
Setelah kepergian Alfandi, Sukma mengajak kedua adiknya untuk masuk. "Kalian jangan terlalu malam tidurnya! nanti kesiangan?"
"Iya Kak." Keduanya mengangguk.
"Tapi masih sore kok, masih pengen nonton sebentar!" timpal Jihan.
Sukma duduk di ruang tengah bersama mereka Jihan dan Marwan, sambil menunggu Mimy yang belum pulang.
"Non, Bibi pulang dulu ya?" Bi Lasmi berpamitan.
"Iya, Bi. Hati-hati!" Sukma mengangguk.
Bi Lasmi pulang dengan menggunakan pintu belakang. Sementara Mimy jalan depan.
"Assalamu'alaikum ... bertiga saja nih?" Mimy menutup pintu lalu menghampiri Sukma.
"Wa'alaikumus salam ... baru pulang, My?" balas Sukma menata ke arah sahabatnya, Mimy.
"Iya, di suruh lembur gue." Mimy menunjukan muka lelahnya. Lalu mengambil air minum terlebih dahulu sebelum ikut gabung duduk bersama.
"Paling Kak Mimy habis jalan-jalan sama pacarnya?" tuduh Jihan.
"Mana ada, Jihan ... Kak Mimy baru pulang kerja nih. Masa gak tercium bau keringat begini?" balas Mimy sambil mencium bau badannya sendiri.
"Iya, nih ... Kakak main curiga saja?" Marwan membela Mimy.
"Nak, bener tuh. Wan, kak jihan curiga saja orangnya!" timpal Mimy sambil menunjuk ke arah Jihan sambil tersenyum.
"Sudah-sudah ... oya My. Aku punya berita untuk mu!" kata Sukma dengan wajah yang rona bahagia.
"Apa itu?" Mimy mengerutkan keningnya.
"Kak Sukma, mau kuliah lagi ..." kata Jihan dan Marwan berbarengan.
Mimy menoleh pada Sukma. "Beneran kaya mereka itu, Ma?"
Sukma mengangguk pelan dibarengi dengan bibir yang terus mengembang. "Iya."
"Ooo! selamat ya? semoga cita-citamu tercapai!" Mimy memeluk Sukma ikut bahagia.
"Makasih, My ..." Sukma membalas pelukan Mimy.
"Sudah gue duga, Ma ... lu nikah sama pak Alfandi. Apapun pasti di turutin. Percaya deh sama gue?" Mimy duduk bersila di dekat Sukma.
"Gue gak minta apa-apa kok?" balas Sukma sembari menaikan kedua bahunya.
"Ya ... berarti dia mengerti yang kamu butuhkan! emang hari ini dia gak pulang ke sini ya?" Mimy celingukan.
"Sudah balik lagi, Abang tadi sore kesini jemput si Fikri." Timpal Marwan.
"Oo! kasih servis gak?" Mimy menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih? gak penting amat pertanyaannya!" Sukma mengalihkan pandangannya ke lain arah.
Mimy menatap intens pada Sukma dengan bibir menyungging. "Aah ... gue tau--"
"Tau apaan?" Sukma memotong perkataan dari Mimy.
"Gue tahu, lu habis kerja kan? kerja malam?" Mimy menunjuk ke arah hidung Sukma.
"Iya, kerja sore gue," Sukma menjulingkan matanya. "Emangnya kenapa?"
Mimy mendekati kuping Sukma seraya berbisik. "Sakit gak?"
"Sakit sih, cuma ... gue kasih obat." Sukma tak kalah berbisik.
"Berarti sekarang sudah ketagihan ya? he he he ..." Mimy terkekeh.
" Apaan sih, lu ... mandi sana?" Sukma menepiskan tangannya dengan bibir menunjukan senyum simpul nya.
Jihan dan Marwan beranjak, untuk ke kamarnya masing-masing. Karena sudah waktunya beristirahat.
"Pasti, suami lu menjadi candu. Benar kan?" Mimy menunjuk hidung Sukma.
"Nggak tau ah." Sukma berdiri hendak ke atas.
"Eeh, mau kemana? matikan televisinya." Mimy pun ikut berdiri dan menyambar tas nya.
"Lu kan belum makan, My?" ucap Sukma sambil meraih remote televisi.
"Gue mau mandi dulu, lagian berasa masih kenyang nih perut." Mimy berjalan sembari mengusap perutnya.
"Eeh, Ma. Punya suami lu besar/panjang gak? he he he ..." Mimy bisa-bisanya hentikan langkah Sukma.
Membuat Sukma menatap tajam sembari bergidik. "Lu, nanya apaan sih? lu kan lihat dia itu tinggi besar tubuhnya, ngapain nanya?"
"Sudah ah, malas ladeni lu yang gak jelas itu." Sukma menaiki anak tangga dengan cepat.
"Aish ... si Sukma. Malu-malu he he he ...."
Lantas Mimy pun masuk ke dalam kamarnya.
Sukma baru masuk ke dalam kamarnya tidak lupa mengunci pintu dan mendekati tempat tidur yang masih tampak berantakan Mas tadi ya bersama Affandi.
"Sepi lagi deh kamar ini," gumamnya Sukma sambil berjalan menatap tempat tidur tersebut. Lalu duduk di tepiannya menarik guling ke dalam pelukan.
Kenya manik matanya menatapi bantal yang biasa Alfandi pakai. Terbayang jelas orangnya berbaring di situ.
