak bertanya terlebih dahulu pada saya ha? Mentang-mentang di suruh tuan?” pekik Vaula seraya menggerakkan kakinya ke paha bibi yang duduk bersimpuh.


Membuat para asisten saling bertukar pandangan dan mereka tidak menyangka kalau nyonyanya itu tidak ada sopan-sopannya terhadap orang yang usianya jauh lebih tua dari dirinya.


“Seharusnya kau tidak usah menuruti perintah dia. Ini rumahnya anak-anak dia seharusnya berada di sini bukannya dimana-mana,” ucapnya Vaula dengan nada marah.


“Tapi, Nyonya?” bu Nunung menatap majikannya yang tampak marah itu.


“Jangan tapi-tapi saya pecat kamu, dan silakan pergi sekarang juga? pergi?” pekik Vaula seraya menunjuk ke arah pintu.


Bu Nunung tertegun dan kaget bukan main, kok tiba-tiba dia dipecat begitu saja, yang lainpun benar-benar merasa heran hanya karena begitu saja. Di pecat? apa tidak lagi mimpi.


“Kenapa malah bengong? Pergi saya bilang, saya serius memecat kau, Bi. Pergi?” pekik kembali Vaula sambil mendorong bahu bu Nunung.


Pada akhirnya bu Nunung pun beranjak dengan perasaan bercampur aduk tanpa hujan ataupun angin dirinya di pecat setelah sekian lama bekerja di sana. Namun hari ini harus pulang juga dari tempat yang selama ini dia tempati.


Asisten lain mengikuti bu nunung yang pergi ke dalam kamarnya dan beberes pakaian yang akan dia bawa bersama air mata yang datang nya tidak di undang, membasahi begitu saja.


Vaula menerima telepon dari seseorang yang menginformasi kan kalau Alfandi sudah menikah lagi dari beberapa bulan lalu dan anak-anak tinggal berama mereka.


‘Apa?” manik mata Vaula membulat dengan sempurna mendengar berita tersebut.


“Gila kau, brengsek dan dasar keparat. Ternyata kau juga menikam ku dari belakang, kau menikah lagi tanpa sepengetahuan ku! Ternyata kau juga lintah darat yang tidak ada bedanya dengan ku?” teriak Vaula, suaranya memenuhi ruangan tersebut dan bikin kaget yang mendengarnya.


“Awas kau tidak akan ku biarkan kau mengambil kedua putra ku yang yang salama ini kau ambil mereka dari ku.” Jerit Vaula bak orang stres.


“Ha ha ha ... kau pintar juga sudah menyembunyikan kebusukan mu sendiri, kau sudah punya yang baru sehingga menceraikan ku! is oke kau menceraikan ku. Aku tidak perduli karena aku sudah tidak cinta sama kamu Fandi. Tapi yang bikin aku sakit hati kau pun menikah lagi dan berarti kau sudah memadu aku? ha ha ha ... lucu lucu,” Vaula teriak-teriak dan tertawa sendiri.


Penghuni di rumah tersebut merasa ngeri dan tidak bisa berbuat apa-apa serta membiarkan sang majikan berbuat semaunya.


Preng ....


Gubrag ....


Prek, prek. Prek ....


Suara-suara berisik terdengar dari ruangan yang Vaula tempati. Sepertinya di memukul dan menjatuhkan barang atau cermin yang ada di sana.


“Lihat saja Fandi, aku akan mengambil anak-anak ku dari mu!” teriak kembali Vaula dengan suara yang semakin nyaring dan bergema di ruangan tersebut ....


.


...Bersambung!...


Jangan lupa komen dan like juga dukungan lainnya.


Terima kasih