
"Kok, sepi, Kak?" gumamnya Marwan.
Sukma pun melepaskan pandangan nya pada sebuah bangunan yang Tempak sepi tersebut.
"Paling, di dalam. Wan ... yu masuk?" Jihan mendahului yang lain.
Langkah Sukma pun mengikuti langkah Jihan dan di susul oleh Mimy dan Marwan.
"Assalamu'alaikum ..." sejenak tidak ada yang menjawab.
Namun tidak lama kemudian terdengar suara sahutan dari balik pintu dan "Wa'alaikum salam!"
Blak ....
Pintu terbuka, dan kebetulan yang membuat pintu adalah Bi Lilian. Dia bengong dan terkesima melihat tamu siapa yang datang? apalagi dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya.
Bi Lilian tampak kaget melihat kedatangan Sukma dan kedua adiknya tampak rapi dan elegan. Sukma yang tampak cantik berhiaskan perhiasan. Pakaian rapi dan terlihat mahal.
"Bi, apa kabar?" Sukma langsung mendekat meraih tangan bi Lilian dan di cium tangannya.
"Ka-kalian? beneran ini ka-kalian?" Bi Lilian masih kurang percaya dengan apa yang dia lihat dan suaranya pun terbata-bata.
"Iya, Bi. Ini Sukma ponakan Bibi. Apa kabar?" Sukma memeluk bibinya tersebut.
"Ya ampun ... kalian masih ingat Bibi!" bi Lilian membalas pelukan Sukma.
Dilanjut Marwan dan Jihan yang mencium tangan bi Lilian.
"Ini bibi kamu yang jahat itu?" bisik Mimy pada Jihan.
"Sebenarnya, bibi sih gak terlalu, Kak Mimy. Yang paling pedes itu suami dan anak-anak nya," balas Jihan dengan suara sangat pelan.
"Ooh, jadi penasaran! mana paman dan anak-anaknya nya itu?" sambung Mimy.
"Entah," Jihan mengayunkan kakinya memasuki rumah tersebut.
"Kalian rupanya? wah-wah-wah ... kalian sudah berubah ya penampilan bagus, waduh! pake mobil segala ya? apa dapat pinjem ya? biar kami panas gitu?" celetuk paman Dandi.
"Silakan duduk, tidak apa ya? beralaskan saja. Karena Sofanya masih belum di buka!" Bi Lilian menunjuk sofa yang masih di bungkus plastik.
"Kak, sekarang ada kursi ya?" bisik Marwan pada Jihan.
"Iya, ada kemajuan!" sahutnya Jihan dengan pelan.
"Sofa nya masih di bungkus, sebab baru datang. Dan tidak diperuntukan tamu yang duluan sebelum kami, ini asli milik kami bukan pinjaman." Kata paman Dandi penuh nada mencibir.
"Paman, Bibi. aku bawakan sedikit oleh-oleh buat kalian." Sukma menunjuk belanjaan yang di simpan dekat pintu.
Bi Lilian menoleh dan berkata. "Padahal gak usah repot-repot," ucapnya sambil menghampiri dan mengambil semua oleh-oleh tersebut.
"Ini uang buat belanja, Bibi. Tidak banyak tapi setidaknya mengembalikan uang paman yang dulu pernah hilang." Sukma melihat ke arah bibi Lilian dan suaminya.
Uang tersebut langsung di sambar oleh paman Dandi dan membuka nya. "Berapa nih? Lima ratus ribu."
"Kamu sudah ada ya Sukma? sehingga bisa kirim ini semua ke sini segala?" Bi Lilian menatap ke arah Sukma.
"Ada kok, Bi. Alhamdulillah." Sukma menunjukan senyumnya yang ikhlas pada bi Lilian.
"Dalam beberapa bulan, Hidup mu berubah! dari mana semua itu? uang, perhiasan. Bahkan mobil baru? dari mana? pinjem untuk menunjukan pada kita semua?" ucap paman Dandi menatap curiga.
"Nggak lah, Paman ... itu semua pemberian dari suami kak Sukma. Bukan pinjem! buat apa pinjem? gak ada kerjaan sekali." Kata Marwan.
Semua melihat ke arah Marwan dan Jihan pun nimbrung bicara.
"Benar itu, Paman ... kak Sukma punya itu semua dari suaminya, bukan hasil pinjem apalagi niat pamer. Justru kak Sukma ingin membalas kebaikan Paman dan bibi." Tambah Jihan.
