
Firza langsung membawa Jihan pulang ke kosannya, setelah melalui beberapa proses dengan pihak yang berwajib dan juga pihak rumah sakit untuk visum dan bukti.
Kepulangan Jihan disambut oleh temannya Sri yang tampak kaget melihat keadaan Jihan yang di tanya pun tidak menjawab.
"Za, kenapa Jihan? gak kenapa-kenapa kan dia! terus kamu temukan dia di mana?" Sri tampak cemas dan khawatir pada sang sahabat.
"Ceritanya sangat panjang dan nggak akan selesai 1 sampai 2 hari pun." Jawabnya Firza ngomong seenaknya saja. Kemudian dia mengikuti Jihan dan berdiri di depan pintu kamarnya.
Sri yang bengong juga mengikuti langkahnya Firza. "Maksud kamu gimana sih? aku nggak ngerti deh aku kan bertanya kamu temukan dia dimana dan ada apa yang terjadi?"
Firza menatap dingin ke arah Sri. "Kan aku sudah bilang, kalau ceritanya sangat panjang dan gak akan selesai biarpun berhari-hari cerita, udahlah jangan banyak tanya lagi."
Sri tidak lagi memperpanjang pertanyaannya! melihat ekspresi wajahnya Firza saja sudah menakutkan baginya.
Lalu kemudian Firza mengetuk-ngetuk pintu kamar Jihan yang sepertinya dikunci dari dalam.
"Jihan, mau pulang nggak aku antar!" pekiknya Firza.
Dalam beberapa saat tidak ada sahutan dari Jihan tidak ada suara ataupun pergerakan. Dalam hati Firza cukup khawatir, dia takut kalau Jihan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Jihan. Dengar aku tidak? kamu mau pulang nggak? aku antar mumpung aku masih berbaik baik hati nih ... dan kamu jangan pernah macam-macam di sana!" teriaknya kembali Firza dan suaranya sampai terdengar ke kosan-kosan lain. Sehingga ibu kost yang sedang mengecek anak-kost nya pun mendatangi biliknya Jihan.
"Ada apa ini?" tanya ibu kos menatap ke arah Firza dan Sri yang berdiri di depan pintu kamarnya Jihan.
Sementara Sri hanya menaikkan kedua bahunya saja, karena dia pun tidak mengerti apa yang sudah terjadi kepada Jihan.
"Maaf, saya saudaranya dan saya ingin mengantarkan Jihan pulang! karena saat ini dia sedang mengalami depresi--"
"Apa! depresi? maksud kamu apa sih?" lagi-lagi Sri bertanya dan yang dia dapatkan hanya tatapan mata yang tajam dari Firza yang tidak ingin ditanya.
"Emangnya ada apa? bukannya Jihan baik-baik saja dan dia kenapa sih? apa apa yang membuat dia depresi?" ibu kos mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Dia sedang putus cinta, Bu ... kekasihnya mengkhianati makanya saya ingin membawa dia pulang karena saya takut akan terjadi apa-apa di sini!" jelasnya Firza yang kembali mengetuk daun pintu kamarnya Jihan.
"Buka pintunya? kalau tidak aku dobrak," teriaknya kembali Firza sambil terus menggedor daun pintu tersebut.
"Nggak tahu apa, badan sakit rasanya sehabis mendobrak pintu kamarnya si Excel itu, rumahnya kan bukan kaleng kaleng." gerutunya Firza dengan suara yang sangat pelan.
Sementara Jihan di kamarnya, sedari masuk dia langsung menangis sambil memeluk guling dia benar-benar tidak menyangka kalau Excel bisa sejahat itu dan tega ingin menodainya. Masih untung Firza mencari dan menemukannya! kalau tidak apa yang akan terjadi? pasti sekarang ini dia sudah hancur, harga dirinya pun sudah tercabik-cabik oleh sang kekasih yang bernama Excel.
Jihan menangis tersedu. Kedua bahunya pun bergoyang rasanya dia ingin menjerit tapi tidak enak didengar orang, dan otomatis akhirnya akan ketahuan. Beberapa kali teriakan dari Firza dia abaikan. Dan setiap kata yang dia ucapkan dia dapat dengar dengan jelas.
Lalu kemudian Jihan mengangkat wajahnya dan berdiri sejenak, duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya yang banjir dengan air mata diusap dengan kasar dengan menggunakan kerudungnya.
"Aku nggak boleh kayak gini, nanti yang lain pada tahu dan bertanya-tanya. Masalahnya untuk saat ini aku belum ingin cerita apapun kepada mereka. Sepertinya aku harus pulang aja dulu istirahat di sana! aku masih belum siap bertemu banyak orang." Jihan bergumam sendiri.
