
Alfandi beranjak dari duduknya. Kemudian menghampiri daun pintu yang di kunci tadi.
Blak!
"Kau, Arman? kenapa gak bilang dulu? bikin orang gelisah saja." Alfandi menatap ke arah lawan mainnya itu, yang tiada lain adalah Arman yang membawa sebuah map.
"Kanapa? ha ha ha ... takut istri tua mu yang datang ha?" Arman malah balik bertanya dan terkekeh.
"Nggak gitu juga ahk. Yu ke ruang kerja ku?" Alfandi menggiring bahu Arman yang sedang celingukan untuk ke dalam kamar Alfandi.
"Istri mu mana? di bawah juga tidak ada?" selidik Arman sambil menunjuk ke arah belakang.
"Mau tau aja," Alfandi terus mengajak Arman menjauh dari ambang pintu kamarnya. Tidak lupa Alfandi menutupnya terlebih dahulu.
"Emang kemana? kau siksa ya? gara-gara kau sudah lama tidak melampiaskannya, kau tumpahkan semuanya sehingga dia kewalahan dan --"
"Resek, ngomong apaan sih, Man? gak segitunya kali!" Alfandi memukul bahu Arman sambil menyunggingkan senyumnya.
"Ya ... kali aja gitu? secara duda bukan beristri iya, ha ha ha ..." Arman tertawa lepas sambil mendudukkan dirinya di kursi depan Alfandi.
"Bisa saja!" Alfandi menggeleng seraya tersenyum.
"Lecet gak? secara dia masih virgin, sempit dong ... ha ha ha ..." Arman kembali tertawa.
"Sakit lah, asli perih. Mana bahu saya digigit dia, nikmat banget sakitnya. Apalagi dia sangat kesakitan, sampai-sampai kasihan juga lihatnya. Gak tega!" ucap Alfandi.
"Jangan dilihat, nikmatin saja!" timpal Arman dengan santainya.
"Ahk, mana map nya? saya mau jemput anak-anak dulu." Alfandi meminta map yang dia pinta.
Beberapa saat kemudian. Arman dan Alfandi turun dan mendapati Sukma sedang menyediakan buat makan siang.
Kedua netra mata Arman memandangi ke arah Sukma begitu intens. "Aku lihat gadis itu sangat cantik dan natural. Auranya begitu terpancar, beruntung banget kau dapatkan dia!"
"Mandangin ya jangan gitu juga?" tangan Alfandi mengusap wajah Arman yang bengong melihat ke arah Sukma.
Kemudian Alfandi lanjutkan langkahnya menuruni tangga tersebut dan menghampiri sang istri.
"Non, Bibi tadi membeli ikan patin. namun belum bibi masak, maksud bibi mau di masak kapan?" tanya bi Lasmi pada Sukma.
Sukma menoleh pada bi Lasmi seraya bertanya. "Em ... emang siapa yang suka ikan patin? siapa yang nyuruh?"
"Eh ... tidak ada yang nyuruh, Non. Tetapi setau bibi tuan suka." Kata bibi kembali.
"Tapi, sepertinya dia malam ini gak di sini deh!" balas Sukma kok dadanya terasa sesak ketika ingat Alfandi mau pulang ke rumah istrinya.
Tiba-tiba ada yang memeluk Sukma dari arah belakang dan mengecup pipinya. "Malam ini, saya pasti makan malam di sini sayang ... Bi masak saja buat makan malam." Alfandi melirik sekilas pada bi Lasmi.
"Baik, Tuan!" Bi Lasmi mengangguk sambil tersenyum melihat majikannya yang tampak bucin.
Sebenarnya bi Lasmi belum tahu sosok Vaula sebagai istri Alfandi lainnya.
"Apa-apaan sih? malu di lihat orang?" Sukma melihat ke arah bibi dan pria yang dia tahu teman dari Alfandi.
"Nggak pa-pa sayang, mereka maklum kok, kalau kita ini pengantin baru," malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Sukma.
"Iih ... apaan sih?" Sukma mencubit kecil tangan Alfandi.
"Aw! awas ya? nanti ku balas dan tidak akan ku kasih ampun." Bisik Alfandi sambil memudarkan rangkulannya.
"Man, mau makan gak nih? atau sana pergi saja? jangan ganggu saya ahk," tawar Alfandi sambil mengibaskan tangan di udara.
Arman yang mesem-mesem sendiri mendekat ke dekat meja. "Tega banget kau ini."
