
"Sebentar lagi rumah ini akan sepi banget, tanpa ada anak-anak! satu persatu keluar dari rumah ini!" ucap Sukma melirik suami yang tengah berbaring di sampingnya.
"Memang begitulah kalau mereka menempuh pendidikan yang jauh dari rumah dan memang itu sudah lumrahnya. Kalau mereka di rumah terus berarti mereka takkan berkembang!" jawabnya Malik seraya merubah posisi dirinya menjadi berbaring miring menghadap sang istri.
"Iya benar! kalau tetap di rumah ini tidak akan berkembang dan tidak akan mandiri! Haaaah ..." Sukma menghela nafasnya dalam-dalam. Angannya melayang ke angkasa disertai pandangan yang kosong menatap langit-langit.
"Nah ... itu makanya kita harus terima kalau di saat kita tidak ada anak, ingin punya anak! tapi setelah punya anak ... mereka besar, mereka pun meninggalkan kita. Dengan kesibukannya masing-masing." Lanjut Alfandi sembari menggerakkan tangannya mengelus pipi Sukma.
"Biarlah anak-anak pergi dan mandiri, asal jangan kita yang terpisah apalagi mencari jalan sendiri, aku sangat membutuhkan mu!" Alfandi mendekat dan seakan berbisik.
Sukma pun merubah posisi tidurnya berbaring-baring juga menghadap ke arah sang suami. Bibirnya membentuk sebuah senyuman yang indah.
"Emang siapa yang ingin kita terpisah? aku nggak pernah inginkan kita berpisah. Biarpun aku marah sama kamu nggak pernah terbesit sedikitpun keinginan untuk berpisah. Akan tetapi terkecuali, kalau kamu memang sudah tidak menginginkan ku lagi." Sukma dengan lirih dan membelai rambutnya Alfandi dengan lembut.
"Aku pun tidak pernah menginginkan itu sayang. Aku ingin hanya kamu yang terakhir dalam hidupku. Menemani sampai masa tuaku! sampai maut memisahkan! biarlah anak-anak mencari jalannya sendiri, tapi kita berdua tidak akan pernah sendiri," Alfandi mengulum senyuman.
"Gombal." Suara Sukma yang lalu menghilang dengan seiring tertutupnya tubuh mereka dengan selimut.
Suatu hari Marwan berpamitan untuk pergi ke Bandung karena kuliahnya akan di mulai.
"Ya sudah, hati-hati ya? pandai-pandai menjaga diri, pandai menempatkan diri mu di mana pun berada, dan jangan lupa jaga komunikasi yang baik dengan keluarga!" pesannya Sukma sembari memeluk sang adik.
"Iya kak, akan aku ingat pesan kakak!" kemudian Marwan berpamitan kepada Alfandi.
"Oke hati-hati ya, yang betah dan baik-baik saja di saja! yang benar ... yang serius belajarnya biar menjadi orang yang seperti kamu mau!" pesannya Alfandi pada Marwan.
"Tentu, Bang ... akan selalu kuingat! karena aku ingin selperti Abang jadi arsitek!" Marwan tersenyum lalu menjabat tangan sang kakak ipar.
Biarpun pagi masih buta dan matahari boro-boro penampakan sinarnya justru masih malu-malu bahkan bersembunyi di balik awan kelabu. Di atas langit yang masih gelap, oleh karena hari masih dibilang gelap gulita dan waktu pun masih menunjukkan pukul 04.45. Suara adzan pun masih ada yang berkumandang.
Marwan berangkat sepagi itu karena dia mau langsung ke kampus dikarenakan sudah ada jadwal untuk dia kuliah. Tadinya mau berangkat dari kemarinnya ... namun masih kangen dengan keluarganya di sini.
"Assalamu'alaikum ... semuanya doakan aku pergi ya!" Marwan melambaikan tangan sembari memasuki taksinya yang sudah siap sedari tadi.
Yang tadinya mau diantarkan sama sopir ke Bandung! namun Marwan menolak dengan alasan biarlah ini hari pertama dia mencoba untuk mandiri sudah cukup kemarin waktu ospek antar jemput sama sopir, bak berasa menjadi anak orang kaya.
"Wa'alaikum salam ... hati-hati ya ... jangan lupa komunikasi dijaga dan ingat kewajiban mu juga. Jangan lupa yang 5 waktu di jaga." Balasnya Sukma sembari melambaikan tangan pada sang adik dengan rasa haru yang menyelimuti hati, seiring doa yang dipanjatkan semoga adik-adiknya di manapun berada terjaga dan dilindungi.
Kemudian Sukma dan Alfandi pun masuk ke dalam rumah, setelah taksi yang membawa Marwan telah menghilang.
"Ayo sayang masuk? pagi masih gelap!" Alfandi meraih tangan Sukma dan dituntunnya ke dalam.
"Rumah ini sekarang semakin sepi ya! yang ada hanya akan ada celotehan Syakila saja!" Sukma mengedarkan pandangan ke setiap ruangan.
"Ya!" Alfandi sembari mengembuskan napasnya dengan panjang.
Kemudian mereka pun meneruskan langkahnya menuju lantai atas dan kembali ke kamar. Sukma memilih untuk beres-beres membuka-buka gorden kamar, menyapu dan lainnya.