"Cieleh ... lebai banget sih gue? baru saja dia pergi? kok gue ingat dia sih!" gumamnya Sukma sembari menunjukan seutas senyumnya.
...---...
Tanpa sepengetahuan Alfandi. Firza jalan-jalan di mall bersama teman-teman nya dengan mengenakan kaos hitam dan celana selutut anak itu dengan santainya nongkrong sama temannya, sesekali menyesap rokoknya yang berada di sela-sela kedua jari.
Diam-diam Firza masih sering merokok di luar, kalau lagi nongkrong bersama teman. Namun tidak banyak! ya paling satu atau dua saja itupun gak sering-sering, dan sisanya yang banyak diberikan kepada teman-temannya yang lain.
Sekilas netra nya menemukan suatu pemandangan yang bikin jantungnya bukan main terhentak! Firza membelalakkan matanya supaya lebih jelas dengan apa yang dia lihat itu.
"Mama?" gumamnya nyaris tak terdengar.
Vaula sedang berjalan berdua dengan seorang laki-laki yang membawa kamera menggantung di lehernya dan tampak sangat intim sekali.
Kedua netra anak itu menatap intens ke arah sang bunda yang terikat asyik berjalan dengan pria tersebut.
"Za, lain kali kita nongkrongnya pindah yu? jangan di sini mulu! kita coba di pinggir jalan bersama anak punk gitu, kali-kali kita jadi anak punk." Suara salah seorang temannya Firza yang sedang membuang asap rokoknya.
"Sebentar, gue mau ke toilet dulu ya?" Firza ngeloyor menjauhi teman-temannya.
Temannya menatap ke arah Firza seraya berkata. "Ya ... ke toilet! kepicirit lu? ha ha ha ...."
Firza menjauhi tempat tersebut dengan langkah yang lebar. Netra terus mencari bayang-bayang dari sang bunda yang sempat hilang dari pandangan.
"Kemana mereka?" gumamnya Firza sambil terus berjalan melipir di antara orang-orang yang berada di sana.
Dan pada akhirnya Netra nya Firza menangkap bayangan yang dia cari. Terlihat Vaula memasuki sebuah kamar yang berada di Mall tersebut.
Firza terus menatapi dengan intens pada sang bunda, hatinya mencurigai sang bunda yang berdua dengan pria lain tersebut.
Dari kejauhan, anak itu terus mengintai sang bunda, Dia penasaran dengan yang mereka lakukan di sana. Masalahnya Firza melihat gelagat yang aneh dari keduanya dan yang dia lihat cuma berdua saja.
"Apa yang mereka lakukan di sana? kalau kerjaan kenapa cuma berdua saja? harusnya ada yang lain atau kru nya. Buka hanya berdua? batin anak baru gede itu tanpa berkedip melihat ke rah pintu, kali saja ada yang dari sana.
Kemudian, dia pura-pura berjalan mendekati pintu tersebut dan tempat sekitar yang tampak sepi itu. Dia berdiri dekat pintu dan membelakangi pintu, tangannya di belakang memutar handle pintu.
Tetapi pintu tersebut terkunci dari dalam. "Sedang apa sih di dalam?"
Firza ada niatan untuk menunggu mamanya sampai keluar nanti. Namun melihat jam yang sudah menunjukan pukul 20 lewat, dan ingat pada sang ayah yang mungkin sudah pulang. Membuat Firza ingat untuk segera pulang.
Sehingga Firza buru-buru mundur dari tempat tersebut, menghampiri kembali teman-teman nya yang menunggu di tempat semula.
"Kemana saja lu? lama amat sih?" tanya temannya ketika melihat Firza datang tampak terburu-buru.
"Gue mau pulang, papa gue pasti nyari." Firza menyambar tas punggungnya.
"Ya ... Cemen, dasar anak papi lu? orang anak mami. Nah lu anaknya papi, Cemen sekali lu." Cibir temannya.
Firza tidak perduli dengan omongan temannya tersebut. "Masih mendingan gue, masih punya Papa. Ketimbang lu, nggak Papa nggak mamah. Sebatang kara aja lu hidup!"
Firza berlari meninggalkan teman-teman nya yang masih betah di sana.
Bagaimana pun Firza masih takut dan menghormati sang ayah yang lebih sering menyempatkan diri untuk anak-anak nya di rumah.
Di dalam taksi. Pikirannya Firza masih teringat pada sang bunda dengan pria itu bikin penasaran. Saking antengnya dia sampai-sampai tidak terasa taksi pun sudah tiba di depan gerbang rumahnya.
"Aku harus bisa mengikuti mama lain kali, aku harus tahu siapa pria yang bersama mama itu! rekan kerja atau lebih?" batin Firza sambil berjalan setelah membayar transpor nya.
"Aden, kok baru pulang?" sambut kepala asisten.
"Papa dan Fikri sudah pulang belum?" Firza malah bertanya soal ayah dan adiknya.
"Belum, Den." jawab wanita tua itu. "Sekarang Aden masuk, pasti belum mandi. Nanti keburu papa pulang."
"Ahk, paling papa gak pulang malam ini!" Gumamnya Firza.
"Nggak pulang? kenapa?" selidik bibi yang sempat mendengar gumaman dari mulut Firza.
"Ha? nggak. Aku harus segera masuk sebelum papa pulang." Ralat Firza. Kemudian Firza dengan cepat berjalan hendak ke kamar.
Namun baru saja beberapa langkahnya yang Firza ayunkan harus terhenti dengan seruan suara seseorang ....