
"Ooh, tidur saja duluan aku masih ada yang harus aku kerjakan." ucap Alfandi dengan nada dingin dan jari tetap fokus ke papan keyboard laptop.
"Nggak mau ngapain dulu gitu? sebelum tidur?" tawar Vaula dengan eskpresi menggoda.
Alfandi menatap ke arah Vaula dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kemudian Alfandi mengenal nafas panjang. "Tidur saja duluan. Nanti aku menyusul, Mah."
"Bener ya? aku tunggu lho," Vaula mencondongkan tubuhnya mencium pipi Alfandi dan sengaja biar bagian tertentu yang menggantung miliknya terekspos dengan sempurna di hadapan suaminya tersebut.
Membuat jantung Alfandi berdegup sangat kencang. Dan berdesir sebuah keinginan yang mulai mengganggunya. Namun yang dia inginkan bukanlah Vaula, melainkan Sukma.
"Ya Allah ... adilkah aku bila seperti ini? istri tua yang di depan mata tapi aku merindukan istri muda ku," batin Alfandi sambil mengusap wajahnya kasar.
Vaula menyunggingkan senyumnya. Melihat Alfandi yang tampak tergoda itu. "Ayo, Pah ..."
"I-iya, nanti aku menyusul. Sibuk nih!" Alfandi berusaha mengalihkan pandangan pada layar laptop.
Pada akhirnya Vaula keluar dari ruang kerjanya Alfandi, untuk tidur duluan. Lagian sebenarnya di sudah kenyang dengan kekasihnya. Yudi, sebelum pulang saling memberi servis dulu.
"Huuh ..." Alfandi membuang napasnya dari mulutnya. Begitupun dari hidungnya yang, sungguh dia menginginkan itu, tapi yang dia mau bersama Sukma.
Waktu terus berputar dan saat ini sudah menunjukan pukul 22.00 Dia menarik otot-ototnya. Menggeliat nikmat, mendongak memejamkan kedua matanya.
Tangannya menutup laptop dan membereskan meja yang berantakan. Lalu kemudian meninggalkan ruang kerjanya berpindah ke kamar pribadinya.
Alfandi baru saja masuk ke dalam kamar yang langsung mendapati istrinya yang meringkuk di balik selimut putih nan tebal. Dia mendekat dan duduk di sana menatap ruang kamar yang mulai menghangat tapi sepertinya sudah terlambat karena dia sudah punya kamar lain untuk meluapkan rasa.
Lalu Alfandi naik dan mencium kening sang istri, terkadang dai merasa dihantui rasa bersalah yang sudah menduakan istrinya itu.
"Maafkan aku? aku sudah menduakan mu. Aku sudah punya istri lagi, itu memang salah ku." Batin Alfandi.
"Tapi itu aku pastikan tidak akan pernah terjadi bila tidak ada perubahan sikap mu yang signifikan, cuek padaku dan tidak perduli akan kebutuhan ku yang membutuhkan belayan kasih mu," dalam hati Alfandi terus beradu argumen.
Sudah hampir 30 menit. Dia membaringkan kepalanya di bantal, namun tidak juga kedua netra nya terpejam. Malah merasakan kalau singa laparnya bangun meminta jatah makan.
"Ahk, gimana ini? gak bisa tidur jadinya!" gumamnya dalam hati. Lantas membalikan badan pada sang istri dan perlahan mau menyingkap selimut yang menutupi tubuh sang istri yang tampak lelah dan nyenyak itu.
Namun niat itu dia urung, dengan keinginan yang kuat bahwa ingin melakukannya dengan istri mudanya, Sukma. Alfandi melonjak bangun dan tanpa pikir panjang. Dia keluar lagi dari kamar tersebut pergi ke ruang kerja kembali.
Dengan langkah yang teramat hati-hati agar tidak mengganggu sang istri dari tidurnya. Alfandi berjalan pelan seakan mengendap-endap tidak lupa menutup pintu dengan rapat.
Di ruang kerja tersebut, Alfandi hanya mengambil kunci mobil dan jasnya. Lantas dia bergegas turun ke lantai dasar melalui pintu belakang.
Alfandi memasuki mobilnya tanpa di nyalakan, Alfandi memundurkan mobil tersebut sampai luar gerbang yang di bukakan oleh scurity yang sempat bertanya pada sang majikan mau kemana?
"Saya mau keluar sebentar, mencari angin. Ini buat uang rokok. Tolong jaga rumah ya?" Alfandi memberikan dua lembar uang berwarna merah pada scurity nya tersebut.
Kemudian, mobil Alphard tersebut melaju dengan sangat cepat, saking cepatnya bak anak panah yang terlepas dari busurnya.
Selang beberapa saat kemudian, mobil Alfandi nyelonong ke area halaman yang pagar besi pendeknya tidak pernah di kunci.
"Akhirnya sampai juga." Gumamnya Alfandi sambil mematikan mesin mobil nya yang halus nyaris tidak terdengar suaranya.
Alfandi menutup pelan pintu mobil lalu memasuki teras dan berdiri di dekat pintu. Jam segini pasti semua sudah tertidur. Jadi gak mungkin bila harus mengetik pintu. Mau telepon Sukma pun tidak jadi, biarlah dia masuk sendiri saja toh dia pegang kunci serep.
