Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Beberapa bulan kemudian Marwan pun sudah mulai ospek di ITB Bandung dan dia baru saja pulang! karena mulai kuliahnya masih beberapa hari kemudian.


Saat ini Alfandi, Sukma dan Marwan juga Syakila sedang berada di ruang tengah sedang menonton televisi.


"Gimana ospeknya lancar?" tanya Alfandi kepada Marwan yang tengah duduk di dekat Syakila yang sedang bermain boneka.


Marwan menoleh ke arah Alfandi seraya mengangguk. "Alhamdulillah Bang lancar dan menyenangkan, teman-teman di sana juga pada baik dan sangat welcome!"


"Baguslah kalau begitu. Semoga kamu betah dan berhasil di sana, tuntutlah ilmumu dengan baik ... sampai tercapai cita-citamu!" tambahnya Alfandi.


"Iya, Bang ... aku juga sangat berterima kasih sama Abang sama kakak yang selalu mendukung ku, aku nggak tahu kalau seandainya nggak ada Abang dan kakak--"


"Sudahlah itu kan kewajiban kami sebagai orang tua mu juga," timpalnya Alfandi kembali.


"Aku tuh ingat di kala susah! mau makan saja sulit dan kakak sebagai wanita muda berusaha untuk jadi ibu dan ayah buat kita berdua. Dan kehadiran Abang sangatlah membantu kami terima kasih Bang, ucapan terima kasih kami tidak akan lah cukup untuk semua kebaikan Abang sampai detik ini dan sampai nanti pula!" Marwan kembali menunduk dia merasa sedih bila teringat masa lalu.


Alfandi maupun Sukma ikut terharu mendengarnya. Bikin hati Sukma mencelos sedih.


"Sudah lah Wan ... jangan ingat-ingat itu lagi Kakak jadi sedih nih, boleh mengingat itu boleh! kita mengingat masa lalu untuk pacuan bahwa kita harus lebih maju ke depannya, jangan sampai yang sudah terjadi itu terulang kembali! kita merasa susah di masa lalu dan jangan sampai kita bertemu lagi. Makanya kita harus bisa untuk bisa merubah nasib!" Sukma mengusap sudut bibir matanya yang basah.


Marwan mendekat pada sang kakak lalu memeluknya tak kuasa menahan tangis haru yang dirasakan saat ini, rasanya baru kemarin di tinggalkan oleh orang tuanya lalu Hidup bertiga yang langsung mengalami kesusahan karena orang tuanya tidak meninggalkan sesuatu yang bisa membuat mereka menjalani hidup senang.


Hingga pada akhirnya Sukma bertemu dengan Alfandi yang perlahan mengangkat derajat mereka, sampai saat ini dia pun bisa sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.


Sukma memeluk Marwan dan menepuk-nepuk punggungnya. Dengan suara yang mereka Sukma berkata. "Makanya kamu harus bersyukur dan kamu jangan lupa dengan masa lalu agar menjadi pacuan agar kamu bisa hidup lebih baik! namun kamu juga harus ingat ... harus selalu rendah hati, baik pada semua orang."


"Aku akan selalu ingat dengan pesan Kakak. Aku juga tidak akan melupakan kebaikan Abang!" ucap Marwan sambil terisak.


Alfandi mendekat dan menepuk pundak Marwan. "Yang penting kedepannya kau selalu berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik, menjadi orang yang sukses. Dan suatu saat kamu harus mandiri tidak bisa terus-menerus tergantung sama kakak mu ini!"


"Iya, Bang! aku mengerti, Kak Jihan juga yang perempuan yang bisa mandiri bisa mencari uang saku sendiri tidak terlalu merepotkan Kakak dan Abang, begitupun dengan Firza. Makanya aku juga akan berusaha seperti mereka, biarpun semua dibiayai sama Abang dan kakak, tapi setidaknya aku punya penghasilan sendiri bagus-bagus tidak terlalu merepotkan kalian berdua lagi," Marwan mengeringkan bekas air matanya di pipi.


"Bagus juga itu. Selama kegiatan dan aktivitas kalian itu baik Abang akan selalu mendukung!" Alfandi sambil manggut-manggut.


"Emangnya kamu mau cari kesibukan apa selain kuliah?" tanya Sukma pada sang adik.


"Nggak tahu kak, untuk sekarang ini aku belum kepikiran mau gimana tapi entah kalau sudah berada di Bandung pasti aku akan memikirkannya dan aku Minta doanya dari kakak!" ucapnya Marwan kembali.


