
"Siapa?" suara Sukma sedikit bergetar.
Alfandi merogoh sakunya mengambil dawai yang terus berdering. Terlihat kontak yang bernama Rosa, namun belum sempat terjawab! panggilan tersebut berhenti hingga menjadi panggilan yang tidak terjawab.
"Telepon dari siapa?" ulang Sukma dengan tatapan wajah yang cemas.
"Ooh ... cuma anak buah, nggak penting." Lalu Alfandi menghabiskan Energen nya.
Lanjut berjalan sambil menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar. "kita lihat dulu anak-anak apa masih di kamar atau sudah turun?" gumamnya Alfandi
"Tapi sepertinya sudah di bawah di bawah deh, itu suaranya dari bawah," timpalnya Sukma sambil menarik tangan Alfandi.
"Ooh iya," Alfandi melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga sambil menggandeng pinggang sang istri dengan mesra.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Alfandi kepada Firza dan Fikri yang sedang berada di meja makan menikmati Energen nya masing-masing.
"Sudah, Pah." Jawabnya Fikri sambil menoleh pada sang kakak, Firza yang terdiam melihat sang ayah yang tampak mesra dengan istri mudanya tersebut.
Detik kemudian, Sukma menghampiri dan menyentuh pelipis Firza. Yang Alhamdulillah nggak sepanas semalam. "Kau sudah agak baikan?" gumamnya Sukma kepada Firza dan Firza pun mengangguk pelan, lalu meneguk kembali minumannya.
"Syukur lah." Sukma pun menganggukkan kepalanya dengan bibir yang tersenyum ke arah anak-anak sambungnya itu.
Kemudian Alfandi dan kedua anaknya berpamitan, mumpung masih pagi mereka pulang, dan kebetulan Firza dan Fikri gak Membawa seragamnya. Menjadikan mereka harus pulang dulu.
"Sayang aku pergi dulu ya? hati-hati dan jaga diri baik-baik!" ucap Alfandi seraya menatap sang istri dengan lekat.
Sukma pun mengulas senyumnya yang manis seraya berkata. "Iya, hati-hati juga."
Dengan tidak ragu Alfandi mengecup kening dan pipinya Sukma kanan-kiri, dengan sangat mesra.
"Fikri, Firza salam dulu sama mommy?" titahnya Alfandi dan Fikri dengan cepat menuruti perintah dari sang ayah, sementara Firza ... dia cukup sulit namun tidak ayal dia lakukan juga.
Sukma mengantar mereka sampai teras, begitupun Jihan dan Marwan mereka menyusul belakangan ke teras dan mencium tangan Alfandi pergantian dengan penuh hormat.
"Kapan, kalian ambil rapot?" tanya Alfandi pada Jihan dan Marwan.
"Minggu ini, Bang." Jawabnya Jihan, dan Marwan pun mengangguk membenarkan jawaban dari Jihan.
"Hari Sabtu ... hari Sabtu aku ada urusan ke luar kota, kalau seandainya gak ada yang ngambil rapot Firza, tolong ya sayang? ambilkan sekalian!" pinta Alfandi pada Sukma yang langsung memberikan anggukan.
"Pah, kan ada Mama!" Celetuk Firza berharap mamanya yang datang mengambil.
"Iya tahu ... ada Mama. Tapi kan pada kenyataannya yang sudah-sudah pun Papa juga yang ngambil," jawab Alfandi.
"Papa-Papa, Pah. Aku juga hari Sabtu lho dibagikannya rapot nya, terus siapa yang mau ngambil rapot Fikri, Pah?" Fikri menggoyangkan tangan papanya.
Sejenak Alfan terdiam dan melamun, sementara hari itu dia harus keluar kota ada urusan penting.
Sukma nggak bilang apa-apa! karena memang dia ngerasa, anak-anak kan ada mamahnya seandainya papanya nggak ada pun.
"Ya sudah, gimana nanti saja lah. Kalau seandainya, mama nggak bisa. Berarti mommy yang akan ambilkan rapor kalian, karena Papa benar-benar harus ke luar kota dan gak bisa ke sekolah kalian!" Tambahnya Alfandi dengan lirihnya.
Semua terdiam, kemudian Firza mendahului memasuki mobil papanya.
"Oke, Assalamualaikum?" ucapnya Alfandi seraya melangkahkan kakinya mengitari mobil.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh." Sukma dan Jihan juga Marwan.
Sukma menghela Nafas panjang, setelah mobil Affandi menghilang dari pandangan.
Kemudian menoleh ke arah Jihan dan Marwan. "Kalian sudah mandi belum?" tanyanya.
"Sudah, Kak ... kita dah mandi tadi subuh juga, tinggal ganti baju saja!" jawabnya Jihan.
"Oh ... ya sudah, yu masuk?" ajak Sukma sambil melangkahkan kakinya melintasi pintu utama, kebetulan dirinya belum mandi sehingga dia langsung naik lagi ke atas.