Kemudian keduanya duduk dan bersiap untuk makan, Sukma pun menyediakan buat Alfandi sebagai suaminya.
Detik kemudian, mereka langsung menyantap makan siangnya dengan sangat lahap.
"Nona, jangan lupa ya? suaminya di manja. Biar gak berpaling pada wanita lain atau pada istrinya!" ucap Arman pada Sukma.
Sukma yang sedang yang sedang mengunyah pun, menoleh pada Arman sembari tersenyum ramah. "Kalau soal memanjakan tergantung kebutuhan kali, Bang. Tapi soal dia berpaling pada istri lama nya itu gak dia! jahat banget kalau aku ingin menguasai semuanya, bagaimanapun dia harus menjadi suami yang adil! dan aku gak ingin semakin di pandang rendah, sudah jadi istri kedua, ingin merebut seutuhnya lagi. Saya tidak mau seperti itu," ujar Sukma sangat panjang lebar.
"Mantap ... jawabannya. Berarti mau berbagi ya, dalam hal semuanya termasuk ... enak banget bila bisa celup sana celup sini bro?" Arman menaik turunkan alisnya.
"Ahk. Kau ini bicara apa sih?" Alfandi menggeleng sembari memasakan tangan ke mulutnya.
"Aku ... tidak ingin mengatur ataupun menuntut apapun! sebab yang dia ... sudah berikan pun sudah cukup bagiku." Tambahnya Sukma pasrah.
"Setuju! saya mau cari gadis seperti mu ahk untuk dijadikan istri. Ha ha ha ..." Arman nyeleneh.
"He? sadar, apa yang kurang dari istri mu? saya juga kalau bukan karena tuntutan sih gak bakalan nikah lagi! satu aja kali." Protes Alfandi pada Arman.
"Ha ha ha ... bercanda, Al ... emang tuntutan apa sih? si Otong yang terkurung dalam sepi?" timpal Arman.
"Si Joni yang terpenjara di terali besi. Mau muntah pun susah, ha ha ha ..." Alfandi tertawa lepas.
Sukma dan bi Lasmi senyum-senyum mendengar perdebatan dari Alfandi dan Arman. Kemudian Alfandi menoleh pada sang istri.
"Sayang, rasanya sudah lama gak makan masakan kamu?" ucap Alfandi sambil mengunyah.
"Iya, nanti aku masakin!" Sukma mengangguk.
"Maklum, Tuan. Nona pasti kecapean." Bibi Lasmi mesem.
"Iya, Bi. Saya juga faham dan tidak menyuruhnya hari ini kok, karena saya tahu itu. Untuk saat ini melayani saya di kamar saja sudah lebih dari cukup!" timpalnya Alfandi.
"Uhuy!" Arman bersuara.
"Di kamar! duduk-duduk nonton televisi dan bersantai lah sayang ... jangan punya pikiran macam-macam ah," ralat Alfandi.
"Di kamar, bebas lah. Mau ngapain juga bebas ... buat pasangan halal mah, iya kan. Bi?" Arman melirik ke arah Bu Lasmi.
"Iya, Tuan. Benar sekali," timpal bibi.
Selesai makan, Alfandi pamit untuk menjemput anak-anak, begitupun Arman. Dia mau ke lapangan.
"Iya hati-hati," pesan Sukma pada Alfandi yang mengecup keningnya mesra.
"Bi, titip ya? jangan biarkan kecapean bekerja dulu!" pinta Alfandi pada Bu Lasmi.
"Baik. Tuan," sahutnya bibi sambil mengangguk dan membersihkan meja.
Sukma membantu membereskan dan membersihkan meja makan. Setalah Alfandi pergi bersama Arman.
"Biar, Bibi saja! Non. Kata tuan juga Non jangan capek bekerja dulu!" Bi Lasmi mengambil alih kerjaan yang Sukma pegang.
"Nggak pa-pa, Bi ... kan ini gak capek. Lagian sudah terbiasa kok aku kerjakan semuanya," ucapnya Sukma.
"Oya, Non. Maaf? Bibi mau bertanya, apa benar orang tua, Non sudah tiada?" bibi menatap Sukma dengan tatapan lekat.
Sejenak Sukma bengong. Kemudian Sukma mengangguk lalu berkata. "Benar, Bi. Kami sudah tidak punya orang tua."
