Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Belum siap



Saat ini Sukma sedang berada di kantin, dia duduk sendiri setelah mengikuti pelajaran dari dosennya, sambil menyesap minumannya dia melamun! seandainya saja Reno datang di saat dia masih single ataupun belum bersuami, tentu Sukma akan menyambut dengan kebahagian. Sebab siapa sih yang tidak bahagia? bila kekasih yang sangat dicintai datang kembali.


Tetapi sungguh sangat disayangkan, dia hadir pada waktu yang tidak tepati! dia datang ketika dirinya sudah disunting orang yang menjadi dewa penolong bagi dia dan kedua adiknya itu.


"Hem ... sungguh kehadiran mu bukan pada waktu yang tepat Reno." Sukma menghela nafas panjang.


Lalu Sukma mengedarkan pandangannya ke arah jalan dan kedua menik matanya menemukan sebuah mobil BMW yang baru saja datang dan terparkir cantik di sana, muncullah sosok seorang pria dengan pakaian formalnya berkaca mata hitam, keluar dari mobil tersebut.


Berjalan penuh wibawa. Beberapa wanita atau mahasiswi yang melihatnya begitu tekagum-kagum dengan ketampanan yang memancarkan aura positifnya. Sosoknya tampak sangat berwibawa.


"Al?" gumamnya Sukma dengan bibir yang mengulas senyuman mengarah ke arah pria tersebut.


Begitupun dengan pria tersebut yang juga mengarahkan pandangannya ke arah kantin di mana Sukma berada, tampak senyum-senyum karena memang ternyata matanya melihat bahwa sang istri ada di sana.


"Mau apa dia ke sini! gak bilang-bilang juga," tanya Sukma dalam hati sambil terus perhatikan sosok pria yang semalam bersamanya itu.


Alfandi mengayunkan langkahnya yang lebar mendatangi kantin tersebut, lalau dia duduk di samping Sukma yang sedang menikmati minuman dan makanan cemilannya.


"Ngapain ke sini!" tanya Sukma sambil melirik sekilas.


"Hem, emangnya nggak boleh gitu. Datang ke sini? kan ini tempat umum, Non," jawabnya Alfandi. Di sini sikap mereka berdua biasa-biasa saja seperti bukan suami istri layaknya.


"I-iya boleh. Tapi ada keperluan apa emangnya?" tanya Sukma kembali.


"Keperluannya adalah ... bertemu dengan istri ku tentunya." Alfandi menaik turunkan alisnya.


Sukma mengerutkan keningnya. "Emang mamanya di sini?" kepala Sukma menjadi celingukan, melihat-lihat ke arah luar.


"Tidak, tapi istri yang satu ini." Jawabnya Alfandi sambil melirik ke arah lain.


Sukma tersipu malu setelah mendengarnya. Lalu dia menunduk dalam. "Iya ... emang ada apa keperluannya? tadi kan ketemu dari rumah?"


"Nggak ada keperluan apa-apa, cuma ingin ketemu saja!" ucap Alfandi sembari mengarahkan pandangannya ke tempat sekitar.


Namun tangannya Alfandi menyentuh tangan Sukma yang berada di meja lalu meremas jari-jemarinya dengan mesra.q


Sukma berusaha menarik tangannya dia merasa malu jika dilihat orang banyak. "Apaan sih? nggak enak nanti dilihat orang," ucapnya Sukma sambil melirik akan natra nya ke arah depan. Kebetulan di kantin sedang banyak orang yang sedang beristirahat dan menikmati jajanannya. Banyak juga yang makan.


"Biasa aja, emangnya kenapa? cuma pegang tangan aja, gak ciuman atau pelukan. Apalagi berenang, he he he ..." balasnya Alfandi sambil menguatkan genggaman tangannya.


"Dasar mesum!" gumamnya sekma sambil mesem.


"Nggak pa-pa mesum juga sama istri ini, bukan sama wanita lain!" balasnya Alfandi.


Detik kemudian ada seorang pelayan kantin yang mendatangi mereka berdua, dengan cepat Sukma menarik tangannya dari genggaman tangan Alfandi.


"Mau pesan apa, Mas? minuman? makanan ringan atau ... mau makan barangkali?" tawar pelayan tersebut dengan ramahnya.


"Em ... saya pesan makan saja deh buat berdua dengan istri saya ini," sahutnya Alfandi yang tanpa ragu mengatakan kalau Sukma adalah istrinya.


Membuat kedua manik mata Sukma melotot ke arah Alfandi, dia pikir ngapain bilang seperti itu? gimana kalau nanti sampai kedengaran sama istrinya? bisa bahaya! bisa-bisa dirinya dilabrak nanti.


"Kenapa melotot begitu, takut ih?" dan lagi-lagi tangan Alfandi memegang tangan Sukma serta meremasnya kembali. Setelah pelayan kantin itu pergi untuk mengambil pesanan Alfandi.


"Kenapa mesti bilang? kalau aku ini istri kamu? gimana kalau sampai ketauan? istri mu! bisa-bisa aku dilabrak lho, aku belum siap." Sukma menggelengkan kepalanya dengan suara pelan pada pria yang hanya senyum-senyum itu.


"Kenapa meski takut? kamu nggak salah, yang salah itu aku! aku yang gak setia, yang nggak bisa memegang komitmen dalam rumah tangga ku dengannya. Jadi kamu jangan pernah takut!" ucap Alfandi dengan tenang.


