
Setelah beberapa tahun. Alfandi dan Sukma begitu sangat bahagia apalagi dengan kehadiran Syakila yang lucu dan dan sekarang sudah berusia 3 tahun dan sedang lucu-lucunya.
Firza kuliah di luar kota. Jurusan ekonomi. Begitupun dengan Engan Jihan yang juga kuliah di fakultas pendidikan.
Biarpun mereka berdua kuliah di satu kota, tapi mereka jarang bertemu karena kesibukannya masing-masing kecuali pulang ke kediamannya Sukma dan apa ini baru mereka ketemu dan dapat berbincang juga berkumpul.
“Yank, aku capek dan hari ini Syakila rewel banget,” ucap Sukma sambil meregangkan bagian tubuhnya yang terasa kaku dan pegal.
“”Sudah di beri obat kan sayang?” selidiknya Alfandi sambil menatap dan mengusap pucuk kepalanya Syakila yang sedang tidur tampak lelap.
“Sudah aku beri obat kok. Panas nya memang dah turun ... Cuma tinggal rewelnya saja kalai.” Tambahnya Sukma.
Alfandi berjalan mendekati sang istri sambil membuka jasnya yang lantas di bantu oleh sang istri. “Nanti ... aku pijit tubuhnya ya, setelah aku mandi.”
Sukma memeluk sang suami dan mencari kenyamanan di sana. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang nya Alfandi.
“Istri ku lagi ingin di manja nih ... hem ... penat kah sayang?” Alfandi membelai rambutnya Suka dan tangan satunya membalas pelukan sang istri.
Sukma mendongak. “Nggak boleh ya, bermanja sama suaminya? Masa aku harus manja sama suami orang ... gak etis banget sih?”
“Shuttttt ... siapa bilang tidak boleh dan sembarangan saja manja sama suami orang. Aku bunuh dia kalau berani begitu,” ucap Alfandy sambil menjepit dagunya sang istri dengan gemas.
“Hem ... habis!” sukma mencabik kan bibirnya ke depan bikin Alfandi bertambah gemas dan lalu mengecupnya dengan lembut nan mesra.
Kedua tangannya Alfandi membingkai wajahnya Sukma sambil menyatukan bibir mereka. Sejenak memberi jarak sambil menatap lekat satu sama lain. Bersitatap dengan penuh perasaan. Alfandi kembali membungkam mulutnya
Sukma yang terbuka sehingga Al pun lebih leluasa mengeksplor di dalamnya dengan lidah, mengambil oksigen yang ada sehingga Sukma merasa pengap dan sesak akibat kehabisan oksigen dalam dirinya.
Sukma mendorong dada Al agar memberinya ruang untuk bernafas. Al pun membiarkan Sukma menghirup udara yang sebanyak-banyaknya dari sekitar, lalu menarik sang istri ke atas tempat tidur tanpa melepas rangkulannya dan dengan nakalnya meremas bokong sang istri yang berisi itu.
Kini mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur, Al mengungkung tubuh istrinya yang kin mengenakan piyama berwarna merah hati.
Tangan Al sudah mulai traveling di tempat-tempat favoritnya. Seperti bermain di puncak himalaya yang sudah terekspos keindahannya tanpa penghalang sedikitpun.
Sukma mencoba mengalihkan konsentrasinya Alfandi. “Em ... bukannya mau mandi?”
“Nanti sayang. Tanggung nih, sebaiknya kita selesaikan dulu sampai tuntas. Mumpung Syakila bobo.” Al membuka kemejanya dengan tergesa-gesa. Yang di bantu oleh sang istri.
Karena Sukma pun merasa ada dorongan yang menuntut, hingga akhirnya ia pun pasrah dengan kemauan sang suami yang meminta haknya mumpung si kecil sedang bobo.
Kurang lebih tiga puluh menit Al membajak sawah yang kebetulan banyak airnya. Sehingga pembajakan pun dengan sangat lancar dan tidak ada gangguan sedikit pun. Keduanya sangat menikmati hingga merasakan puncaknya membuat mereka melayang ke alam nirwana saking asiknya dengan bermain di ladang yang seharusnya di rawat dengan baik.
“Oh ... nikmat nya ... tidak berasa capek sayang,” cuph kecupan mesra mendarat di kening dan pipi kanan juga kirinya Sukma. Dan langsung bangkit setelah melepas benda pusaka dari tempatnya. Menyambar bokser nya yang berceceran di lantai.
