
"Iya buat kalian, sama temennya juga itu siapa namanya?" seru Affandi.
"Ooh dia, Mimy. Dia begitu baik pada saya, padahal kami baru kenal di tempat kerjaan," akunya Sukma mengingat sosok Mimy.
"Namamu Sukma?" tanya Alfandi sembari mengerutkan keningnya.
"Benar, namaku Sukma. Sukmawati," sembari mengangguk.
"Panggilannya? nama panggilan sehari-hari?" tanya kembali Alfandi sambil menatap wajah Sukma yang selalu menunduk di hadapannya.
"Nama panggilan ... ada juga yang panggil aku Sukma, ada juga yang memanggil nama ku Ama, atau Wati." Jelas Sukma.
"Oke, saya panggil namamu Ama saja. Dan nama saya Alfandi. Kalau di luar biasa di panggil Al atau Fandi, tapi kalau di keluarga sih nama panggilanku Fandi," ucapnya Alfandi sambil terus memandangi ke arah Sukma.
"Ooh!" hanya kata oh yang terucap dari bibir Sukma saat itu, dia tidak tahu apalagi harus berkata apa? pria yang dewasa ini membuat Sukma menjadi kikuk.
"Kamu belum mandi? Sukma," suara Mimi memecah keheningan.
Mimy sudah nampak segar dengan pakaian yang sudah diganti dengan pakaian tidur panjang bermotif Doraemon.
"Hah? belum, belum nih, nggak enak bila membiarkan tamu sendirian," jawabnya Sukma.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana? biar Tuan eh bapak siapa?" Mimy melirik pada Alfandi
"Namaku Affandi," jawabnya pria tersebut.
"Nah ... iya, Pak Alfandi biar beliau sama aku aja, duduk di sini. Kau mandi dulu sana? gak enak abis kerja seharian." Sambung Mimy.
"Baiklah, aku masuk dulu ya permisi Pak Fandi?" pamit Sukma kepada Alfandi yang terus melihat ke arah dirinya.
"Nggak pa-pa, sebentar lagi saya pulang kok, anak saya sudah menunggu di rumah," kata Alfandi.
Mimy membulatkan mulutnya seraya berkata. Sudah punya anak rupanya," suaranya sangat pelan.
"Ya ... sudah, sekarang saya undur diri. Pamit pulang, dan terima kasih ya? atas tadi siang sudah mengembalikan dompetku. Dan bentar lagi makanan akan datang, kalian makan ya? Assalamualaikum?" ucap Alfandi seraya menyatukan kedua tangannya di dada.
"Lho kok buru-buru Pak Alfandi?" tanya Mimy yang ditujukan kepada pria yang tampak dewasa tersebut.
Alfandi melirik jam yang di tangan kanannya itu. "Sudah waktunya saya pulang, lain kali boleh kan kalau saya mau main ke sini lagi?" Alfandi melihat ke arah Sukma dan Mimi bergantian.
Sukma hanya melirik pada mimi tidak tahu harus menjawab apa.
"Ooh tentu, Tuan eh Pak Alfandi. Boleh dong main lagi ke sini, dengan senang hati." Balas Mimy.
Sukma mengayunkan langkahnya memasuki pintu utama kontrakan, setelah melihat Alfandi memasuki mobilnya.
Mimy masih berdiri dan melambaikan tangan pada Alfandi seraya bergumam. "Gantengnya pria itu. Tapi sayang, sudah punya anak punya istri, tapi Sukma! gimana kalau dia suka sama kamu? kok aku melihat gelagat aneh deh, dengan tatapan dia itu loh."
Karena hening, tidak terdengar sahutan dari Sukma. Mimy menengok ke belakang, ternyata di belakang tidak ada siapa-siapa. Orang Sukma sudah masuk.
"Aku ngomong sendirian dong ... ah dasar, lalu dia membawa langkahnya. Memasuki kontrakan Sukma, di dalam tampak Jihan dan Marwan sedang makan.
"Sukma mana?" tanya Mimi pada Jihan dan Marwan.
"Sedang mandi, kak Mimy," jawab Marwan sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
"Yah ... kehabisan nih, makan nya sudah habis," kata Jihan sambil ******* jari-jarinya yang terasa nikmat dari sisa-sisa ayam geprek, yang dia makan.