Tangan Jihan menyambar tasnya kembali, tapi sebelum melanjutkan langkahnya dia baru ingat kalau dia masih memakai pakaian yang tadi! yang kancingnya rusak dan masih memakai sweater nya milik Firza.
Kasihan juga Firza, pemuda itu hanya mengenakan kaos oblong saja mana perjalanan jauh! sekarang juga mau mengantarnya pulang. Sehingga Jihan buru-buru mengambil setelan pakaian di bawanya ke kamar mandi.
Dia sengaja membawa cucian kotornya ke rumah karena takutnya dia agak lama di sana. Dengan tergesa-gesa langkah Jihan pun mendekati pintu kamarnya.
Blak ....
Jihan memperlihatkan berwajah yang sembab dan kusut. Pucat Paseh.
Sri dan yang lain yang baru saja datang, kaget melihat kondisi nya Jihan yang tampak terpuruk dan ibu kost pun langsung menghampiri.
"Kamu kenapa Jihan? putus cinta itu hal yang biasa. Jangan sampai terpuruk apa lagi melakukan sesuatu yang salah. Laki-laki masih banyak, yang lebih baik juga banyak! jangan terpaku pada satu laki-laki yang tidak mencintai kita! cari yang lain." Ujar ibu kost sambil menatap wajahnya Jihan.
Namun Jihan hanya tersenyum samar dan mengangguk pelan. Dan Firza yang melihat Jihan menenteng tas pakaian langsung dia sambarnya.
"Ayo buruan pulang. Nanti keburu malam sekarang aja dah pukul 08.30 Mana belum makan lagi," Firza langsung saja berjalan menjauhi kamarnya Jihan.
Sementara Jihan hanya bersalaman saja kepada ibu kost dan juga teman-temannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sehingga orang-orang di sana menggelengkan kepalanya, Jihan yang biasanya ceria dan ramah tiba-tiba seperti ini.
Jihan berjalan menuju motornya Firza dan tanpa berkata-kata dia pun memberikan sweater miliknya Firza.
Yang langsung disambut oleh Firza dan dipakainya karena memang dia sudah kedinginan apalagi kena angin.
Kini mereka sudah duduk di atas motor dan Firza tidak lupa mengenakan helmnya, yang lalu kemudian melajukan motornya dengan sangat cepat.
Namun setelah beberapa puluh meter perjalanan, Firza berinisiatif sendiri menghentikan motornya di depan sebuah warung makan.
"Aku lapar belum makan dari pagi," suaranya Firza sembari menoleh ke belakang di mana Jihan tampak melamun dan air matanya pun terus lolos mengalir di pipi.
Tanpa bicara, Jihan pun turun sembari mengusap pipinya menghilangkan jejak air mata yang terus saja menetes ke pipi tanpa dia sadari.
"Ikuti aku! kamu jangan nangis terus! nanti dikira saya menculik kamu lagi, atau saya ngapa-ngapain kamu lagi!" ucapnya Firza sembari berjalan memasuki warung makan tersebut dan langsung memesannya.
Kemudian Firza menoleh pada Jihan yang kini sudah duduk di samping dia, wajahnya tampak lesu. Tidak bergairah! pucat. "Kamu mau makan apa? pasti seharian belum makan kan?"
"Pagi sudah!" gumamnya Jihan sangat singkat.
"Iya itu pagi. Sekarang kamu harus makan biar ada tenaga! tidak lagi seperti itu." Kata Firza dengan nada datar, kemudian dia memesankan mana untuk Jihan! setidaknya dia tahu apa kesukaannya Jihan.
"Tahu nggak? tubuh aku ini berasa remuk sekali gara-gara tadi. Mendobrak pintu kamar si Excel itu. Mana dari pagi kelimpungan mencari kamu, di chat nggak dibalas ditelepon nggak diangkat. seolah-olah kamu itu tidak membutuhkan pertolongan! kalau tahu gitu caranya sudah aja nggak usah tolongin!" ungkap Firza ketus.
Jihan mengalihkan pandangannya kepada Firza dengan tatapan dingin ia berkata. "Kamu itu niat nolong nggak sih? kalau nggak niat ya udah, biarin aja! paling aku mati bunuh diri setelah kejadian itu!"
"Ya terserah, kalau mau mati bunuh diri. Kau itu tidak bersyukur ya? sudah ditolong malah begitu. Dan masih mending aku masih bisa nolongin. Kalau aku terlambat gimana, Terus setelah kejadian kamu mau bunuh diri? Oke sana kamu bunuh diri! gue tidak perduli," tantangnya Firza.
Membuat air mata Jihan kembali lolos keluar dari bendungannya. Namun tanpa suara. Jihan hanya bisa menunduk menyesali kenapa dia terlalu percaya sama Excel ....
.
Bersambung