
Sukma menemukan sesuatu. Di bawah meja dan ternyata anting wanita yang tergeletak di sana.
Sukma melanjutkan keningnya seraya berjongkok Untuk menjangkau anting tersebut seraya bertanya-tanya dalam hati.
"Punya siapa nih? kok ada sini?'' Sukma mengambilnya dan memperhatikan anting tersebut.
"Ya sudah aku simpan ajalah siapa tahu nanti ada yang menanyakannya mungkin punya office girl." Sukma pun menyimpan anting tersebut di sebuah laci yang tidak jauh dari tempat tidur.
Dan tidak lama kemudian, datanglah office girl untuk menggantikan sprei, selimut dan sarung bantal.
Sekalian saja Sukma menanyakan dan menunjukkan sebuah anting penemuannya itu kepada office girl yang datang. Siapa tahu aja itu milik wanita tersebut.
"Maaf Mbak, apa Mbak kehilangan sebuah anting?" Sukma langsung menunjukkan antingnya.
Sebelum menjawab, wanita itu menyentuh kedua telinganya yang kedua-duanya memakai anting. Lalu menggeleng seraya berkata. "Tidak Bu ... itu bukan punya saya. Lagian punya saya ini ada kok! dan itu sepertinya anting mahal banget, Bu ... tidak mungkin lah itu punya saya."
"Tapi saya temukan ini di bawah meja, Mbak. Saya pikir mungkin milik Mbak atau temennya gitu!" timpalnya Sukma sembari kembali meneliti anting yang berada di tangannya.
Yang memang antingnya berlian dan tentunya sangat mahal, dan pasti pemiliknya orang kaya.
"Bukan itu, Bu ... bukan punya saya dan nggak mungkin juga punya teman saya!" tambahnya wanita tersebut sembari menggantikan sprei tempat tidurnya Sukma dan Alfandi.
Sementara Syakila dipindahkan dulu ke atas sofa oleh sang Bunda. Sukma.
"Terus punya siapa dong, Mbak? kan kalau kamar ini kosong berarti disterilkan, kan ... benar-benar dibersihkan! bukan? nggak mungkin ada barang yang tertinggal milik yang menginap sebelumnya." Sukma merasa heran.
"Itu benar, Bu ... kalau kamar ini kosong tentunya kamar ini disterilkan, tapi saya tidak tahu dengan barang itu! simpan saja lah Bu ... mungkin punya bapak! permisi?" office girl pun pergi meninggalkan kamar tersebut membawa barang-barang kotor.
Sukma masih tidak habis pikir tidak mungkin ini miliknya Alfandi Lagian kenapa sebelah seharusnya kan satu pasang dan untuk siapa? kemudian Sukma memindahkan kembali Syakila ke tempat tidurnya semula.
"Baiklah ... aku simpan aja, nanti kutanyakan! siapa tahu memang miliknya Al. Dan bisa saja barang ini terjatuh! mungkin juga dia ingin memberikan hadiah padaku dengan anting berlian ini!" monolognya Sukma sembari menyimpan kembali di tempat semula.
Di saat sore hari. Alfandi dan Sukma juga putrinya keluar dari kamar hotel dan ... berpapasan dengan Vaula yang menatap heran kepada Sukma.
Sukma sendiri langsung mengangguk dan tersenyum ramah kepada Vaula. Bagaimanapun wanita adalah ibu dari anak-anak sombongnya Firza dan Fikri.
"Mbak Di sini juga, apa kabar?" suara Sukma sembari mengeluarkan tangannya pada Vaula.
Vaula yang baru saja pulang dari urusannya. Menatap heran pada Sukma. "Kenapa wanita itu ada di sini? semalam kan nggak ada. makanya aku bisa masuk!" gumamnya dalam hati.
Namun tak ayal tangannya Vaula menyambut dan berjabat tangan dengan madunya tersebut. "Baik ... kau di sini juga bukannya ... kemarin Alfandi sendiri ya? Oh maksud aku kemarin aku lihat dia sendiri saja tapi kok sekarang sudah menggandeng istrinya!"
Alfandi menatap ke arah Paula berharap wanita itu tidak bilang kalau dia mendatanginya ke kamar hotel.
"Oh iya aku belum datang kemarin sore! Apa kalian sudah bertemu sebelumnya?" Sukma melihat ke arah suami dan Vaula bergantian.
Vaula dan Alfandi saling melempar pandangan serta sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Namun pada akhirnya tahapannya pun menjawab. "Iya kami bertemu marin di ... situ ... em ... di restoran, tapi sebelumnya kamu tidak tahu kalau kita sama-sama berada di hotel yang sama!"
