
Di suatu hari. Sukma kedatangan sahabatnya yaitu Mimy dan juga beserta suaminya yang bernama Beben yang tiada lain masih sahabatnya Sukma juga.
"Aku sudah lama ya tidak ke sini. Ini juga nih si kecil udah gede aja nih udah lincah sudah sekolah PAUD ya?" ucapnya Mimy sembari mencubit pipinya Syakila.
"Iya, ke mana aja kamu nggak pernah ke sini?" tanya Sukma sembari mendudukkan dirinya di dekat Mimy setelah menyajikan minuman dan kuenya di meja.
"Ada aja, Ama ... aku di rumah ngurus ini bocil." Mimy menunjuk balita usia yang masih berusia 2 tahun usianya di bawah Syakila.
"Gimana kabar suami mu?" suara Beben menghiasi.
Sukma mengalihkan pandangannya kepada Beben. "Dia baik ... alhamdulillah dan sekarang dia masih di kantor. Katanya sih mau ke lapangan."
"Syukurlah kalau usaha dia semakin berkembang, tidak seperti suami ku sudah jadi pegawai. Dipecat pula! ini pun sudah ngelamar sana-sini nggak diterima juga!" ucapnya Mimy sembari melirik pada sang suami.
"Sayang Syakila, ajak adek nya nih ... main ya? tapi nggak boleh jauh-jauh, tuh main boneka dan banyak lagi mainan nya kan ..." Sukma menyuruh putih kecilnya mengajak bermain putri kecil dari Mimy.
Dan mereka pun langsung bermain yang tidak jauh dari mereka berkumpul.
Sukma langsung mendudukan dirinya kembali di tempat semula, setelah menempatkan Syakila dan putrinya Mimy bermain. "Apa tadi kamu bilang, dipecat. Ben? sudah berapa lama?"
"Em!" Beben.
"Sudah 3 bulan ini dia nganggur, ngelamar sana sini nggak diterima juga. Masih mending hari-hari masih bisa Makan itu pun hasil jual perhiasan." Sambarnya Mimy dengan nada sedih.
"Ya ampun ... kenapa kalian nggak bilang sih sama aku? aku kan sering tanya chat kalian gimana kabarnya? nggak pernah bilang satu kali pun kalau kamu Ben sudah nggak punya kerjaan!" Sukma melepaskan pandangan ke arah keduanya bergantian.
"Ya, kami nggak enak lah, kamu dan suami sudah banyak membantu ku. Termasuk melunasi rumah, gantiin motor yang hilang! masa nggak punya kerjaan juga harus ngomong." Mimy kembali menjawab lebih dulu dari suaminya.
"Ya tidak apa-apa, kalau memang kami bisa membantu. Lagian kalau soal kerjaan kan siapa tahu aja ada lowongan." Sukma sedikit kecewa karena Mimy ataupun Beben tidak bercerita kalau mereka sudah tidak mau pekerjaan.
"Tadinya kami malu, Ma ... sekarang terpaksa daripada terus-terusan jadi pengangguran! niatnya ke sini ... ya mau minta tolong siapa tahu ada lowongan kerjaan gitu!" seru nya Beben.
"Iya kenapa baru sekarang kalian datang? dan minta tolong, kemarin-kemarin ke mana aja. Setelah kalian kelimpungan baru datang ke sini!" Sukma menatap keduanya silih berganti.
"Sekarang aku sudah gak punya tabungan, Ma. Perhiasan pun tinggal tuh yang dipakai anak gue giwang 1 gram aja." Mimy menunjuk pada Putri kecilnya.
Sukma menghela nafas dalam-dalam lalu bertanya yang diarahkan pada Beben maupun Mimy. "Emangnya dipecat kenapa? kamu kerja di bidang kesehatan bukan?"
"Ceritanya panjang Sukma--"
"Hooh, nggak akan selesai satu hari deh kalau diceritain. Bahkan mungkin akan berhari-hari dan hanya akan buang-buang waktu saja." Timpalnya Mimy memotong perkataan dari suaminya.
"Ya sudahlah, kalau kalian tidak ingin bercerita dan hanya akan membuat kalian terkenang dengan kesedihan. Sekarang ... kalian pergi ke dapur! makan dulu sana, karena aku sedang makan sebelum kalian datang. Nanti kalau suamiku sudah pulang! kita omongin soal kerjaan." Sukma menarik tangan Mimy dan diajakin ke dapur agar makan siang bersama suaminya.
Sementara Sukma sendiri sudah makan siang tadi sebelum mereka datang ke rumah itu.
Beben dan Mimy tidak susah disuruh makannya mereka langsung melahap hidangan yang ada. Dan Sukma bermain dengan Syakila dan juga putrinya Mimy yang tidak mau makan dan keasyikan bermain.
