Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



"Assalamu'alaikum ... kak, aku pulang ...'' Jihan langsung memeluk sang kakak yang tengah memasak.


"Wa'alaikumus salam ... apa Kabar Jihan ... kakak kangen sama kamu." Keduanya berpelukan dengan erat dan melepas kerinduan.


"Baik Kak, aku juga kangen. Oh ya anak-anak di mana tanya Jihan sambil celingukan setelah melepas rangkulannya.


"Syakila sedang bermain sama papanya di atas dan yang lainnya mungkin di kamarnya masing-masing. Oh ya Ji ... kakak kemarin sudah senang, bahagia antara kamu dan Firza akur, deket. Pulang bareng saling menjaga gitu, tapi sekarang kenapa jauh lagi? pulang pun masing-masing apa salahnya sih bareng-bareng bukankah rumahnya juga sama!" Ujarnya Sukma sembari menatap sang adik yang menundukkan dirinya di kursi meja makan.


"Hem ... emangnya dia bilang apa?" Jihan balik bertanya.


"Dia nggak bilang apa-apa. Ini cuma ekspetasi Kakak aja. Apa susahnya sih dan apa salahnya sih kalian itu akur saling menjaga dan saling menyayangi seperti keluarga lainnya. Tinggal di kota orang, sama-sama kos harusnya saling menitipkan diri." Tambahnya Sukma.


Jihan terdiam sembari melepaskan pandangannya entah ke mana dan dalam pikirannya teringat pada Firza.


"Aku sama dia baik-baik aja kok Kak ... nggak ada apa-apa cuman ya ... emang begini seperti yang kakak tahu kadang kita deket terkadang nggak, tapi kami akur kok!" ungkapnya Jihan meyakinkan sang kakak.


Kemudian Jihan masuk ke dalam kamarnya setelah menemui sang adik Marwan.


Saat ini Sukma dan keluarga sedang berkumpul untuk menikmati makan malam, dihiasi dengan canda tawa.


"Apakah kalian sudah menyiapkan barang-barang yang mau dibawa besok? karena di sana akan lumayan untuk beberapa hari!" Ucapnya Alfandi setelah mengunyah ayam goreng di mulutnya.


Fikri, Marwan dan Firza mengangguk seraya berkata. Kalau mereka sudah menyiapkan semuanya dan tinggal menunggu waktunya untuk berangkat.


"Oh ya Pah, Mom bukannya kak Mimi mau ikut?" Fikri menatap pada Papa dan mommy nya.


Alfandi menoleh pada sang istri seakan-akan memberi kesempatan sang istri untuk bicara.


"Tadinya sih iya kak Mimy mau ikut, tapi karena putrinya sedang kurang enak badan jadinya batal deh." Sahutnya Sukma yang mengingat temannya yang tadinya mau ikut tidak jadi karena putrinya sakit.


Selesai makan, mereka pindah ke ruang keluarga dan berkumpul sudah mengubah di sana. Suasana rumah sakit ramai dan menghangat.


Gimana nih usaha kalian masing-masing tetap lancar bukan yang ditunjukkan kepada Firza maupun Jihan.


"Usaha ku baik-baik saja dan alhamdulillah tidak terlalu sepi dan juga tidak terlalu ramai! yang penting tetap berjalan bukan?" jawabnya Jihan mengenai jualan online.


"Kalau aku sih ... alhamdulillah kadang beberapa orang pekerja pun merasa kewalahan kalau lagi ramai." Tambah nya Firza.


"Syukur lah kalau kerjaan baik-baik saja dan bukan saya ingin kalian menekuni kerjaan kalian tanpa menyepelekan kuliah, kuliah harus nomor satu. Soal uang nomor sekian, sebab saya juga masih mampu untuk membiayai kalian." Alfandi berujar.


"Jadi kalau kalian mencari uang saku itu ... hitung-hitung mengisi waktu saja kalian daripada nongkrong gak jelas!" tambahnya Sukma yang meneruskan omongan sang suami.


"Itu benar, dari pada nongkrong-nongkrong nggak baik nggak jelas dipergunakan waktunya seperti berniaga dan lainnya yang lebih bermanfaat." Sambungnya Alfandi.


"Tapi Pah, Mom, kan nanti kalau aku udah SMP aku sekalian pesantren ... jadi sekiranya aku nggak ada waktu buat main-main ya, ataupun mencari uang saku?" Suara Fikri sambil bermain dengan Syakila.


"Ya tergantung, kalau waktunya padat antara belajar mengaji sekolah, ya sudah itu saja." Tanggapan dari Alfandi.