"Mungkin iya, aku nggak salah? iya, aku nggak ngerti atau apalah. Tapi di mata orang lain ... tetap aku yang akan di cap perebut, penggoda suami orang! dan aku belum siap jika aku harus dicemooh bahkan dihina ataupun dibenci sama istri kamu," lirihnya Sukma dengan wajah yang cemas.


"Gimana nggak takut? kalau memang sampai terjadi kita ketahuan! dan aku tentunya yang akan tersudutkan." Ungkap Sukma sembari menyesap kembali minumannya.


"Terus, kamu menyesal sudah menikah dengan saya?" tanya Alfandi dengan nada dingin dan menarik tangannya dari tangan Sukma.


Sukma menoleh ke arah Alfandi yang tiba-tiba bersikap dingin. Dengan bibir bergetar kini justru Sukma takut kalau kata-katanya itu sudah menyinggung perasaan Alfandi.


"Ti-tidak, aku tidak menyesal, aku cuma ... belum siap saja jika ketemu sama istri kamu, karena dia pasti akan marah besar!" kemudian Sukma kembali menundukkan kepalanya, seolah melihat ke lantai.


Alfandi tidak tidak mengeluarkan suaranya lagi, dan dia memilih sibuk dengan ponselnya. Sukma yang merasa dicuekin, lantas merasa kesal kemudian dia berdiri hendak pergi.


Alfandi mendongak melihatkan Sukma yang sudah berdiri dan bersiap untuk pergi. "Mau ke mana? kan mau makan, itu makanannya sudah datang." Alfandi menunjuk kepada pelayan yang membawa makanan.


"Aku nggak lapar, lagian buat apa aku di sini? kau juga sedang sibuk kan?" ucap Sukma sambil mencoba melangkahkan kakinya.


Namun tangan Alfandi menangkap tangan Sukma, ditariknya untuk duduk kembali di tempat semula.


"Duduklah sayang? makan dulu emangnya kamu melihat saya sedang sibuk apa?" suara Alfandi dengan lembut.


"Iya sibuk, sibuk dengan ponsel mu," nada suara Sukma sedikit Ketus.


Alfandi tersenyum ke arah Sukma. "ini soal pekerjaan sayang, bukan soal perempuan."


"Iya kau sedang sibuk, jadi kalau sibuk ngapain ke sini? mau soal kerjaan atau sama perempuan aku nggak peduli kok," lagi-lagi nada bicara Sukma sedikit ketus dan kesal.


Alfandi bengong, sampai-sampai pelayan bicara pun tidaknya dia respon. Tatapannya hanya tertuju kepada Sukma. "Kau sedang PMS apa? kok marah-marah tanpa alasan begitu?"


Sukma membuang pandangannya ke lain arah, memang benar. Hatinya tiba-tiba merasa kesal dan sedih, sehingga menik matanya pun mendadak berkaca-kaca, dadanya terasa sesak.


"Ya sudah. Nggak apa-apa, jadi ya jangan datang bulannya?" suara Alfandi tetap dengan nada rendah. Dia pikir mungkin Sukma memang sedang datang bulan atau PMS sehingga moodnya naik turun sehingga mudah emos, marah-marah walaupun tanpa sebab.


Sukma cuma terdiam dan memalingkan wajahnya yang kesal dan sedih dari pandangan Affandi, sementara Alfandi menarik piring makanannya, lalu sebelum menyuap untuk dirinya sendiri dia menyuapi Sukma. Sebelumnya dengan tangan Alfandi menarik pipi Sukma agar menghadap kembali ke arahnya.


"Lho kok nangis? nangis kenapa? apa aku menyakitimu?" tanya Alfandi seraya menatap dengan sangat lekat, netra nya bergerak mengamati wajah Sukma yang sedih dan berair mata.


Sukma menggeleng seraya mengusap sudut matanya. "Tidak, tidak kenapa-napa! mungkin benar karena aku lagi PMS saja jadi mood ku naik turun."


Alfandi menghembuskan nafasnya dari hidung. "Ya sudah, kita makan saja jangan menampakkan kesedihanmu itu di hadapan ku, aku nggak suka."


Kini giliran Sukma yang bengong mengarahkan tatapannya pada Alfandi yang berkata seperti itu barusan.


"Bukan apa-apa kalau kamu sedih, kamu menangis di sini ... aku nggak bisa memeluk mu atau mengecup mu membuat mu nyaman! karena nanti kamu juga yang menolaknya, dengan alasan malu dilihat orang lah, takut ketahuan istriku lah!" jelas Alfandi sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Mendengar apa kata Alfandi, Sukma mengulas senyumnya walaupun tempat getir, dia merasa kalau sosok suaminya ini termasuk orang yang perhatian dan pengertian, kemudian Sukma pun mengemuskan nafas dari hidungnya dengan kasar, lalu mengambil sendok untuk memulai makannya.


"Setelah ini apakah ada pelajaran lagi?" tanya Alfandi di sela-sela makannya.


"Iya ada," jawabnya Sukma singkat.


Kemudian tidak terdengar lagi suara Sukma atau Alfandi yang ada hanya suara dentingan sendok dan piring dan suara riuh obrolan orang-orang sekitar ....


.


.


...Bersambung!...