Ketika sore hari, Al pun sudah pulang dan mendapati di sana ada Mimi juga suaminya. Mereka mengobrol sesaat, lalu kemudian Alfandi naik untuk membersihkan dirinya dan lebih dahulu.
Beben dan Mimy membawa anak-anak ke taman belakang rumah, sembari menikmati suasana sore yang begitu indah.
"Mudah-mudahan aja di salah satu perusahaan nya Alfandi ada lowongan kerja ya!" gumamnya Beben sembari mendongak menatap langit.
"Hem, aku rasa sih seperti itu. Karena kan usahanya Alfandi bukan satu atau dua perusahaannya atau cabangnya. Lagian dari dulu juga kan aku sering bilang yuk kita ke rumah Sukma sama Alfandi, siapa tahu mereka bisa bantu memberi pekerjaan! mungkin kamu nggak akan nganggur lama!" timpalnya Mimy tampak sedikit kesal pada suaminya.
"Cuman 3 bulan My ... lagian kita tidak pernah tidak makan bukan?"
"Cuman 3 bulan kata kamu? emang iya cuman 3 bulan! tapi berapa banyak yang sudah dikeluarin? tabungan dan perhiasan, itu pun karena rumah sudah dilunasi sama Alfandi dan Sukma. Motor pun yang hilang sudah digantikan oleh mereka! makanya kita punya tabungan dan perhiasan. Emangnya lo pikir dalam 3 bulan kita nggak harus makan? tuh anak gak minum susu? nggak minta jajan, belum orang tua mu yang tidak mengerti anaknya gak punya kerjaan!" Mimy merepet bak petasan.
Benar kali ya? kalau debat antara laki-laki dan perempuan gak mungkin bisa menang deh itu laki-laki. Laki-laki berkata 1-2 patah kata-kata saja, sementara si perempuan panjang ... sepanjang jalan kenangan. Dan lebarnya diibaratkan lautan.
Membuat Beben terdiam pipinya terkunci tidak dapat berkata-kata lagi, percuma! ngelawan Mimy yang mungkin nggak akan habis sampai besok hari.
"Masih mending orang tuaku, biarpun orang tuaku nggak punya. Dia ngertiin anaknya lagi susah dan mantunya nggak ada kerjaan! mana pernah merongrong kita." tambah lagi Mimy dengan bibir yang komat-kamit.
"Sudah deh ... kamu itu kalau udah menggerutu nggak ada hentinya! malu, nggak lihat tempat juga." Kata Beben sambil melihat kanan kiri.
"Kenapa mesti malu? emang begitu kenyataannya kok!" Mimy lagi yang belum puas bila belum merembet kemana-mana.
Sukma yang menyiapkan pakaian ganti buat suaminya, dengan setia menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.
Setelah 15 menit kemudian Alfandi pun keluar dari tempat acara ritualnya, dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia berjalan keluar melihat sang istri duduk di tepi tempat tidur.
"Mereka sudah lama datang?" selidiknya Alfandi sambil mengenakan pakaiannya.
"Sedari tadi siang. Mereka datang ... katanya mau menanyakan siapa tau di perusahaan mu ada lowongan kerja." Jawabnya Sukma sambil membantu mengenakan kaosnya.
"Kerjaan, buat siapa?" Alfandi malah bertanya dan bukannya menjawab.
"Untuk Beben. Katanya sudah tiga bulan lebih dia menganggur, ngelamar kerja kemana-mana gak diterima." Jawabnya Sukma kembali.
"Lho, kan di punya kerjaan yang sudah enak. Kenapa sekarang mencari kerjaan?" Alfandi merasa heran.
"Entah. Aku juga tidak tahu, yang jelas seperti itu. Habis tabungan. Perhiasan di pakai buat sehari-hari. Aku bilang kenapa gak dari mula cerita, kenapa baru sekarang? Katanya malu." Tambah lagi Sukma sembari mengaplikasikan minyak wangi ke tubuh suaminya.
"Hem ... ya sudah nanti kita ngobrol kan." Kata Alfandi sembari merangkul pinggangnya Sukma ke dalam pelukannya.
"Eeh, bukannya temui tamu!" Sukma melepaskan diri dari suaminya yang malah memeluknya erat.
"Biar saja, mereka biarkan menginap. Orang sudah lama gak menginap di sini." Alfandi semakin merangkul erat tubuh sang istri.
"Cuph." Di kecup mesra keningnya lalu pipi kanan dan kiri yang tak luput dari sentuhannya.
"Sudah ach. Nanti juga ada waktunya." Sukma kembali melepaskan diri.
Namun Alfandi tak jua mengindahkan permintaan sang istri. Dia malah nyosor aja menjangkau bibirnya Sukma yang ranum dan natural ....
.
Bersambung.