Sukma pun bangun perlahan, sambil menatap sang suami yang bergegas memasuki kamar mandi. Sukma pun lalu turun setelah kembali lengkap dan merapikan tempat tidurnya yang bagai kapal pecah.
“Mommy-mommy ... ngah ... mommy, mau endong, mommy ... hik-hik-hik.” Suara cadelnya Syakila yang baru saja bangun tidur.
Sukma langsung menoleh dan ... untung saja ritualnya dengan Al sudah selesai. Jadi tidak terganggu sama sekali. “Iya sayang ... sudah bangun bobo nya.”
Wanita cantik itu langsung mengangkat putrinya tersebut. Di gendong dan abing-abing nya. “Jangan rewel dong sayang ... mommy jadi pusing dan tidak mengerti apa maunya sayang,” Sukma mengusap punggungnya Syakila yang berada dalam pelukannya.
“Ngeh ... ngeh ... ngi-ngi ngi ... hik-hik-hiks.” Kembali suara Syakila merajuk dan entah apa maunya tidak jelas yang bikin Sukma kebingungan.
Setelah Alfandi selesai dan rapi langsung memegangi Syakila dan Sukma segera membersihkan diri. “Kenapa sayang ... kok kata mommy sayang rewel, jangan rewel dong ... kasian mommy nya pusing dan capek.” Suara Alfandi sembari memomong putri kecilnya.
“Papa ... ngah ... hik-hik-hiks mau mimi ... ngah ... mau mimi,” rengek nya Syakila sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Ooh ... sayang ... mau mimi. Ya, Papa bikinkan dulu ya sayang, eh ada ini mimi nya,” Al memberikan botol susu yang berada di tempat tidurnya.
Alfandi mendudukan Syakila dan minum susu nya di sofa. “Duduk di sini ya? putri papa yang cantik.”
“Papa ... Za mayu ingin pup,” Syakila menatap papanya sambil menyimpan botol susunya.
“Mau pup, boleh ke mommy ya,” Alfandi langsung mengangkat tubuhnya anak itu dan di bawanya ke kamar mandi yang kebetulan Sukma masih berada di sana.
Sukma yang masih dalam ritual mandinya, merasa kaget melihat suaminya membawa Syakila ke dalam kamar mandi. “Kenapa yank ... kok di bawa ke sini sih?”
“Sayang, Syakila katanya mau pup.” Kata Al sambil menurunkan putri kecilnya dan lantai.
“Oh ... sudah belum sayang pup nya?” Sukma mengarahkan pandangan nya pada anak itu.
“Beyum Mommy ... beyum ... mayu, pup Mommy mayu.” Rengek anak itu sembari mencoba menurunkan celananya.
“Iya sayang sabar ya, Mommy mau pakai handuk dulu,” ucap Sukma sambil keluar dari bathub dan meraih handuknya.
Sementara Al hanya melihat ke arah sang istri yang kini mengenakan handuk kimono dan mengurus putrinya. Sambil senyum-senyum sendiri.
“Yank. Setelah Syakila selesai bawa lagi ya? sebab aku belum selesai nih ...” Sukma tanpa menoleh pada sang suami, ia fokus mengurus putri kecilnya.
“Hem ...” gumamnya Al sambil melipat tangan di dada, dengan pandangan pada sang istri dan putrinya. “Oya sayang, minggu depan aku ada urusan di luar kota. Mau ikut gak?”
“Em ... tergantung sih sayang, kalau cepat selesai ya paling beberapa hari dan bila telat paling seminggu.” Al kembali memangku Syakila dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Sukma bergeming sebelum melanjutkan ritual mandinya. Ia jadi kepikiran antara ikut atau tidak. Ikut gimana dengan sekolahnya Syakila dan Fikry juga masih suka manja sama dirinya. Bila tidak ikut kasian suaminya. Ach jadi dilema.
Kini al sekeluarga sedang berada di ruang keluarga setelah selesai makan malam. Alfandi dan Sukma duduk di sofa bersama Syakila yang sedang bermain boneka. Di lantai ada Fikri dan Marwan yang sedang bermain gadget.
“Wan ... kamu sudah belajar belum?” tanya sang kaka pada Marwan yang sekarang baru masuk kelas satu SMA.
“Sudah Kak.” Marwan menoleh pada sang kakak sambil menyandarkan punggungnya di dudukan sofa.
Sukma mengalihkan pandanganya pada Fikri yang anteng bermain games. “Abang ... sudah belajar belum?”
Fikri menoleh pada mommy nya. “Gak ada PR kok.” Menyandarkan kepalanya di kakinya sang Mommy dengan manjanya.
