
Vaula turun dari mobilnya dan menatap ke arah rumah mini malis miliknya Sukma.
Dia berjalan dan mendekati teras, dan di sambut oleh Fikri yang bertelanjang dada.
"Mama ..." sambut Fikri dengan memeluk sang bunda.
"Lho ... kok gak pakai baju nih, jagoan Mama? habis mandi ya!"Vaula membalas pelukan si bungsu dan mengacak jenggot.
"Belum nih, belum mandi. Aku habis berenang."Jawabnya Fikri.
Vaula duduk di sofa. "Mana kakak, Za?"tanya Vaula sambil menumpang kan kakinya ke kaki yang lain.
"Em ... kakak lagi mandi kali, di dalam." Fikri menunjuk ke arah dalam rumah dengan dagunya.
"Ooh, panggil gih? dan bilang kalau ada mama jemput kalian untuk menginap di rumah dan besok ... kita liburan." Vaula tampak bahagia kerena mau mengajak kedua anaknya berlibur.
“Benar, Bu?” tanya Fikri dengan mata yang berbinar.
"Iya sayang. Kita akan berlibur ke Lombok dan naik pesawat."Jawab sang bunda.
"Hore ... mau liburan, naik pesawat. Tapi ... kan waktunya sekolah. Lagian..." kening anak itu mengkerut seolah memikirkan sesuatu. Gak mau ahc!aku gak mau ikut--"
"Lho. Kenapa?" Vaula menatap keheranan kepada Fikri yang awalnya begitu antusias dan akhirnya malah gak semangat begitu.
"Berarti liburannya hanya aku dan kakak Za saja, gak seru ahc. Bila tidak barengan kak Jihan... kak Wawan ... nggak ahc. Abang gak mau pergi." Anak itu menggerakkan jarinya seperti menghitung orang.
"Apa, Abang? Fikri. Abang?" Vaula menatap heran kepada si bungsu, kenapa sekarang jadi manggil abang?
"Iya, Mama ... Fikri kan mau punya adik, jadi panggilan Fikri itu Abang. Bukan Fikri lagi!" jawab anak itu dengan ekspresi yang lucu, namun lain lagi di mata Vaula.
Vaula diam sambil berpikir, emangnya ... istri muda Fandi sedang hamil sehingga Fikri bilang mau punya adik!
"Emangnya Fikri mau punya adik dari siapa?" ternya Vaula sedikit tersembunyi.
"Aduh ... Mama, emang Mama belum tahu ya? kan mommy mau punya baby di perutnya." Anak itu begitu lantang dan tampak sangat bahagia.
"Vaula! kau di sini? kenapa tidak masuk, Nak ..." sapa bu Puji yang baru nongol dari balik pintu.
"Oh, Ibu. Masih di sini ya? betah sekali Ibu di sini? Padahal rumah ini kelihatannya sempit. Tidak seluas di sana, Bu." Vaula langsung mengatai tempat tinggal yang sekarang di tempati oleh mantan suami.
Mendengar omongan Vaula seperti itu, Bu Puji mengulas senyumnya. "Tidak penting luas atau sempitnya, mewah atau sederhana. Yang penting nyaman, tenang ... dan orang di dalamnya seperti apa?"
"Tapi, Ibu dulu tidak mau lama-lama di sana! paling lama seminggu doang. Padahal kurang apa sih di sana? serba kecukupan dan pasilitas terjamin." Ungkap Vaula dengan nada sinis.
"Kan sudah Ibu bilang, Ya ... mungkin kita kurang cocok aja di sana dan seperti yang tau. Waktu itu bapak sakit-sakitan jadi cukup lama kita tidak ke Jakarta kan!" balas Bu Puji sambil mendudukan bokongnya di depan Vaula.
"Aku mau, bawa anak-anak berlibur ke Lombok atau Bali." Lanjut Vaula sambil melirik ke arah Fikri.
"Masya Allah Abang ... kok belum mandi sih? Maghrib nih! mandi dulu deh!" suara Sukma dari balik pintu lalu berdiri sambil menunjukkan senyumnya kepada Vaula yang di iringi dengan anggukan.
“Iya, Mommy …” Fikri langsung beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam untuk mandi.
Vaula melihat Sukma dan Fikri secara bergantian, lalu menatap punggung anak itu sampai menghilang. Kemudian Vaula menoleh ke arah Sukma dengan tatapan intens.
Anak itu begitu menurut Sukma, tanpa membantah sedikitpun langsung saja pergi.
Vaula berdiri sambil bertepuk tangan."Hebat. Ucapanmu sekali pun di dengarnya,"
"Aku, hanya menyuruh yang seharusnya dia lakukan." Balas Sukma. "Oya, sebaiknya kamu masuk saja? mau ketemu anak-anak bukan? dan aku mau masuk duluan, mau Maghrib."
"Ibu juga, mau maghrib dulu, Yo Vaula. Kita masuk?" Bu Puji pun beranjak. Membawa langkahnya ke dalam.
