Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Siapa dirimu



Selesai makan, Alfandi langsung berangkat kerja. Tanpa menunggu sang istri lebih dahulu! dia hanya pamitan kepada kedua putranya saja.


"Oke, Papa berangkat kerja dulu ya? baik-baik di rumah! nanti kalau kamu keluar, jangan lupa sama sopir saja. Dan pulangnya pun dijemput, oke?" Alfandi menatap kedua putranya bergantian terutama ke arah Firza.


"Iya, Pah," jawabnya Firza singkat.


"Fikri juga bosen, Pah! kalau di rumah terus, boleh nggak kalau ke rumah mommy--"


"Nggak boleh, apalagi mama ada di rumah." Firza langsung memotong perkataan dari sang adik.


"Aah ... paling mama bentar lagi juga berangkat lagi!" keluh Fikri dengan nada lesu.


Alfandi mengarahkan pandangan, menatap kedua putranya seraya menghela nafas panjang. "Kalian kan besok ketemu sama mommy, jadi ... sekarang di rumah saja ya?"


"Ya ... di rumah." Keluh lagi Fikri.


"Fikri kan bisa main ke tempat teman! teman yang dekat juga banyak bukan?" tambah Alfandi menatap putra bungsunya, Fikri.


"Main saja sama temen-temennya, ngapain ke tempat Mommy mu itu?" ketusnya Firza.


"Iih ... Kakak, di rumah juga ngapain? mami juga gak akan peduli sama kita!" timpalnya Fikri sambil mencibirkan bibirnya.


"Sudah-sudah, Papa berangkat dulu! kalian yang akur, jangan bertengkar?" pinta Alfandi sambil berjalan mendekati mobilnya.


"Kau jangan ke rumah mommy mu itu, nanti mama curiga!" ucapnya Firza, setelah Alfandi tidak ada di sana. Kemudian dia pergi meninggalkan adiknya di teras yang tampak kesal tersebut.


Bi Nunung, si kepala asisten. Melamun seraya mengerutkan keningnya, memikirkan siapa orang yang dipanggil Fikri dengan sebutan mommy?


"Sepertinya ada yang aneh dengan sikap mereka, sudah jelas-jelas, Nyonya Vaula memang sudah berubah dari beberapa tahun yang lalu, seakan tidak peduli dengan suami dan anak-anaknya kasihan juga mereka!" gumamnya dalam hati.


Vaula yang kini sedang berada di kamarnya, tengah berbaring di atas tempat tidur. Menatap langit dengan tatapan kosong dan bibir yang mengulas senyuman.


Di ruang matanya, terbayang setiap yang dia lakukan dengan Yudi, hubungan terlarang berapa tahun ini masih tetap mengasikan bagi dia. Dan belum terbesit sedikitpun kalau hubungan itu semuanya dosa yang dia lakukan berkepanjangan, tanpa menyadari bahwa dia adalah seorang istri dan ibu dari kedua putranya.


Entah mau sampai kapan hubungan ini akan terus terjalin? sebuah skandal yang tetap mereka nikmati, merasa bersalah atau berdosa sedikitpun.


Beberapa saat kemudian, Vaula bangkit dan menyuruh asistennya untuk menyiapkan beberapa barang untuk dia bawa pergi ke luar kota.


"Emangnya mau ke mana lagi! bukankah, Nyonya baru saja pulang?" tanya bibi kepada sang majikan sambil mengemas barang-barang yang sang majikan pinta.


"Saya mau ke luar kota ada urusan, mungkin untuk beberapa hari," Jawabnya Vaula sembari bersolek di depan cermin tersebut


.


"Bukannya besok ... adalah pengambilan raport anak-anak, nyonya" kata bibi kepada Vaula.


"Emangnya kenapa? kan biasanya juga saya tidak tahu soal itu ada papanya kan Vaula sekilas.


"Ya ... kali saja untuk saat ini Nyona? mau mengambilkan raport untuk anak-anak!" sambung bibi sambil menutup koper milik Paula.


"Hi ... siapa dirimu? ngatur-ngatur saya? kepergian saya ini lebih penting untuk masa depan mereka juga, saya tidak mau ya, kalau nanti hidup di masa tua saya susah, apalagi ketika anak-anak membutuhkan banyak biaya yang lebih dan saya juga tidak mau tergantung sama suami saya, ngerti?" Vaula mendelikkan matanya pada bibi yang jauh lebih tua darinya tersebut.


Bibi menunduk begitu dalam,


sembari berkata. "Maafkan bibi nyonya, bila menyinggung nyonya. Dan Bibi sudah lancang?"


"Sudah, pergi sana? kalau semua sudah beres, sekalian suruh yang lain untuk membawakan koper tersebut ke dalam mobil saya." Titahnya Vaula.


"Ba-baik Nyonya!" Bibi mengundur diri lalu memutar badannya. meninggalkan kamar tersebut, seraya menarik koper miliknya. Setelah berada di dekat tangga, Bibi, memanggil asisten yang lebih muda untuk langsung mewakili tersebut ke dalam mobilnya Vaula.


