
"Bi, masak yang banyak ya karena hari ini Virza juga Jihan mau pulang!" ucapnya Sukma kepada bibi sambil menggendong Sya.
"Baik Non, kalau begitu Bibi mau belanja dulu!" balasnya bibi sambil melihat isi lemari pendingin.
"Oh ya udah kalau Bibi mau ke pasar dulu atau belanja dan Ini uangnya. Oh ya kalau soal ikan ngambil aja deh di kolam itu kan kesukaan mereka!" agar mengembalikan dari kolam.
"Mengambil ikan dari kolam ya Kak, biar aku aja ya yang mengambilnya!" kata Marwan yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Kamu kan mau sekolah Wan ... kecuali nanti pulang sekolah ngambilnya!" kata Sukma sembari menatap adiknya yang sudah rapi.
"Apa Mommy, mau ngambil ikan di kolam ikut dong. Sudah lama nggak menangkap ikan!" sambarnya Fikri sambil menggendong tas punggung nya.
"Sekolah, dulu. Nanti saja kalau pulang dari sekolah baru boleh." Sukma menatap putra sambungnya yang masih tampak manja seperti ketika masih baru bertemu dengannya.
"Ach Mommy. Ya sudah Abang pergi dulu." Fikri memeluk Sukma dari samping terlihat manja dan lalu mencium tangan.
"Dan sebelum pergi sempat-sempatnya mencubit pipi nya Syakila membuat anak itu meringis.
"Apang jayat. Mom! huuh." Sya mengusap-ngusap pipinya.
"Nggak pa-pa sayang. Sya kan kuat." Sukma mencium pipi nya Syakila.
"Kak, aku pergi dulu ya." Marwan mencium tangan Sukma dan mencium pipi nya Syakila yang langsung melambaikan tangan.
"Ya, belajar yang bener ya. Fikri ... Wan ..." pesan Sukma.
Sekitar pukul 15 sore. Datang sebuah taksi yang berhenti di depan kediamannya Sukma, seorang wanita cantik berkerudung bermotif. Berjalan mendatangi teras. Membawa tas Soren nya.
"Assalamu'alaikum ... hi ... Sya. Anak comel!" Jihan langsung membuka pintu dan menemukan Syakila sedang bermain boneka dan berjalan mondar-mandir di ruangan luas itu.
"Wa'alaikumus salam ... hai. Jihan ... Kakak kangen sama kamu!" Sukma langsung memeluk sang adik setelah dia datang dari ruangan lain.
"Jihan juga kangen sama Kakak." Jihan berdiri setalah mencium pipi Sya.
"Hem ... tambah cantik saja kamu," puji Sukma sambil memeluk sang adik sangat erat.
Jihan memang bukan lagi Jihan yang dulu, sekarang dia pandai merawat diri biarpun tidak ke salon dan lebih fokus belajar! wajahnya cantik. Anggun ditambah lagi dengan selalu berkerudung. Menjadikan dia tampak lebih bersahaja.
"Kakak juga tambah cantik dan langsing, jelas lah perawatan kan ... he he he ..." kata Jihan sambil menatap ke Sukma dengan tatapan meneliti.
Sukma memang tetap bahkan lebih cantik, langsing tidak berubah dari dulu. Apalagi sekarang ada kalanya ke salon untuk perawatan.
"Kok sepi? yang lain kemana apa masih tidur siang?" Jihan menyimpan tas nya di atas sofa lalu duduk sejenak sebelum dia mengunjungi kamarnya yang lama tidak ia tempati.
"Hooh, eh ... Wawan dan Fikri sedang mengambil ikan di belakang." Sukma menunjuk ke belakang rumah.
"Abang belum pulang kerja ya?" Jihan mengalihkan pandangan nya pada foto pernikahan Sukma dan Alfandi.
Sukma pun ikut menggerakan ekor matanya ke arah dinding. "Hooh, Abang belum pulang. Gimana kuliah kamu Ji?"
"Alhamdulillah Kak, kuliah ku lancar dan makasih Kak ... sudah mau membiayai kuliah ku." Jihan menyentuh tangannya Sukma.
"Syukur lah ... itu memang sudah kewajiban Kakak dan itu ... karena Abang juga. Kakak nggak mungkin bisa muliakan kamu tanpa tujuan Abang!" ucap Sukma sambil mengusap bahunya Jihan.
"Iya Kak, Kakak beruntung bersuami kan Abang." Tambahnya Jihan yang ikut bahagia dengan rejeki yang Sukma dapatkan.
Keduanya berbincang dengan dengan bermacam cerita. Sambil bermain dengan Syakila.
Yang kemudian mereka ke belakang melihat Marwan dan Fikri yang sedang basah-basahan menangkap ikan yang besar-besar.
"Wan, Fikri sedang apa,ada kalah sama ikan. Malu dong ..." pekiknya Jihan pada adik dan ponakan sambungnya yang sedang nyebur.
Keduanya menoleh dengan mulut terbuka dan menunjukan gigi nya yang putih.
"Kalian sweet ya dan dari dulu tidak berubah, masih saja menjadi upin dan Ipin. He he he ..." Jihan berjongkok menatap ke arah keduanya.
"Iya dong ... ngapain berubah! mau jadi Superman apa?" jawabnya Marwan sambil merayap ke pinggir sambil membawa ember berisi ikan.
