Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Boleh ya



"Siapa itu? yang datang?" tanya Sukma yang diarahkan kepada Alfandi.


"Nggak tahu. Sayang ... mungkin ada yang ingin ganggu kita saja," sahutnya Alfandi sambil mengecup pipinya Sukma berkali-kali.


"lihat sana? siapa tau anak-anak," sambungnya Sukma sambil mendorong bahunya Alfandi agar pergi melihatnya.


Mau tidak mau, dengan malasnya Alfandi lantas turun dan mengenakan celana boxernya terlebih dahulu, serta under shirt.


Setelah baru saja mengenakan boxes nya itu, Alfandi berjalan mendekati daun pintu sambil mengusap rambutnya yang acak-acakan itu.


Kembali terdengar ketukan pintu dari luar. "Iya sebentar?" suara Alfandi sedikit memekik lalu menarik handle pintu lantas membukanya.


Tampaklah Fikri berdiri di sana sambil nyengir, matanya celingukan ke dalam juga melihat sang ayah yang mengenakan under shirt dan celana pendek saja.


"Fikri, ada apa? bukannya bobo? udah malam nih!" tanya Alfandi sambil pura-pura menggosok kedua matanya.


"Ini, Papa ... aku ke sini untuk menanyakan, karena disuruh oleh kak Firza, kita mau menginap malam ini di sini? atau mau pulang? karena kalau mau menginap! kak Firza secepatnya mau tidur saja dan kalau mau pulang? kak Firza mua siap-siap," ucap anak itu sembari menggerakkan kepala dan tangannya.


Alfandi menghela nafas dalam-dalam, sebelum menjawab pertanyaan dari Fikri. "Malam ini ... kita menginap saja di sini dan besok pagi-pagi, setelah Subuh kita pulang ke mension, oke?"


"Nah kan ... apa kata aku juga? sudah ku bilang kalau kita akan menginap di sini. Nggak percaya sih ... kak Firza gak percaya sih sama aku. Ya sudah aku bilangin dulu ya Pah?" anak itu berbalik dan langsung meninggalkan tempat tersebut!"


Alfandi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu kembali penutup dan mengunci pintu tersebut, melangkahkan kedua kakinya kembali ke tempat tidur. Mau bersih-bersih tapi malas dan ngantuk, akhirnya dia kembali naik merangkak di atas tubuh sang istri yang baru saja berbaring kembali.


Namun apa yang terjadi? baru saja mau mendaratkan kecupan di kening sang istri. Sudah terdengar kembali ketukan demi ketukan di luar pintu. Lagi-lagi mereka berdua dibuat terkesiap! Sukma bangun kembali dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sementara Alfandi berbalik ke arah pintu kembali. "Uuh ... siapa lagi sih?" lagi-lagi Alfandi dibuat mengacak rambutnya, merasa kesel. Waktunya diganggu terus.


Blak ... Pintu kembali terbuka dan siapa lagi yang berdiri di ambang pintu? kalau bukan seorang Fikri.


"Pah, boleh kan aku tidur sama mommy sama Papa? boleh ya? untuk malam ini saja!" wajah Fikri memelas.


"Em ..." Alfandi dibuat bingung dengan permintaan sang putra bungsu nya tersebut.


Apalagi dengan Sukma yang berada di tempat tidur, dia bener-benar dibuat kelimpungan. Mana belum pakai baju lagi! nggak mungkin kan kondisi ini dilihat oleh anak itu. "Aduh gimana nih?" batinnya.


Sementara Fikri sudah menoleh ke arah Sukma yang sedang duduk di atas tempat tidur dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.


"Tapi sayang ... kak Firza sendiri lho ... tidurnya, apalagi kak Firza kan lagi kurang sehat! kata mommy juga, dia sedang panas," bujuk Alfandi sambil mengusap kepalanya Fikri.


Jujur Alfandi nggak mau Fikri tidur bersama mereka berdua, apalagi dalam kondisi seperti ini. Kondisi yang tidak siap, bukan pada waktu yang baik-baik saja! ini kan kebalikannya.


"Ahk, nggak mau! kak Firza kan terbiasa tidur sendiri. Aku juga tidur sendiri, jadi apa salahnya kalau sekarang juga kami tidur sendiri-sendiri?" ungkap anak itu.


"Nah ... kan, kata Fikri juga Fikri suka tidur sendiri? terus kenapa sekarang mau tidur sama papa dan mommy?" katanya Alfandi sembari menatap lekat dengan tangan di lipat di dada.


"Aduh, Papa ... kan aku nggak setiap hari di sini? besok pagi-pagi harus pulang! nggak ketemu lagi sama mommy, jadi biarkan saja malam ini Fikri tidur sama mommy ya! pah ya? please ... malam ini saja." Anak itu menyatukan kedua tangannya di depan dada.


Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari papanya, dia langsung masuk ke dalam kamar tersebut.


"Fik-Fikri?" bikin Alfandi kaget bukan main dan berusaha meraih tangan Fikri namun lepas begitu saja.


"Aduh ... gimana ini? belum pakai baju!" batinnya Sukma sembari menatap ke arah Alfandi dengan tatapan cemas, berharap pria itu mengerti dengan kondisi ini.