Sementara Vaula kembali mendudukan dirinya di tempat semula. Mau masuk juga malas.
Terdengar suara derap langkah yang mendekati teras. Kedua netra mata Vaula tertuju ke arah sumber suara, penasaran siapa yang datang.
Bi Lasmi datang mambawa nampan dan segelas air juse dan sepiring kue nya. "Silakan minum Nyonya?" Bi Lasmi berjongkok menyimpan nampan di meja.
"Makasih?" Vaula singkat dan kembali menyibukkan diri dengan membuka ponselnya.
Bi Lasmi mengangguk hormat, lalu mengundur diri dari teras lantas kembali ke belakang.
“Sayang, di luar ada mamanya anak-anak. Temui sana?” kata sukma sambil melipat mukenanya.
“Emang dia datang ke sini mau ketemu aku? Paling tidak ketemu ma anak-anak, biar saja. Lagian kenapa tidak masuk, malah di teras?” sahut Alfandi dengan malasnya.
“Sudah ku ajak masuk tadi, tapi sepertinya tidak masuk dan ku suruh bibi untuk menyuguhkan minum dan makanan.” Lanjut Sukma.
“Mau kemana sayang?” tanya Alfandi ketika melihat Sukma mendekati pintu.
“Kasian mamanya anak-anak, sayang, menunggu mereka Fikri dan Firza. Aku harus menyuruh mereka menemui mamanya.” Sukma melanjutkan langkahnya membuka pintu untuk menemui Fikri dan Firza apakah sudah turun? apakah masih di kamarnya masing-masing.
Sukma berjalan dan membawa langkahnya ke kamar Firza, dan rupanya dia masih berada di dalam kamar, terlihat dari pintu yang terbuka sedikit.
“Za, mama di luar sudah ditemui belum? kasian dia menunggu dan mau bertemu kamu, apa adik mu gak bilang itu?” Sukma masuk berjalan dengan perlahan.
Firza membuka sarungnya, tampak malas untuk berdiri. “Tadi Fikri bilang, tapi aku malas menemuinya. Katanya mau mengajak liburan ke Bali.”
“Wah... ke Bali? Hebat dong, mami aja belum pernah ke sana tuh.” Timpal Sukma tersenyum lebar.
“Mommy saja yang pergi, aku tidak mau.” Sambung Firza kembali.
Seketika senyuman di bibir Sukma memudar, dan semakin mendekati Firza. “Oke. Bila firza tidak mau ikut dan pergi, tapi setidaknya ... Za. Temui mama di bawah barang sebentar ... aja, kasihan. Mama gak mau za dibilang anak yang tidak sopan apalagi durhaka, Mommy ingin... Za, tetap menghormati beliau sebagaimana dia mamanya kalian berdua,”
Tangan Sukma mengusap pundak Firza dengan lembut. “Temui mamanya sebentar sebentar, bilang kalau tidak mau ikut, jangan biarkan dia menunggu di bawah. Mama kendi agak mungkin memaksa bila kalian tidak mau!”
Firza terdiam dan tidak sepatah kata pun menjawab kata-kata dari sukma.
Kini Sukma pun tidak berkata lagi selain dengan memandang, matanya yang bicara agar Firza mau menemui mamanya. Alis mata sukma yang seolah mengatakan sesuatu.
Firza menatap ke arah mommy sekilas. Lalu mengangguk pelan. Lalu mengayunkan langkahnya keluar kamar.
Bibir Sukma tertarik ke samping, melihat Firza yang akhirnya keluar kamar juga. Dan mau menemui mamanya. Kemudian langkah Sukma pun mengikutinya dari belakang, di luar kamar, bertemu dengan Fikri yang langsung menarik tangan Sukma agar mengantarnya ke teras menemui mamanya.
“Mommy, dedek baby nya kok belum keluar sih Mom?” tanya Fikri sambil berjalan dan memegangi tangan mommy nya.
Sementara Firza berjalan menuruni anak tangga di depan mereka berdua. “Eh… kamu ini gimana sih? kau pikir hamil itu sekejap mata? Sembilan bulan lebih tau ... lihat, perut mami juga masih rata belum kelihatan. Ingin keluar saja, mimpimu.” Timpal Firza sambil menoleh sekilas dengan tetap berjalan.
Kan sudah gak sabar Kak ... mau di panggil abang-abang? he he he …” sambung Fikri sambil membayang kan dan terngiang panggilan abang yang di tujukan pada dirinya.
“Kalian ini lucu ya? membantah sesuatu yang belum ada, sabar ya? nanti juga waktunya akan keluar juga, hanya Mommy pesan mau laki-laki atau perempuan...di sayang ya?” tangan Sukma kanan dan kiri merangkul bahu kedua anak sambung nya tersebut.
Setelah menunggu beberapa waktu. Akhirnya Firza keluar dan menghampiri mamanya bersama Fikri dan Sukma. Bahkan kedua anak itu mengapit kanan kiri mama sambungnya. Begitu tampak kalau mereka saling menyayangi satu sama lain ....
Bersambung!