"Mang, udah deh ... kak Firza kalau mau lagi biar nyemplung aja sendirian!" pinta Fikri pada amang-amang suruhan bibi.
"Kapan kak Jihan pulang? Sudah dari tadi ya?" tanya sang adik, Marwan.
"Ada sih 30 menit yang lalu. Gimana sekolah kamu, lancar?" Jihan balik bertanya pada sang adik sembari berdiri dan melihat ke arah ember yang dia bawa.
"Nggak salah lagi ya? kamu kan suka nyontek jangan-jangan sekarang juga masih nyontek! hi hi hi ..." Jihan menangkap mulutnya dengan telapak tangan.
Marwan mendelik kan matanya, melotot pada Jihan. "Enak aja Kak Jihan, dulu sih iya suka iseng-iseng nyontek, sekarang mah nggak! ngapain nyontek-nyontek mikir sendiri dong ... Wawan, gitu!" sambil menepuk-nepuk dadanya yang kemudian terbatuk-batuk. "Ohok-ohok!"
"Ngah ... syukuri ... sombong sih Makanya tuh batuk-batuk makan tuh!" Jihan malah mensyukuri melihat adiknya terbatuk-batuk.
"Dasar punya kakak laknat, mukanya di tolongin kasih minum kek adiknya batuk. Malah di syukur-syukurin," ucapnya Fikri yang seakan-akan membela Marwan.
"Makanya jadi orang jangan sombong, itu karena dia sombong!" jelasnya Jihan kepada Fikri yang membela adiknya, Marwan.
"Mommy lihat tuh kak Jihan malah jahatin kak Marwan!" ucapnya Fikri yang ditunjukkan kepada Sukma yang sedang menuntun putrinya.
"Nggak apa-apa Fikri, lagian ketemuannya juga jarang dan kalian itu kan saling menyayangi bukan saling membenci!" lirihnya Sukma kepada Fikri.
"Tapi kan benar, dia kan dulu suka nyontek punya orang. Dan itu fakta." tambahnya Jihan sambil melirik pada sang adik yang tengah meneguk minumnya.
"sudahlah kang jangan banyak ngomong! tuh ikannya dibersihin bisa nggak? jangan mentang-mentang anak kuliahan udah nggak bisa apa-apa--"
Plak!
Jihan menepuk punggungnya adiknya. "Enak saja, bilang nggak bisa apa-apa segala bisa nih, lihat aja!"
"Aduh, sakit. Kak jigat jahat ih." Keluhnya Marwan sambil berusaha menjangkau punggungnya yang terasa panas.
Sementara Sukma hanya tersenyum melihat kedua adiknya dan juga Fikri.
"Mommy-Mommy. Za Mayu lihat ikan." Syakila dengan bawelnya pengen melihat ikan yang berada di ember ikut-ikutan dengan Jihan yang sedang mengambilnya.
Jihan langsung menyingsingkan dengan bajunya dan mengeksekusi ikan-ikan yang berada di ember. Diar nanti Bibi yang memasaknya.
"Bi, ikannya jangan digoreng atau dimasak semua ya? sisain sebagian buat dibakar nanti oleh Virza." Pintanya Sukma pada bibi yang sedang menyiapkan bumbu.
"Oh iya, Non. Aka Bibi sisakan!" bibi pun mengangguk.
"Assalamu'alaikum ... sayang, anak-anak mana?" tanya Al yang baru saja datang dari kantor.
"Wa'alaikumus salam ... Anak-anak ada di belakang. Aku baru selesai mandi dan Sya ... aku titipkan pada Jihan." Jawabnya Sukma sambil mengaplikasikan body lotion ke kaki dan tangan.
"Oh pantesan istriku sangat segar tampak cantik dan wangi." Setelah menyimpan tasnya, Alfandi menghampiri sang istri lalu memeluknya dengan mesra yang baru saja berdiri.
"Aku mau mengambil Sya." Sukma berusaha keluar dari rangkulan suaminya.
Namun Alfandi tidak melepaskan nya begitu saja. Sebelum mendapatkan apa yang dia mau, Alfandi mencium bagian wajah Sukma dengan setiap inci nya.
"Hem ... aku mau--"
Mulut Sukma lantas di bungkam dengan mulutnya Alfandi dengan terus menelusuri setiap permukaannya dengan sangat lembut.
Membuat jantung berdegup sangat kencang beserta perasaan yang adrenalin yang semakin bergejolak. Nafas keduanya pun terasa berat dan memburu.
Setelah merasa puas, Alfandi pun melepas sang istri dan membiarkannya pergi meninggalkannya setelah menyiapkan semua keperluannya.
Sukma melirik ke arah apanya dengan ekor matanya lalu ia berkata. "Yapi Firza belum nyampe juga ya?" Sukma kepikiran putra sambungnya yang sulung. Belum datang juga ke rumah.
"Mungkin ... dia ke rumah mamanya dulu, tapi entahlah dia nggak bilang juga!" balasnya Alfandi sambil melepas kancing kemejanya satu persatu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Daun pintu di gedor dari luar. Membuat keduanya terkesiap dan menoleh ke arah daun pintu yang terdengar di gedor tersebut ....
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya agar aku tambah semangat makasih.