Sementara Alfandi, bukannya tidak mengerti dengan kondisi ini. Melainkan memang putranya sulit dicegah, mana pakaian yang masih berceceran di lantai. Bahkan CD sang ayah tergeletak di dekat tempat tidur.


"Mati aku ... gimana ini?" batinnya Alfandi sambil dengan cepat meraih CD nya tersebut dan dia sembunyikan ke belakang tubuhnya.


Kemudian Alfandi melirik ke rah Sukma yang sedang menatap ke arah dirinya dengan tatapan cemas.


Sukma memberi kode. "Gimana ini? aku belum pakai baju!" kata-kata Sukma yang tanpa keluar suara itu.


Fikri mengamati ruang tersebut karena memang baru kali ini dia masuk ke kamar papa dan Mommy nya.


"Mommy, kenapa diam saja? Mommy mengizinkan Fikri bobo di sini kan?" Fikri bertanya pada Sukma.


"I-iya, boleh. Tentu saja boleh! nggak ada yang larang kok, kata Fikri juga di sini cuma malam ini, iya kan?" balas Sukma yang mengeratkan selimutnya, dia takut selimut nya terbuka.


Dan Alfandi dengan segera mengambil semua pakaian yang berserakan di lantai.


"Terima kasih Mommy?" ucap Fikri sambi semakin mendekati tempat tidur.


"Ehem! sayang? kalau mau tidur di sini harus pipis dulu, takutnya bisa-bisa nanti ngompol!" kata Alfandi.


"Iih ... Papa, kapan sih aku ngompol? nggak pernah kali. Enak saja Papa ini," protes sang anak.


"Em ... kali saja. Takutnya nanti Papa sama mommy sedang puas tidur dan di ganggu oleh Fikri yang pengen pipis, terus kalau nggak mau bangun gimana?" ralat Alfandi.


"Fikri ke toilet sendiri, kan bisa! emangnya tuh airnya di luar? kan ini di kamar, masa Fikri nggak berani sendiri ke toilet sih? akh ... Cemen banget deh." Akunya Fikri.


"Pokoknya sekarang Fikri ke toilet dulu, pipis dulu, setelah itu kita bobo sama-sama, oke?" jelas Alfandi dengan tegas.


Sukma hanya mendelik kan matanya sembari mengangguk, karena setuju dengan kata-kata Affandi.


"Lah, papa kok maksa ke toilet sih? kan aku nggak mau pipis juga!" gerutunya Fikri.


"Iya ... siapa tahu aja nanti pengen pipis buruan? nanti kita tidur sama-sama, Papa ngantuk nih," tambahnya Alfandi kembali.


Pada akhirnya, mau tidak mau Fikri masuk ke kamar mandi. Untuk pipis lebih dulu dengan alasan biar nggak ngompol.


Dan setelah Fikri masuk ke kamar mandi, Alfandi buru-buru mengunci dari luar. Terus memberikan pakaian Sukma untuk di pakainya segera. Dan tak ayal Alfandi membantu seperti sedang memakaikan baju pada anak kecil.


"Ayo cepat sayang? nanti keburu Fikri keluar," ucap Alfandi sembari mengaitkan kaitan pakaian berbentuk kaca mata itu, dan masih sempat-sempatnya mengecup tengkuk Sukma yang bikin merinding dan panas dingin di sekujur tubuh.


"Minyak wangi mana, minyak wangi? ambilkan minyak wangi. Bawa sini?" pintanya Sukma pada Alfandi, setelah dia mengenakan semua pakaiannya dengan rapi dan komplet.


Serta rambut pun diikat nya biar rapi juga. Alfandi pun buru-buru mengambil minyak wangi.


"Buat apa sayang?" Alfandi masih bingung.


Sukma menyemprotkan parfum ke tempat tidur agar tidak bau kembang tujuh rupa, maklum tempat itu bekas bergulat. Yang siapa tau aja mengeluarkan bau-bau yang aneh,


"Itu pintu cepat buka kuncinya? nanti keburu digedor Fikri lah," bisiknya Sukma pada Alfandi yang berdiri di belakangnya itu.


Alfandi pun buru-buru mendekati pintu kamar mandi yang tadi ia kunci, benar saja detik kemudian benda tersebut terbuka, Fikri keluar dengan muka yang basah.


"Kok airnya nya di sini lebih sejuk ya, Pah? apa Mommy gak kedinginan ya?" katanya Fitri sambil berjalan mendekati tempat tidur, lalu dia naik lantas berbaring di tengah-tengah, antara Alfandi dan Sukma.


"Sayang, bobo jangan di tengah-tengah dong?" pintanya Alfandi pada Fikri


"Ah gak mau. Aku nggak mau dekat Papa, maunya juga dekat mommy. Fikri menggelengkan kepalanya, tidak setuju kalau papinya tidur di tengah.


"Nggak. Justru mommy yang tiduran di tengah, biar dekat sama Fikri. Papa di pinggir. Oke?"


Sejenak Fikri terdiam seolah berpikir, namun pada akhirnya dia berpindah juga dan membiarkan Sukma tidur di tengah-tengah.


Bibir Alfandi menyunggingkan sebuah senyuman, akhirnya bisa tidur juga di dekat sang istri dan memeluknya sangat erat ....


.


.


...Bersambung!...