"Maaf, Bi. Saya tidak sempat memberi tahu Bibi--"
"Karena kau sudah hamil duluan?" timpal paman Dandi.
"Iih, ini mulutnya apa perlu di sambelin kali ya?" gumamnya Mimy.
Membuat paman Dandi melirik dan menatap sangat tajam ke arah Mimy.
"Tidak, Paman. Aku tidak seperti itu!" Sukma menggeleng.
"Ya, paling godain suami orang? gak mungkin murni karena saling cinta atau pria lajang! secara dalam waktu singkat bisa punya mobil beserta supirnya." Timpal Fira yang datang dari pintu depan.
"Lah ini lagi, mulutnya pedas. Sepedas cabe Afrika, gila banget nih cewek." Gumamnya Mimy sambil mengamati penampilan Fira yang seksi.
"Fira?" kata Sukma menatap ke arah Fira.
"Pak, Bu. Paling dia menggoda suami orang, jadi dapat segalanya. Kan enak, gampang kalau mau melayani suami orang!" sambung Fira kembali.
"Pantas ya, dengan mudahnya hidup mu berubah. Hebat! kau itu bisa memamerkan itu semua pada kami," paman Dandi menatap tajam pada Sukma yang terus menggeleng.
"Kalian itu tidak tau apa-apa, jadi jangan menghakimi Sukma. Kalian juga tidak perduli bukan ketika Sukma susah! makanya dia segera memboyong adik-adik nya dari sini." Mimy tidak suka mendengar keluarga bibinya Sukma terus nyerocos.
"Maafkan suami saya dan putri saya ya, saya. Em ... Bibi berterima kasih dan ikut senang dengan kebahagiaan mu! Bibi tidak apa tidak di undang juga, dengan kalian datang saja. Bibi sudah merasa masih di akui sama kalian." Lirihnya bi Lilian.
"Iya, Bi. Makasih ya? dan aku pamit sekarang. Maaf juga tidak membawa apa-apa dan ini buat jajan anak-anak," Sukma memberikan beberapa lembar uang berwarna merah buat anak-anak bibi yang masih seusia dengan Jihan dan Marwan yang entah pada kemana?
Namun yang itu disambar oleh Paman Dandi seraya berkata. "Anak-anak nggak boleh pegang uang seperti ini, biar saya saja yang simpan!"
"Itu buat mereka, Paman. Bukan buat Paman," ucap Marwan sembari melongo ketika melihat paman Dandi mengambil uang yang diperuntukkan anak-anaknya.
"Siapa juga yang bilang, kalau ini buat saya? Saya hanya menyimpannya saja bukan untuk mengambilnya!" akunya paman Dandi dengan nada sinis.
Sukma menoleh pada kedua adiknya dan juga sahabatnya Mimy. "Yu, kita pulang? nanti keburu sore!"
Kemudian semua pun beranjak dari duduknya setelah mencium tangan paman dan bibinya Sukma dan yang lainnya pun meninggalkan tempat tersebut mendekati mobil yang tadi mereka tumpangi.
Saat ini Sukma dll, nya sudah berada di dalam mobi dan Sukma meminta supirnya untuk segera melaju meninggalkan kediaman bi Lilian.
"Baik, Non." Luky segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ternyata benar ya? keluargamu sangat menyebalkan, pantas kalian tidak betah tuk tunggal bersama mereka. Ih ... aku saja ogah bila harus tinggal berasa mereka, amit-amit,"ungkap Mimy.
"Begitulah Kak Mimy, yang membuat kita tidak betah tinggal di sana. Makanya kita ingin segera pindah juga."
Timpalnya Marwan.
"Benar Kak Mimy. Memang begitu adanya," Jihan pun mengangguk setuju.
Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol,hingga tidak terasa lamanya perjalanan. pada akhirnya mobil sudah menepi di depan rumahnya Sukma.
Sukma dan yang lainnya pun segera turun dan memasuki rumah yang disambut oleh bi Lasmi di pintu. "Assalamualaikum ....'
"Wa'alaikumus salam ... sudah pulang lagi,Non?" balas bias Lasmi yang dibarengi dengan pertanyaan.
"Sudah, Bi. Buat apa lama-lama, Bi?" kata Sukma yang sudah lebih dulu masuk dari yang lain.
Ketika mau naik tangga, ponselnya yang sekian lama hening, tiba-tiba berbunyi ....
.
.
...Bersambung!...