Sementara Alfandi sudah siap untuk nge-gym. Di ruang sebelah yang dikhususkan untuk nge-gym dirinya dan anak-anak kalau lagi di rumah.
Selanjutnya Sukma turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan suaminya, dia dan juga Syakila! membantu bibi yang mau mengerjakan pekerjaan lainnya.
Kalau siang sih sepulang sekolah Syakila, ada Mimy yang bantu-bantu bibi memasak buat makan malam. Kebetulan Mimy pun disediakan rumah oleh pihak perusahaan yang tidak jauh dari rumahnya di sekitar sini agar tidak terlalu jauh tempat tinggalnya dengan kerjaan.
Alfandi pun sedang mengusahakan agar Beben dipindahkan kerjanya ke daerah tempat tinggal mereka. Akan tetapi sampai saat ini rekomendasinya masih diproses.
Kemudian Sukma langsung bergegas membangunkan Putri kecilnya, setelah sarapan pun siap di meja.
"Sayang bangun ... Sudah jam berapa nih! nanti sekolahnya terlambat!" suara Sukma sembari membuka-buka gorden sehingga sinar matahari pun masuk ke dalam kamar tersebut.
Tampak Syakila menggeliat nikmat, namun kembali memeluk gulingnya dan terlihat masih ngantuk. Sehingga kedua bola matanya kembali terpejam.
"Sayang ... ayo bangun. Sudah siang, nanti nggak dianterin Mommy sama papa lho. Kalau kesiangan. Biar tante Mimy aja ya yang jemput!" Sukma mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan suaranya ke telinganya Syakila.
"Mommy, Kila masih ngantuk mata Kila nggak bisa dibuka, ngantuk banget ...."
Sukma menarik kedua sudut bibirnya lalu mengibaskan selimut dan memangku anak itu di bawanya ke kamar mandi dengan niat langsung mau dimandikan.
Dan setelah terkena air! barulah anak itu tampak segar dan membuka kedua matanya sembari bergidik dingin. "Berrrr dingin Mommy ... dingin."
"Iya ini kan mandi nya juga pakai air hangat! bukan air dingin, segar kan kalau udah mandi?" ucapnya Sukma sembari menggosok tubuhnya dengan sabun.
Setelah Syakila sudah siap dan wangi, tas sekolah pun sudah siap tinggal berangkat saja! tinggallah Sukma mengurus baby besarnya. Lagian dia pun belum menyiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit sebagai kepala suster di bawah naungan perusahaannya Alfandi juga.
Pas Sukma masuk ke dalam kamar, beriringan dengan keluarnya Alfandi dari kamar mandi, rupanya dia baru saja selesai mandi.
"Baru selesai mandinya?" sapa Sukma sembari mengayunkan langkah mengambil pakaian Alfandi yang berdiri bertelanjang dada.
"Iya sayang," lalu kemudian mengenakan semua pakaiannya termasuk pakaian formal ngantor. Seperti jas dan dasi untuk di awal saja, nanti juga kalau udah nyampe di kantor atau di lapangan, jas juga dasi tidak berlaku! dilempar. Disimpan menjadi penunggu kursi.
Kini Alfandi sudah rapi dan tinggal menggunakan aksesorisnya saja. Sementara Sukma bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar 15 menit kemudian. Sukma sudah kembali dengan mengenakan kimono yang menimbulkan tatapan sangat meneliti dari sang suami.
"Gitu amat tatapannya, kayak orang baru lihat aja! lihat tuh penampilannya udah rapi dah tinggal cap cus ngantor." Sukma mengulum senyumnya disaat suaminya menatap penuh rasa penasaran.
"Habis selalu bikin penasaran sih! ha ha ha ..." Alfandi sambil mendekati dan menggoda sang istri dengan cara ingin mencium wajahnya yang langsung di hadang dengan tangannya.
"Apaan sih ... udah siang ... nanti kesiangan!" tangan Sukma membelokan wajah Alfandi ke samping.
"Ha ha ha ... bentar saja, cuman celup doang!" goda Alfandi kembali.
"Aah nggak mungkin, nggak mungkin celup doang. Lagian emangnya ... Oreo apa dicelup-celup? dah ach aku mau siap-siap!" Sukma mendorong punggung Alfandy agar duduk di sofa kembali.
"Aah punya istri jahat, nggak mau melayani suami! jahat sekali." Alfandi merengut yang akhirnya tertawa kembali.
Karena sudah siap. Sukma dan Alfandi keluar dari kamarnya dan Sebelum turun Sukma menjemput dulu putri kecilnya yang masih berada di dalam kamar! lantas Sukma menjinjing tasnya dan Alfandi menuntun tangan kecil itu.
Setelah sampai di lantai dasar dan mereka bertiga mendatangi meja makan untuk sarapan.
Sukma terlebih dulu mengambilkan buat sarapan suaminya yang lalu kemudian untuk Putri kecilnya yang menggemaskan itu. Lalu kemudian mereka pun tanpa membuang waktu menikmati sarapannya dengan ditemani dengan secangkir susu hangat ....
.
Bersambung.