Dengan perlahan Alfandi membuka kunci pintu tersebut. Dan mengayunkan langkahnya dengan pelan agar tidak menggangu orang-orang yang sudah istirahat.
Kondisi rumah sudah gelap dan hanya lampu remang saja yang menyala dia tas meja makan. "Assalamu'alaikum?"
Langkah Alfandi tetap fokus ke lantai atas walau matanya tengok kanan dan kiri. Setibanya di depan kamar Sukma dia pun tidak pikir panjang langsung saja membukanya dengan kunci. Tetapi rupanya pintu kamar tersebut tidak dikunci dari dalam.
Sehingga Alfandi bisa mendorong nya dengan mudah. "Kok gak di kunci sih? gimana kalau ada orang jahat yang masuk? ceroboh banget sih istriku?" Gumamnya Alfandi sambil terus berjalan mendekati saklar.
Klik. Menghidupkan lampu sehingga terang benerang, kemudian dia menggantinya dengan lampu tidur. Karena mulanya kamar tersebut gelap gulita.
Sebelumnya Alfandi menanggalkan jasnya ia lempar ke atas sofa. Dan langsung mencium keningnya Sukma dengan mesra. "Sayang, aku pulang?" bisiknya di telinga gadis itu.
Sukma bergerak sambil bergumam. "Hem ...."
Bibir Alfandi terus mengembang. sedikit-sedikit rasa rindunya terobati dengan menatap wajah Sukma secara langsung.
Kerena pipinya terasa lembab, Sukma membuka sebelah matanya melihat sekitar. Masa sih ada kecoa atau tikus yang kencing?
Namun apa yang Sukma lihat? sosok pria yang beberapa hari ini Hanya bertemu melalui dawai saja. Bertanya kabar dan perhatiannya hanya lewat ponsel.
"Al?" gumamnya Sukma pelan sambil menggosok manik matanya yang terasa sepet itu, untuk memastikan benarkah itu Alfandi, kali saja dia salah penglihatan.
"Iya, aku sayang. Aku pulang untuk mu," sahut Alfandi pelan.
Sukma bangun serta mengusap wajahnya yang masih terasa ngantuk. "Benar kah itu dirimu? kapan datang?" suaranya Sukma begitu parau khas bangun tidur. Dan wajah nya menunduk merasa malu dengan wajah bantalnya itu.
"Kalau bukan aku, siapa hem?" Alfandi menarik bahu Sukma di peluknya sangat erat. "Aku sangat merindukan mu sayang?"
Sukma tertegun dalam pelukan Alfandi, namun lama-lama dia pun membalas dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Alfandi.
Di bawah kesadarannya Sukma berpikir, kenapa Alfandi datang jam segini? jarum jam sudah menunjukan pukul 00.00 wib, lagian gak bilang sebelumnya kalau mau pulang. Tadi sore juga telepon gak bilang mau pulang ke sini.
"Kenapa gak bilang kalau mau pulang ke sini?" pada akhirnya bertanya, masih dalam pelukan.
"Buat kejutan saja, apa aku tidak boleh pulang ke sini ya?" goda Alfandi sambil mengembuskan nafasnya di daun telinga Sukma membuat sang empu berekspresi geli.
"Boleh lah. Siapa yang larang? ini rumah mu juga!" lirihnya Sukma.
"Oo! aku kira tidak boleh pulang!" kata Alfandi sambil mengeratkan pelukannya.
"Em ... mau mandi dulu apa mau makan? aku akan siapkan!" Sukma sedikit memundurkan kepalnya sehingga bisa melihat wajah tampan itu dengan dekat.
"Kalau aku lapar, aku pasti akan menyuruh mu. Saat ini aku hanya butuh dirimu saja!" bisiknya lalu menatap lekat ke arah Sukma, yang kemudian dia ciumi pipi dan keningnya. Lanjut mendaratkan kecupan nya di bibir ranum natural tanpa polesan sedikit pun.
"Mmmm ..." sejenak Alfandi menikmati benda tipis yang beberapa hari ini dia rindukan.
"Ngomong-ngomong siapa yang bukakan pintu!" selidik Sukma penasaran.
"Aku punya kunci serep sayang, biar saat aku merindukan mu. Aku bisa masuk kapan saja dan tidak mengganggu orang lain yang sedang istirahat." Jawabnya Alfandi seraya mengelus pipinya Sukma.
"Ooh, tapi tiap hari kita teleponan. Kok rindu?" tanya Sukma dengan sangat lirih.
"Tapi kan tidak bisa meluk dan seintens begini sayang, hanya dengar suaranya. Tanpa bisa memeluk dan menciumnya!" Alfandi menunjukan senyumannya yang mengandung arti.
Alfandi mulai mencumbu istri muda nya ini. Dengan kecupan-kecupan kecil yang dia lepaskan. Di bagian wajah dan leher serta turun ke bagian lainnya.
Sukma namun berusaha menolak.
"Nanti ya? aku mau ...."
Alfandi menatap kecewa dan melepaskan rangkulannya pada Sukma yang sebenarnya dia sangat menginginkan sang istri....
.
.
...Bersambung!...
.
Mana nih dukungannya? agar aku tambah semangat nih dalam menulisnya🙏