"Oh begitu ya?" Sukma menganggukan kepalanya. "Ya sudah Mbak, kami keluar dulu ya! mari!" Sukma mengangguk ramah kepada Vaula lalu menarik tangan Alfandi untuk pergi dan tangannya sudah ditarik-tarik dengan bawelnya oleh Syakila yang ingin segera pergi untuk berjalan-jalan.
"Ya!" gumamnya Vaula sembari melihat kepergian mereka bertiga diiringi dengan senyuman tipis dari bibirnya.
"Hem ... rencananya mau ku pepet lagi. Eeh bawa anak istri. Kenapa harus dibawa sih?" gumamnya kembali Vaula seraya berbalik mendatangi kamarnya.
Keduanya pun mengantar dan menemani mandi bola. Syakila tampak senang sekali bermandikan bola-bola yang berwarna-warni.
"Sudah jangan jauh-jauh! di sini aja takut tenggelam dan di sana lebih dalam sayang ... sudah, di sini aja ya?" bintangnya Sukma pada sang buah hati yang juga menurut.
Alfandi pun ikut bermain bola-bola kecil yang ia timbun kan pada tubuhnya Syakila yang malah ketawa-ketawa bahagia.
"Kita mau makan apa sayang?" suara Alfandi dengan lirih pada Sukma.
"Makan apa aja, yang penting bisa kenyang!" jawabnya Sukma sambil terus mengawasi putrinya.
"Mau nggak aku ajak makan, makanan khas Balikpapan? seperti nasi bakar seafood, kepiting kenari--"
Sukma langsung mengangguk. "Iya aku mau."
Setelah anak itu merasa bosan, dengan mandi bolanya ... kemudian diajak makan oleh sang Bunda.
Lalu mereka pun berjalan mencari tempat makan yang ada khas Balikpapan nya, dengan mudahnya mereka bisa menemukan dan memesan untuk dimakan di tempat tersebut.
Pada akhirnya mereka pun menikmati makan malamnya, sesekali Syakila disuapi sang Bunda. Dan bukan Syakila saja yang minta di suapi! karena Papa nya pun sama minta di suapi juga.
"Oh ya. Ada yang ingin ku tanyakan sama Papa," Sukma menatap Ada Alfandi yang sedang menikmati makan malam tersebut.
"Mau tanya apa Mom?" Alfandi melirik sekilas lalu menyuapi putrinya kentang.
"Tadi ketika aku beres-beres di kamar, aku menemukan sebuah anting berlian. Apa itu milik kamu?" selidiknya Sukma selalu menatap lekat pada sang suami yang langsung menoleh padanya.
"Anting! anting siapa?" gumam Alfandi sambil menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu masalah anting itu.
Dan anting yang mana sih? perasaan dia lebih dulu yang menginap di kamar tersebut tidak menemukan apa-apa! pikirnya Alfandi.
"Ada anting nya ada aku simpan! dan aku sudah menanyakan kepada office girl, dan dia tidak mengakuinya! karena dia rasa bukan miliknya!" Sukma mengangkat kedua bahunya.
"Entah, rasanya aku nggak tahu dan aku tidak pernah membelinya!" jawabnya Alfandi lalu terdiam dan ikut kepikiran penting siapa?
Tiba-tiba saja Alfandi teringat sama Vaula, jangan-jangan itu anting Vaula. Ketika malam itu masuk ke dalam kamarnya dan mungkin saya antingnya terjatuh dan tergeletak di bawah meja.
"Apa mungkin itu miliknya Vaula? pas malam kemarin terjatuh dan tergeletak di meja! ah ada-ada saja, apa kata istriku kalau tahu mantan ku datang ke kamar?" batinnya Alfandi seraya menggaruk tengkuknya.
"Kenapa, apa kau ingat sesuatu? mungkin kamu masukkan asisten perempuan mu? atau rekan bisnis,mu dan antingnya terjatuh, kasihan lho ... masalahnya ... barangnya! barang mahal, bukan barang biasa!" Sukma kembali berkata ketika melihat sang suami agak melamun.
"Ya mana aku tahu sayang. semalam aku nggak kedatangan tamu siapapun!" akunya Alfandi sembari mengingat-ingat kembali.
Setelah selesai makan malam. Mereka pun langsung pulang ke kamar hotel, lagian Syakila sudah nampak capek dan beberapa kali menguap.
"Ya sudah, kita pulang aja! balik ke kamar hotel kasihan Syakila sudah mengantuk!" ucapnya Sukma sembari menunjuk ke arah Syakila.
Lalu kemudian Alfandi menggendong Putri kecilnya tersebut, setelah sebelumnya membayar bila bekas makan mereka bertiga.
Dari kejauhan, ada pasang mata yang terus memperhatikan ke arah mereka berdua, Malik dan Sukma yang tampak sangat bahagia ....
.
Bersambung