"Iya kata Papa itu benar, Fikri. serius aja belajar ngaji dan belajar sekolahnya. Biar menjadi orang yang berpendidikan segi nasional maupun agama." Tambahnya Sukma kepada Fikri sembari mengusap rambutnya! kebetulan kepalanya ditempelkan di atas pangkuan Sukma, anak itu biarpun sudah besar tetap saja tampak manja.


Mengaminkan apa yang menjadi cita-citanya Fikri, yang katanya pengen menjadi seorang ustad dan juga dokter.


"Aamiin semoga terlaksana ya ... semoga Allah mendengar doa kita semua dan cita-cita Fikri tercapai, menjadi dokter ataupun ustadz tentunya yang bermanfaat untuk semua orang!" Sukma mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Apapun yang kalian inginkan ataupun menjadi cita-cita akan aku dukung sepenuhnya dan semampunya dan ... yang penting kalian sendirilah yang berusaha mewujudkannya dengan cara belajar yang lebih giat lagi. Usaha itu tak akan mengkhianati hasil." Tambahnya Alfandi sambil mengedarkan pandangan pada semua yang berada di sana.


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 dan mereka pun bersiap untuk istirahat karena besok pagi-pagi sekitar jam 06.00 harus sudah berada di bandara.


Alfandi dan Sukma sudah berada di dalam selimut yang sama dan saling pelukan satu sama lain.


"Sepulangnya kita dari Bali ... aku ada urusan di luar Negeri dan aku mau aku mau kamu ikut." Kata Alfandi seraya memeluk erat tubuhnya Sukma.


Sukma mendongak menatap wajah tampan suaminya di bawah sinar yang temaram. "Lama ya di luar Negeri nya?"


"Paling sekitar 1 mingguan. Aku paling gak bisa jauh darimu lama. Makanya aku ingin kamu ikut saja!" Ucapnya sembari memejamkan kedua netra matanya.


Sukma menggerakan jari-jarinya menari-nari di area dada bidangnya Alfandi seraya menempelkan pipinya di sana. "Baiklah kalau begitu! kalau dibutuhkan ya aku ikut!"


"Kehadiranmu itu akan selalu aku butuhkan dan aku dambakan, di manapun aku berada istriku ini harus ada." Cuph kecupan hangat nan mesra mendarat di keningnya Sukma.


Sukma memejamkan kedua mata di saat bibir Al menempel di keningnya. Lalu bibir Sukma tersenyum jahat dengan isengnya menggigit pu-ting Alfandi membuat sang empu menggelinjang sambil memekik.


"Sayang, apa-apaan sih. Geli tahu, awas ya aku balas juga!" Alfandi bersiap menyerang namum Sukma yang nyengir langsung bangun dan melompat dari tempat tidur.


"Ha ha ha ... Ampun, ampun ... yank. Ampun. Aku ngantuk mau tidur." Sukma dan Alfandi kejar-kejaran di dalam kamar.


"Nggak ada ampun, sebelum aku dapatkan." Al terus mengejar sampat tempat tidur pun berantakan bagaikan kapal pecah.


Hingga akhirnya Sukma merasa capek juga, begitupun dengan Alfandi dia berhenti mengejar dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur yang sudah tidak beraturan lagi, selimut di mana! bantal di mana dan guling pun entah kemana.


"Hah ... Capek!" Suara Sukma ngos-ngosan.


Sementara Affandi berbaring terlentang menatap langit dan tampak dadanya pun naik turun tak beraturan.


Sukma juga menjatuhkan dirinya di samping sang suami dengan suara nafas yang sangat memburu. Al menolehkan kepalanya pada sang istri, lalu kemudian menggerakkan tubuhnya dan memeluk sang istri yang sangat erat.


"Hah, dapat juga dan harus bertanggung jawab nih, rasakan pembalasan ku kali ini." Alfandi melepas serangannya hingga bertubi-tubi, menyerang tak beraturan.


Tubuh Sukma meliuk-liuk geli dibarengi dengan mulut terus meracau dan tertawa cengengesan, yang akhirnya pertempuran halus pun terjadi juga. Menyatukan dua jiwa dan dua rasa yang penuh gelora, hasrat yang membuncah di kepala. Meronta butuh di manja jiwa dan raga atas dan bawah.


Hening!


Suasana malam semakin dingin membuat semakin mengeratkan pelukan dia insan yang padahal di ruang tersebut menggunakan AC. Namun semakin menyatukan dua insan yang berbeda kepala dan raga ....


.


Bersambung.