"Tentu Kakak akan selalu doain dan tidak harus dipinta!" Sukma menerbitkan senyumnya pada Marwan.


"Om Wawan, ome Wawan ... nanti Om Wawan nggak ada di sini ya! terus Kila bermain sama siapa?" akhirnya Syakila yang tadi itu fokus bermain, bersuara juga dan menatap dengan matanya yang bening dan bersih ke arah Marwan.


"Iya, Om mau tinggal di Bandung mau sekolah dan Syakila di sini sendiri bermain. Nggak ada temennya. Abang Fikri mondok kak Wawan juga kuliah. Abang Eza dan tante Jihan juga kuliah, jadinya Kila sendiri deh. Terus mommy juga bekerja akhirnya Kila nggak ada yang ngurusin!" ujarnya Marwan.


Kedua netra mata beningnya Syakila mengalihkan pandangan ke arah Mommy dan papanya.


"Bialin, Papa. Mommy bekerja juga, kan Kila dah gede! dah bisa main sendiri, sekolahnya sendiri nggak apa-apa yang penting dianterin sama supil." Suara Syakila dengan khas cadel nya.


"Tidak apa-apa, yang penting pulangnya nanti bawa oleh-oleh--"


"Emang oleh-olehnya mau apa tanya Marwan pada Syakila.


"Mau ... boneka Barbie!" jawab Syakila dengan cepat.


"Tiap hari harus bawain boneka! setiap hari mommy harus pulang bawa boneka gitu?" Marwan mengernyitkan keningnya yang ditunjukkan kepada Syakila.


"Hooh. Cetiap hali harus membawa oleh-oleh. Iyakan Mommy. Papa?" Syakila menoleh pada kedua orang tuanya yang hanya menunjukkan senyumnya yang manis.


"Alamak ... kalau tiap hari bawa oleh-oleh boneka! bisa-bisa rumah ini menjadi toko!" Marwan menepuk jidatnya sendiri.


"Ya udah. Karena sekarang sudah malam mainannya diberesin ya ... yang rapi terus bobo! besok pagi-pagi mau sekolah. Besok dianterin sama Mommy ya sekolahnya. Terus pulangnya sama tante Mimy ya?" Sukma menurunkan tubuhnya lalu membereskan mainan Syakila ke dalam keranjang.


"Iya Mommy. Mommy baik deh bantuin Kila membereskan mainan." Anak itu malah bertepuk tangan.


"Syakila juga beresin! bantuin mommy nya, Syakila kan pinter, sudah gede dan mandiri!" tambahnya Alfandi yang menyuruh bocah kecilnya pun membereskan mainannya tidak mengandalkan mommy nya saja.


"Huuh ... pemalas! masih kecil dan tidak mandiri." Goda nya Marwan.


Plak!


Syakila menepuk pipinya Marwan yang lumayan terasa panas.


"Aduh apa-apaan sih? galak bener jadi anak! gak boleh galak-galak nanti nggak punya temen!" Marwan mengusap pipinya yang lumayan terasa panas.


"Biar saja Om ... kalau galak sama orang, nanti orangnya nggak mau nemenin main. Jadinya nggak punya temen deh di sekolahnya!" tambahnya Alfandi.


"Sayang ... Mommy nggak suka ya? kalau Kila galak! kalau Kila nakal nanti gak punya temen, temennya nggak mau nemenin. Nanti Kila di sekolah sendirian! mau seperti itu?" Sukma menatap Putri kecilnya tersebut yang tampak merasa bersalah dan ketakutan.


"Nggak mau, nggak mau nggak punya temen. Kila minta maaf ya Om ... mau ya maafin Kila ya?" anak itu dengan cepat minta maaf kepada Marwan seraya mengusap-ngusap pipinya yang tadi dia tepuk dan menciumnya.


"Dimaafin nggak ya ..." Marwan tidak ingin berhenti mengusili ponakannya.


"Ngah ... harus. Harus dimaafin, kan sudah minta maaf dan dicium juga pipinya ... kalau nggak dimaafin Om yang jahat." Syakila mengerucutkan bibirnya.


"Iya deh ... maafin ya deh." Marwan memeluk Syakila dan mencium kepalanya! kemudian dia pergi meninggalkan tempat tersebut terlebih dahulu.


Setelah semua mainannya berpindah ke keranjang dan menyimpannya di tempat semula. Syakila pun Sukma antar ke kamarnya.


Sementara Alfandi mematikan televisi dan menggantikan lampunya! kemudian dia mengayunkan langkahnya yang lebar menuju lantai atas. Dimana kamarnya bersama Sukma berada ....


.


Bersambung.