Syakila yang cemburu dengan kakaknya merengek dan menyingkirkan kepala sang kakak dari pangkuan sang mommy. “Nyangan ... ih ... cana, nyangan jekat-jekat.”
“Nggak mau, ini mommy nya Abang kok, Sana Syakila jauh-jauh Syakila ke papa sana.” Fikri menggeser kakinya Syakila.
“Bucan, ni mommy Za, cana jayuh-jayuh apang ...” anak itu terus merengek dengan suara cadelnya. Biar pun sudah tiga tahun usianya, tapi bicaranya masih cadel dan belum jelas.
“Ini mommy nya Abang, Sya, sana? ini mommy nya Abang,” Fikri malah sengaja naik dan duduk juga memeluk Sukma yang sedari tadi tersenyum tipis.
“Jangan di usilin dongnadiknya Abang ... adiknya nanti rewel lagi nangis, kasian Mommy.” Kata Al sambil meneguk minumnya.
“Papa ... ini kan mommy aku!” Fikri malah semakin mengeratkan pelukannya. Dan pada akhirnya Syakila pun menangis.
“Ah ... hik-hik-hik ngah ... Mommy ... apang nacal. Apang jayat Mommy.” Syakila berdiri dan minta di peluk sang bunda.
Namun Fikri tidak membiarkan mommy nya menggendong Syakila yang menangis ngamuk.
“Sayang kasihan adiknya lho.” Sukma melepas rangkulan Fikri.
“Nggak mau. Mommy setiap hari ngurusin Sya, aku gak nggak.” Fikri tidak perduli dengan perkataan sang mommy dia terus saja memeluk mommy nya.
“Mommy ... apang jayat, Mommy jendong ... hik-hik-hiks,” Syakila terus menangis dan memukul Fikri dengan bonekanya.
“Sini Sya, sama Papa saja sayang ooh di jahati sama Abang ya?” Al menggendong Syakila, namun anak itu tidak mau karena ingin mommy nya.
“Sya, pukul abangnya pukul. Cubit yang keras,” Marwan ngomporin dan menyuruh Sya memukul dan mencubit nya. Malah di contohin segala.
“Ach ... sakit. Mommy, Kak Wawan, sakit nih ...” rajuk nya Fikri yang di cubit Marwan yang memberi contoh Syakila.
Sukma membelai rambut nya Fikri lalu mencium keningnya. “Sudah, makanya awas ah. Kasihan adiknya sayang.”
Fikri menjauh dan Sukma mengambil Syakila menggendong dan menenangkannya yang berderai air mata.
“Hu ... Sya jelek dan tidak comel, manja. Jelek?” cibir Fikri pada sang adik sambil duduk bersandar di dekat sukma.
‘Comen, Za comen ya Mommy?” Syakila mendongak pada Sukma.
“Iya sayang, comel kok.” Sukma mengangguk.
Marwan mencium tangan nya Syakila sambil berkata. “Bilang. Abang juga jelek kaya bebek dan bau.”
“Hu ... apang yeyek ... ya wewek ... bubu!” katanya Sya sambil menjepit hidungnya sendiri.
“Hu ... Sya yang jelek, bau pup. Dan tidak comel.” Balasnya Fikri sambil mencari ponselnya.
“Mommy, Papa. Ponsel Abang mana sih?” Fikri beranjak dari duduknya mencari ponsel yang tadi ia simpan di atas sofa.
“Mommy nggak tahu sayang, dimana. Barusan kan Fikri simpan di sana,” balasnya Sukma.
“Nggak ada Mom ... mana?” Fikry merajuk.
“Tadi di simpannya di mana? kok ribut sih?” Alfandi malah bertanya.
“Alah ... anak manja jangan di anuin.” Marwan sambil berlari dan menjulurkan lidahnya pada Fikri.
“Hem ... pasti kak Wawan nah yang sembunyikan ponselnya,” kata sang ayah. Sambil memeluk bantal sofa.
Membuat Fikri berlari menyusul Marwan yang berlari entah kemana. “Kak Wawan ... sini ponsel ku?” pekiknya Fikri.
“Hem ... itu anak dari dulu sampai sekarang masih saja seperti itu,” ucapnya Al sambil menggeleng dan mengulum senyumnya melihat ulah Fikri dan Marwan.
Sukma yang memangku Sya yang tampak ngantuk, hanya tersenyum manis. Memang begitulah meraka, dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah ....
Hi ... apa kabar semuanya ... ketemu lagi dengan sukma dan Alfandi.