"Ooh ... nggak apa-apa, tadi siang aku sudah makan kok," balas Mimy.
"Kak Mimy di rumahnya, nggak berantakan kan? tadi kami masak mie di sana tapi sudah kami cuci kok semuanya." Kata Marwan, karena tadi siang mereka berdua memasak mie di kontrakan ya Mimy.
"Kak Mimy yang barusan siapa sih?" selidik Jihan.
"Ooh dia itu ... salah satu bos di rumah sakit kami bekerja," jawab Mimy.
"Dokter ya kak?" tanya Marwan.
"Dokter sih ... bukan, kayaknya bukan dokter dia." Mimy menggeleng. "Dia cuma pemegang saham gitu sih yang Kakak tahu."
"Oo! gitu, kelihatannya sangat baik ya, Kak?" timpal Jihan menatap ke arah Mimy.
"Iya, sebentar lagi katanya akan datang makanan buat kita! makan malam." Tambah Mimy.
"Beneran, Kak? wah ... kebetulan sekali, aku masih lapar nih. Pasti makanannya enak-enak, lebih enak dari yang barusan," celetuknya Marwan.
"Dasar, kamu ini maruk! kamu itu baru aja selesai makan," tegur jihan kepada adik lelakinya itu.
"Iih ... kakak, barusan itu satu porsi Kak, buat satu orang. Lah kita makan berdua, mana kenyang?" belanya Marwan menoleh pada sang kakak.
"Iya-iya, sudah. Sebentar lagi paketnya datang, kali aja lebih enak dari sebelumnya ya? dan banyak juga, biar kalian bisa makan lagi." Kata Mimy.
"Iya, Kak. Kalau banyak, kan. Kak Mimy juga harus makan," timpal Jihan.
"Iya dong ... aku juga harus makan, kan kata yang ngasihnya juga buat kita bareng-bareng. Makan bersama, masa Kak Mimy nggak ikut makan sih?" ucap Mimy sambil tertawa.
"Kalian ngomongin apa sih? asik bener!" suara Sukma yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apa benar Kak? sebentar lagi akan datang paket makanan buat kita?" tanya Marwan menatap ke arah sang kakak pertamanya.
Sukma terdiam sejenak lalu menatap ke arah Mimy. "Benar, katanya seperti itu, tapi entahlah."
Belum kering ludah Sukma, sudah terdengar suara seorang di luar, "Permisi ... paket ..."
"Itu, Kak. Pasti itu paket buat kita Kak," Marwan langsung melonjak diikutin oleh Jihan, berjalan keluar menghampiri orang tersebut.
Detik kemudian, Jihan dan Marwan sudah kembali sambil menenteng berapa kantong paket makanan. "Beneran Kak, ini paket makanan malam kita." Marwan sangat antusias.
"Iya, Kak. Kayaknya enak-enak nih, lebih enak dari yang tadi lho!" tambahnya Jihan sambil duduk dan membuka paket tersebut.
Benar saja, isinya nasi. Lalapan, sayur. Ayam, telur ada juga dagingnya, tahu dan tempe pun tidak ketinggalan.
Mata Jihan dan Marwan terbelalak ke arah isi paket tersebut. "Ya Allah ... Kak, kita makan enak ini mah," gumamnya Jihan dan Marwan berbarengan.
Sukma sendiri tertegun melihat itu semua, orang yang baru dia kenal berbuat baik pada dia dan kedua adik-adiknya itu, lantas melirik pada Mimy. "My, ayo dong makan bareng-bareng?"
Mimy pun melirik ke arah Sukma dengan senyuman yang merekah. "Iyalah, aku mau makan! kamu juga dong. Ayo?" Mimy mengibaskan tangannya.
Sukma menghela nafas panjang, sesaat sebelumnya dia duduk di antara mereka yang mulai menyantap makanannya.
"Duluan saja! aku gampang. Dan aku mau salat dulu deh, kalian duluan aja ya?" Sukma kembali berdiri serta mengambil alat untuk salatnya.
...---...
Alfandi yang tengah melajukan mobilnya. Begitu fokus dengan perjalanannya, sesekali melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kanannya itu. Matanya begitu fokus ke ke depan yang cukup ramai dengan pengendara lainnya ....
.
...Bersambung!...