"Ya Allah ... sadarkan dia? sadarkan majikan hamba ya Allah, keluarga nya membutuhkan dia. Semoga merubah dan meluluhkan hati Nyonya ya Rob ..." gumamnya Bibi dalam hati seraya mendongakkan kepalanya ke langit-langit.


...---...


"Non-Non?" panggil Bi Lasmi pada Sukma yang berada di dalam kamarnya.


Blak ...


Pintu terbuka, Sukma mendapatkan bi Lasmi berdiri di ambang pintu. "Ada apa, Bi?" tanya Sukma dengan lirih.


"Itu, Non. Di bawah ada Siddik," jawabnya bibi.


"Siddik, siapa dia?" tanya Sukma sembari mengerutkan keningnya.


"Siddik itu tetangga Bibi. Dia disuruh tuan untuk menjadi sopir sekaligus yang akan mengajarkan, Nona belajar nyetir, katanya." Sambung bibi dengan hormat.


"Oya, kok tuan gak bilang ya sama aku? ya sudah sebentar aku turun! aku mau belanja buat oleh-oleh!" kata Sukma sambil memutar tubuhnya masuk kembali ke dalam tanpa menutup pintu.


"Kalau begitu ... Bibi tinggal dulu ya?" balas bi Lasmi sembari menutup pintu kamarnya Sukma.


Sukma bersiap-siap untuk pergi berbelanja, tidak lupa dia mengenakan perhiasan mas kawin dari Alfandi yang biasanya yang dipakai itu cuma penting dan cincin. Sekarang dia kenakan juga kalungnya juga gelang membuat penampilan dia semakin mewah rambut yang dibiarkan tergerai dan setelan panjang yang pas di tubuhnya.


Kini Sukma sudah berjalan menuruni anak tangga, kepalanya celingukan mencari kedua adiknya.


"Bi, Jihan sama Marwan nya mana?" tanya Sukma pada bi lasmi yang sedang berdiri dekat wastafel.


"Neng Jihan tadi masuk ke dalam kamarnya! kalau dan Marwan biasa, di belakang sedang memberi pakan ikan. Biar Bibi panggilkan." Jawabnya bibi sambil mengeringkan tangannya.


"Bi? Bibi ... biar saja aku sendiri yang panggil, dilanjutkan saja pekerjaan Bibi. Siapa yang tadi katanya sedang menunggu itu?"


"Oh Siddik, dia ada di depan!" bibi menunjukkan ke arah depan, dimana tamu yang bernama Siddik itu sedang menikmati kopi yang dia suguhkan.


"Oh iya, aku mau panggilan adik-adikku dulu sebentar!" Sukma membawa langkahnya menuju ke kamarnya Jihan.


"Jihan? ikut kakak yu belanja?" pekiknya Sukma yang berdiri di depan pintu kamar Jihan.


Tidak lama kemudian pintu kamar Jihan pun terbuka dan anak itu seperti biasa dengan penampilan nya yang selalu sopan. "Emang mau belanja ke mana, Kak?" tanya Jihan.


"Kemana sajalah, apa ke Alfamart. Indomaret juga boleh! swalayan mungkin, beli buah-buahan," jawabnya Sukma.


"Asik ... aku mau sekalian belanja boleh gak?" Jihan menatap sang kakak.


"Iya boleh!" Sukma mengangguk dan sembari menunjukkan senyumnya.


"Aku ada uang kok, buat belanjanya, paling beli makanan sama minuman." Lanjutnya Jihan sembari kembali ke rumahnya untuk mengambil uang.


"Jihan ...uang kamu simpan aja dulu, kalau kamu mau belanja ada kok uang di Kakak," ucapnya Sukma.


"Nggak pa-pa Kak? aku juga ada uang kok! dari Abang kan dan Abang juga bilang sebagian buat di tabung dan sebagian lagi buat aku jajan!"


"Iya nggak pa-pa, itu disimpan aja dulu buat satu waktu nanti kalau Kakak nggak ada uang lebih, bisa itu dipakai buat kebutuhanmu sendiri." Lirihnya Sukma.


"Baiklah kalau begitu," Jihan tidak jadi mengambil uangnya, dia langsung keluar dari kamar tersebut.


"Panggil Marwan sana? katanya lagi di kolam!" perintah Sukma.


"Mau diajak, kan Kak?" Jihan malah bertanya pada sang kakak.


"Iya dong, di ajak. Kecuali kalau dia nggak mau, ayo buruan? Kakak mau menemui orang di depan! katanya orang itu buat menjadi sopir sekaligus untuk mengajarkan Kakak nyetir."


"Wih ... Abang baik banget ya?" Jihan senyum bahagia. Dia bersyukur bahwa kakaknya sudah mempunyai suami yang baik.


"Iya alhamdulillah. Sudah sana? panggilkan Marwan." Sukma langsung mengayunkan kedua kakinya dengan teratur menuju teras ....


.


.


...Bersambung!...