Jihan dan Marwan bergegas ke kamar nya masing-masing untuk mengganti pakaian dan setelah itu mau sarapan.
Sukma yang kini berada di kamarnya itu, sedang berendam di dalam bathub dengan air busa serta aroma terapinya yang menyegarkan hidung dan memanjakan tubuh.
"Benar-benar seperti orang yang kehausan belai kasih sayang. Lapar belayan tangan seorang istri. Aku bahagia karena bisa menjadi penawar sahwat mu yang bisa saja kau tumpahkan pada tempat yang salah itu." Gumamnya Sukma.
"Sekalipun tubuh ini harus lelah dan kewalahan melayani mu. Namun itu tidak seberapa dengan. kebaikan yang kau berikan pada ku, dan ... sudah menjadi kewajiban ku berbakti padamu." Sukma bermonolog sendiri sambil bermain air.
"Aku akan berusaha agar menjadi penawar mu, penawar dari segala resah mu. Pengobat kerinduan mu itu, kembalilah bila kau membutuhkan ku!" helaan nafas terlihat dari gerak dadanya dan menghembus melalui hidung.
Selesai membersihkan diri, Sukma bersiap-siap untuk berangkat kuliah nanti sekitar pukul 09.00.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Sukma menoleh ke arah pintu yang terdengar berapa kali diketuk. "Siapa?"
"Aku," terdengar suara Mimy.
"My, masuk saja?" balas Sukma dari depan cermin.
Pintu di dorong dari luar dan tampak Mimy berjalan masuk. "Ciee ... cantiknya ... seger banget, yang semalam dapat making love!"
"Apaan sih?" Sukma menggeleng sambil mesem-mesem. "Aku tuh lagi datang bulan!"
"Kan ML bisa di lakukan. meskipun lagi datang bulan bukan?" kata Mimy sambil duduk di atas sofa yang berada di sana.
"Ehem, kamu libur bukan?" tanya Sukma berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Agak siangan gue masuk nya." Jawab Mimy.
"Ooh, kirain libur?" lanjut Sukma sambil merapikan rambutnya.
"Minggu depan, gue minta libur beberapa hari. Karena gue mau pulang kampung dulu sebentar, gue kangen sama orang tua gue." Jelas Mimy.
Sukma mother posisi duduknya melihat ke arah Mimy. "Kau mau pulang kampung?"
Mimy mengangguk pelan. "Iya, gue ingin bertemu mereka beberapa hari, setelah itu gue balik lagi ke sini! bolehkan, Ma? bila gue tinggal di sini lagi?"
"Ya Allah ... My ... ngapain nanya begitu sih? tentu boleh lah, siapa yang larang? bukankah kita sudah menjadi keluarga? jangan ngomong begitu ahk, gue jadi terharu nih." Sukma mengusap sudut manik matanya yang indah itu tampak berkaca-kaca.
"Terima kasih, Ma? terima kasih banyak? elu sudah baik ... sama gue dan lu juga beruntung, punya suami sebaik Pak Alfandi. Jelas-jelas gue bukan siapa-siapa! di tampungnya tuk tinggal di sini bersama lu yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya," ungkap Mimy.
"Sudah ahk. Jangan ngomong gitu? jadinya bikin gue sedih aja, justru elu yang pertama kali berbuat baik sama gue. My ... wajar kalau kita masih bersama," pintanya Sukma.
"Tapi, gue ikhlas menolong lu. Lagian kan lu bayar ke gue! bukan cuma-cuma bukan!" Timpalnya Mimy.
"Gue juga jadi teringat sama Bi Lilian, gue belum membayar apa yang telah gue gunakan selama tinggal di sana, termasuk uang yang katanya diambil sama adik-adik gue, tapi gue mau ke sana? belum bilang sama Alfandi." Kenang Sukma.
"Sebaiknya, lu bilang dulu sama suami seandainya lu mau pergi ke sana, siapa tahu juga mau nganterin lu! sekalian kenalin tuh suami lu sama mereka semua. Tunjukkan kalau lu bisa bangkit dan hidup lebih senang dari pada mereka." Jelasnya Mimy.
"Dia sibuk, My ... mana bisa antar gue!" Sukma menggeleng pelan.
"Eeh, Nona. Dengerin ya? sesibuk apapun nih ya? kalau dia ada niat nganterin lu, mau mengenal keluarga lu. Pasti lakuin juga dan pasti mau! percaya deh sama gua, asal saja elu ngomong sama dia." Kata Mimy tampak serius.
Sukma menggerakkan tangan menempelkan punggungnya di pelipis Mimy dan kening dia sendiri bergantian. "hangatnya sama? tumben omongan lu bener? he he he,"
Mimy melempar bantal sofa ke arah Sukma sambil nyengir.
"Non, ada tamu di luar?" suara Bi Lasmi dari luar kamar.
Sukma dan Mimy saling bertukar pandangan, seolah bertanya-tanya siapakah tamu yang datang saat itu ....
.
.
...Bersambung!...