"Ya Allah ... kasian ya, Non sama kedua adiknya itu." Bibi Lasmi merasa iba pada gadis yang kini menjadi majikannya itu.
"Dalam beberapa saat kami merasakan gimana susahnya kehidupan kami, memang sewaktu ada orang tua pun kami hidup dengan sederhana. Dan setelah mereka tiada, hidup kami semakin susah. Untunglah bertemu dengan pak Alfandi." Kenang Sukma.
"Beruntung ya, Non! bertemu dengan tuan yang sangat baik." Timpal Bi Lasmi.
"Iya, Bi Alhamdulillah." Sukma mengangguk lalu dia ingat jemurannya di atas belum di angkat.
"Aduh, Non. Biar Bibi saja yang angkat? kasihan! pasti sakit." Bi Lasmi cepat-cepat menaiki anak tangga untuk mengangkat jemuran.
Gak tega melihat Sukma yang jalannya agak aneh dan sepertinya menahan sakit.
Membuat Sukma tersipu malu, malu banget. Tamu gimana? emang berasa masih bengkak, walaupun sakitnya sudah hilang.
Beberapa saat kemudian, Sukma pun duduk di sofa ruang televisi dan bersantai di sana.
Setelah beberapa puluh menit kemudian. "Assalamu'alaikum ... aku pulang kak!"
Jihan dan Marwan pulang dari sekolah, lalu mencium tangan Sukma bergantian.
"Wa'alaikum salam ... Fikri dan Firza kemana?" tanya Alfandi sambil planga-plongo ke arah luar.
"Mereka pulang ke rumah, Om. lagian Firza ada pelajaran kurikulum." Kata Marwan.
"Ooh," Alfandi membulatkan bibirnya.
"Sama, Fikri juga langsung belajar musik jadi Om mengantarnya ke sana." Tambah Jihan.
"Iya kah?" gumamnya Sukma.
Ting!
Suara notif di ponsel Sukma, dan ternyata chat dari Alfandi.
"Sayang, aku mengantar Fikri belajar musik. Kau istirahat ya, biar nanti aku pulang ke sana! tubuh mu fit kembali."
Sukma tersenyum-senyum sendiri. Namun tidak membalasnya, buat apa dia balas? nyari masalah saja. Nanti yang ada ketauan istrinya, kannrepot.
...-----...
Di sebuah bandara, Vaula sedang berada di sana beserta asisten dan fotografer nya yang ganteng itu.
"Yang, kau mau pulang atau kemana dulu?" tanya Yudi pada kekasihnya, yaitu asisten Vaula. Namun matanya sesekali melirik nakal pada wanita seksi tersebut yang berjalan dengan lemah gemulai.
"Aku mau pulang kayanya capek," sahutnya asisten Vaula tesebut.
"Oke, Kalau kamu capek. Pulang saja duluan! saya masih ada yang harus di urus." Vaula seolah menyuruh asistennya untuk pulang. Sementara dia masih ada urusan.
"Tidak apa-apa, Bu kalau saya pulang?" tanya asisten Vaula menatap dengan lekat ke arah bosnya.
"Oh ... tidak apa-apa, gak mungkin saya memaksakan kamu, jika kamu capek!" balasnya Vaula dengan mata yang melirik ke arah Yudi.
"Oke kalau begitu, saya pulang duluan? kebetulan kepala saya pusing nih, mungkin mabuk perjalanan kali ya, Bu?" Lalu asistennya tersebut berpamitan.
Setelah kepergian asistennya tersebut, Vaula tersenyum saling bersitatap dengan Yudi. Mereka tampak bahagia akhirnya terlepas dari asistennya Vaula.
"Kita mau ke mana dulu say?" tanya Yudi sambil merangkul pinggang Vaula yang ramping tersebut.
"Terserah! maunya kamu ke mana dulu?" Vaula malah balik bertanya.
"Kita mau ke studio atau mau check-in di hotel?" tawarnya Yudi pada Vaula.
"Em ... ya sudahlah, kita ke studio saja, biar gak di curigai orang!
kalau ke hotel ... kapan-kapan saja iya beb?" ucap Vaula sambil mendorong kopernya.
Di luar Bandara, mobil jemputan dari rumah Vaula sudah nongkrong menunggu sang majikan. Namun setelah bertemu dengan sang majikan, yang ke bawa cuma barang-barang saja sebab orangnya masih ada urusan lain, begitu kilahnya Vaula ....
.
...Bersambung!...